6 Alasan Mengapa UMKM Perlu Branding Berbasis Digital

6 Alasan Mengapa UMKM Perlu Branding Berbasis Digital
20Mei, 2019

6 Alasan Mengapa UMKM Perlu Branding Berbasis Digital – UMKM adalah sektor yang terus-menerus berkembang. Di tahun 2018 saja, UMKM diklaim menyumbang 60% dari pertumbuhan ekonomi nasional. Namun perkembangan ini terancam terhambat ketika di kemudian hari muncul berbagai tantangan. Pertanyaannya sederhana, bagaimana UMKM menyusun strateginya ketika mereka akan dihadapkan dengan tantangan global? Dan bagaimana pula UMKM menyambut AFTA (Asean Free Trade Area), dimana produk/layanan mereka dituntut untuk bersaing dengan produk dari negara-negara tetangga?

Menghadapi hal tersebut UMKM dituntut untuk berinovasi. Di era ini yang berhenti berinovasi akan tergerus oleh perkembangan zaman. Bila UMKM masih kukuh dengan strategi door to door, atau cara pemasaran yang sudah usang, jangan heran jika angka pertumbuhan yang sekarang demikian besar akan terjun bebas nantinya.

Untuk itu diperlukan persiapan yang detail, terstruktur, dan terencana; dimana dulunya UMKM hanya sekedar fokus pada penjualan, sekarang UMKM harus memperhitungkan faktor lain seperti bagaimana cara membentuk brand. Sehingga dapat menaikkan value produk mereka pada jangka panjang.

Saat ini sudah berhasil dilakukan, barulah kita membicarakan peningkatan skala usaha. Intinya, branding adalah titik awal menuju pengembangan UMKM.

Jika sekedar dibicarakan, branding seakan-akan memang terkesan mudah. Namun jika kita lihat dalam segi implementasi dan eksekusi, tentunya tidak mungkin semudah membalikkan telapak tangan. Hal ini diperparah dengan metode perancangan dan eksekusi branding yang terkadang sangat rumit, fleksibel, dan bervariasi.

Baca Juga : Langkah Merancang Digital Campaign Berbasis Event Bagi UMKM

Keberadaannya disesuaikan dengan parameter kebutuhan, target pasar, daya jangkau dan budget. Banyaknya parameter analisa ini membuat branding terkesan mustahil untuk dilakukan usaha-usaha kecil yang notabene memiliki keterbatasan sumber daya manusia. Hambatan ini membuat branding seakan-akan jadi hak milik eksklusif para pebisnis kelas kakap saja.
Tapi apa benar aktivitas branding hanya eksklusif untuk para pemodal besar dan korporat raksasa?

Belum tentu. Untuk model traditional marketing mungkin iya. Di titik itu korporat tidak bisa disaingi. Tapi, hingga saat ini, Intenet tidak eksklusif (atau, setidaknya, belum) menjadi kanal marketing bagi pemodal besar saja. Siapa saja yang memiliki pengetahuan bisa menggunakan internet sesuai dengan kebutuhan mereka. Ini jelas merupakan peluang!

Pertanyaan selanjutnya: Apakah UMKM tidak bisa memaksimalkan potensi produk/layanan mereka lewat digital branding?

Tentu bisa. Tapi, untuk menuju kesana diperlukan mission statement, dan target yang jelas. Disitulah UMKM harus merubah mindset-nya. Yang awalnya product-centric, menjadi brand-centric, dan pada pungkasannya, consumer-centric. Jika traditional marketing dewasa ini sudah bukan lagi menjadi pilihan yang feasible bagi UMKM, maka mereka perlu beralih pada digital marketing. Setidak-tidaknya memanfaatkan internet sebagai media pembentukan branding mereka.

Mengapa UMKM Perlu Branding Berbasis Digital

Berikut akan saya uraikan 6 hal yang menjadi alasan mengapa UMKM perlu branding berbasis digital.

Tantangan AFTA Akan Segera Datang

Datangnya AFTA berarti datangnya dunia persaingan yang keras. Yang tidak mampu bersaing akan terkikis dengan sendirinya. Satu-satunya advantage UMKM dibanding para pendatang ini adalah waktu. ya. UMKM masih memiliki waktu untuk membangun brand image mereka dimata konsumen lokal. Sehingga ketika pendatang tiba, pasar sudah terkondisikan dan menjadikan persaingan lebih dinamis. Tidak berat sebelah.

Sektor UMKM Membutuhkan Inovasi Strategi Marketing Yang Low Cost

Sudah menjadi rahasia umum jika marketing memakan porsi yang besar dalam pembentukan sebuah usaha. Tanpa marketing, sebuah usaha akan kesulitan menemukan pasarnya. Percuma memiliki produk yang mumpuni tanpa tahu dimana harus menjualnya. Karena perannya yang teramat penting inilah yang membuat marketing berharga mahal.

Di titik inilah terletak jurang yang besar antara korporat besar dengan UMKM. Korporat besar sudah memiliki kesadaran lebih mengenai vitalnya marketing dalam daur hidup usaha mereka. Sementara UMKM seringkali berfokus pada bagaimana cara usaha dimulai, dari nol hingga jadi.

Fokus, effort, dan modal yang diperlukan untuk mendorong sebuah usaha kecil lahir seringkali membuat foundernya meremehkan ketersediaan budget untuk marketing. Budget ini yang harusnya dipakai untuk promosi, atau pembuatan sarana-sarana marketing. Bagi usaha kecil, fenomena ini bisa dikatakan umum, dan sudah jamak terjadi.

Yang perlu dipikir adalah bagaimana mencari strategi marketing berbea rendah. Hal ini sangatlah mungkin dilakukan dengan optimalisasi media sosial. Keberadaan usaha-usaha kecil yang sukses lewat promosi di platform Instagram, FB, twitter, dsb, harusnya mulai membuka mata para calon pengusaha UMKM tentang potensi internet dan medsos.

UMKM Membutuhkan Perluasan Jangkauan Pasar Potensial

Angka 82 Juta pengguna internet yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia seharusnya menjadi peluang yang sangat jelas bagi para pengusaha UMKM. Di titik ini, para pengusaha harusnya mulai merubah mindset mereka sejak fase perencanaan usaha.

Untuk menjemput peluang ini, harusnya UMKM mulai membuat roadmap yang mengarah pada fase penjualan online. Agar bisa sampai di tahap ini, setidaknya UMKM harus memulai dari yang paling sederhana dulu. Mulai dari yang lokal, dan berangkat dari sana.

UMKM Memerlukan Data Market Yang Spesifik

Salah satu keunggulan menggunakan metode marketing digital adalah ketersediaan data. Data ini di kemudian hari akan sangat berharga untuk mengembangkan suatu produk, atau justru mengeliminasi suatu produk.

UMKM Memerlukan Pembentukan Brand Awareness

Jujur saja, ini adalah salah satu hal tersulit untuk diimplementasikan. Pembentukan brand awareness sebenarnya sudah dimulai sejak masa perencanaan suatu usaha. Entah itu bidang jasa, atau produk. Brand pada dasarnya adalah value yang terkandung dalam suatu produk atau jasa. Tugas dari pemasaran adalah mengenalkan value produk tersebut kepada target pasarnya.

Brand awareness ini umumnya memerlukan waktu lama hingga masuk ke dalam alam pikir pasar yang ditargetkan. Semakin lama suatu proses tentunya semakin besar biaya yang dibutuhkan untuk mencapainya.

Proses yang memakan waktu dan biaya ini sebenarnya bisa dipangkas secara strategis lewat digital branding. Walau, kenyataannya, memang untuk menuju ke arah sana pengusaha dituntut untuk tidak hanya memiliki skill berjualan, namun juga skill untuk menjadikan jualan menjadi bahan konten yang menarik bagi target pasar. Cara ini menuntut konsistensi dan skill. Skill yang dibutuhkan pun bermacam-macam.

Mulai dari skill fotografi untuk menyajikan gambar produk yang cantik, skill copywriting untuk membingkai suatu foto produk menjadi memiliki makna yang berkesan bagi yang melihatnya, produktif dan konsisten, hingga skill untuk berkomunikasi secara aktif dengan pelanggan. Cukup banyak bukan?

Baca Juga : Teknik Digital Marketing

Berat? Tentu saja. Tidak ada yang bilang hal ini mudah. Tapi penguasaan skill jelas lebih feasible dibanding menghabiskan milyaran untuk mempromosikan produk lewat billboard dan iklan TV.

UMKM Memerlukan Komunitas Pelanggan Yang Interaktif

Salah satu titik terlemah dari UMKM adalah minimnya akses layanan bagi pelanggan (baik pra jual maupun purna jual) dan sedikitnya rasio pelanggan yang melakukan repeat order. Padahal hal ini kunci untuk mengkalkulasi skala suatu usaha yang berkelanjutan. Komunikasi positif juga adalah strategi simpel yang efektif untuk memberikan kesan positif bagi pelanggan.

Internet memungkinkan sesama pelanggan untuk berbagi pengalaman mereka mengenai kualitas produk atau jasa suatu UMKM lewat forum pengguna atau laman testimonial. Jika dikemas apik, kesan positif ini bisa menular ke calon pembeli lain. Kesan positif inilah yang menjadi faktor repeat order, dan dapat menjadi basis bagi suatu UMKM untuk membangun reputasi positif.

Ingat, branding awalnya hanya sekedar reputasi. Begitu reputasi ini menjadi value yang disepakati banyak user/pelanggan, maka kemudian reputasi dapat berevolusi menjadi brand.

Bagaimana penjelasan 6 Alasan Mengapa UMKM Perlu Branding Berbasis Digital diatas, cukup jelas bukan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X