Apa Itu Akreditasi: Manfaat dan Tujuanya

Apa itu akreditasi? Yaitu suatu penilaian, dan ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang atau sembarang instansi. Akreditasi hanya boleh dilakukan oleh institusi atau lembaga pemerintah yang memang berwenang dalam hal ini. Contohnya adalah rumah sakit, sebuah rumah sakit hanya bisa mendapat akreditasi oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia saja.

Penerapan Sebuah Akreditasi

Tujuan dan manfaat Akreditasi

Saat mendengar kata akreditasi (penilaian) mungkin Anda langsung membayangkan sebuah huruf, entah itu A, B, atau yang lainnya. Hal ini sangat wajar karena memang itu berwujud sebuah penilaian. Penilaiannya berupa huruf alfabet, bukan angka atau huruf Romawi. Masyarakat menilai sebuah penilaian sebagai patokan bagus tidaknya suatu lembaga atau institusi.

Misalnya saja ada dua universitas yang mana salah satunya memiliki akreditasi A dan yang lainnya adalah B. Hampir semua orang langsung menilai atau mengatakan universitas dengan akreditasi A lebih baik dibanding yang B.

Baca Juga: Pengertian Perguruan Tinggi Swasta

Memang wajar namun bukan berarti 100% universitas yang berakreditasi A ini lebih baik dibanding yang B. Sebab dalam pemberian penilaian ini ada beberapa indikator yang dipakai. Lembaga yang mendapat A lebih baik dibanding yang berakreditasi B dari beberapa indikator untuk menilainya.

Bisa saja lembaga yang berakreditasi B lebih baik dari yang berakreditasi A, karena ada indikator yang tidak digunakan dalam pemberian penilaian ini.

Meskipun telah ditunjuk lembaga-lembaga yang bisa memberikan akreditasi, namun hampir semua lembaga atau institusi yang ada di negara kita diberi penilaian oleh pemerintah. Malahan masyarakat lebih menilai pengakreditasian dari pemerintah lebih valid.

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya akreditasi diberikan untuk sebuah lembaga atau institusi, bukan untuk subjek perorangan. Adapun lembaga yang bisa diberi akreditasi antara lain lembaga kesehatan, institusi pendidikan dan lembaga-lembaga lain yang lebih spesifik.

Misalnya akreditasi di lembaga kesehatan, ini bisa diberikan untuk rumah sakit maupun Puskesmas. Sedangkan untuk institusi pendidikan, bisa diberikan untuk keseluruhan institusi tersebut maupun untuk fakultas atau program studi saja.

Tujuan Akreditasi

Tentu saja penilaian ini diadakan untuk sebuah tujuan. Filosofinya, akreditasi diadakan sebagai bentuk sebuah perlindungan dari pemerintah untuk lembaga-lembaga yang ada.

Perlindungan ini merujuk sebagai sebuah pengakuan bahwa pelayanan yang diberikan Lembaga ini bersifat profesional. Juga bisa dikatakan ini sebagai bentuk perhatian dari pemerintah kepada lembaga tersebut.

Hal ini sangat benar dan sesuai dengan arti akreditasi itu sendiri. Dengan penilaian sebuah lembaga menjadi memiliki standar sebagai bentuk profesionalitas mereka terhadap beberapa hal sekaligus.

Ya, masih ingatkah Anda bahwa ada beberapa indikator yang digunakan untuk memberikan akreditasi? Dari beberapa indikator indikator yang digunakan hampir semuanya berfokus pada pelayanan yang diberikan oleh lembaga tersebut.

Baik itu berupa profesionalitas, efisiensi, kompetitif, maupun sifat-sifat lainnya yang mendukung layanan yang bagus. Hal ini pula secara tidak langsung sebuah lembaga akan terdorong untuk memberikan pelayanan sebaik mungkin.

Memang seharusnya sudah menjadi kewajiban mereka, namun tetap saja ada tidaknya sebuah akreditasi akan berpengaruh terhadap pelayanan yang mereka berikan.

Tujuannya untuk masing-masing lembaga sebenarnya berbeda-beda. Contohnya adalah akreditasi untuk rumah sakit, tujuan utamanya adalah untuk sebuah budaya serta menjadikan rumah sakit yang bersangkutan mampu memberikan kualitas pelayanan yang sebaik mungkin.

Tujuan Umum 

Tujuan utamanya akan berbeda dengan tujuan utama akreditasi sebuah lembaga pendidikan.

Namun perbedaan ini tidak besar, karena intinya adalah sebuah penilaian yang mendorong lembaga tersebut untuk memberikan pelayanan yang baik. Itu baru tujuan umumnya saja, masih ada beberapa tujuan khusus dari dilakukannya sebuah pengakreditasian.

Tujuan Khusus

Tujuan khusus pertama dari sebuah penilaian adalah supaya lembaga yang bersangkutan memperlihatkan gambaran seberapa jauh telah memenuhi standar yang berlaku dari pemerintah. Benar sekali, setiap lembaga yang ada di negara kita ini harus memiliki standar yang seharusnya sesuai dengan standar pemerintah.

Tujuan khusus selanjutnya adalah untuk memberikan kepuasan serta jaminan lebih kepada siapa saja yang menggunakan jasa dari lembaga atau institusi tersebut. Tak hanya soal apa yang akan masyarakat saja dapatkan saja, namun siapa saja yang bekerja untuk lembaga tersebut juga harus mendapatkan kelayakan kerja. Maksudnya adalah sebuah penilaian juga menjadikan sebuah jaminan untuk pekerja lembaga tersebut baik itu fasilitas, penggajian, dukungan, dan hal lainnya.

Tujuan khusus selanjutnya bak jauh dari pengertian akreditasi yang telah kita bahas sebelumnya. Sebuah penilaian  bertujuan untuk memberikan sebuah penghargaan atau pengakuan untuk lembaga yang bersangkutan. Bisa juga sebagai bentuk apresiasi pemerintah karena telah memberikan jasa yang bermanfaat untuk masyarakat.

Setelah mengetahui apa saja tujuan dari akreditasi, mungkin Anda sudah bisa menentukan apakah ini penting atau tidak. Seharusnya Anda sudah bisa menilai bapak agar dikasih ini cukup penting.

Sebab penilaian bisa membantu berbagai lapisan masyarakat. Akreditasi bisa membantu pemerintah, membantu lembaga yang bersangkutan, dan juga jelas membantu masyarakat.

Manfaat Akreditasi

Manfaat dari pemberian penilaian tidak jauh berbeda dengan tujuannya. Apa saja tujuannya telah Anda ketahui, namun apa saja manfaatnya sebenarnya sudah Anda ketahui juga.

Manfaatnya tak lain adalah memberikan bantuan kepada masyarakat untuk memilih lembaga yang memang layak dipilih.

Memang benar masyarakat boleh memilih lembaga mana saja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ketika sakit mereka bisa mendatangi rumah sakit yang lebih tinggi tinggi kredibilitasnya, mendatangi Puskesmas yang mungkin lebih dekat dengan tempat tinggal, mendatangi tempat jual obat herbal, mendatangi tempat pijat jasa-jasa lainnya yang bisa menyembuhkan.

Baca Juga: Dampak Positif Dan Negatif Internet

Namun di antara mereka pasti ada perbedaan pendapat. Ada yang memang terserah mau menggunakan jasa seperti apa dan ada juga yang mempercayakan pemerintah atas kebutuhan yang mereka dapati. Inilah manfaat dari sebuah penilaian bisa membantu masyarakat dalam memilih.

Misalkan saja ada dua rumah sakit di sebuah kota, perbedaan ini bisa membantu masyarakat memilih mana yang paling baik. Jikalau salah satu memiliki A dan yang lainnya adalah B, memang benar dua-duanya bisa Anda pilih.

Namun saat masyarakat memutuskan untuk memilih yang berakreditasi B maka mereka juga harus menerima resikonya. Resikonya memang tidak seburuk itu, namun mungkin dari kedua lembaga ini memiliki perbedaan di segi administrasi,penyembuhan, prosedur, fasilitas, dan yang lainnya.

Pentingnya sebuah akreditasi sangat membantu masyarakat dalam memilih lembaga yang mereka butuhkan. Pemerintah membantu masyarakat untuk memilih dan kembali ke masyarakat bahwa mereka harus siap menerima resiko-resiko yang ada dari pilihannya.

Tata Cara Pelaksanaan

Tata cara dari pelaksanaan akreditasi masing-masing jenis lembaga berbeda-beda. Seperti tata cara pemberiannya untuk lembaga kesehatan tentu berbeda dengan pemberian penilaian untuk lembaga pendidikan. Kali ini kita akan mengambil tata cara salah satunya saja, yaitu pemberian untuk lembaga kesehatan.

Untuk lembaga kesehatan, ada tiga tata cara pelaksanaan untuk memberikan penilaian. Tiga tata cara tersebut antara lain tingkat lengkap, tingkat lanjut, dan tingkat dasar. Untuk tingkat lengkap menggunakan indikator sebanyak 16 indikator.

Di antaranya adalah pelayanan rehabilitasi, pelayanan gizi, transfusi darah, bencana K3, kebakaran dan kewaspadaan bencana, laboratorium, pelayanan risiko tinggi, kamar operasi, pengendalian infeksi, rekam medis, farmasi, pelayanan medis, pelayanan gawat darurat, manajemen, pelayanan keperawatan, dan lainnya.

Tingkat Lanjut

Sedangkan untuk pemberian penilaian yang tingkat lanjut ada 12 hal yang akan mendapat nilai. Di antaranya adalah kewaspadaan bencana K3, laboratorium, pelayanan resiko tinggi, pengendalian infeksi, kamar operasi, radiologi, farmasi, rekam medis, gawat darurat, keperawatan, pelayanan medis, manajemen, dan administrasi.

Dari dua tata cara ini mungkin Anda sudah bisa menyimpulkan tata cara selanjutnya memiliki penilaian yang lebih sedikit. Memang sedikit, hanya ada lima penilaian untuk pemberian akreditasi tingkat dasar. Penilaian-penilaian ini antara lain pelayanan gawat darurat, rekam medis, keperawatan, pelayanan medis, manajemen, dan administrasi saja.

Dari contoh tata cara pemberian penilaian untuk rumah sakit ini, mungkin Anda sudah bisa mengira-ngira bagaimana tata cara untuk jenis lembaga yang lainnya. Misalnya saja seperti pemberian pada institusi pendidikan. Yang menjadi penilaiannya bisa saja berupa manajemen, administrasi, kebersihan, kemampuan siswa, kompetensi, kurikulum, dan hal lain-lainnya yang patut mendapat nilai dalam institusi pendidikan.

Setelah mengetahui ada beberapa cara untuk memberikan penilaian, apakah Anda bertanya-tanya siapa yang berhak memilih tata cara ini? Ya, di rumah sakit memang ada tiga tata cara, namun bukan berarti semuanya Anda coba.

Suatu lembaga berhak untuk memilih tata cara akreditasi yang mana, bukan pemerintah yang memilih. Namun pemilihan tata cara pemberian ini harus memiliki alasan dan tersistematis. Mereka harus menyesuaikan pemilihan tata cara untuk akreditasi dengan kesiapan, perencanaan, penjadwalan, dan hal-hal lainnya yang menjadi kebijakan lembaga itu sendiri.

Tahap-Tahap Pemberian

Meskipun akreditasi ini hanya berwujud sebuah huruf, namun prosesnya cukup lama dan panjang. Bahkan ada lembaga yang menilai pemberian ini cukup rumit. Mereka harus melakukan segala kesiapan supaya ‘terlihat’ sempurna, membenahi apa yang seharusnya, memperbaiki kualitas pelayanan mereka, dan hal-hal lainnya demi mendapatkan akreditasi yang bagus. Tentu saja hal ini sangat wajar, karena jelas tidak ada lembaga yang mau mendapat nilai jelek.

Contohnya adalah di institusi pendidikan. Saat mau mendapat akreditasi guru-guru menjadi sibuk mencari data-data penilaian, laporan yang telah siswa atau mahasiswa kumpulkan, melakukan penghijauan di lingkungan sekolah, melakukan pola hidup bersih dan sehat, melengkapi fasilitas, dan masih banyak contoh-contoh lainnya.

Perlu Anda ingat bahwa ini hanyalah sebuah contoh. Tidak semua institusi pendidikan yang akan mendapat akreditasi setelah melakukan hal ini. Sebagian sudah ada yang selalu menerapkan pelayanan sebaik mungkin untuk masyarakat, namun juga ada yang harus merombak segala hal supaya layak mendapat nilai baik saat mendapatkan akreditasi.

Lalu bagaimana tahap-tahap pemberian dari akreditasi ini? Bukankah bahwa prosesnya cukup lama dan rumit? Jangan khawatir karena Anda segera mengetahui bagaimana tahap-tahapnya.

Pemberian

Pemberian akreditasi ini terbagi menjadi tiga tahap utama, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan survei, dan berakhir dengan tahap setelah survei. Masing-masing tahap memiliki tahapan-tahapan lainnya yang lebih spesifik.

Di tahap persiapan ada beberapa hal yang harus. Biasanya tahapan yang pertama dengan atasan atau pemimpin yang telah menyepakati akan adanya pengakreditasian, kemudian membentuk tim akreditasi di lembaga itu, mengubah pola kerja yang tadinya individu menjadi tim, dan melakukan sosialisasi supaya siapa saja yang ada di lembaga itu tahu akan mengadakan sebuah pengakreditasian.

Sosialisasi ini tak hanya bertujuan untuk memberitahu saja, melainkan juga untuk menghimbau siapa saja di lembaga itu melakukan hal yang seharusnya. Mereka juga harus lebih bersiap ketika tim akreditasi dari lembaga yang berwenang datang.

Setelah tahap persiapan selanjutnya adalah tahap pelaksanaan survei. Hari ini adalah tahap paling inti dari sebuah pemberian akreditasi. Tim dari lembaga yang berwenang memberikan akreditasi atau dinas yang bersangkutan akan mengunjungi lembaga tersebut.

Mereka akan mendapat tuntunan untuk mengunjungi beberapa fasilitas yang lembaga tersebut berikan, memperlihatkannya bagaimana pelayanan lembaga tersebut, dan hal-hal lain yang yang termasuk dalam indikator penilaian.

Meski begitu masing-masing penilai dari tim memiliki sifat yang berbeda-beda. Mereka tetap profesional saat menilai, jika buruk akan memberi nilai buruk namun jika baik akan memberi nilai yang baik juga. Namun ada penilai yang mau memandu tim dari lembaga itu untuk melakukan apa yang harusnya mereka lakukan. Sebaliknya, juga ada penilaian yang terkesan sangat cuek.

Terlepas dari itu seharusnya sebuah akreditasi adalah hal yang profesional dan harus ada yang mempertanggungjawabkan, dan menjadi tugas penilai saja yang menentukan berapa nilai yang layak mereka berikan.

Status 

Kembali ke bahasa sangat umum dari akreditasi selain bahasa tentang apa itu akreditasi. Saat mengetahui akreditasi dari sebuah lembaga, bukankah sebuah huruf yang anda lihat atau ketahui? Anda akan melihat huruf A, B, atau huruf lainnya. Masing-masing huruf ini memiliki status yang mana juga sebaiknya Anda ketahui.

A jelas berarti sangat baik, B untuk baik, dan C cukup baik. Namun akreditasi tak hanya soal huruf saja ada juga status yang yang berlaku. Ada 4 empat jenis status yang berlaku untuk akreditasi ini. Status yang pertama adalah akreditasi istimewa yang mana lembaga tersebut akan 3 tahun sampai 5 tahun berturut-turut memiliki akreditasi tersebut.

Kemudian ada akreditasi penuh yang hanya berlaku selama 3 tahun saja, bersyarat untuk satu tahun, dan tidak terakreditasi yang artinya penilaiannya kurang dari 60% . Maksudnya 60% di sini adalah pelayanan yang lembaga tersebut berikan. Suatu lembaga tidak terakreditasi maka Lembaga ini harus berusaha melengkapi kualitas dan pelayanan yang seharusnya mereka berikan.

Kesimpulan 

Kini ada sudah tahu dan apakah akreditasi ini cukup penting. Rupanya ini memang penting, bahkan penting untuk beberapa lapisan masyarakat sekaligus. Pemerintah harus melakukan akreditasi, karena penting bagi sebuah lembaga yang menawarkan jasa, serta untuk masyarakat yang menggunakan jasa tersebut.

Bagaimana saja tata cara pemberian akreditasi ini, tahap-tahapnya, tujuannya, hingga manfaatnya juga sudah Anda ketahui. Sebagai pemilik sebuah lembaga mungkin anda sudah paham betul akreditasi ini memang penting. Serta sebagai masyarakat Anda juga sudah paham apa manfaatnya untuk Anda.

Baca Juga: Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia

Anda menjadi tahu lembaga yang seperti apa yang bisa tidak mengecewakan, namun Anda juga sudah paham bahwa ada resiko kecil yang Anda ambil untuk menggunakan jasa lembaga yang tidak terakreditasi. Pemberian akreditasi melalui tahap-tahap yang tersistematis, juga oleh pihak yang profesional. Jadi, Anda bisa mengandalkan mereka.

Tinggalkan komentar