Arti Mitigasi: Pengertian, Tujuan, Jenis & Kegiatan Mitigasi

Anda mungkin akan lebih familiar jika mendengar kata bencana. Namun untuk mengurangi potensi terjadinya hal tersebut penting sekali memahami arti mitigasi, pengertian, tujuan, jenis-jenis dan kegiatan mitigasi. Meskipun biasanya dilakukan oleh sekelompok atau badan tertentu yang bertugas.

Pengertian Mitigasi

Arti Mitigasi

Kata mitigasi berasal dari istilah latin yaitu mitis yang diartikan sebagai jinak. Selanjutnya tersusun atas kata agare yang bermakna melakukan. Jika disimpulkan secara keseluruhan maka merupakan upaya untuk menjinakkan sesuatu. Pengertian mitigasi sendiri identik dengan pembahasan bencana alam.

Sebetulnya, bencana alam seringkali terjadi tiba-tiba. Hanya saja dapat diperkirakan dan diukur waktunya melalui timbulnya serangkaian gejala atau tanda-tanda. Adanya mitigasi ini dilakukan untuk meminimalisir dampaknya sehingga tidak terlalu besar risikonya ketika sudah melanda.

Dengan kata lain, mitigasi bisa diartikan sebagai kondisi pra bencana. Hal ini karena sifatnya mencegah dan mengantisipasi segala hal yang bisa dilakukan untuk menunda musibah. Jika tetap tidak bisa dicegah, maka langkah paling akhir adalah melakukan penyelamatan sedini mungkin.

Upaya mitigasi ini terus dilakukan dengan cara memantau titik-titik yang berpotensi menimbulkan bencana alam. Mulai dari gunung meletus, banjir, tsunami, gempa bumi dan lain sebagainya. Hal tersebut dilakukan agar tidak sampai hilang kendali dan menimbulkan banyak korban, baik jiwa maupun harta.

Tujuan Dilakukannya Mitigasi Bencana

Potensi bencana alam yang terjadi di Indonesia cukup besar. Hal ini karena banyaknya kekayaan alam memungkinkan kerusakan. Seperti gunung-gunung, pantai, laut, tanah longsor dan masih banyak lagi. Maka dari itu, pentingnya melakukan mitigasi bertujuan agar meminimalisir dampak setelahnya.

Meminimalisir Korban Jiwa

Mitigasi bencana biasanya dilakukan oleh tim khusus, yaitu Badan Penanggulangan Bencana. Pastinya berdasarkan tujuan tertentu. Salah satunya untuk meminimalisir korban jiwa yang diakibatkan setelahnya. Apalagi prediksi kerusakan alam cenderung terjadi berkali-kali dan dalam jumlah besar.

Baca Juga: Arti Freelancer

Upaya pencegahan atau pemantauan terhadap potensi bencana alam akan membuat manusianya menjadi waspada. Seiring waktu, masyarakat lebih mempersiapkan segala kemungkinan terburuk. Mulai dari penyelamatan harta-benda, merencanakan pengungsian ke tempat aman, dan lainnya.

Ini salah satu tujuan dari arti mitigasi bencana agar tetap dapat menyelamatkan masyarakat karena cenderung datang tiba-tiba. Sekalipun bisa diprediksi gejalanya, namun hanya dapat mengira-ngira sehingga tidak terlalu akurat. Namun upaya pencegahan ini cukup membantu dibandingkan tidak dilakukan sama sekali.

Meminimalisir Kerugian Ekonomi

Dampak paling besar dari adanya bencana alam selain korban jiwa adalah penurunan kondisi ekonomi. Karena biasanya tempat-tempat penting seperti pusat perbelanjaan, pekerjaan dan sebagainya yang terkena imbasnya secara langsung akan berhenti sementara. Apalagi bila bangunannya pun rusak.

Jika korban jiwa meningkat, maka akan ikut memengaruhi kondisi ekonomi yang semakin memburuk. Hal ini karena sumber daya manusia menjadi berkurang sehingga aktivitas pekerjaan tidak bisa dilakukan dengan normal seperti biasanya. Apalagi bila harus kehilangan harta-benda sehingga kebutuhan pangan ikut terancam.

Kondisi ekonomi negara bisa semakin memburuk jika upaya mitigasi terlambat bahkan tidak dilakukan. Karena semakin besarnya dampak dari bencana alam yang terjadi membuat pengeluaran menjadi membengkak. Khususnya untuk mengirim bantuan bahan pokok setiap harinya pada korban akibat bencana.

Mengurangi Risiko Kerusakan Sumber Daya Alam

Sudah bukan suatu rahasia lagi bila bencana alam dapat menimbulkan kerusakan sumber daya alam. Hal ini karena sifatnya merusak dan memperburuk keadaan. Seperti lahan pohon karet bisa saja akan menjadi tidak berfungsi lagi bila terjadi tanah longsor atau kebakaran hutan yang hebat.

Bentuk bencana alam lainnya seperti banjir dapat merusak ekosistem di perairan. Mulai dari banyaknya ikan-ikan yang mati karena terkapar di tanah ketika surut, serta masih banyak lagi. Hal ini terjadi karena kurangnya upaya mitigasi sebelum bencana alam sehingga dampaknya menjadi lebih besar.

Untuk itu, perlu dilakukan upaya mitigasi bencana dengan strategi yang baik. Kemudian nantinya dapat diprediksi waktu terjadinya sehingga bisa melakukan penyelamatan terhadap sumber daya alam sedini mungkin. Seperti memanen tanaman lebih dahulu atau melakukan perbaikan pondasi untuk melindungi dari bencana.

Pedoman Pembangunan bagi Pemerintah

Jika Anda juga menanyakan mengapa arti mitigasi, pengertian, tujuan, jenis-jenis dan kegiatan mitigasi penting untuk dilakukan, salah satu alasannya adalah dapat digunakan sebagai pedoman bagi pemerintah. Ketika waktu bencana dapat diperkirakan, biasanya terlihat pula penyebabnya baik faktor alam atau kelalaian manusia.

Setelah mengetahui hal tersebut, pastinya dapat dijadikan pedoman bagi pemerintah ketika melakukan rencana pembangunan masa depan. Meski bencana alam sifatnya tidak bisa ditebak melainkan datang tiba-tiba. Namun melalui gejala-gejala yang timbul dapat diperkirakan penyebabnya.

Tujuan upaya mitigasi satu ini cukup penting karena berperan untuk memperbaiki keadaan alam menjadi lebih sempurna. Paling tidak, mengurangi risiko terjadinya kesalahan yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Terutama juga dalam hal pembangunan infrastruktur suatu negara.

Meningkatkan Kesadaran Masyarakat

Semua orang memang takut akan bencana alam. Hal ini karena sifatnya benar-benar merusak. Mulai dari skala terkecil hingga besar bisa mengakibatkan kehancuran. Tidak jarang dapak setelahnya menimbulkan kehilangan orang-orang terdekat, pekerjaan, pendidikan, bahkan harta-benda.

Namun kebanyakan orang kurang memahami pentingnya melakukan pencegahan dini. Semua lebih sibuk menjaga aktivitas kehidupan seperti biasanya. Padahal bencana alam bisa terjadi sewaktu-waktu, baik ketika penduduk bumi siap maupun tanpa persiapan sedikit pun.

Alasan pentingnya tetap melakukan mitigasi adalah agar bisa meningkatkan kesadaran masyarakat. Apalagi bagi penduduk sekitar lokasi yang berpotensi terjadi bencana. Jika diminta untuk mengungsi sebelum bencana, maka pasti dapat mengambil pelajaran tentang bahayanya.

Memberi Rasa Aman kepada Masyarakat

Bencana alam memang tidak bisa dihindari atau dibatalkan. Namun, beberapa upaya mitigasi bisa dilakukan untuk mencegah atau menunda terlebih dahulu. Sekalipun tidak bisa keduanya, paling tidak upaya tersebut dapat digunakan sebagai panduan untuk mengetahui lebih dahulu dan bertindak.

Upaya mitigasi memang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Butuh tim khusus seperti Badan Penanggulangan Bencana. Kemudian, nantinya menyalurkan informasi dan aba-aba ke masyarakat untuk memberikan saran tindakan-tindakan tertentu. Seperti menyelamatkan barang berharga atau mengungsi.

Meski masih tetap menyisakan kerugian akibat bencana alam, namun dengan mitigasi masyarakat bisa merasa lebih aman. Hal ini karena potensi terjadinya telah diketahui jauh-jauh hari sehingga sedikit banyak dapat melakukan persiapan. Ketika benar terjadi, sudah tidak terlalu kaget karena bisa menerima.

Jenis-Jenis Mitigasi

Jenis-Jenis Mitigasi

Upaya pencegahan bencana alam di awal sebelum benar-benar terjadi memang sangat perlu dilakukan. Mengingat bahayanya bisa menimbulkan kerugian di segala sektor. Tidak hanya korban jiwa namun juga beberapa aspek kehidupan. Ternyata mitigasi dibedakan menjadi beberapa jenis. Berikut rinciannya:

Struktural

Jenis pertama ini merupakan mitigasi yang dilakukan untuk mengupayakan pengurangan risiko bencana melalui pembangunan. Hal ini terjadi karena melihat gejala-gejala yang memungkinkan. Kemudian memperbaiki dari segi peningkatan sarana dan prasarana yang terlihat secara fisik.

Selain melakukan pembangunan nyata di segala aspek untuk digunakan sebagai persiapan ketika bencana benar-benar melanda. Upaya mitigasi yang pertama ini juga dilakukan di bidang teknologi. Seperti pembuatan kanal atau alat-alat pendeteksi bencana mulai dari gunung meletus, banjir dan tsunami.

Tidak jarang pula upaya mitigasi yang pertama ini melakukan pembangunan tahan gempa. Maka ketika bencana benar terjadi, bangunan tidak mengalami kerusakan cukup parah sehingga kerugian tidak terlalu banyak. Dalam arti lain jenis struktural lebih mengutamakan rekayasa bangunan.

Non Struktural

Jenis upaya mitigasi yang kedua ini melakukan pencegahan di segala aspek melalui cara selain pada jenis struktural. Seperti pembuatan kebijakan tertentu melalui undang-undang. Dapat pula mencegah dengan pengadaan asuransi, kemudian perencanaan wilayah secara baik agar meminimalisir.

Dalam arti lain, upaya mitigasi jenis non struktural lebih didasarkan pada tujuan untuk mengurangi risiko yang tidak perlu. Tidak hanya itu, dampak-dampak yang merusak juga menjadi patokan untuk ditiadakan. Namun untuk menjalankannya dibutuhkan upaya struktural.

Bentuk dari upaya mitigasi non struktural seperti larangan membuang sampah sembarangan. Tidak hanya itu, ada pula aturan kapasitas pembangunan juga peletakan ruang kota yang dibuat sesuai peraturan. Dapat dikatakan sebagai usaha di bidang tertulis untuk memperkuat pelaksanaan upaya struktural.

Kegiatan Mitigasi

Kegiatan Mitigasi

Secara sekilas, mitigasi dapat diartikan sebagai upaya untuk melakukan pencegahan terhadap bencana alam. Meskipun sifatnya sulit diprediksi karena datangnya tidak terduga. Namun melalui pengamatan terhadap gejala-gejala mampu memberikan solusi untuk mengatasinya. Banyak sekali macam kegiatan mitigasi yang bisa dilakukan.

Mengenal dan Memantau Risiko Bencana

Kegiatan mitigasi pertama yang biasa dilakukan yaitu memantau terlebih dahulu. Setiap Badan Penanggulangan Bencana memiliki tugas di bidang masing-masing. Mengingat potensi kerusakan bisa saja terjadi di segala aspek mulai dari gunung, pantai, laut dan masih banyak lagi.

Baca Juga: Pengertian Inovasi

Untuk mengetahui potensi timbulnya bencana tidak bisa hanya dilakukan beberapa kali. Tetapi perlu pemantauan secara terus-menerus. Sekalipun keadaan masih menunjukkan normal. Hal ini karena bisa saja tiba-tiba memburuk.

Jika ketika pemantauan terdapat tanda-tanda yang mengarah ke bencana, maka tidak langsung menyimpulkan. Karena biasanya dikategorikan terlebih dahulu mulai dari status siaga sampai darurat. Setiap tahapan juga memiliki instruksi yang harus dilakukan berbeda-beda. Hal ini penting untuk menenangkan penduduk.

Perencanaan Partisipasi Penanggulangan Bencana

Kegiatan mitigasi berikutnya ini biasanya dilakukan setelah mengetahui adanya gejala-gejala pada saat pemantauan. Tidak hanya itu, sifat dari tanda-tanda itu cenderung sama atau bahkan meningkat seiring waktu. Maka untuk menindaklanjuti, Badan Penanggulangan Bencana biasanya melakukan perencanaan.

Dalam hal ini, perencanaan yang dilakukan masih pada tahap partisipasi penanggulangan bencana. Seperti membentuk tim relawan tambahan saat bencana terjadi. Namun terlebih dahulu perlu pembentukan kelompok untuk melakukan serangkaian pencegahan terhadap bencana.

Hal ini karena sebisa mungkin upaya mitigasi bukan untuk menyelamatkan pasca bencana. Namun sebaliknya berdasarkan pengertian mitigasi risiko, yaitu melakukan pencegahan sebelum terjadinya bencana alam. Bahkan bencana ditunda tetapi sepertinya hanya skala kecil saja yang mampu diupayakan.

Menciptakan Kesadaran Warga Sekitar

Tahapan dalam mitigasi memang banyak sekali. Bahkan pada saat pemantauan saja membutuhkan beberapa kali pengalaman untuk dapat menyimpulkan suatu kondisi. Jika muncul gejala atau tanda-tanda yang semakin hari kian meningkat dan diperkirakan besar kemungkinan untuk terjadinya bencana.

Saat itu pula status wilayah terdekat atau yang bersangkutan menjadi waspada. Biasanya imbauan untuk warga sekitar juga mulai diberikan. Seperti anjuran untuk tidak beraktivitas dengan jarak maksimal terhadap lokasi bencana sesuai anjuran. Jika meningkat lagi, maka imbauan juga akan lebih khusus.

Bila status bencana menjadi lebih berbahaya, biasanya satu atau dua hari sebelum terjadinya prediksi bencana, warga diminta mengosongkan tempat tinggal bahkan kampung halaman. Kemudian mencari tempat pengungsian yang sudah disediakan. Hal ini penting dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Mengenal Sumber Bencana

Kegiatan mitigasi berikutnya dapat berupa mengidentifikasi terlebih dahulu sumber bencana. Hal ini penting dilakukan karena selain untuk memastikan kebenaran terhadap gejala-gejala alam yang timbul, juga sebagai pedoman agar bisa mengoreksi kesalahan dalam hal perawatan maupun pembangunan.

Ketika sudah mengetahui sumber bencana alam yang akan terjadi, maka memudahkan pengambilan langkah berikutnya. Paling penting adalah memandu masyarakat untuk melakukan penyelamatan baik jiwa maupun harta berharga. Hal tersebut baru bisa dilakukan jika asal muasal bencana sudah jelas diketahui.

Berbeda jenis bencana, maka tidak sama pula cara penanganannya. Bahkan ketika mengetahui sumbernya saja belum tentu dapat disimpulkan solusinya. Karena bergantung pula pada tanda-tanda yang muncul sekaligus berkaitan dengan lokasi yang bersangkutan.

Memantau Penggunaan Teknologi dan SDA

Dalam melakukan kegiatan mitigasi, ternyata tidak hanya berfokus pada pemantauan munculnya gejala bencana alam. Namun juga memaksimalkan penggunaan teknologi tinggi. Seperti alat-alat canggih yang berfungsi untuk mengetahui potensi dini gempa bumi, gunung meletus dan tsunami.

Hal ini penting dilakukan karena alat-alat canggih tersebut buatan manusia. Maka mungkin saja jika digunakan secara terus-menerus, apalagi tanpa kontrol bisa terjadi kerusakan. Sederhananya, mengalami penurunan fungsi atau hasil dari tangkapannya tidak dapat dijadikan acuan karena kurang akurat.

Dalam aktivitas kehidupan juga tidak lepas dari penggunaan sumber daya alam. Ini merupakan salah satu faktor yang menimbulkan terjadinya bencana alam cukup besar. Jika dalam pengambilannya dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab sehingga mengeksploitasi bahkan merusak sistem.

Mengawasi Pelaksanaan Tata Ruang

Hampir setiap tahun upaya pembangunan wilayah selalu dilakukan. Hal ini selain untuk memperbaiki kondisi yang rusak agar kembali baik juga merupakan penyesuaian cuaca dan kepentingan lainnya. Ternyata hal ini juga menjadi tugas dari kegiatan mitigasi yaitu mengawasi proses berjalannya.

Hal tersebut bertujuan agar tata ruang yang sudah direncanakan di suatu wilayah bisa terwujud sebagaimana mestinya. Jika tidak, maka kemungkinan besar terjadinya bencana bisa saja disebabkan karena kesalahan pelaksanaan. Karena setiap perencanaan sudah disesuaikan dengan kepentingan masing-masing.

Badan Penanggulangan Bencana dalam melakukan kegiatan mitigasi hanya bertugas mengawasi pelaksanaannya saja. Kemudian memastikan agar sesuai dengan perencanaan tata ruang sebelum terealisasi. Hal ini perlu dilakukan agar pemaksimalan fungsi benar-benar terjamin.

Mengawasi Pengelolaan Lingkungan Hidup

Secara singkatnya, mitigasi memang upaya untuk mencegah terjadinya bencana alam. Mengingat banyak sekali kemungkinan sumber bencana bisa muncul. Tidak heran bila akhirnya kegiatan mitigasi pun banyak ragamnya. Mulai menyebar di segala aspek untuk meminimalisir kemungkinan terburuk.

Salah satu arti mitigasi bencana juga mengawasi pengelolaan lingkungan hidup. Hal ini sangat penting karena banyak bencana justru bersumber akibat kinerja atau penanganan terhadap lingkungan hidup yang kurang benar. Seperti seringnya melakukan penjaringan ikan laut menggunakan pukat harimau.

Selain bisa merusak ekosistem perairan, lama-kelamaan juga memperbesar potensi tsunami. Pengambilan getah karet yang berlebihan di hutan bahkan dengan cara ditebangi secraa liar. Lambat laun dapat mengakibatkan potensi tanah longsor sebagai bentuk dari bencana alam.

Strategi Mitigasi Bencana

Strategi Mitigasi Bencana

Dalam melakukan upaya pencegahan bencana alam sejak dini, selain harus oleh ahli di bidangnya juga memerlukan strategi khusus. Hal ini karena setiap jenis peristiwa membutuhkan penanganan dan tingkat kewaspadaan yang berbeda-beda. Pengkoordiniran yang baik juga menjadi faktor pendukung.

Pemetaan

Tahapan awal dari strategi yang digunakan oleh Badan Penanggulangan Bencana alam ini cukup penting. Meski terkesan sederhana, namun tidak boleh sampai terlewatkan. Justru kelalaian bencana alam bisa muncul akibat kurangnya mengenali potensi-potensi kecil.

Pemetaan penting sekali dilakukan pada tahap awal. Bahkan hampir selalu dipantau untuk mengetahui perkembangannya. Khususnya bagi daerah rawan bencana karena sangat memungkinkan untuk memunculkan peristiwa lanjutan maupun kejadian baru yang lebih mengerikan dan mengancam.

Kegunaan pemetaan wilayah ini akan memberi ruang baru bagi pemerintah untuk menetapkan bentuk antisipasi bencana ke depan. Maka dari itu, penting untuk menyatukan upaya pengelompokan tata ruang bersama beberapa rangkaian solusi untuk mencegah maupun mengatasi potensi.

Pemantauan

Strategi selanjutnya yang juga tidak boleh dilewatkan ini merupakan tahapan lanjutan dari pemetaan. Hal ini sangat membantu setelah mengetahui daerah-daerah potensi rawan bencana sekaligus bentuk peristiwanya, baru kemudian melakukan pemantauan secara terus-menerus.

Pemantauan harus dilakukan secara berkala bahkan tidak boleh sampai lepas kendali. Karena suatu daerah yang sudah terlihat akan memunculkan bencana, maka hanya tinggal menunggu waktu. Setiap hari bahkan harus siap sedia mengawasi perubahan status wilayah sehingga sewaku-waktu dapat mengambil tindakan.

Strategi ini juga biasa dilakukan terhadap beberapa lokasi yang sudah selesai dilakukan pemetaan. Kemudian, bila statusnya mendekati atau cenderung memungkinkan terjadinya bencana, maka baru dilakukan pengamatan secara intensif. Hal tersebut guna meminimalisir kelalaian.

Penyebaran Informasi

Setelah memetakan dan memantau daerah-daerah yang berpotensi akan terjadi bencana alam. Strategi berikutnya yang perlu dimiliki oleh Badan Penanggulangan Bencana biasanya melakukan penyebaran informasi. Bukan berarti saat genting saja, namun biasanya segala perkembangan akan disampaikan.

Baca Juga: Pengertian K3

Jika suatu daerah rawan bencana sudah dilakukan pemetaan, kemudian dari hasil pemantauan menunjukkan gejala-gejala, maka akan ada informasi lanjutan setiap harinya. Apalagi bila status bencana semakin hari kian meningkat. Apapun perkembangannya, mulai yang baik hingga buruk akan tetap diberikan.

Namun biasanya badan penanggulangan bencana ini tidak hanya meyampaikan informasi saja. Melainkan menyisipkan imbauan sikap kepada warga sekitar lokasi untuk bertindak. Bila statusnya masih rendah biasanya masyarakat hanya diminta waspada dan tetap tenang.

Sosialisasi

Bencana memang suatu peristiwa yang membahayakan dan bisa menghancurkan alam. Mengingat hal tersebut, maka penting sekali melakukan penyuluhan maupun sosialisasi kepada masyarakat sebagai pendukung upaya mitigasi. Bahkan banyak pula warga yang kurang mendapatkan informasi mengenai bencana.

Penyuluhan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan jiwa sadar masyarakat terhadap bahayanya bencana. Maka dari itu, perlu meningkatkan kepedulian dengan tidak merusak alam. Sederhananya, mulai memerhatikan berita-berita atau informasi terkait potensi bencana alam khususnya di Indonesia.

Bentuk sosialisasi untuk mendukung upaya mitigasi sangat beragam. Tidak hanya terbatas pada kelompok-kelompok tertentu dan satu jenis kegiatan saja. Melainkan memasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Hal ini bertujuan untuk memupuk jiwa sadar para peserta didik sejak dini tentang bencana alam.

Peringatan Dini

Strategi berikutnya yang bisa dilakukan oleh badan penanggulangan bencana ini baru bisa dilaksanakan setelah mengetahui hasil evaluasi. Biasanya, ada batasan tersendiri mengenai rentang waktu untuk mengamati suatu lokasi berpotensi atau tidak menimbulkan bencana alam.

Jika hasilnya semakin hari meningkat bahkan tanpa adanya penurunan kondisi, bisa disimpulkan kemungkinan besar akan terjadi bencana alam. Saat itulah peringatan dini mulai digaungkan ke masyarakat sekitar. Biasanya diawali dengan penutupan akses tertentu sehingga jalur dialihkan.

Hal tersebut dilakukan bila tahap gejala bencana masih terbilang rendah atau belum terlalu berdampak. Jika hasilnya semakin hari bertambah banyak atau meningkat drastis. Maka langkah cepat perlu diambil dengan menutup total akses kemudian mengosongkan wilayah terdekat dengan bencana.

Prinsip-Prinsip dalam Mitigasi

Prinsip-Prinsip dalam Mitigasi

Mitigasi merupakan upaya dini untuk mencegah bencana alam. Tidak heran jika dalam pelaksanaannya membutuhkan persiapan matang. Termasuk berpedoman pada prinsip sehingga menemukan solusi atau langkah antisipasi bencana yang tepat.

Cepat dan Tepat

Prinsip mitigasi paling utama ini memang sangat penting. Mengingat bencana bisa terjadi kapan saja. Sekalipun dapat diterka gejalanya, namun waktu kepastian datangnya cenderung tiba-tiba. Itulah salah satu alasan pencegahan harus dilakukan secara cepat agar tidak sampai lalai.

Namun langkah cepat saja tidak cukup untuk berhasil mencegah bahkan mengatasi bencana alam. Karena bila antisipasinya kurang tepat, sama saja seperti ceroboh. Justru bisa menimbulkan peristiwa bencana yang lebih parah dampaknya. Baik bagi korban jiwa maupun kondisi lingkungan sekitar.

Menerapkan langkah cepat dan tepat akan membuat bencana bisa diketahui lebih dahulu. Bahkan bila jenis bencana alam terjadi karena kelalaian manusia, maka dapat diupayakan untuk tidak terjadi. Namun jika tergolong bahaya dan sulit dikendalikan seperti gunung meletus, maka hanya sanggup diminimalisir dampaknya.

Koordinasi

Prinsip penting yang harus dipegang untuk dapat mencegah terjadinya bencana alam ini cukup penting. Pasalnya peristiwa tersebut besar pengaruhnya bagi segala aspek kehidupan. Untuk melakukan porses mitigasi tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak kemudian lainnya menunggu kabar.

Namun sebaliknya, membutuhkan koordinasi kuat dan efektif dari berbagai kalangan. Seperti Badan Penanggulangan Bencana, pemerintah, relawan, polisi, tenaga medis dan sebagainya yang terkait. Hal ini dipelukan agar ketika terjadi sesuatu, semua pihak bisa bergerak sesuai bidangnya masing-masing.

Selain pihak-pihak di atas, juga memerlukan koordinasi yang baik dengan masyarakat. Pasalnya elemen paling penting untuk diselamatkan. Jika tidak memiliki kemampuan hubungan atau komunikasi yang baik, akan memperbesar kemungkinan warga tidak mendapat kabar bencana bahkan menjadi korban.

Non Diskriminatif

Prinsip lainnya yang tidak kalah penting yaitu perilaku non diskriminatif. Hal ini diperlukan mengingat Indonesia terdiri atas lapisan masyarakat dengan latar belakang berbeda-beda. Sedangkan semua pihak harus diselamatkan dari bahaya bencana alam tanpa memandang asal-usul.

Keberhasilan suatu Badan Penanggulangan Bencana ketika melakukan mitigasi yaitu meminimalisir risiko bencana alam. Bahkan jika bisa, meniadakan dampak negatif pasca kejadian. Namun bila perilaku diskriminatif masih besar, maka akan memperbanyak jumlah korban jiwa.

Baca Juga: Pengertian Sampah

Perilaku non diskriminatif ini harus dimiliki oleh semua orang, tidak hanya tim penanggulangan bencana saja. Hal ini karena bentuk koordinasi dari upaya ini akan bersambung. Dari tim ke pemerintah, berlanjut ke masyarakat yang satu dan lainnya semua harus saling menyelamatkan.

Kini Anda sudah memahami arti mitigasi, pengertian, tujuan, jenis-jenis dan kegiatan mitigasi. Ternyata meski terlihat cukup sederhana untuk melakukan upaya pencegahan bencana alam, namun memiliki banyak sekali kegiatan yang menggambarkannya.

Tinggalkan komentar