Biografi Pahlawan Nasional Indonesia Wanita

Biografi Pahlawan Nasional Indonesia Wanita

Diposting pada

Indonesia memproklamasikan kemerdekaan sejak tahun 1945. Hal tersebut tidak bisa terwuduj tanpa bantaun para pahlawan nasional Indonesia. Bukan hanya satu atau dua, namun jutaan nyawa yang gugur saat berjuang untuk meraih kemerdekaan adalah pahlawan yang bisa membawa kita pada zaman yang serba modern seperti sekarang. Nah, kalau berbicara mengenai pahlawan, seberapa tahu sih kamu biografi pahlawan nasional Indonesia? Sudah tahu banyak atau malah tidak tahu sama sekali?

Untuk memperkaya pengetahuan dan menumbuhkan jiwa nasionalis, artikel ini akan menceritakan sekilas terkait biografi pahlawan nasional Indonesia wanita.

Biografi 7 Pahlawan Nasional Wanita Indonesia

Pahlawan Nasional Indonesia Wanita

Ya, tidak hanya laki-laki saja yang berjuang melawan penjajah, namun kaum perempuan juga ikut andil untuk kemerdekaan. Beberapa tokoh berjuang bukan dengan fisik melainkan dengan usaha memajukan Pendidikan, seperti RA Kartini. Untuk itu marik kita bahas lebih lanjut pada ulasan berikut ini.

Biografi RA Kartini

 

Pahlawan Wanita Indonesia RA Kartini

Raden Ajeng Kartini merupakan seorang pahlawan yang mempelopori kebangkitan wanita Indonesia, ia adalah pahlawan Emansipasi. Lahir pada tanggal 21 April 1879, merupakan anak seorang bangsawan pribumi, mengenyam Pendidikan hingga ELS (Europese Legere School) yaitu sekolah untuk bangsawan pribumi dan kaum Belanda, kalau sekarang setara dengan Sekolah Dasar.

Mengapa tidak melanjutkan Pendidikan? Karena berdasarkan kebudayaan masyarakat Jawa kala itu, Kartini harus dipingit. Namun, selama ia tinggal di rumah, ia tetap berkomunikasi dengan teman-teman di Eropa menggunakan surat. Ia juga banyak membaca majalah terbitan Eropa.

Tidak heran bila kegiatannya tersebut membuka pemikiran tentang kedudukan perempuan pribumi, khususnya untuk berkehidupan sosial. Kartini menganggap bahwa perempuan pun berhak merdeka sehingga perlu adanya emansipasi wanita.

Seiring berjalannya waktu, Kartini dinikahkan dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningra yang saat itu memiliki jabatan sebagai Bupati Rembang. Beruntungnya Kartini, karena Adipati memberikan kebebasan pada Kartini untuk mendirikan sekolah wanita pribumi di samping kantor Adipati.

Namun sayangnya, pasca Kartini melahirkan anaknya yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat, Kartini wafat tepat pada tanggal 17 September 1904. Ia dimakamkan di Rembang, Jawa Tengah.
Setelah kematian Kartini, seluruh surat yang ia tuliskan dan berisi pemikirannya mulai dikumpulkan, disusun hingga menjadi buku yang dikenal dengan nama “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Sebuah pemikiran tentang emansipasi wanita yang mengubah sudut pandang kaum eropa pada wanita pribumi.

Sebuah lagu berjudul “Ibu Kita Kartini” pun dibuat oleh WR Soepratman guna memberikan penghormatan dan mengenang mendiang RA Kartini dan setiap tanggal 21 April pun dijadikan sebagai hari pahlawan nasional RA Kartini.

Biografi Dewi Sartika

Pahlawan Wanita Indonesia dewi sartika

Dewi Sartika, kamu mungkin sering mendengar nama jalan ini? Tahukah kamu bahwa jalan tersebut ada untuk mengenang pahlawan nasional yang berjasa pada Indonesia? Ia adalah Dewi Sartika, pahlawan emansipasi wanita, penggagas Pendidikan untuk kaum wanita, selain RA Kartini.

Lahir di Cicalengka, 4 Desember 1884. Sejak kecil sudah berminat pada ilmu pengetahuan, sehingga tidak heran bila pengetahuan soal kedaerahan dan kebudayaan Eropa khususnya Bahasa Belanda sangat luas. Ia kemudian aktif mengajar anak pembantunya yang kebanyakan rakyat tidak mampu, ia mengajarkan baca tulis hingga berbahasa belanda.

Tidak heran kalau Cicalengka sempat gembar sebab cukup banyak anak-anak dari kalangan rakyat jelata yang mampu membaca dan menulis. Akhirnya Dewi Sartika mendapatkan dukungan dari Sang Kakek yang bernama R.AA Martanegara untuk mendirikan sebuah sekolah khusus perempuan pada tahun 1904 yang diberi nama Sekolah Isteri.

Kian waktu peminat pada sekolah yang dibuat oleh Dewi Sartika semakin bertambah sehingga ia harus memindahkan sekolahnya ke tempat yang lebih besar. Pada tahun 1910, Dewi Sartika juga mengganti nama sekolahnya menjadi “Sekolah Keutamaan Istri”

Perhatiannya pada Pendidikan kaum perempuan memang sangat besar. Ia sangat berharap sekolah yang didirikannya bisa membantu para wanita pribumi bisa mendapatkan Pendidikan yang layak, bisa menjadi pribadi yang terampil dan bisa berdiri sendiri.

Sang suami yang bernama Raden Kanduruan Agah Suriawinata juga ikut serta membantu Sang Istri, Dewi Sartika. Seiring bejalannya waktu, nama sekolah pun di rubah kembali dan menjadi Sakola Raden Dewi. Pemerintah Hindia-Belanda pun memberikan penghargaan jasa Orde Van Oranje-Nassau pada Dewi Sartika. Pada tanggal 11 September 1947 akhirnya pendiri Sekolah Istri ini wafat di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Biografi Christina Martha Tiahahu

Pahlawan Wanita Indonesia Christina Martha Tiahahu

Christina Martha Tiahahu merupakan pahlawan wanita Indonesia yang terkenal akan jasanya. Ia adalah seorang pahlawan termuda bila dibandingkan dengan pahlawan nasional lainnya. Ia berasal dari Maluku. Martha merupakan seorang perempuan yang sudah dikenal akan keberaniannya sejak masih kecil. Sang Ayah bernama Paulus Tiahahu merupakan seorang tokoh yang membantu Kapitan Pattimura untuk berjuang melawan penjajah.

Wanita kelahiran 4 Januari 1800 ini sudah 3 kali meminta izin pada sang ayah untuk ikut bertempur, namun sayangnya tidak mendapatkan izin. Meskipun demikian, christina tetap melangsungkan pertempuarannya namun buka melawan Belanda melainkan membantu rakyat yang terluka akibat kejahatan para penjajah.

Dimana memang perang Maluku merupakan salah satu perang besar yang melibatkan sipil untuk melawan kolonil Belanda yang membawa pasukan besar dan menggempur Ulath. Meskipun Belanda sempat terdesak namun pasukan yang dikomandopi Vermeulen Kringer tetap melakukan serangan besar-besar ke wilayah Ulath dan Ouw, hingga akhirnya membuat rakyat harus bertahan hidup di pegunungan.

Namun perlayanan akhirnya sempat terhenti saat para pemimpin perlawanan yakni Kapitan Pattimura, Kapitan Paulus Tiahahu dan pemimpin lainnya tertangkap. Belanda pun menangkap Christina dan kemudian di bawa ke atas kapal untuk diadili.

Kapitan Pattimura mendapatkan hukuman gantung di daerah Ambon, Ayah dari Martha Christina Tiahahu diekseskusi langsung oleh Belanda, sementara itu Martha Christina Tiahahu yang saat itu masih sangat mudah di bawah ke daearah Jawa untuk melakukan tanam paksa.

Sayangnya selama dalam perjalanan ke pulau Jawa, Martha yang sudah menjadi tahanan Belanda sangatlah terpukul. Ia depresi sebab kematian sang ayah, hingga akhirnya ia menolak makan dan kondisinya semakin melemah.

Pada tangal 2 Januari 1818 di usianya yang masih 19 tahun, akhirnya ia wafat, jasadnya dilepas ke laut Banda dan diberikan penghormatan militer.

Biografi Fatmawati Soekarno

Pahlawan Wanita Indonesia Fatmawati Soekarno

Fatmawati merupakan salah satu istri dari Ir Soekarno yang juga masuk dalam jajaran pahlawan nasional wanita Indonesia. Ia merupakan perempuan yang menjahit bendera merah putih pertama yang dikibarkan untuk kemerdekaan Indonesia.

Lahir di kota Bengkulu pada tanggal 5 Februari 1923. Ia sempat mengenyam Pendidikan di Hollandsch Indlandche School (HIS), setelah itu melanjutkan ke Sekolah Muhammadiyah, Bengkulu dan kemudian bertemu dengan Ir Soekarno yang saat itu adalah pengajar di sana. Soekarno yang kalau itu sudah memiliki istri bernama Inggit Ganarsih ternyata masih merasa tertarik pada

Fatmawati hingga melamarnya menjadi istri. Pasca lamaran diterima, hubungan dengan Inggit pun kandas.

Setelah menikah, Soekarno kemudian berangkat ke Jakarta dan Fatawati menyusulnya. Selama masa-masa mencekam menuju kemerdekaan, meskipun Fatmawati tidak berjuang di lapangan namun ia ikut andil dalam menjahit bendera kemerdekaan.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Fatmawati akhirnya menjadi ibu negara pertama Republik Indonesia. Dari pernikahannya bersama Soekarno, ia melahirkan 5 anak. Pada tahun 14 Mei 1980, Fatmawati wafat saat perjalanan berpulang dari Mekkah dan dimakamkan di TPU Karet Bivak.

Biografi Cut Nyak Dien

Biografi Cut Nyak Dien

Seorang perempuan yang dinobatkan pahlawan nasional, berasal dari kota serambi mekkah, Aceh. Terkenal karena perjuangannya melawan colonial Belanda, ia adalah Cut Nyak Dien.

Lahir di Lumpadang, Aceh pada tahun 1848, langsung terlibta dalam perang Aceh pasca suaminya bernama Ibrahim Lamnga tewas saat bertempur melawan Belanja. Cut Nyak Dien yang seorang perempuan, tak gentar untuk mengangkat senjata melawan penjajah.

Kemudian ia menikah dengan Teuku Umur dan mereka berdua tetap bahu untuk melawan penjajah. Aksi perlawanan dilakukan secara gerilya di hutan aceh. Serangan pun dilakukan secara mendadak di pos-pos yang diduduki pasukan Belanda. Belanda sempat kerepotan akibat serangan yang dilakukan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien.

Sayangnya, dalam masa perjuangan pada tanggal 11 Februari 1899 Teuku Umar lebih dulu gugur karena mendapat tembakan. Biarpun Cut Nyak Dien merasa sedih, namun ia tetap berjuang dengan memimpin pasukan kecilnya.

Seiring berjalannya waktu, kondisi fisik Cut Nyak Dien semakin memprihatikankan. Ia terkena penyakit rabun mata dan encok. Karena hal tersebutlah seorang bernama Pang Laot melapirkan posisi Cut Nyak Dien dengan alasan iba.

Ia akhirnya terangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Ia kemudian diasingkan ke Kota Sumedang, Jawa Barat dan wafat pada tanggal 6 November 1908.
Atas jasa yang telah dilakukannya bersama suami dalam melawan penjajah. Pemerintah akhirnya memberikan gelar pahlawan nasional melalui SK Presiden RI No. 106 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964.

Biografi Rasuna Said

Pahlawan Wanita Indonesia Rasuna Said

Pahlawan nasional Indonesia perempuan yang terkenal di Indonesia adalah Rasuna Said, ia memang tidak mengangkat senjata untuk melawan para penjajah namun ia melawan lewat tulisan yang ditorehkannya. Ia juga adalah tokoh yang memperjuangkan hak kaum perempuan Indonesia.

Perempuan pejuang ini berasal dari Sumatera Barat. Lahir di wilayah Agam tanggal 14 September 1910. Ia pun mengenyam Pendidikan di bangku sekolah agama Padang. Setelah itu, ia melanjutkan karirnya menjadi guru Diniyah Putri Panjang di daerah Padang.

Saat usianya menduduki 20 tahun, Rasuna Said memutuskan untuk ikut bergabung dalam organisasi pergerakan yang menyuarakan perjuangan kaun perempuan. Oleh sebab itulah profesinya sebagai guru pun berakhir.

Rasuna Said terkenal karena kritiknya yang sangat tajam, khususnya pada kebijakan pemerintah colonial Belanda. Ia juga selalu menekankan mengenai hak perempuan pribumi dalam tatanan masyarakat. Karena gerakannya lah ia membuat pemerintahan colonial Belanda mulai gerah dan mengasingkannya ke wilayah Semarang, Jawa Tengah padah tahun 1932.

Sesampainya di Semarang ia memilih untuk menjadi seorang jurnalis di sebuah majalah. Tulisan yang dibuat Rasuna Said pun masih tetap dengan tema yang sama yaitu mengkritik pemerintahan colonial Belanda. Sungguh berani bukan?

Setelah dar Semarang, ia pindah ke daerah Medan. Di sana ia mulai mendirikan sebuah sekolah yang diberi nama Perguruan Poeteri dan sebuah majalah mingguan bernama Menara Poeteri. Di dalam majalah tersebut, Rasuna masih tetap menekankan mengenai hak para perempuan pribumi kepada masyarakat. Selain itu, majalah tersebut juga selalu menyuarakan kemerdekaan. Sayangnya karena tidak ada dana, majalah yan dibuat Rasuna Said pun tutup.

Setelah dari Medan, ia akhirnya kembali lagi ke Sumatera Barat dan tetap aktif dalam organisasi gerakannya perempuannya di sana. Selah Indonesia merdeka, akhirnya Rasuna Said pun ikut dalam Komite Nasional Indonesia, Badan Penerangan Pemuda Indonesia, Anggota Dewa Perwakilan Sumatera, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat dan juga Dewan Pertimbangan Agung.

Pada tanggal 2 November 1965 akhirnya pahlawan nasional Indonesia yang aktif menyuarakan kemerdekaan ini wafat. Ia dimakamkan di wilayah Jakarta, Taman Makam Pahlawan.

Biografi Cut Nyak Meutia

Pahlawan Wanita Indonesia Cut Nyak Dien

Selain Cut Nyak Dien, ada juga Cut Nyak Meutia, ia pahlawan nasional Indonesia wanita yang berasal dari Aceh. Ia berjuang bersama dengan Cut Nyak Dien, Teuku Umar dan juga Panglima Polim dalam perang Aceh melawan kolonil Belanda.

Cut Nyak Meutia merupakan perempuan yang sangat menentang adanya Belanda di tanah Aceh sehingga ia tak gentar untuk melawan merekan. Perlawanannya sudah dimulai sejak masa Sultan Aceh yang bernama Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah di tahun 1901. Kemudian, Cut Meutia dan suaminya yaitu Teukur Chik Muhammad mulai membantu sultan untuk melakukan perlawanan pada penjajah, caranya dengan bergerilya di dalam hutan.

Memasuki tahun 1903, sultan Aceh yang bernama Panglima Polim dan juga para petingi kerajaan lainnya mulai menyerah pada Belanda. Selanjutnya Cut Nyak Meutia dan suaminya pindah ke daerah Panto Labu bersama suaminya. Naasnya sang suami malah ditanggap oleh Belanda dan langsung dieksekusi di wilayah pantai Lhokseumawe.

Cut Nyak Meutia pun lalu menikah lagi dengan Pang Nangroe sesuai dengan yang diwasiatkan oleh suaminya. Lalu mereka melanjutkan perlawanannya kembali pada Belanda, caranya masih sama yaitu dengan bergerilya dari hutan ke huan. Serangan secara mendadak pun terjadi dan dilancarkan ke pos Belanda dan Sabotase jalur logistic pun adalah salah satu cara yang dilakukan oleh Cut Nyak Meutia dengan suaminya untuk melakukan perlawanan.

Memaskui tahun1910, Pang Nangroe pun akhirnya gugur karena terkena tembakan yang dilancarkan Belanda saat berada di wilayah Paya Cicem, Aceh. Cut Nyak Meuti pun akhirnya mengambil alih posisi pimpinan dan memerintahkan pasukan untuk pindah ke wilayah Gayo dan Alas.

Tepat pada tanggal 24 Oktober 1910, Cut Nyak Meutia dan pasukannya pun bertempur secara sengit untuk melawan pasukan penjajah di daerah ALue Kurieng. Di dalam pertempurannya ini, akhirnya Cut Nyak Meutia gugur, jasadnya pun dimakamkan di wilayah Pirah Timur, Aceh Utara.

Karena jasanya dalam melawan penjajajah, meskipun ia seorang perempuan, ia dinobatkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden Nomor 107/1964.

Perjuangan untuk meraih kemerdekaan tidak hanya dilakukan oleh pahlawan nasional Indonesia laki-laki saja. Namun, para perempuan pun ikut andil untuk meraih kemerdekaan. Biarpun tidak semua turun ke lapangan dan menggunakan senjata untuk melawan, namun sebagian dari mereka berjasa dalam bidang lain.

Sebuah perjuangan memang bukan hanya soal fisik dan senjata, namun soal apa yang kamu perjuangan dan ingin kamu capai. Dalam biografi pahlawan nasional Indonesia wanita ini kita setidaknya tahu bahwa perjuangan dan kemerdekaan adalah sesuatu yang mahal, sehingga kita sebagai masyakarat merdeka harus menjaga arti kemerdekaan sebaik mungkin.

Tinggalkan Balasan