Contoh Syair

04Jun, 2020

Syair merupakan salah satu jenis puisi lama. Syair sendiri diambil dari serapan Bahasa arab yaitu syu’ur yang artinya perasaan, lalu berkembang menjadi kata syi’ur yang artinya puisi. Syair pada dasarnya masuk dalam jenis puisi lama yang terikat dengan aturan saja serta bait. Namun semakin kesini pembuatan syair puisi semakin modern dan tidak terikat dengan aturan.

Ada beberapa penyair di Indonesia yang namanya sudah sangat dikenal seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Gus Mus, dan banyak lagi. Syair bisa dijadikan sebagai penyalur banyak perasaan, entah mengenai Pendidikan, nasihat, asmara dan banyak lagi.

Adanya syair membuat sesuatu yang tadinya tidak bermakna menjadi bermakna lebih dari sebenarnya. Penggunaan kata hiperbola pun bukan untuk melebih-lebihkan namun sebagai bentuk ungkapan agar sesuatu yang tak terlihat bisa tersirat lewat syair yang indah.

Contoh Syair Dari Beberapa Seniman Terkenal

Ada banyak contoh syair, apalagi yang dibuat oleh seniman-seniman terdahulu. Misalnya saja seperti contoh syair dari Sapardi Djoko Damono berikut ini:

Baca Juga: Contoh Puisi Ibu

Contoh Syair dari Sapardi Djoko Damono

Contoh Syair dari Sapardi Djoko Damono

Sapardi merupakan seniman yang hidup ditahun 70an hingga sekarang. Lewat puisi-puisinya yang sederhana dan indah, iya mampu menginterpretasikan perasaannya. Suatu peristiwa menyedihkan pun mampu ia ubah dalam sebentuk syair.

Misalnya saja syair tentang Marsinah, seorang buruh pabrik yang mendapatkan perlakukan tidak baik dan menjadi tanda bahwa Indonesia masih darurat akan Hak Asasi Manusia. Saking merasa sedihnya, Sapardi menulis puisi Marsinah hingga 3 tahun lamanya.

Ini dikarenakan setiap hendak menulis ia selalu menangis. Ya, itulah puisi sebuah perasaan yang seharusnya bisa sampai pada pembacanya juga.

Berikut adalah beberapa contoh syair dari Sapardi Djoko Damono.

Syair Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada 1989

Syair Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Syair Dalam Do’aku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara.

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana.

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu.

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku.

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku.

Aku mencintaimu.

Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.

Syair Hatiku Selembar Daun

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
Nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini; ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
Sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

Syair Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti, Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini, Kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
Suaraku tak terdengar lagi,
Tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,
Pada suatu hari nanti,
Impianku pun tak dikenal lagi,
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Kau tak akan letih-letihnya kucari.

Syair Tentang Mahasiswa Yang Mati, 1996

Aku mencintainya sebab ia mati ketika ikut rame-rame hari itu. Aku tak mengenalnya, hanya dari koran, tidak begitu jelas memang, kenapanya atau bagaimananya (bukankah semuanya demikian juga?) tetapi rasanya cukup alasan untuk mencintainya.

Ia bukan mahasiswaku. Dalam kelas mungkin saja ia suka ngantuk, atau selalu tampak sibuk mencatat, atau diam saja kalau ditanya, atau sudah terlanjur bodoh sebab ikut saja setiap ucapan gurunya.

Atau malah terlalu suka membaca sehingga semua guru jadi asing baginya.

Dan tiba-tiba saja, begitu saja, hari itu ia mati; begitu berita yang ada di koran pagi ini–entah kenapa aku mencintainya karena itu. Aneh, koran ternyata bisa juga membuat hubungan antara yang hidup dan yang mati, yang tak saling mengenal.

Siapa namanya, mungkin disebut di koran, tapi aku tak ingat lagi, dan mungkin juga tak perlu peduli. Ia telah mati hari itu–dan ada saja yang jadi ribut.

Di negeri orang mati, mungkin ia sempat merasa was-was akan nasib kita yang telah meributkan mahasiswa mati.

Syair Hanya

Hanya suara burung yang kau dengar dan tak pernah kaulihat burung itu tapi tahu burung itu ada di sana.

Hanya desir angin yang kaurasa dan tak pernah kaulihat angin itu tapi percaya angin itu di sekitarmu.

Hanya doaku yang bergetar malam ini dan tak pernah kaulihat siapa aku tapi yakin aku ada dalam dirimu.

Syair Sajak Kecil Tentang Cinta

Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintai-Mu harus menjelma aku

Contoh Syair Pendidikan

Dengarlah para anak muda
Rajinlah belajar sepanjang masa
Ilmu itu tak akan habis dieja
Untuk bekal sepanjang usia

Ayo ke sekolah tak perlu malas
Belajar yang rajin di masing-masing kelas
Jaga sikap jangan jadi orang culas
Jangan biarkan hati berubah keras

Ke sekolah luruskan niatmu
Tekadkan hati mencari ilmu
Tak ada rugi belajar tiap waktu
Supaya baik masa depanmu

Jika kamu memiliki mimpi
Datanglah untuk belajar di sini
Bisa jadi bekal untuk diri
Pasti akan berguna di masa nanti

Ilmu akan membuatmu terjaga
Dari suramnya waktu serta masa
Cemerlang nantinya akan senantiasa
Menyinarimu saat masa dewasa

Dunia sekarang begitu maju
Jadikan ilmu sebagai pegangan
Sebagai benteng agar tidak tertipu
Sehingga hidup penuh kebahagiaan
Tuntut ilmu tanpa rasa jemu

Tak perlu khawatir kan rugi waktu
Pelajaran akan bermanfaat buatmu
Tuntun hidup jadi bahagia selalu

guru adalah sumur ilmu
Kita timba setiap waktu
mereka tidak pernah jemu
Apalagi menggerutu

Kita saja yang masih kurang
Belajar juga masih jarang
Masih suka berbuat curang
Akhirnya jadi terbelakang

Sudah saatnya kita bangkit
Dari semua rasa sakit
Hilangkan semua pikir sempit
Segera berlayar dengan rakit

Rakit kita untuk masa depan
Dengan layar pengetahuan
Melewati setiap kemalasan
Untuk meraih semua harapan

Karena kita generasi bangsa
Yang harus gagah perkasa
Melanjutkan setiap asa
Teruskan pahlawan sudah berjasa

Syair Dongeng Marsinah

/1/
Marsinah buruh pabrik arloji, mengurus presisi: merakit jarum, sekrup, dan roda gigi; waktu memang tak pernah kompromi, ia sangat cermat dan pasti.
Marsinah itu arloji sejati, tak lelah berdetak memintal kefanaan yang abadi: “kami ini tak banyak kehendak, sekedar hidup layak, sebutir nasi.”

/2/
Marsinah, kita tahu, tak bersenjata, ia hanya suka merebus kata sampai mendidih, lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa, “itu sangat berbahaya.”

Marsinah tak ingin menyulut api, ia hanya memutar jarum arloji agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa, “dan harus dikembalikan ke asalnya, debu.”

/3/
Di hari baik bulan baik, Marsinah dijemput di rumah tumpangan untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa, ia disekap di ruang pengap, ia diikat ke kursi; mereka kira waktu bisa disumpal agar lenkingan detiknya tidak kedengaran lagi.

Ia tidak diberi air, ia tidak diberi nasi; detik pun gerah berloncatan ke sana ke mari.

Dalam perhelatan itu, kepalanya ditetak, selangkangnya diacak-acak, dan tubuhnya dibirulebamkan dengan besi batangan.

Detik pun tergeletak Marsinah pun abadi.

/4/
Di hari baik bulan baik, tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan, klakson dan asap knalpot, mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus dan tak pernah ambil peduli, meregang waktu bersaksi: Marsinah diseret dan dicampakkan —sempurna, sendiri.

Pangeran, apakah sebenarnya inti kekejaman? Apakah sebenarnya sumber keserakahan? Apakah sebenarnya azas kekuasaan? Dan apakah sebenarnya hakikat kemanusiaan, Pangeran?

Apakah ini? Apakah itu? Duh Gusti, apakah pula makna pertanyaan?

/5/
“Saya ini Marsinah, buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir ke dunia lagi; jangan saya dikirim ke neraka itu lagi.”

(Malaikat tak suka banyak berkata, ia sudah paham maksudnya.)

“apa sebaiknya menggelinding saja bagai bola sodok, bagai roda pedati?”

(Malaikat tak suka banyak berkata, ia biarkan gerbang terbuka.)

“Saya ini Marsinah, saya tak mengenal wanita berotot, yang mengepalkan tangan, yang tampangnya garang di poster-poster itu; saya tidak pernah jadi perhatian dalam upacara, dan tidak tahu harga sebuah lencana.”

(Malaikat tak suka banyak berkata, tapi lihat, ia seperti terluka.)

/6/
Marsinah itu arloji sejati, melingkar di pergelangan tangan kita ini; dirabanya denyut nadi kita, dan diingatkannya agar belajar memahami hakikat presisi.

Kita tatap wajahnya setiap hari pergi dan pulang kerja, kita rasakan detak-detiknya di setiap getaran kata.

Marsinah itu arloji sejati, melingkar di pergelangan tangan kita ini.

(1993-1996)

Hingga sekarang Sapardi masih aktif menulis syair, sajak, prosa atau sejenisnya. Tulisan fiksi yang nyata, sebuah perasaan yang tersirat dalam tulisan memang sangat memiliki makna besar.

Contoh Syair dari Gus Mus

Contoh Syair dari Gus Mus

Selain Sapardi Djoko Damono, ada juga Gus Mus. Seorang seniman dan agamawan. Ia mampu berdakwah melalui syair-syarinya. Lewat syair dengan kiasan indah, ia mampu menggambarkan sesuatu lebih bermakna. Misalnya saja, puisi tentang ibu, seseorang yang memang memiliki jasa tidak terhingga ia gambarkan dengan sangat indah.

Syair IBU

Ibu

Kaulah gua teduh tempatku bertapa bersamamu sekian lama
Kaulah kawah darimana aku meluncur dengan perkasa
Kaulah bumi yang tergelar lembut bagiku melepas lelah dan nestapa

Gunung yang menjaga mimpiku siang dan malam
Mata air yang tak brenti mengalir membasahi dahagaku
Telaga tempatku bermain berenang dan menyelam

Kaulah, ibu, laut dan langit yang menjaga lurus horisonku
Kaulah, ibu, mentari dan rembulan yang mengawal perjalananku
mencari jejak sorga di telapak kakimu

(Tuhan, aku bersaksi ibuku telah melaksanakan amanat-Mu menyampaikan kasih sayangMu
Maka kasihilah ibuku seperti Kau mengasihi kekasih-kekasihMu Amin)

Syair Diterbangkan Takdir

Diterbangkan takdir aku sampai negeri-negeri beku
Wajah-wajah dingin bagai mesin menyambutku tanpa menyapa
Kutelusuri lorong-lorong sejarah hingga kakiku kaku
Untung teduh wajahmu memberiku istirah hangat matamu mendamaikan resahku

Maka kulihat bunga-bunga sebelum musimnya
Gemuruh mesin terdengar bagai air terjun dan guguran daun-daun meruap aroma dusun
Maka dengan sendirinya kusebut namamu dan terus kusebut namamu

Aku ingin kasih, melanjutkan langkahku.

Syair Gelisahku

Gelisahku adalah gelisah purba
Adam yang harus pergi mengembara tanpa diberitahu kapan akan kembali
Bukan sorga benar yang kusesali karena harus kutinggalkan
Namun ngungunku mengapa kau tinggalkan aku sendiri
Sesalku karena aku mengabaikan kasihmu yang agung

Dan dalam kembaraku di mana kuperoleh lagi kasih sepersejuta saja kasihmu
Jauh darimu semakin mendekatkanku kepadamu cukup sekali, kekasih

Tak lagi, tak lagi sejenak pun aku berpaling
biarlah gelisahku jadi dzikirku

Syair Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana….

Kau ini bagaimana…
Kau bilang aku merdeka
Tapi kau memilihkan untukku segalanya

Kau ini bagaimana…
Kau suruh aku berfkir
Aku berfikir kau tuduh aku kafir
Aku harus bagaimana…
Kau suruh aku bergerak
Aku bergerak kau waspadai

Kau bilang jangan banyak tingkah
Aku diam saja kau tuduh aku apatis

Kau ini bagaimana…
Kau suruh aku memegang prinsip
Aku memegang prinsip
Kau tuduh aku kaku

Kau ini bagaimana…
Kau suruh aku toleran
Aku toleran kau tuduh aku plin-plan

Aku harus bagaimana…
Kau suruh aku bekerja
Aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa
Tapi khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa

Kau suruh aku mengikutimu
Langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum
Kebijaksanaanmu menyepelekannya

Aku kau suruh berdisiplin
Kau mencontohkan yang lain

Kau bilang Tuhan sangat dekat
Kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat

Kau bilang kau suka damai
Kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun
Aku membangun kau merusakkannya

Aku kau suruh menabung
Aku menabung kau menghabiskannya

Kau suruh aku menggarap sawah
Sawahku kau tanami rumah-rumah

Kau bilang aku harus punya rumah
Aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi
permainan spekulasimu menjadi-jadi

Aku kau suruh bertanggungjawab
kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bis Showab

Kau ini bagaimana..
Aku kau suruh jujur
Aku jujur kau tipu aku

Kau suruh aku sabar
Aku sabar kau injak tengkukku

Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku
Sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu

Kau bilang kau selalu memikirkanku
Aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana..
Kau bilang bicaralah
Aku bicara kau bilang aku ceriwis

Kau bilang kritiklah
Aku kritik kau marah

Kau bilang carikan alternatifnya
Aku kasih alternative kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau
Kau tak mau

Aku bilang terserah kita
Kau tak suka

Aku bilang terserah aku
Kau memakiku

Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana

Contoh Syair Tentang Pendidikan

Contoh syair Pendidikan menjadi salah satu yang sering diajarkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Berikut adalah salah satu contohnya:

Dengarlah para anak muda
Rajinlah belajar sepanjang masa
Ilmu itu tak akan habis dieja
Untuk bekal sepanjang usia

Ayo ke sekolah tak perlu malas
Belajar yang rajin di masing-masing kelas
Jaga sikap jangan jadi orang culas
Jangan biarkan hati berubah keras

Ke sekolah luruskan niatmu
Tekadkan hati mencari ilmu
Tak ada rugi belajar tiap waktu
Supaya baik masa depanmu

Jika kamu memiliki mimpi
Datanglah untuk belajar di sini
Bisa jadi bekal untuk diri
Pasti akan berguna di masa nanti

Ilmu akan membuatmu terjaga
Dari suramnya waktu serta masa
Cemerlang nantinya akan senantiasa
Menyinarimu saat masa dewasa

Dunia sekarang begitu maju
Jadikan ilmu sebagai pegangan
Sebagai benteng agar tidak tertipu
Sehingga hidup penuh kebahagiaan

Tuntut ilmu tanpa rasa jemu
Tak perlu khawatir kan rugi waktu
Pelajaran akan bermanfaat buatmu
Tuntun hidup jadi bahagia selalu

guru adalah sumur ilmu
Kita timba setiap waktu
mereka tidak pernah jemu
Apalagi menggerutu

Kita saja yang masih kurang
Belajar juga masih jarang
Masih suka berbuat curang
Akhirnya jadi terbelakang

Sudah saatnya kita bangkit
Dari semua rasa sakit
Hilangkan semua pikir sempit
Segera berlayar dengan rakit

Rakit kita untuk masa depan
Dengan layar pengetahuan
Melewati setiap kemalasan
Untuk meraih semua harapan

Karena kita generasi bangsa
Yang harus gagah perkasa
Melanjutkan setiap asa
Teruskan pahlawan sudah berjasa

Syair Pendidikan diatas bisa menjadi syair nasehat agar anak-anak bisa merasakan sebuah anjuran namun tidak dalam bentuk perintah, melaikan melalui puisi syair bila dibaca bisa masuk ke dalam hatinya.

Contoh Syair Romantis dari Chairil Anwar

Contoh Syair Romantis dari Chairil Anwar

Syair Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau,-gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,-di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.-angin membantu, laut terang, tapi terasa-aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,-di perasaan penghabisan segala melaju-Ajal bertakhta, sambil berkata:-“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!-Perahu yang bersama ‘kan merapuh!-Mengapa Ajal memanggil dulu-Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,-kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

Syair Sajak Putih

Buat tunanganku Mirat

Bersandar pada tari warna pelangi -Kau depanku bertudung sutra senja -Di hitam matamu kembang mawar dan melati -Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba -Meriak muka air kolam jiwa -dan dalam dadaku memerdu lagu -Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka -Selama matamu bagiku menengadah -Selama kau darah mengalir dari luka -Antara kita Mati datang tidak membelah…

Buat miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri, -dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di -alam ini! -Kucuplah aku terus, kucuplah -Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…

Contoh Syair dari WS Rendra

Contoh Syair dari WS Rendra

Syair Surat Cinta

Kutulis surat ini kala hujan gerimis bagai bunyi tambur mainan anak-anak peri dunia yang gaib.
Dan angin mendesah mengeluh dan mendesah Wahai, Dik Narti, aku cinta kepadamu!
Kutulis surat ini kala langit menangis dan dua ekor belibis bercintaan dalam kolam bagai dua anak nakal jenaka dan manis mengibaskan ekor serta menggetarkan bulu-bulunya.
Wahai, Dik Narti, kupinang kau menjadi istriku!

Kaki-kaki hujan yang runcing menyentuhkan ujungnya di bumi.
Kaki-kaki cinta yang tegas bagai logam berat gemerlapan menempuh ke muka dan tak’kan kunjung diundurkan.
Selusin malaikat telah turun di kala hujan gerimis.
Di muka kaca jendela mereka berkaca dan mencuci rambutnya untuk ke pesta.

Wahai, Dik Narti, dengan pakaian pengantin yang anggun bung-bunga serta keris keramat aku ingin membimbingmu ke altar untuk dikawinkan.
Aku melamarmu.

Kau tahu dari dulu: tiada lebih buruk dan tiada lebih baik daripada yang lain….penyair dari kehidupan sehari-hari, orang yang bermula dari kata kata yang bermula dari kehidupan, pikir dan rasa.
Semangat kehidupan yang kuat bagai berjuta-juta jarum alit menusuki kulit langit: kantong rejeki dan restu wingit.

Lalu tumpahlah gerimis.
Angin dan cinta mendesah dalam gerimis.

Semangat cintaku yang kuat bagai seribu tangan gaib menyebarkan seribu jarring menyergap hatimu yang selalu tersenyum padaku.
Engkau adalah putri duyung tawananku.
Putri duyung dengan suara merdu lembut bagai angin laut, mendesahlah bagiku! Angin mendesah selalu mendesah dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung tergolek lemas mengejap-ngejapkan matanya yang indah dalam jaringku.

Wahai, Putri Duyung, aku menjaringmu aku melamarmu
Kutulis surat ini kala hujan gerimis karena langit gadis manja dan manis menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal bersenda gurau dalam selokan dan langit iri melihatnya.
Wahai, Dik Narti, kuingin dikau menjadi ibu anak-anakku!

Syair Hai Ma!

Ma, bukan maut yang menggetarkan hatiku tetapi hidup yang tidak hidup karena kehilangan daya dan kehilangan fitrahnya
Ada malam-malam aku menjalani lorong panjang tanpa tujuan kemana-mana
Hawa dingin masuk kebadanku yang hampa padahal angin tidak ada

Bintang-bintang menjadi kunang-kunang
Yang lebih menekankan kehadiran kegelapan
Tidak ada pikiran, tidak ada perasaan, tidak ada suatu apa

Hidup memang fana, Ma

Tetapi keadaan tak berdaya membuat diriku tidak ada
Kadang-kadang aku merasa terbuang ke belantara
Dijauhi Ayah Bunda dan ditolak para tetangga atau aku terlantar di pasar

Aku bicara tetapi orang-orang tidak mendengar
Mereka merobek-robek buku dan menertawakan cita-cita
Aku marah, aku takut, aku gemetar
Namun gagal menyusun bahasa

Hidup memang fana,Ma

Itu gampang aku terima
Tetapi duduk memeluk lutut sendirian di savana membuat hidupku tak ada harganya
Kadang-kadang aku merasa ditarik-tarik orang kesana kemari
Mulut berbusa sekadar karena tertawa
Hidup cemar oleh basa basi

Dan orang-orang mengisi waktu dengan pertengkaran edan yang tanpa persoalan atau percintaan tanpa asmara dan sanggama yang tidak selesai

Hidup memang fana tentu saja, Ma
Tetapi akrobat pemikiran dan kepalsuan yang dikelola
Mengacaukan isi perutku lalu mendorong aku menjeri-jerit sambil tak tahu kenapa
Rasanya setelah mati berulang kali
Tak ada lagi yang mengagetkan dalam hidup ini

Tetapi Ma, setiap kali menyadari adanya kamu di dalam hidupku ini
Aku merasa jalannya arus darah di sekujur tubuhku
Kelenjar-kelenjarku bekerja
Sukmaku bernyanyi, dunia hadir

Cicak di tembok berbunyi
Tukang kebun kedengaran berbicara pada putranya
hidup menjadi nyata, fitrahku kembali

Mengingat kamu Ma, adalah mengingat kewajiban sehari-hari
Kesederhanaan bahasa prosa, keindahan isi puisi
Kita selalu asyik bertukar pikiran ya Ma?

Masing-masing pihak punya cita-cita
Masing-masing pihak punya kewajiban yang nyata

Hai Ma!

Apakah kamu ingat
Aku peluk kamu di atas perahu ketika perutmu sakit dan aku tenangkan kamu
Dengan ciuman-ciuman di lehermu?
Masyaallah..aku selalu kesengsem pada bau kulitmu

Ingatkah waktu itu aku berkata kiamat boleh tiba, hidupku penuh makna
Hehehe waahh..aku memang tidak rugi ketemu kamu di hidup ini dan apabila aku menulis sajak aku juga merasa bahwa kemaren dan esok adalah hari ini

Bencana dan keberuntungan sama saja
Langit di luar, langit di badan bersatu dalam jiwa

Sudah ya, Ma­

Rendra merupakan penyair asal Indonesia yang sangat dikenal, meskipun sudah tiada namun karya-karyanya abadi. Begitupun dengan penyair lain.

Baca Juga: Teks Anekdot

Itulah beberapa contoh syair dari seniman-seniman terkenal Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *