Film Indonesia Terbaik

Film Indonesia Terbaik

Diposting pada

Film Indonesia itu tak kalah berkualitas bila dibandingkan dengan film dari luar negeri. Buktinya apa? Banyak lho film terbaik Indonesia yang mendapat penghargaan di luar negeri. Nah, hal ini tentu jadi bukti kalau kualitas sineas dalam negeri patut diacungi jempol.

Sebagai bentuk apresiasi, nggak ada salahnya buat ngasih rekomendasi film Indonesia kepada teman terdekat. Ya anggap saja beramal informasi sekaligus bantu menaikkan pamor film karya anak bangsa.

Sebagai media audio visual yang dibubuhi oleh cerita dari para karakter pemainnya, film selalu menjadi alternatif hiburan yang banyak ditonton oleh masyarakat luas. Hal itu terlihat dari semakin bertambahnya gedung bioskop dan diikuti layar-layar yang berkembang. Tak hanya itu, dari anak-anak, remaja hingga usia dewasa banyak yang memilih menghabiskan waktu akhir pekan dengan menonton film.

Sambil jalan-jalan ke pusat perbelanjaan kota ujung-ujungnya membeli tiket bioskop. Namun bila tak sempat menonton film di layar lebar kini juga banyak tersedia aplikasi untuk melihat melihat film hanya dari smartphone. Ya, hanya dari genggaman tangan, berbagai judul film disuguhkan, tinggal pilih saja.

Rekomendasi Film Indonesia Terbaik

Bagi anda yang sedang banyak menghabiskan waktu melakukan aktivitas di dalam rumah, sambil membunuh bosan tak ada salahnya mencoba menonton sederet film recomended yang ada di dalam list berikut.

Mulai dari genre romantis, komedi, keluarga hingga superhero, semua ada dalam info di bawah ini.  Yuk simak 10 rekomendasi film Indonesia terbaik yang bisa ditonton buat usir kebosanan saat beraktivitas di rumah.

Film Indonesia Terbaik 27 Step of Mey

27 Step of Mey bisa dimasukkan daftar film Indonesia terbaik yang wajib ditonton. Mengapa? Karena gambar gerak ini berani mengangkat isu Film ini menceritakan karakter May, diperankan oleh Raihaanun, remaja yang mengalami trauma berat karena diperkosa oleh segerombolan orang.

Ayah May, yang diperankan oleh Lukman Sardi, merasa sangat terpukul melihat nasib anaknya. Sebagai seorang ayah ia merasa tak mampu melindungi anaknya dan menyalahkan dirinya sendiri. Karena kejadian yang tak diharapkan tersebut, May menutup diri dari hiruk pikuk kehidupan luar.

Baca Juga: Film Thailand Terbaik Komedi dan Romantis

Ia memilih untuk berdiam diri di rumah dan kamarnya menjadi tempat teraman menurutnya. Tak hanya wajah murung yang dipertontonkan, berbagai pergulatan batin antara May dan Ayahnya digambarkan sangat intens.

Sang ayah May yang berprofesi sebagai petinju seolah mengisyaratkan pelampiasan pada profesinya karena tak mampu menerima keadaan anaknya yang memiliki nasib naas. Melihat film ini, penonton seolah diajak melihat akibat fatal dari ketidakmampuan laki-laki menahan nafsunya.

Penyampaian pesan juga digambarkan dari pemilihan baju yang dipakai oleh May. Kebanyakan pakain May berwarna coklat muda bak biarawati tanpa memperlihatkan lekuk tubuh sama sekali. Meski kebakaran melanda rumahnya, May tetap tak berani melangkah dari territory-nya. Hingga sebuah kejadian membuat kakinya berjalan 27 langkah.

Mengapa film ini wajib dilihat? Segudang prestasi ditorehkan oleh film 27 Step of Mey, diantaranya meraih pemenang Piala Citra dalam kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik, Pemenang Piala Maya untuk Aktris Utama Terpilih dan Pemenang Piala Maya untuk Aktor Utama Terpilih.

Tak hanya itu, film yang disutradarai oleh  Ravi Bharwani ini juga telah melanglang buana di luar negeri dan memenangkan penghargaan dalam ajang The 3rd Golden Globe Awards (MGGA 2019). 27 Step of Mey juga banyak diputar di festival film luar negeri, salah satunya di negara klub sepakbola Arsenal, London Mine Indonesian Film Festival (LMIFF).

Film Indonesia Terbaik Orang Kaya Baru

Bagi anda yang suka dengan film komedi bertemakan keluarga, sepertinya bisa dicoba menonton film Orang Kaya Baru. Menghadirkan kisah seorang keluarga yang memiliki gaya hidup sederhana yang tiba-tiba ditinggal pergi oleh ayahnya untuk selama-lamanya. Di tengah kesedihan tersebut, justru hidup mereka berubah drastis. Siapa sangka ayah mereka yang mengajarkan hidup sederhana justru meninggalkan warisan yang sangat banyak.

Film garapan sutradara Ody C Harahap ini pemerannya bertabung bintang ternama diantaranya Lukman Sardi sebagai bapak, Cut Mini sebagai ibu, Raline Shah sebagai Tika, Derby Romero sebagai Duta, Fatih Unru sebagai Dodi, Refal Hady sebagai Bayu dan masih banyak lagi. Meski telah tayang di bioskop pada Januari 2019, film ini tetap bisa anda tonton yang tersedia berbagai aplikasi penyedia layanan film.

Bercerita mengenai keluarga yang tiba-tiba kaya raya, sesuai judulnya Orang Kaya Baru. Awalnya mereka hidup dengan sederhana dengan tiga orang anak, Tika, Duta dan Dodi. Meski gaya hidup mereka biasa saja, namun keluarga ini menjalaninya dengan menyenangkan. Hubungan bapak dan ibu juga Bahagia meski tak bergelimang harta.

Ibu yang rutinitasnya antar jemput Dodi. Tika yang setiap harinya berangkat dan pulang naik metromini hingga demi makan enak, ketiga anak ini rela masuk ke sebuah kondangan orang asing. Kehidupan tersebut tiba-tiba berubah drastis karena bapak meninggal dan pengacaranya mengumumkan bapak meninggalkan harta warisan dalam jumlah banyak dan boleh menghabiskannya. Bila sudah habis, maka akan ditambahkan lagi. Gaya hidup mereka pun berubah drastis dan dari sini masalah datang bertubi-tubi.

Berdurasi 99 menit, film Orang Kaya Baru sangat tepat ditonton bersama keluarga. Perubahan gaya hidup yang sangat mencolok memberikan banyak pesan yang terkandung di dalam film ini. Belum lagi beberapa sentilan dengan nada komedi yang mampu menghadirkan tawa bagi penontonnya.

Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Siapa yang tak tahu Film Marlina? Setelah sukses menorehkan prestasi di luar negeri, akhirnya gegap gempita penonton tanah air antusias ingin menikmati film besutan sutradara Mouly Surya. Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak ini pertama kali diputar di Amerika Serikat pada Cannes Film Festival tahun 2017. Sejak saat itu, gambar gerak yang dibintangi oleh Marsha Timothy ini semakin banyak diputar di layar-layar bioskop dan festival film.

Bercerita mengenai tokoh utama bernama Marlina, seorang janda korban pemerkosaan yang harus mempertahankan nyawa di tengah masyarakat pedalaman yang tak tahu cara menghargai wanita. Saat dirinya melapor ke kantor polisi dengan menempuh perjalanan yang sangat jauh, bukannya keadilan yang ia dapatkan melainkan fakta menyeramkan yang ia ketahui.

Keterpaksaannya menghilangkan nyawa orang lain berujung kemelut yang tak berkesudahan. Seperti namanya, di babak terakhir tersirat pesan setiap pengorbanan dan kemelut kesedihan terbayar dengan kebahagiaan dan kelegaan. Penggambaran kelahiran seorang bayi seolah mengisyaratkan masih ada harapan baru untuk tetap melanjutkan kehidupan.

Sederet penghargaan didapatkan oleh Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. Sebut saja penghargaan Asian Award Film Festival (AWFF) 2018 yang bertempat di Culver City, California Amerika Serikat. Sebenarnya masih banyak lagi prestasi film ini, bahkan mendominasi perolehan Piala Citra pada Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2018.

Film Indonesia Terbaik Posesif

Dunia remaja memang tak jauh-jauh dari tema pacaran atau relationship. Tapi, saat anda melihat film Posesif akan disuguhi dengan adegan konflik remaja yang cukup kompleks. Pemeran utama film ini adalah Putri Marino sebagai Lala, atlet loncat indah yang mengikuti ayahnya dan Adipati Dolken sebagai Yudhis Ibrahim, remaja temperamen yang tak bisa mengendalikan diri imbas dari sikap ibunya.

Baca Juga: Drama Korea Terbaru dan Terbaik

Selain itu dua pemeran lainnya yang dominan dalam film ini adalah Cut Mini yang berperan sebagai ibu dan Yayu Unru sebagai Ayah Lala. Disutradarai oleh Edwin dan skenarionya ditulis oleh Gina S. Noer, membuat racikan film ini sangat tepat dan tetap dapat diterima oleh penonton Indonesia.

Film Posesif menggambarkan pahitnya kehidupan remaja dibalut keindahan kisah cinta di bangku SMA. Yudhis yang memiliki sifat tempramen dan semaunya sendiri sangat ingin melindungi pacarnya, Lala. Namun sayangnya kepribadian tersebut justru malah melukai hati Lala dan membuatnya tak disukai oleh Ayah Lala. Sisi lain kepribadian Yudhis terlihat saat ia memiliki rasa cemburu yang berlebih pada Lala.

Belum lagi sifat tempramentalnya juga berimbas buruk pada kondisi fisik Lala. Meski keduanya saling mencintai, Yudhis memutuskan untuk melanjutkan hubungannya dengan Lala dan memilih menuruti keinginan mamanya untuk melanjutkan kuliah di Bandung. Sarat akan pesan moral antara hubungan orang tua dan anak, kisah cinta anak SMA hingga kegigihan mencapai mimpi, film ini sangat tepat ditonton oleh anak remaja hingga dewasa.

Usut punya usut, ternyata film Posesif sempat menuai kontroversi dalam legalitas filmnya. Meski begitu banyak penghargaan yang diterima oleh film ini, di antaranya masuk dalam 10 nominasi pada Festival Film Indonesia pada tahun 2017 dan berujung memenangkan tiga penghargaan yaitu Sutradara Terbaik untuk Edwin, Aktris Terbaik untuk Putri Marino dan Aktor Pendukung Terbaik untuk Yayu Unyu.

Film Indonesia Terbaik Sang Penari

Film Sang Penari atau The Dancer telah dirilis pada 10 November 2011. Disutradarai oleh Ifa Isfansyah dan dibintangi oleh Prisia Nasution dan Oka Antara, Sang Penari menuai banyak pujian dari para kritikus film. Bila anda mengikuti novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari tentu tak asing dengan karya yang satu ini. Ya, Sang Penari adalah film adaptasi dari buku kedua dari novel tersebut, Dara dan Mahkota Ronggeng.

The Dancer menceritakan kisah cinta tragis seorang penari ronggeng baru di desa kecil dengan seorang pemuda dengan latar belakang keadaan Indonesia tahun 1960-an. Kehidupan mereka dirundung oleh kemiskinan, kelaparan dan kebodohan serta gejolak politik yang terjadi di masa tersebut.

Seperti apa kisah cinta mereka? Yuk simak. Srintil (Prisia Nasution) merasa bersalah atas ketidak sengajaan orang tuanya yang menjual tempe bongkrek beracun hingga mengakibatkan banyak warga meninggal termasuk penari ronggeng Dukuh Paruk, Surti. Kejadian tersebut mengakibatkan Srintil yatim piatu karena kedua orang tuanya merasa bersalah dan memutuskan bunuh diri dengan memakan tempe bongkrek buatannya sendiri.

Sama-sama tak memiliki orang tua, Srintil berteman dengan Rasus (Oka Antara) yang kemudian saling jatuh cinta. Sayangnya, kisah cinta mereka harus terhalangi oleh rasa bersalah Srintil hingga mengantarkannya menjadi penari ronggeng yang artinya setiap selesai menghibur ia harus melayani tamu di atas ranjang. Rasus pun merasa patah hati dan memutuskan pergi dari Desa Dukuh Paruk.

Film Sang Penari mendapatkan banyak pujian serta meraih 10 nominasi Festival Film Indonesia tahun 2011 dan mengantarkannya meraih empat Piala Citra diantaranya Film Terbaik, Sutradara Terbaik untuk Ifa Isfansyah, Aktris Terbaik untuk Prisia Nasution dan Aktris Pendukung Terbaik untuk Dewi Irawan.  Dengan sederet prestasi ini, wajar kalau Sang Penari masuk dalam rekomendasi film terbaik.

Film Indonesia Terbaik Cek Toko Sebelah

Film yang mengangkat mengenai suku dan budaya Tionghoa memang tak banyak. Tapi jika anda ingin mendapatkan rekomendasi film yang kental dengan kehidupan etnis Tionghoa ditambah dengan komedi yang unik, Cek Toko Sebelah bisa jadi pilihannya. Disutradarai dan diperankan oleh Ernest Prakasa sebagai Erwin, film ini menceritakan hubungan keluarga yang tak begitu dekat setelah ditinggal ibunya. Lawan main Ernest adalah Dion Wiyoko yang berperan sebagai Yohan, kakak kandung Erwin yang kurang harmonis dengan ayahnya, Koh Afuk.

Sebagai pria metropolitan, Erwin memiliki pendidikan dan karir yang cemerlang bahkan akan mendapatkan promosi jabatan. Sayangnya di saat yang seperti itu, Koh Afuk memintanya pulang untuk melanjutkan usaha toko kelontong miliknya karena sadar badannya tak lagi sehat. Konflik semakin meruncing saat Yohan ternyata memiliki keinginan untuk melanjutkan toko tersebut. Namun Koh Afuk tak setuju karena tak memiliki kepercayaan penuh pada Yohan.

Apa alasan Cek Toko Sebelah masuk dalam daftar rekomendasi film yang wajib ditonton? Jawabannya tentu karena pesan yang dikandung di dalamnya sangat mudah dicerna oleh orang awam. Ditambah sentilan-sentilan komedi dari sederet komika yang ada di dalam film ini memberikan hiburan segar bagi penontonnya. Tak hanya itu, film ini mendapatkan reaksi positif dari penonton dan kritikus film.

Tak tanggung-tanggung, Cek Toko Sebelah mengantongi sembilan nominasi dalam Festival Film Indonesia 2017 yang mengantarkannya memenangkan satu Piala Citra kategori Skenario Asli Terbaik. Selain itu pada Festival Film Bandung 2017, Cek Toko Sebelah memenangkan dua penghargaan kategori Film Terpuji dan Aktor Terpuji.

Film Imperfect: Karir, Cinta dan Timbangan

Siapa yang sudah nonton film Imperfect? Yups, film yang sarat dengan kritikan sosial ini memang sengaja disuguhkan untuk melawan diskriminatif karena penampilan. Film ini diadaptasi dari buku milik Meira Anastasia yang berjudul Imperfect: A Journey to Self-Accepted yang tak lain adalah istri sutradara film ini, Ernest Prakasa. Deret artis papan atas yang membintangi film Imperfect di antaranya Jessica Mila berperan sebagai Rara dan Reza Rahardian yang berperan sebagai Dika, pacar Rara. Seperti judulnya, film ini bercerita seputar karir, percintaan dan penampilan.

Dalam film ini diceritakan Rara, perempuan gemuk yang memiliki hobi makan yang sangat banyak dan membuat badannya berukuran besar. Sayangnya, badannya yang gemuk berbanding terbalik dengan adiknya yang memiliki tubuh langsing. Meski begitu, Rara memiliki dedikasi yang tinggi pada anak-anak pemulung dengan mengajarinya belajar secara sukarela. Dalam kehidupan karirnya, ia harus rela mendapatkan perlakuan diskriminatif dari rekan kerjanya.

Bahkan bosnya sendiri juga memberikan syarat untuk menurunkan berat badan bila ingin mengisi jabatan yang ditawarkan kepadanya. Rara pun menerima tantangan tersebut dan rela diet ketat. Sayangnya, berat badan dan penampilan Rara yang berubah drastis membuatnya perilakunya berubah pula. Ia juga jadi meninggalkan teman dekatnya di kantor dan tak mau lagi naik motor. Alhasil, Rara jadi sering terlambat saat mengajar anak-anak pemulung. Dika pun tak suka dengan perilaku Rara yang berubah.

Dirilis tanggal 19 Desember 2019, film komedi percintaan ini cocok sekali ditonton oleh remaja hingga dewasa karena sesuai dengan isu yang tengah marak akhir-akhir ini. Hingga hari ke-26, film Imperfect: Cinta, Karir dan Timbangan telah dilihat lebih dari 2,5 juta penonton. Pencapaian ini melampaui keberhasilan film Ernest sebelumnya, Milly & Mamet: Ini Bukan Cinta & Rangga (2018) yang memperoleh lebih dari 1,5 juta penonton. Satu lagi info tentang film ini yang perlu anda tahu, diperkirakan Imperfect: Cinta, Karir dan Timbangan meraup pendapatan hingga 88 miliar.

Film Indonesia Terbaik Gundala

Sedang cari rekomendasi film action bertemakan superhero? Tenang, Indonesia punya Gundala. Film yang disutradarai oleh Joko Anwar ini bertemakan pahlawan super neo-nor Indonesia. Cerita dalam setiap adegan film ini diambil dari karakter pahlawan super Indonesia tahun 1969 bernama Gundala yang dibuat oleh Harya Suraminata. Tokoh utamanya adalah Sancaka yang diperankan oleh Muzakki Ramdhan saat kecil dan Abimana Aryasatya ketika sudah dewasa. Satu lagi informasi penting, film ini akan jadi awal Jagat Sinema Bumilangit (JSB).

Film Gundala menceritakan seorang anak bernama Sancaka yang memiliki kekuatan super atau dikenal sebagai putra petir.  Sancaka kecil gemar mengutak-atik peralatan listrik, tapi anehnya ia justru takut petir. Ayah Sancaka yang diperankan oleh Rio Dewanto adalah seorang pekerja pabrik yang miskin yang memimpin demo buruh-buruh pabrik untuk menuntut kenaikan gaji. Suatu hari, ayahnya mendapatkan laporan teman buruhnya tak pulang ke rumah setelah mengajukan negosiasi.

Alhasil ayah Sancaka berdemo kembali dan terbunuh secara tragis dalam kerumunan para buruh dan petugas berwajib. Dari sini kehidupan Sancaka semakin susah, ditinggal ibu kerja di kota hingga memutuskan hidup di jalanan. Hingga nasib membawanya menemukan kekuatan super setelah mendapatkan sengatan petir dan bertemu Wulan yang diperankan oleh Tara Basro. Konflik semakin meruncing, penggusuran pasar yang berujung kebakaran hingga pertarungan hebat melawan anggota legislatif yang dikendalikan oleh mafia kejam bernama Pengkor.

Prestasi Film Gundala terlihat dari perolehan 9 nominasi di Festival Film Indonesia tahun 2019 yang mengantarkannya mendapatkan tiga Piala Citra yaitu kategori Penata Suara Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik dan Penata Efek Visual Terbaik. Tak hanya itu, di ajang Piala Maya juga memenangkan kategori Aktor Utama Cilik/Remaja Terpilih, Penata Efek Visual Terbaik dan Tata Suara Terpilih.

Film Indonesia Terbaik Dua Garis Biru

Dua Garis Biru, film garapan Gina S. Noer sebagai sutradara sekaligus penulis naskah ini sempat mendapatkan kontroversi. Karena mengambil tema mengenai remaja yang hamil di luar nikah, banyak pihak yang menuntut fim ini untuk tidak tayang di layar bioskop.

Meski begitu film ini tetap menyedot banyak penikmat layar lebar yang terbukti dengan mendapatkan 2 juta penonton di hari ke-15 penayangan. Prestasi ini pun mendapuk Film Dua Garis Biru dalam deretan film Indonesia terlaris di peringkat ketiga saat itu.

Sesuai dengan judulnya Film Dua Garis Biru menceritakan mengenai seorang remaja yang duduk di banku SMA bernama Dara Yunika yang diperankan oleh Zara JKT48 yang nekat berhubungan intim dengan teman sekelasnya bernama Bima yang diperankan oleh Angga Yunanda. Hubungan pacaran mereka yang awalnya baik-baik saja dan mendapatkan dukungan orang tua, tiba-tiba menjadi runyam.

Diterangkan dengan jelas dalam film ini apa saja akibat terburuk dari kehamilan di usia muda dan resiko berat yang mengancam masa depan kehidupan mereka. Belum lagi sifat labil yang dimiliki remaja menambah kerumitan hubungan keduanya. Bisa dikatakan film ini memiliki akhir yang bahagia meski terpaksa harus berpisah namun banyak pesan yang dapat diambil setelah melihat Dua Garis biru.

Film berdurasi 113 menit ini juga mendapatkan lima Festival Film Bandung dan memenangkan tiga kategori yaitu Film Bioskop Terpuji, Penulis Skenario Terpuji Film Bioskop dan Penata Artistik Terpuji Film Bioskop. Prestasi lainnya dari Film Dua Garis Biru adalah masuk dalam 11 nominasi Festival Film Indonesia 2019.

Tak tanggung-tanggung, film ini membawa pulang dua Piala Citra kategori Pemeran Pendukung Wanita Terbaik untuk Cut Mini dan Skenario Asli Terbaik untuk Gina S. Noer. Dengan sederet perolehan prestasi ini, tentu saja film Dua Garis Biru bisa dimasukkan dalam film Indonesia recomended yang wajib untuk ditonton.

Film Indonesia Terbaik Ada Apa dengan Cinta (2002)

Siapa yang tak tahu Film Ada Apa dengan Cinta? Ya, cinema ini menuai banyak perhatian dari penikmat layar lebar. Dirilis tahun 2002, Film AADC menjadi tanda kebangkitan dunia perfilman Indonesia. Berkat kesuksesannya tersebut, lagu soundtrack AADC yang dinyanyikan oleh Melly Goeslaw dan Eric banyak didendangkan oleh masyarakat luas. Tak hanya itu, Rangga Cinta juga jadi pasangan kekasih yang melegenda bak romeo juliet kala itu. Film ini tak hanya diminati oleh warga Indonesia, namun juga diputar di Brunei, Malaysia, Filipina dan Singapura.

Film Ada Apa dengan Cinta menceritakan kisah cinta remaja SMA bernama Cinta yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo dan Rangga yang diperankan oleh Nicholas Saputra. Benih-benih cinta di antara mereka tumbuh saat Cinta dan teman-temannya yang menjadi pengurus mading sekolah harus mewawancarai Rangga yang memenangkan lomba puisi. Meski dengan muka cemberut karena hampir tiap tahun Cinta lah yang memenangkan lomba tersebut, namun pertemuan pertama mereka justru berakhir pahit karena Rangga mengucapkan kata-kata ketus dan menolak untuk diwawancarai.

Cinta lalu memberikan surat dan bukannya diterima justru Rangga malah emosi dan membuat bukunya yang berjudul Aku karya Sjuman Djaya terjatuh kemudian dibawa pulang Cinta dan dibacanya. Saat mengembalikan buku ini, hubungan Rangga dan Cinta membaik hingga sering jalan bersama. Sayangnya, tanpa sadar hubungan Cinta justru memiliki jarak dengan teman-temannya. Saat Rangga memutuskan melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat, Cinta justru merasa sangat kehilangan dan tanpa berpikir panjang langsung menyusulnya ke bandara.

Membahas mengenai penghargaan yang didapatkan oleh Film AADC sangatlah banyak. Mulai dari memenangkan Anugerah Musik Indonesia kategori lagu terbaik, Clear To Ten Awards untuk kategori Fabulous Album, Coolest Song dan Viewer Favorite Song. Selain memenangkan banyak kategori di Festival Film Bandung, Ada Apa dengan Cinta juga masuk dalam 12 nominasi Festival Film Indonesia dan membawa pulang Piala Citra dalam tiga kategori yaitu Tata Musik Terbaik untuk Anto Hoed dan Melly Goeslaw, Aktris Terbaik untuk Dian Sastrowardoyo dan Sutradara Terbaik untuk Rudi Soedjarwo.

Baca Juga: Film Romantis Barat Terbaik Sepanjang Masa

Dengan sederet anugerah penghargaan tersebut, wajar saja jika AADC menarik banyak antusias penonton di seluruh Indonesia. Kalau anda sudah menonton film berdurasi 112 menit ini? Dari semua rekomendasi film yang masuk dalam dretan ini, mana yang sudah anda tonton? Dari daftar film terbaik Indonesia ini, pasti ada yang ditonton lebih dari sekali. Semoga informasi ini bermanfaat dan selamat menonton film Indonesia.

Tinggalkan Balasan