Kerajaan Islam Aceh

Kerajaan Islam Aceh Lengkap Beserta Peninggalannya

Diposting pada

Nanggroe Aceh Darussalam sering disebut sebagai Serambi Makkah. Merupakan salah satu Provinsi yang ada di Indonesia. Terletak di ujung utara pulau Sumatra, Provinsi Aceh merupakan ujung tombak berdirinya Islam di Indonesia. Hal itu merupakan salah satu dampak dari adanya Kerajaan Islam Aceh.

Daftar Kerajaan Islam Aceh dan Sejarahnya

Kerajaan Islam Aceh

Masuknya Islam di Indonesia berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah munculnya beberapa Kerajaan Islam di Aceh. Provinsi ini memiliki peran penting dalam sejarah peradaban Islam di Asia Tenggara. Apa saja nama-nama kerajaan tersebut? Berikut penjelasan sejarah kerajaan aceh lengkap:

Kesultanan Islam Lamuri

Kerajaan Islam Lamuri muncul pada masa pemerintahan kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Aceh ini merupakan salah satu daerah taklukkan kerajaan Sriwijaya pada tahun 1500 M yang bercorak Hindu. Lalu bagaimana kerajaan Lamuri menjadi kerajaan Islam di Aceh?

Lamuri adalah salah satu kerajaan besar yang dibuktikan dengan keberhasilannya melawan kerajaan Chola. Kerajaan ini juga merupakan wilayah pertama yang dikunjungi oleh kapal-kapal pedagang dari India dan Arab. Hal tersebut memicu pertumbuhan pemerintahan di kerajaan Lamuri.

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan ini menjadi pusat penyebaran agama Islam pertama di Aceh karena banyak kedatangan saudagar Islam di wilayah tersebut. Selain wilayah perdagangan, kerajaan lamuri juga maju dalam bidang agraris.

Banyak komoditas pertanian yang diekspor ke luar wilayah seperti lada dan aneka rempah-rempah. Selain itu, Lamuri juga merupakan penghasil emas pertama dan terbesar di Nusantara, hal tersebut mengundang kedatangan bangsa asing dan membuat wilayah kerajaan menjadi pusat perdagangan, pertanian serta pertambangan.

Keruntuhan kerajaan Lamuri disebabkan oleh penyerangan yang dilakukan oleh bangsa Pidie (Pedir). Penyerangan tersebut menyebabkan pemindahan pusat pemerintahan Kesultanan Lamuri ke Makota Alam. Sejak saat itu, kejayaan Lamuri menghilang dikenal dengan nama Kesultanan Makota Alam.

Observasi yang telah dilakukan oleh arkeolog selama bertahun-tahun membuahkan hasil penemuan yang memperkuat bukti peninggalan kerajaan Aceh ini. Penelitian dimulai setelah ditemukannya batu nisan yang menjadi tanda keberadaan kerajaan Islam. Barang bersejarah tersebut berupa pecahan keramik, tembikar, dan artefak-artefak berusia ratusan tahun.

Kerajaan Islam Jeumpa, Khilafah 

Kerajaan Islam Aceh selanjutnya adalah Kerajaan Islam Jeumpa. Berdirinya Kerajaan Islam Jeumpa Aceh diperkirakan berdiri pada abad ke 7 Masehi. Tumbuh dari pemukiman-pemukiman penduduk. Bagaimana sejarah kemunculan kerajaan ini? Berikut penjelasannya.

Kota kuala Jeumpa merupakan kota pelabuhan dengan tempat yang indah dan cocok untuk peristirahatan setelah melalui perjalanan panjang. Hal ini menyebabkan munculnya pusat pemerintahan kerajaan Islam Jeumpa sebagai akibat dari ramainya perdagangan.

Pangeran Salman Al-Parsi diterima dengan sangat baik oleh rakyat kuala Jeumpa. Hal tersebut menyebabkan pangeran Salman merasa nyaman dan berkeinginan untuk mengembangkan wilayah ini setingkat Barus, Lamuri dan lainnya.

Kedatangan pangeran Salman menyebabkan Jeumpa menjadi wilayah dengan banyak pemeluk Islam yang mendiami perkampungan Arab atau Persia. Di bawah kepemimpinannya, kerajaan Jeumpa berkembang pesat menjadi sebuah kota yang memiliki hubungan luas dengan Kerajaan-Kerajaan besar lainnya.

Tidak ada yang sejarah pasti yang menjelaskan penyebab keruntuhan kerajaan Islam Jeumpa ini. Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa kerajaan Jeumpa pada akhirnya melebur di bawah kekuasaan kerajaan Perlak, Pasai kesultanan Aceh.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan beberapa peninggalan kerajaan Jeumpa yang dapat menjadi bukti masa kejayaannya. Peninggalan tersebut antara lain berupa kolam mandi kerajaan, kaca jendela, porselin, cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang tangan.

Bukti lain yang memperkuat keberadaan kerajaan Jeumpa adalah ditemukannya makam raja Jeumpa yang ditandai dengan sebongkah batu besar dengan pepohonan rindang di sekitarnya. Makam tersebut ditemukan di sebuah bukit yang diyakini sebagai tempat berdirinya kerajaan Jeumpa di masa silam.

Kesultanan Peureulak / Perlak

Kerajaan Perlak berdiri sebagai pelabuhan niaga karena hasil alam dan posisinya yang strategis. Wilayah ini berkembang pesat setelah banyak disinggahi oleh kapal-kapal Asia dan Persia. Tepatnya pada masa kepemimpinan pangeran berdarah Kisra Persia bernama Pangeran Salman. Berikut penjelasannya.

Berkuasa di wilayah Peureulak Aceh Timur, Kesultanan Perlak merupakan kesultanan Aceh Darussalam di Indonesia yang berdiri antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292. Disebut demikian karena wilayah ini merupakan salah satu daerah penghasil kayu bernama Perlak yang merupakan bahan baku pembuatan kapal.

Wilayah kerajaan Perlak menjadi pusat pendidikan dan penyebaran agama Islam pada masa kepemimpinan Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II pada tahun 1225-1263 M. Selain itu, perkembangan Persia terjadi sebagai akibat dari pernikahan saudagar muslim dengan pribumi.

Kerajaan Perlak juga telah memiliki mata uang sendiri yang terbuat dari gabungan emas (dirham), perak (kupang) dan tembaga atau kuningan. Hal tersebut menyebabkan Perlak menjadi kerajaan yang maju pada masanya karena merupakan pusat perekonomian di Nusantara.

Kerajaan Perlak mulai mengalami keruntuhan ketika kelompok Sunni memasuki wilayah tersebut pada masa pemerintahan kesultanan yang ketiga, Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah. Hal itu memicu terjadinya perang Saudara yang menimbulkan kekosongan kekuasaan akibat gugurnya sultan Abbas Shah.

Selain itu, kemunduran kerajaan Perlak dipicu oleh serangan yang dilakukan oleh kerajaan Sriwijaya dan menyebabkan gugurnya Sultan Peureulak Pesisir. Perang tersebut terjadi selama bertahun-tahun dan berakhir dengan mundurnya Sriwijaya sehingga Perlak seutuhnya dikuasi oleh kelompok Sunni.

Selama berdirinya, kerajaan Perlak telah banyak menghasilkan peninggalan yang dapat dilihat sebagai bukti sejarah. Beberapa peninggalan itu antara lain mata uang kerajaan perlak, makam raja, stempel kerajaan perlak, kitab Idharul Haqq karangan Abu Ishaq Makarani Al Fasy dan masjid.

Kesultanan Samudra Pasai

Samudra Pasai menjadi salah satu satu Kerajaan Islam Aceh terbesar di Indonesia. Penyebaran Islam pada masa kerajaan ini banyak disebabkan oleh pernikahan antara saudagar dengan pribumi. Lalu bagaimana Samudra Pasai dapat menjadi kerajaan terbesar? Berikut penjelasannya.

Kerajaan Samudra Pasai muncul sebagai akulturasi dari Kerajaan Pase dan Perlak yang terletak di sekitar Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia. Kemunculan kerajaan ini tercantum dalam kitab Hikayat Raja-Raja Pasai dengan Marah Silu sebagai pendirinya.

Di bawah pimpinan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir tahun 1383, kerajaan Pasai berkembang pesat setelah menjadi pusat perdagangan dan penyebaran dakwah Islam. Koin emas Deureuham (dirham) mulai diperkenalkan sebagai mata uang pada masa pemerintahan Muhammad Malik az-Zahir.

Kerajaan Pasai menjadi pusat perkembangan agama Islam yang meninggalkan karya tulis luar biasa. Terjadinya akulturasi bahasa Arab dan budaya Melayu menciptakan tulisan Arab Jawi dengan Hikayat Raja Pasai (HRP) sebagai karya tulis terbaiknya.

Selain itu, Samudra Pasai banyak menghasilkan karya terjemahan kitab dalam bahasa Melayu sehingga lebih mudah dipahami oleh pemeluk agama Islam hingga sekarang. Di antara kitab tasawuf yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu adalah Durru al-Manzum, karya Maulana Abu Ishak.

Kemundurunan pemerintahan kerajaan Samudra Pasai dipicu oleh terjadinya perang saudara dengan Nakur. Hal lain yang menyebabkan keruntuhannya adalah penyerangan portugis pada tahun 1521 yang menyebabkan terbunuhnya Sultan Pasai.

Akibat dari penyerangan tersebut adalah meleburnya kerajaan Samudra Pasai hingga akhirnya dikuasai oleh kerajaan Aceh. Hal ini dibuktikan dengan berpindahnya Lonceng Cakra Donya milik Kerajaan Samudera Pasai ke Kerajaan Aceh Darussalam.

Sebagai wujud kejayaannya, kerajaan Samudra Pasai meninggalkan beberapa bukti sejarah. Peninggalan tersebut antara lain Cakra Donya, Naskah Surat Sultan Zainal Abidin, Makam Sultan Malik al Saleh, Makam Zain al-Abidin Malik az-Zahir, stempel kerajaan Samudra Pasai dan Makam Ratu Al-Aqla.

Kerajaan Benua Tamian

Munculnya kerajaan Tamian berawal dari Anak raja Tan Ganda, raja Tamiang Aceh Timur, yang melarikan diri akibat serangan dari raja Indra Cola I. Ia melarikan diri hingga menemukan wilayah yang aman. Ketika kondisi aman, pemerintahan dikembalikan ke daerah pedalaman Tamian.

Banyak dai dan pemuka agama yang datang dari samudra pasai ke Benua Tamian. Kedatangan mereka tidak mendapat sambutan baik dari rakyat dan menimbulkan peperangan. Namun sebagian besar rakyat gugur sehingga wilayah Tamian menjadi daerah penyebaran Islam dan sisanya memeluk agama islam.

Sejarah kerajaan Aceh mengatakan, Tamian banyak mendapatkan serangan dari luar termasuk oleh kerajaan Majapahit yang menyebabkan terhambatnya proses penyebaran agama Islam. Namun hal tersebut dapat diredam pada masa pemerintahan Sultan Po Kandis atau Sultan IV di tahun 1454.

Pada masa kepemimpinan Sultan Po Kandis, kerajaan Tamian berada pada puncak kejayaan. Terjadi pemindahan pusat pemerintahan ke wilayah yang lebih aman sehingga pada masanya kerajaan Tamian kembali menjadi pusat pendidikan agama Islam dan pembinaan kesenian bernuansa Islam.

Pemerintahan kerajaan Tamian jatuh ke tangan Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1514. Selama kepemimpinannya, Sultan Ali banyak memperkuat kerajaan dengan menggabungkan beberapa wilayah untuk membendung serangan Portugis. Hal tersebutlah yang memicu berakhirnya masa kerajaan Tamian.

Kerajaan Tamian banyak meninggalkan kebudayaan yang menandai awal masa modern di Aceh. Selain itu, terdapat beberapa peninggalan istana yang masih dapat dilihat hingga saat ini. Di antaranya adalah istana Karang dan istana Benua yang menyimpan warisan benda tak bergerak selama kerajaan Tamian.

Kerajaan Linge

Sejarah Kerajaan Islam Aceh tidak dapat dipisahkan oleh munculnya kerajaan-kerajaan kecil yang pernah Berjaya pada masa itu, kerajaan Linge adalah salah satu contohnya. Bagaimana sejarah kerajaan Linge? Berikut penjelasannya.

Berdiri pada Tahun 1025 M (416 H), kerajaan Linge merupakan kerajaan kuno di Aceh dengan raja pertama Adi Genali. Kata Lingë berasal dari bahasa Gayô yang berarti Léng Ngé yang artinya suara terdengar. Kemunculan kerajaan ini erat kaitannya dengan kesultanan Perlak yang telah mewariskan sebilah pedang dan cincin permata untuk keturunannya.

Kerajaan Linge merupakan sebuah kerajaan yang kaya. Kerajaan ini mampu mengikuti perkembangan jaman yang dibutikan dengan kemampuan mereka untuk bertukar barang dengan alat tukar. Raja kooperatif dan rakyat yang memiliki tingkat ekonomi tinggi menciptakan kemakmuran dalam kehidupan.

Baca Juga: Sejarah Sumpah Pemuda

Keruntuhan kerajaan Linge disebabkan oleh banyaknya pendatang yang menguasai perdagangan di wilayah tersebut. Banyak pendatang yang memonopoli hasil alam sehingga perekonomian rakyat menjadi sulit. Hal tersebut menyebabkan rakyat meninggalkan kerajaan karena tidak mampu bertahan.

Kerajaan Linge meninggalkan banyak situs bersejarah yang dapat dilihat hingga saat ini. Peninggalan tersebut antara lain Fragmen tembikar berpola hias, bendera kerajaan Linge, makam raja Linge, Tempat bersirih terbuat dari Kuningan dan Emas, Pusaka Raja Leube Cut dan Pusaka Keris berbalut cincin Emas.

Kerajaan Pedir

Kerajaan Islam Aceh selanjutnya adalah kerajaan Pedir. Kerajaan ini menghasilkan kemenyan dan Sutra dalam jumlah besar yang berdampak pada kemakmuran rakyatnya. Berikut penjelasan lebih lanjut tentang kerajaan Pedir.

Kerajaan ini digambarkan sebagai daerah dataran rendah luas dengan tanah subur dan rakyat yang makmur ini berdiri pada Tahun 1400. Kerajaan tersebut terbentuk dari kerajaan Sama Indra dan beberapa kerajaan kecil lain yang kemudian menyatu karena penaklukan wilayah.

Kerajaan Pedir mengalami masa kejayaan pada pemerintahan Mughayat Syah yang pada saat itu terkenal sebagai anti portugis. Di bawah kepemimpinanya, Kerajaan Pedir telah menaklukkan beberapa kerajaan kecil agar tidak terpengaruh Portugis. Hal itu menyebabkan Pedir berdiri sebagai kerajaan yang besar.

Selain itu, kerajaan Pedir berkembang pesat karena menjadi pusat perdagangan Lada yang banyak disinggahi kapal. Lada tersebut selanjutnya dieskpor ke seluruh penjuru dunia, salah satunya Tiongkok, Cina.

Awal keruntuhan kerajaan Pedir terjadi pada tahun 1524. Kemunduran kerajaan ini disebabkan oleh ketidakjelasan silsilah penguasa setelah penaklukan yang dilakukan oleh Mughayat Syah. Perselisihan tersebut menyebabkan kerajaan Pedir tidak mampu mempertahankan kejayaannya.

Sebagian besar peninggalan kerajaan Pedir berupa makam. Makam-makam tersebut memiliki kesamaan dengan makam raja-raja yang terdapat di Pasai, Aceh Besar, Daya dan Gresik (Jaya). Terbuat dari batu pualam bertulis huruf Arab dan batu-batu nisannya ini dibuat di Meuraksa (Ulee Lheue).

Kerajaan Daya

Kerajaan ini didirikan oleh Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah yang masyhur dengan julukan Po Teumeureuhom pada Tahun 1480 M. Kerajaan Daya muncul setelah takluknya empat kerajaan, yaitu Negeri Kuluang, Lamno, Kualan Ungu dan Kuala Daya. Simak penjelasan berikut untuk lebih jelasnya.

Awal mula berdirinya kerajaan Daya disebabkan oleh adanya pengungsi dari Kerajaan Indra Jaya ke wilayah Daya. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari serangan bangsa Cina. Raja Jaya yang ikut mengungsi melihat kondisi sekitar Daya yang sangat bagus akhirnya mendirikan kerajaan mereka disana.

Pada mada kepemimpinan Sulthan Alaiddin Ri’ayat Syah, kerajaan Daya mengalami perubahan besar dan berada pada puncak kejayaannya.  Wilayah kerajaan menjadi tempat persinggahan kapal dagang sehingga rakyat hidup dengan makmur dan sejahtera karena perdagangan berkembang dengan pesat.

Pergantian kekuasaan dari Sulthan Syamsul Syah merupakan awal mula kemunduran kerajaan Daya. Kegiatan kerajaan banyak disibukkan dengan penyerangan terhadap portugis sehingga aspek lain menjadi tidak terkendali yang memicu terjadinya keruntuhan kerajaan Daya dan melebur menjadi Kesultanan Aceh.

Berbagai tradisi kerajaan Daya menjadi peninggalan yang tetap dilaksanakan hingga saat ini, antara lain adalah upacara “Seumuleng dan Peumeunab”. Selain itu, kerajaan membangun taman kerajaan Daya yang menjadi simbol objek wisata Aceh Jaya untuk menarik perhatian wisatawan dari berbagai wilayah.

Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaan Aceh berkembang menjadi pusat penyebaran agama, pengkajian ilmu pengetahuan dan perdagangan. Komitmennya yang kuat melawan imperialisme Belanda membuatnya memiliki sistem pemerintahan kuat dan sistematis. Berikut perjuangan kerajaan Aceh.

Munculnya kerajaan Aceh diawali dengan dinobatkannya Sultan Ali Mughayat Syah sebagai raja pertama pada 8 September 1507. Kerajaan Aceh muncul sebagai hasil peleburan dari beberapa kerajaan seperti Daya, Pedir dan Nakur yang telah ditaklukkan olehnya.

Kerajaan Aceh mengalami puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda pada tahun 1607 – 1636. Aceh banyak melakukan penyerangan untuk memperluas wilayah kepada Portugis di Malaka dengan armada yang kuat. Selain itu, Aceh mampu menguasai sumber timah utama di Pahang.

Aceh juga memiliki hubungan diplomatis dengan berbagai pemimpin dunia di bawah kepemimpinan raja raja kerajaan Aceh bernama Sultan Alaidin Righayat Syah Sayed Al-Mukammil. Banyak surat kerjasama yang dikirimkan ke berbagai penjuru dunia untuk memperkuat posisi kekuasaan Aceh.

Kerajaan Aceh memiliki komoditas perdagangan yang sangat memengaruhi perekonomiannya. Antara lain minyak tanah, belerang, kapur, kapur Barus, menyan, emas dan sutera. Wilayah Pidie, Aceh juga menjadi penghasil beras sehingga menjadi lumbung beras bagi kesultanan.

Salah satu alasan yang menyebabkan kemunduran kerajaan Aceh adalah menguatnya kekuasaan Belanda di Sumatera dan Selat Malaka. Hal ini menyebabkan jatuhnya wilayah Minangkabau, Siak, Tiku, Tapanuli, Mandailing, Deli, Barus (1840) serta Bengkulu ke tangan penjajahan Belanda.

Selain itu, perebutan kekuasaan di kerajaan semakin memperkeruh permasalahan. Perang saudara semakin banyak terjadi dan sulit untuk dikendalikan. Akibatnya, terjadi ketidakstabilan pada pemerintahan kerajaan. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Belanda untuk melancarkan serangannya dan menyebabkan keruntuhan kerajaan Aceh.

Beberapa peninggalan dari Kerajaan Aceh Darussalam adalah Masjid Raya Baiturrahman, Benteng Indra Patra, Masjid Tua Indrapuri, Komplek Kandang XII (Komplek Pemakaman Keluarga Kesultanan Aceh), makam Iskandar Muda dan uang emas kerajaan Aceh.

Selain bangunan, kerajaan Aceh juga memiliki peninggalan kesusasteraan, salah satunya Hikayat Malem Dagang. Kesusateraan lain yang paling terkenal adalah Bustanus Salatin (Taman Para Sultan) karya Syaikh Nuruddin Ar-Raniry di samping Tajus Salatin (1603).

Kenegerian Trumon

Kerajaan Trumon memiliki wilayah strategis yang menjadikan rakyat mudah melakukan kegiatan perekonomian. Meskipun kerajaan Trumon adalah kerajaan kecil, namun kerajaan ini telah banyak berkontribusi untuk peradaban.

Kerajaan Trumon dipimpin oleh Labai Daffa (Labai Dafna-sebutan Belanda) dengan nama asli Teuku Djakfar yang merupakan seorang saudagar kaya dan pemuka agama. Kerajaan Trumon banyak berkontribusi dalam mengembangkan berbagai sektor seperti pertanian dan perdagangan.

Kerajaan tersebut mengalami masa kejayaan karena mampu mencetak mata uang sendiri pada masa Teuku Raja Fansuri Alamsyah. Hal tersebut menyebabkan wilayah Trumon menjadi pusat peredaran mata uang dan menjadi tolok ukur perekonomian pada masa itu.

Selain pada bidang perdagangan, wilayah Trumon juga maju dalam sektor pertanian. Munculnya sistem irigasi lahan dan pengolahan tanah menyebabkan banyak tanaman yang dapat tumbuh subur di wilayah ini, salah satunya adalah lada. Trumon menjadi salah satu pemasok terbesar Lada di Indonesia.

Pergantian kekuasaan ke tangan Teuku Raja Iskandar menyebabkan Kerajaan Trumon berada pada ujung keruntuhan. Penyerangan oleh pihak Belanda terjadi pada 26 Maret 1873 di Banda Aceh yang berakhir dengan kematian Teuku Iskandar di tangan Belanda. Hal itu menyebabkan kemarahan rakyat dan memicu pertempuran.

Peninggalan kerajaan Trumon berupa bangunan benteng yang dulu digunakan sebagai tempat pertahanan ketika musuh datang. Selain itu, benteng digunakan raja sebagai pusat untuk mengendalikan pemerintahan, menyimpan barang-barang berharga raja serta menjadi istana raja.

Kerajaan Samalanga

Kemunculan kerajaan ini erat kaitannya dengan penyerangan Portugis di Malaka yang menghancurkan kesultanan Islam di sana. Para pemuka agama berpindah menyusuri Indonesia dan membentuk kerajaan-kerajaan untuk melanjutkan penyebaran agama Islam. Salah satunya Tun Sri Lanang yang merupakan raja pertama kerajaan Samalanga.

Pengaruh penyerangan Portugis membuat keresahan dalam kehidupan kerajaan. Hingga akhirnya kerajaan Samalanga berkomitmen untuk menciptakan sistem pemerintahan yang kuat dan teratur pada bidang politik, luar negeri, militer, ekonomi dan pengaturan hukum atau ketatanegaraan.

Komitmen tersebut sejalan dengan pemikiran Sultan Ali Mughayat Syah, raja kerajaan Aceh yang berprinsip “Siapa kuat hidup, siapa lemah tenggelam”. Hal tersebut menjadi awal kerja sama antar kerajaan untuk memperkuat pertahanan melawan Portugis.

Banyak terjadi perselisihan antara rakyat dan Tun Sri Lanang. Rakyat tidak menyetujui adanya kerjasama yang menyebabkan tidak berkuasanya raja untuk mempimpin kerajaan. Hal tersebut menyebabkan keruntuhan kerajaan Samalanga dan melebur menjadi satu kerajaan besar di bawah naungan kerajaan Aceh.

Pada masa kejayaannya, kerajaan Samalanga menjadi pusat penyebaran agama Islam dan menghasilkan beberapa kitab yang menjadi peninggalan. Salah satu peninggalannya adalah kitab Hikayat Melayu yang menuliskan sejarah Melayu dan ditulis sendiri oleh Tun Sri Lanang dan diberikan oleh Yang Dipertuan di Hilir, Raja Abdullah.

Kerajaan Malik Ishaq

Kerajaan Malik Ishaq menjadi kerajaan Aceh Darussalam terakhir yang pernah berkuasa di Indonesia. Kerajaan ini muncul sebagai akibat dari peperangan yang banyak terjadi pada masa itu.

Pada masa peperangan kerajaan Perlak, banyak rakyat yang mengungsi untuk menyelamatkan hidup mereka, salah satunya adalah Sultan Malik. Sultan Malik memerintahkan perempuan dan anak-anak untuk mengungsi ke daerah bernama Ishaq. Hal tersebut yang mengawali munculnya kerajaan Malik Ishaq di Aceh.

Pertengakaran yang terjadi pada anak-anak sultan Malik Ishaq menyebabkan penyebaran agama Islam terjadi di berbagai wilayah. Setelah perselisihan tersebut mereka sepakat untuk berpisah, dengan Mérah Bacang menyebarkan Islam di daerah Barus, Tapanuli dan Merah Jérnang ke Kala Lawé, Meulaboh.

Kecemburuan antar saudara menyebabkan terjadinya perselisihan di kerajaan Malik Ishaq. Hal tersebut dipicu oleh banyaknya rakyat yang lebih menyayangi salah satu sultan, sehingga terjadi perpecahan. Keruntuhan disebabkan oleh berpisahnya mereka meninggalkan kerajaan.

Baca Juga: Sejarah Pramuka Indonesia dan Dunia

Kerajaan Malik Ishaq tidak meninggalkan banyak jejak sejarah karena kerajaan ditinggalkan oleh rakyat-rakyatnya. Salah satu bukti yang masih dilihat hingga sekarang adalah adanya makan Sultan Malik. Selain itu, terdapat peninggalan sumur tua yang dikenal dengan nama telege Isaq dan telege Suyen.

Itulah beberapa Kerajaan Islam Aceh yang pernah mengalami puncak kejayaan di Indonesia. Keberadaan kerajaan-kerajaan tersebut telah menghasilkan peradaban yang dapat dirasakan dampaknya hingga saat ini, terutama dalam bidang perdagangan dan penyebaran agama Islam.

Tinggalkan Balasan