Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya & Sisa Peninggalan

Diposting pada

Sebagai Negara Kepulauan, Indonesia kaya akan warisan budaya. Hampir di setiap Provinsi memiliki ciri khas masing-masing baik tarian, pakaian adat, makanan khas dan sebagainya. Tetapi di samping itu, Tanah Air juga kaya akan peninggalan sejarah salah satunya berasal dari Kerajaan Sriwijaya.

Mengenal Kerajaan Sriwijaya

Mengenal Kerajaan Sriwijaya

Berbicara mengenai sejarah kepemimpinan di Indonesia maka Kerajaan Sriwijaya tidak dapat dilepaskan dari bagian tersebut. Pengaruhnya sangat besar dengan berhasil memperoleh kejayaan selama 5 abad. Dalam mencapainya memang tidak mudah karena terdapat berbagai pertempuran pada masa itu.

Penggunaan nama Sriwijaya pada kenyataannya memiliki makna tersendiri, yakni Sri mengartikan bercahaya dan wijaya bermakna kemenangan. Bila dipadukan memberi definisi sebagai kemenangan yang bercahaya. Penggunaan nama tersebut berasal dari Bahasa Sansekerta.

Kerajaan Sriwijaya berada di Pulau Sumatera dan merupakan Kerajaan Melayu dengan memiliki pengaruh luas terhadap Nusantara. Wilayah kekuasaannya meliputi Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja bahkan sebagian kecil mampu menjangkau hingga Pulau Jawa untuk ikut masuk di dalamnya.

Terungkapnya berbagai peninggalan serta sejarah Kerajaan Sriwijaya pertama kali dibuktikan pada abad ke-7. Ketika memasuki masa Dinasti Tang, pendeta Tiongkok bernama I Tsing telah menuliskan bahwa tahun 671 dirinya telah mendatangi wilayah Sriwijaya dan menetap selama enam bulan lamanya.

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya sudah ada sejak 671 Masehi. Data tersebut bersumber dari catatan Pendeta Tiongkok, I Tsing. Pada tahun 682 melalui prasasti Kedukan Bukit dapat diketahui bahwa kepemimpinan berada di tangan Dapunta Hyang. Saat itu diperkirakan bahwa terdapat 20.000 pasukan pelindungnya.

Prasasti Kedukan Bukit merupakan peninggalan tertua yang tertulis dalam Bahasa Melayu. Berdasarkan pendapat para pakar bahwa tulisan di prasasti tersebut mengadopsi ortografi India. Orang Tionghoa pada abad ke-7 mencatat bahwa terdapat dua bagian besar dari Kerajaan Sriwijaya yakni Kedah dan Malayu.

Informasi lainnya juga bersumber dari prasasti Kota Kapur yang ditemukan di Pulau Bangka pada tahun 686 Masehi. Kerajaan Sriwijaya dikatakan mampu menduduki Pulau Sumatera bagian Selatan, mulai dari Bangka Belitung sampai Lampung. Nama Sri Jayanasa disebutkan pada tiang batu tersebut.

Baca Juga: Sejarah Sumpah Pemuda

Sri Jayanasa mengemban misi militer sebagai bentuk hukuman terhadap Bhumi Jawa akibat tidak patuh pada Sriwijaya. Runtuhnya Kerajaan Holing di Jawa Tengah dan Tarumanegara di Jawa Barat dikaitkan sebagai bagian dari pertempuran yang dilancarkan oleh pihak Kerajaan Sriwijaya.

Sepak Terjang Kerajaan Sriwijaya

Sepak Terjang Kerajaan Sriwijaya

Pengaruh besar yang ditorehkan oleh Kerajaan Sriwijaya, tidak lain berasal dari sepak terjangnya dalam menguasai beberapa wilayah di Indonesia dan sebagian kecil Negara di Asia Tenggara. Masa jaya dari kerajaan Sriwijaya terjadi sekitar abad ke-9 sampai ke-10 dengan berhasil menguasai jalur perdagangan.

Perluasan Wilayah

Meluasnya pengaruh dan wilayah kekuasaan Sriwijaya sampai ke Semenanjung Malaya dan Pulau Jawa berhasil menduduki jalur pedagangan pokok di Asia Tenggara. Pada awal abad kedelapan, Kota Indrapura sudah menjadi bagian dari Kerajaan Sriwijaya.

Dominasi kemudian berlanjut ke wilayah Kamboja. Raja Khmer Jayawarman II ketika berwenang pada saat itu akhirnya memutus hubungannya dengan Sriwijaya. Memasuki akhir abad ke-8 kerajaan Holing dan Tarumanegara berhasil ditaklukkan dan wilayahnya menjadi bagian dari Kerajaan Sriwijaya.

Wilayah Trambralinga dan Pan Pan di Semenanjung Melayu juga berada dalam kendali Kerajaan Sriwijaya. Pada area laut mereka menyadari bahwa jika berhasil menguasainya, maka dapat memperluas daerah kekuasaan. Itulah sebabnya Selat Malaka dan Selat Sunda juga dipengaruhi oleh kerajaan ini.

Masa Kejayaan

Berdasarkan catatan dari seorang musafir bernama Al Masudi, yang merupakan seorang sejarahwan Arab menggambarkan tentang kejayaan Sriwijaya. Kerajaan tersebut dikenal kaya raya dan memiliki jumlah prajurit sangat banyak. Bahkan wilayah kekuasaannya pun sangat luas.

Kekayaannya juga berupa hasil bumi seperti kayu gaharu, cengkih, kayu cendana, gambir, kapur barus, kapulaga serta beberapa hasil rempah lainnya. Catatan lain dari seorang pedagang asal Arab menuliskan bahwa wilayah kekuasaan Sriwijaya luasnya bahkan sampai ke seberang lautan.

Kejayaan Sriwijaya juga diperlihatkan sebagai pengendali rute untuk pedagangan lokal. Seluruh kapal ketika melintasi bagian wilayahnya akan dikenakan bea cukai. Mereka memperoleh kekayaan besar lewat hasil perdagangan dan jasa pelabuhan. Selain itu kekuatan militer juga menjadi faktor pendukung.

Kaitannya dengan Bangsa Syailendra

Dinasti Syailendra dipimpin oleh sebagian besar raja dengan kepercayaan Buddha Mahayana. Peninggakan bangsa ini paling banyak ditemukan di Jawa Tengah tepatnya di dataran Kedu. Namun mengenai asal usul tempat bangsa Syailendra masih banyak diperdebatkan.

Di samping berasal dari Jawa, India, Sumatera dan Kamboja juga menjadi tempat yang tadinya menunjukkan asal muasal bangsa Syailendra. Di Indonesia, tulisan Śailendravamsa pertama kali diperlihatkan pada tulisan prasasti Kalasan yakni pada tahun 778 Masehi.

Ditemukannya peninggalan sejarah lain seperti Prasasti Ligor di Thailand bagian Selatan, Prasasti Nalanda di India serta Prasasti Kalasan di Pulau Jawa memperlihatkan keterkaitan antara Kerajaan Sriwijaya terhadap Bangsa Syailendra. Hal ini didukung dengan adanya kesamaan Śailendravamśa.

Kerajaan Sriwijaya Menguasai Wilayah Jawa

Luasnya kekuasaan wilayah Kerajaan Sriwijaya hingga mampu merambah sebagian kecil Pulau Jawa dipengaruhi oleh kedekatan dengan Bangsa Syailendra. Mereka bersekutu sampai kemudian membangun pemerintahannya di Jawa Tengah dengan nama Kerajaan Medang Mataram.

Pada prasasti Nalanda bertuliskan bahwa pewaris tahta Dharanindra bernama Samaragrawira ketika memerintah sejak tahun 800 sampai 819 Masehi. Raja tersebut tidak lain merupakan ayah dari Balaputeradewa. Kelak anaknya memegang peranan penting bagi Kerajaan Sriwijaya.

Dharanindra dikenal sebagai raja yang suka bertempur. Sedangkan Rakai Warak atau Samaragwira lebih terlihat penyayang dan cinta damai. Dirinya lebih mengharapkan kedamaian serta kemakmuran di pedalaman Jawa. Serta lebih memilih menuntaskan pembangunan arsitektur candi Borobudur.

Pusat Kerajaan Kembali ke Palembang

Lahirnya Balaputeradewa hingga tumbuh dewasa mewarisi kepemimpinan dari ayahnya. Dirinya berani menentang pemerintahan Pramodhawardhani dan Pikatan. Tapi dalam hal kepindahannya ke Pulau Sumatera belum diketahui secara jelas. Ada yang berpendapat bahwa telah tersingkir dari tanah Jawa.

Namun ada pula menganggap bahwa Balaputeradewa kalah unggul dari penerus kerajaan Pikatan. Bahkan dalam pendapat lain menyebutkan bahwa dirinya sudah lama memerintah di Sumatera jauh sebelum terjadi perselisihan mengenai penerus kerajaan di Jawa Tengah tersebut.

Bangsa Syailendra kemudian terbagi jadi dua jalur kepemimpinan. Pusat pemerintahan di Jawa Tengah berada dalam kepemimpinan Pramodhawardhani-Pikatan. Sedangkan di Palembang berada dalam penguasaan Raja Balaputradewa setelah berhasil memperoleh tahta di Kerajaan tersebut.

Melakukan Pertempuran di Pulau Jawa

Sriwijaya mengendalikan jalur perdagangan maritime pada abad kesepuluh di Asia Tenggara namun di akhir masa tersebut Kerajaan Medang di wilayah Jawa Timur berhasil tumbuh menjadi kekuatan yang mampu menyaingi dominasi Kerajaan Sriwijaya. Kedua Kerajaan akhirnya terlibat persaingan.

Pada tahun 992, Kerajaan Medang sempat berhasil merebut wilayah Palembang dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Sebab pada akhirnya berhasil ditaklukkan oleh pasukan Kerajaan Sriwijaya. Serangan lainnya juga masih dilakukan oleh Kerajaan dari Pulau Jawa tersebut.

Kerajaan Sriwijaya menyadari betapa besarnya pengaruh serangan Kerajaan Medang ini. Kemudian Raja yang memimpin saat itu menyusun strategi balasan untuk menumbangkannya. Pada akhirnya strategi itupun berhasil menjatuhkannya. Kejadian ini tertulis pada Prasasti Pucangan tentang Mahapralaya.

Penjelajahan Kerajaan Sriwijaya

Kendali besar kerajaan Sriwijaya pada awalnya masih terbatas di sekitar selat Sunda dan Malaka. Kemudian mencakup sebagian besar Pulau Sumatera, Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Tapi di antara abad kesembilan dan keduabelas, pengaruhnya terlihat semakin besar.

Para pelaut dan navigator Sriwijaya kelihatannya turut terlibat dalam penjelajahan serta perdagangan dalam cakupan luas. Itulah sebabnya mampu mencapai pesisir Kalimantan, wilayah Indonesia bagian Timur, Kepulauan Filipina, Teluk Benggala, pesisir Indocina bahkan sampai pula di Madagaskar.

Pada abad kesembilan, Sriwijaya melakukan migrasi ke Madagaskar setelah berhasil menguasai perdagangan maritim di Samudera Hindia. Sebagian ahli memperkirakan bahwa langkah ini telah dilakukan pada tahun 830 masehi. Hal ini mengisyaratkan bahwa wilayah tersebut telah berhasil dijajah.

Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya

Masa jaya dari Kerajaan Sriwijaya harus runtuh sekitar tahun 1007 sampai 1023 Masehi. Kejadian ini berawal penyerangan yang dilakukan berdasarkan perintah dari penguasa Kerajaan Cholamandala. Raja Rajendra Chola memperoleh keberhasilan setelah beberapa bandar kota Sriwijaya dapat direbut.

Pertempuran seperti ini terjadi karena faktor persaingan di bidang perdagangan dan pelayaran. Awalnya Raja Rajendra Chola tidak bermaksud untuk menjajah namun bermaksud menjatuhkan armadanya saja. Hal ini justru berakibat lemahnya kondisi ekonomi pada masa itu setelah berkurangnya jumlah pedagang.

Pada tahun 1024 Masehi Raja Rajendra Chola dan pasukannya melakukan invasi militer terhadap Kerajaan Sriwijaya. Akibat Selat Malaka dijaga sangat ketat, mereka kemudian beralih ke bagian Barat Sumatera dan Selat Sunda. Bila ditulis secara runut rangkaian peristiwanya adalah sebagai berikut:

  • Pada tahun 1025 Masehi

Perlahan beberapa kota yang dikendalikan oleh Kerajaan Sriwijaya berhasil diduduki oleh pasukan Raja Rajendra Chola. Bermula dari Kota Palembang, berlanjut ke Bangka, kemudian Jambi.

Panai, Gelanggi, Gangga Negara, Muar bahkan pusat pemerintahan di Kedah juga merasakan hal serupa. Raja Sriwijaya saat itu, Sangrama Wijayatungga dengan saudarinya ditangkap lalu dibawa ke wilayah Cholamandala sebagai tahanan perang.

  • Pada tahun 1028 Masehi

Sri Dewa menjadi raja baru Sriwijaya menggantikan posisi Sangrama Wijayatungga berdasarkan kewenangan Raja Rajendra Chola.

Sebelum berlangsungnya kejadian tersebut, mereka sudah lebih dahulu menundukkan wilayah Langkasuka dan Lamura yang awalnya belum tunduk terhadap Kerajaan Cholamandala. Sedangkan Filipina dan sebagian koloni Sriwajaya di Kalimantan memisahkan diri untuk menjadi negara merdeka.

  • Pada tahun 1029 Masehi

Kerajaan Cholamandala menundukkan wilayah pedalaman Toba. Raja negeri Batak Tua itupun dijadikan tahanan perang.

  • Pada tahun 1030 Masehi

Bangsa Chola menulis catatan kemenangannya dalam Prasasti Tanjore karena berhasil mengendalikan selat Malaka dan menumbangkan Kerajaan Sriwijaya. Pada kejadian lainnya, Kerajaan Sunda menyatakan kemerdekaannya dari Sriwijaya.

  • Pada tahun 1035 Masehi

Sebagai tanah jajahan terakhir Sriwijaya di wilayah Jawa Tengah, Kalingga direbut oleh Kahuripan.

  • Pada tahun 1044 Masehi

Samara Wijayatunggawarman berhasil membebaskan diri ketika Chola sedang melakukan invasi. Selanjutnya mengkudeta Sri Dewa lalu menjadikan dirinya sebagai Raja baru Sriwijaya. Kemudian dirinya memimpin pemberontakan melawan dominasi Raja Rajendra Chola.

Salah satu tindakan yang dilakukannya adalah mengutus Senapati Purandara untuk membunuh Raja Chola. Rencan tersebut berhasil sehingga merka akhirnya memulai pertempuran ke tiap wilayah di Sriwijaya yang saat itu masih dikuasai oleh pasukan Chola.

  • Pada Tahun 1045 Masehi

Sriwijaya berhasil sepenuhnya merdeka dari Chola. Hal ini setelah mereka melakukan pertempuran besar dengan di Pihak Sriwijaya berada dalam pimpinan Purandara menumbangkan sisa-sisa prajurit Chola.

Keberhasilan lainnya juga didapatkan ketika kota Chaiya direbut dari Raja Khmer. Raja Samara Wijayatungga turut ikut dalam penjelajahan ke Srilanka demi membebaskan negeri itu dari dominasi Chola.

  • Pada Tahun 1048 Masehi

Rencana pasukan Sriwajaya untuk menguasai wilayah Srilanka berbuah keberhasilan. Raja Samara Wijayatungga kemudian membangun pemerintahan di sana dan berjalan kurang lebih 5 tahun.

  • Pada Tahun 1053 Masehi

Raja Samara Wijayatungga keluar dari wilayah Srilanka karena sebelumnya sudah melantik Pangeran Kasyapa untuk menjadi Raja Anuradhapura. Kemudian Raja Sriwijaya ini melanjutkan perjalanan menuju ke kerajaan Pandya.

Dirinya juga turut mengusir prajurit Chola yang berada di sana. Seorang bangsawan setempat bernama Sundara Pandya diangkat menjadi Raja Pandya.

  • Pada tahun 1068 Masehi

Terjadi pemberontakan Kedah melibatkan Seorang pangeran Srilanka akibat pengaruh dari pasukan Chola dalam menaklukkan Kedah lalu mengangkat dirinya menjadi penguasa.

Para pembesar Sriwijaya termasuk rajanya sedang tidak berada di tempat. Lalu diutuslah Kulotungga agar merebut wilayah itu kembali. Sang pangeran Srilanka dibunuh dan sisa armada Chola berhasil dipukul mundur.

  • Pada tahun 1080 Masehi

Raja Samara Wijayatungga meninggal dunia. Setelah itu digantikan oleh Manabharana untuk memimpin Kerajaan Sriwijaya.

  • Pada tahun 1088 Masehi

Terjadi perpecahan di lingkungan Kerajaan Sriwijaya. Dharmawira yang dipercaya memimpin Chaiya ingin merdeka dari naungan Sriwijaya. Dirinya juga menguasai wilayah Kepulauan Riau dan Sumatera.

Sedangkan Raja Manabharana menduduki Tanah Genting Kra dan Semenanjung Malaya. Beberapa decade kemudian berlalu sampai riwayat Kerajaan Sriwijaya sebelumnya bersatu kini harus berpisah.

Sisa Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Masa jaya Kerajaan Sriwijaya sudah berakhir namun bukan berarti tidak ada sesuatu yang ditinggalkan dari sepak terjangnya selama berkuasa. Peninggalannya bahkan tersebar di sekitar daerah kekuasaannya. Bentuknya tidak lain adalah berupa prasasti dengan informasi tertulis di permukaannya.

Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur Sriwijaya

Prasasti dari Kerajaan tersebut salah satunya ditemukan di sebelah barat Pulau Bangka. Penulisan informasinya dicantumkan dalam bahasa Melayu Kuno disertai penggunaan simbol Pallawa. Penemuan Prasasti Kota Kapur terjadi pada bulan Desember sekitar tahun 1892.

Orang pertama yang menemukannya adalah J.K. Van der Meulen. Informasi di dalamnya berisi semacam kutukan untuk siapapun yang berani menentang kekuasaan serta perintah kerajaan. Berdasarkan penilitian, George Coedes kemudian berhasil mengungkap tentang kerajaan Sriwijaya.

Pada saat itu Sriwijaya bukanlah nama Raja melainkan nama Kerajaan di Pulau Sumatera yang berkuasa pada abad ke-7. Kerajaan tersebut dikenal tangguh, kuat dan berpengaruh. Mampu menduduki Thailand bagian selatan, Semenanjung Malaya dan Nusantara bagian Barat.

Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti Kedukan Bukit Sriwijaya

Jenis penginggalan dari Kerajaan Sriwijaya ini ditemukan oleh seorang berkebangsaan Belanda, M. Batenburg. Tempat ditemukannya adalah di kampung kecil tepatnya di tepian Sungai Tatang. Tahun 1920 menjadi catatan waktu ditemukannya Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, Sumatera Selatan.

Dilihat dari ukurannya, prasasti ini terlihat lebih kecil dengan ukuran seperti ban mobil. Penggunaan bahasa Melayu kuno disertai huruf Pallawa menjadi ciri khas penulisan dari peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya ini. Ada 10 informasi tertulis di bagian permukaannya.

Dapat dikatakan bahwa Prasasti Kedukan Bukit adalah akta kelahiran Kerajaan Sriwijaya. Nama tokoh Dapunta Hyang disebutkan dalam batu berbentuk menyerupai telur tersebut. Diperkirakan pembuatannya berlangsung sekitar 16 Juni 682 M atau ketika awal tahun 604 Saka.

Prasasti Talang Tuo

Prasasti Talang Tuo Sriwijaya

Pada tanggal 17 November 1920, seorang diplomat dan linguis berkebangsaan Belanda menemukan Prasasti Talang Tuo. Dirinya adalah Louis Constant Westenenk ketika mendapatinya di kaki Bukit Seguntang tepatnya berada di tepian Sungai Musi. Kondisinya masih terjaga dengan baik sampai kini.

Ukuran panjang dan lebarnya adalah 50 cm × 80 cm. Ada sekitar 14 poin utama tertulis dalam aksara Pallawa dan menggunakan Bahasa Melayu kuno. Dalam isinya memberitahukan tentang sisi religius dan bentuk dedikasi berupa doa dan perkembangan Agama Buddha di Sriwijaya.

Bila dilihat dari isi prasasti Talang Tuo ini bahwa kerajaan Sriwijaya menganut aliran Mahayana mengingat terjemahannya berisi kata-kata seperti vajrasarira, bodhicitta dan sebagainya. Saat ini batu peninggalan sejarah ini ditempatkan pada Museum Nasional di Jakarta.

Prasasti Palas Pasemah

Prasasti Palas Pasemah Sriwijaya

Sesuai dengan tempat ditemukannya batu ini tepatnya di Desa Palas Pasemah, Lampung Selatan. Penggunaan bahasanya adalah Melayu kuno bertuliskan aksara Pallawa dengan susunan sebanyak 13 baris kalimat. Di dalamnya berisi kutukan atau balasan bagi mereka yang tidak patuh pada Kerajaan.

Prasasti Palas Pasemah tidak mencantumkan tahun penulisan namun berdasarkan bentuk aksaranya, peninggalan sejarah ini dibuat pada akhir abad ke-7 Masehi. Awal ditemukannya jenis batuan tertulis ini ketika dua orang penduduk kampung dari daerah Sumatera Selatan dan Jawa Barat.

Saat itu keduanya mencari ikan di sekitar Sungai Pisang. Pada saat itu 15 April 1956 bertepatan dengan hari Jumat, dua pemuda itu pergi ke kali dengan banyaknya bebatuan di sekitar tempat itu. Tanpa sengaja kemudian salah seorang menemukan batu tulis yang kini dinamakan Prasasti Palas Pasemah.

Prasasti Karang Berahi

Prasasti Karang Berahi Sriwijaya

Jenis peninggalan Kerajaan Sriwijaya berikut ini ditemukan di Dusun Batu Bersurat tepatnya di Desa Karang Berahi, Jambi. Dalam penulisannya masih menggunakan bahasa Melayu kuno dengan huruf Pallawa. Orang yang menemukannya pertama kali adalah L. Berkhout seorang berkebangsaan Belanda.

Setelah ditemukan batu tulis tersebut kemudian diteliti lebih jauh oleh N.J. Krom. Dalam penelitiannya tersebut, dirinya mempelajari tentang karakter huruf serta isi informasi prasasti. Raja Sriwijaya pada masa itu membuat prasasti Karang Berahi sebagai kutukan untuk memantau perdagangan.

Provinsi Jambi adalah daerah penting di Pulau Sumatera untuk diduduki oleh Kerajaan Sriwijaya. Hal ini karena di wilayah tersebut dapat digunakan sebagai gerbang utama untuk menguasai jalur perdagangan atau pelayaran di Selat Malaka. Pembuatan batu tulis ini diketahui berlangsung pada abad ke-7.

Prasasti Ligor

Prasasti Ligor Sriwijaya

Luasnya wilayah kekuasan Sriwijaya juga dibuktikan melalui penemuan Prasasti Ligor. Tempat menemukannya tidak berada di Indonesia melainkan di Thailand bagian Selatan. Terdapat dua sisi penjelasan informasi. Pada sisi A memberitahukan tentang kegagahan Raja Sriwijaya saat itu.

Sedangkan sisi B memberitahukan bahwa raja Sriwijaya adalah Raja tertinggi dari semua raja di dunia karena telah mendirikan Trisamaya Caiya (bangunan sakral dengan konstruksi batu bata bagi penganut ajaran Buddha) khususnya untuk Kerajaan Kajara.

Selain itu juga dijelaskan bahwa pemberian gelar Visnu Sesawarimadawimathana (penakluk musuh-musuh yang angkuh tanpa tersisa) dinobatkan kepada Sri Maharaja selain diketahui dirinya merupakan bagian dari keluarga Sailendravamasa. Penamaan prasasti Ligor sesuai dengan lokasi penemuannya.

Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu Sriwijaya

Penemuan batu tulis berikut ini berada di sekitar kolam Telaga Biru pada tahun 1935. Letaknya tidak jauh dari Keluarahan Ilir Kecamatan Ilir Timur 2, Palembang, Sumatera Selatan. Tidak berhenti sampai di situ, di sekitar lokasi juga ditemui prasasti lainnya berisi penjelasan tentang pembangunan Vihara.

Prasasti Telaga Batu dibuat dengan cara memahat batu andesit dengan ukuran tinggi prasasti 118 sentimeter dan lebarnya 148 sentimeter. Pada bagian atapnya dibentuk 7 ekor kepala ular kobra. Lalu di sisi bagian bawahnya, pada posisi tengah terlihat semacam pancuran untuk mengalirkan air.

Penggunaan bahasa Melayu kuno dan penggunaan huruf Pallawa terlihat jelas pada permukaannya. Jumlah tulisan sebanyak 28 baris sehingga termasuk memiliki isi yang panjang. Secara umum tulisannya berbicara mengenai kutukan bagi siapapun apabila memiliki niat dan tindakan buruk terhadap Kerajaan.

Prasasti Hujung Langit

Prasasti Hujung Langit Sriwijaya

Jenis peninggalan Kerajaan Sriwijaya berikut ini dikenal dengan sebutan Prasasti Hujung Langit. Sering juga disebut sebagai Prasasti Bawang. Lokasi ditemukannya berada di Desa Haur Kuning, Lampung. Penulisan di permukaan batu menggunakan huruf Pallawa dengan Bahasa Melayu kuno.

Tulisannya mungkin tidak terlihat jelas karena seperti mengalami pengikisan. Namun masih dapat diidentifikasi bahwa tahun pembuatannya sekitar 997 Masehi atau 919 Saka. Prasasti Hujung Langit berupa sebuah batu andesit berbentuk kerucut dengan cara dipahat untuk memberi infromasi tertulis.

Isi prasasti bertuliskan kalimat sebanyak 18 baris dengan posisi batu menghadap ke arah utara. Meskipun bagian permukaannya terdapat keausan, beberapa kalimat yang masih dapat terbaca memberitahukan tentang penetapan sebidang lahan di daerah Hujung Langit sebagai sima.

Candi Muara Takus

Candi Muara Takus Sriwijaya

Situs berikut ini berada di Desa Muara Takus. Dari pusat Kota Pekanbaru dapat ditempuh dengan perjalanan sepanjang 130 kilometer. Candi Muara Takus merupakan peninggalan sejarah dari Kerajaan Sriwijaya dengan berlatar agama Buddha yang dulunya pernah berjaya dalam waktu berabad-abad.

Pembangunan Candi Muara Takus menggunakan bahan utama seperti batu sungai, batu pasir dan bata. Itulah sebabnya warna paling menonjol adalah merah bata. Ada beberapa bangunan lainnya seperti Candi Tua, Bungsu, Palangka dan Stupa Mahligai dibagi menjadi beberapa komplek terpisah.

Penamaan “Muara Takus” dapat diartikan sebagai Candi yang bermuara ke sungai. Tempat bersejarah ini dijadikan destinatis wisata ketika banyak pengunjung datang ke Provinsi Riau. Ada banyak bangunan bersejarah di sekitar Candi Muara Takus sebagai bukti hadirnya pengaruh dari Kerajaan Sriwijaya.

Candi Muaro Jambi

Candi Muaro Jambi Sriwijaya

Candi Muaro Jambi, berlokasi sekitar 30 kilometer dari pusat kota. Situs bersejarah tersebut juga dijadikan destinasi wisata ketika libur ke Provinsi Jambi. Kompleks peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini diketahui menjadi tempat pengajaran agama Buddha sekitar ribuan tahun yang lalu.

Lokasi Candi Muaro Jambi tepatnya berada di Danau Lamo, Maro Sebo atau dapat dikatakan berada di dekat Sungai Batang Hari. Terdapat sekitar 82 menapo. Terdapat temuan benda bersejarah lainnya di tempat tersebut seperti reruntuhan Arca Gajah Singh, Stupa dan Arca Prajinaparamita.

Baca Juga: Sejarah Pramuka Indonesia dan Dunia

Demikianlah pembahasan mengenai data dan fakta sejarah dari Kerajaan Sriwijaya yang diperoleh dari beragai sumber. Mulai dari awal berdirinya, masa kejayaan dan jatuhnya diketahui melalui informasi dari para peneliti dan catatan tertulis pada sekian banyaknya prasasti membuktikan pengaruh besarnya.

Tinggalkan Balasan