Oleh-oleh Khas Papua

Oleh-oleh Khas Papua

Diposting pada

Keunikan dari Indonesia memang sudah terkenal di mata dunia. Setiap daerah seolah menawarkan ciri khasnya masing-masing, mulai dari Sabang hingga Merauke. Apalagi kalau Anda habis berkunjung ke Timur, jangan lupa bawa oleh-oleh khas Papua unik untuk keluarga dan teman.

Makanan Khas Papua untuk Oleh-oleh

Barang paling diincar masyarakat sepulang bertandang ke Papua adalah makanan khasnya. Keberadaan kuliner tersebut jarang ditemui di daerah lain. Jadi cita rasanya terasa unik dan berbeda di lidah para perantau dan sayang sekali kalau Anda melewatkan, beberapa di antaranya:

Kue Lontar

Oleh-oleh Khas Papua Kue Lontar

Pertama, ada Kue Lontar. Ukurannya bervariasi, mulai dari kecil sekali gigit hingga seukuran pie besar dan harus diiris dulu. Dengan lapisan roti kering yang berbentuk mangkuk, di dalamnya terdapat custard susu tebal. Kalau digigit rasanya begitu lembut dan manis dalam mulut.

Kue Lontar mungkin sudah jadi salah satu makanan dengan akulturasi budaya barat dan timur yang ada di Papua. Aslinya, penganan ini berasal dari Belanda. Para penjajah dulu memakannya sebagai snack. Jadi, jangan heran kalau bentuknya mirip Pie Susu atau Eggtart.

Baca Juga: Oleh-Oleh Khas Malang

Untuk menemukan Kue Lontar ini sebenarnya tidak sulit. Anda bahkan dapat menjumpainya dijual oleh para pedagang kaki lima pinggir jalan atau penjaja keliling. Saking terkenalnya penganan manis tersebut, permintaan pembuatannya terus melonjak.

Sagu Lempeng

Oleh-oleh Khas Papua Sagu Lempeng

Papua juga terkenal akan makanan pokok khas mereka. Tidak seperti kebanyakan masyarakat Indonesia pada umumnya, para penduduk asli paling sering mengkonsumsi sagu sebagai pengganti nasi. Pohon yang menyimpan sari patinya di batang itu banyak tumbuh di sana.

Oleh-oleh makanan khas Jayapura Papua ini begitu terkenal di kalangan para perantau. Terbuat dari sari pati sagu yang dimasukkan dalam sebuah cetakan bernama Forna. Tepung itu dibakar dengan tambahan gula merah di tengah. Pembakarannya cukup lama, sekitar 30-60 menit.

Rasa dari Sagu Lempeng sendiri begitu manis. Mirip Kue Pukis kalau di Jawa dengan lelehan gula merah di tengah. Kerap kali para penduduk mengkonsumsinya bersama teh hangat ketika sore. Menemukan penganan ini pun mudah karena banyak kedai kecil yang menjualnya.

Kue Bagea

Oleh-oleh Khas Papua Kue Bagea

Selain kedua camilan manis di atas, Kue Bagea juga tidak boleh dilewatkan begitu saja ketika bertandang ke Papua. Snack satu ini berbentuk seperti bolu gulung, hanya saja bagian tengah diisi taburan abon sapi. Rasanya begitu gurih dan cocok dimakan ketika jamuan minum teh.

Kalau Anda kurang suka dengan rasa asin dari abon sapi tersebut, masih ada pilihan lainnya juga. Beberapa penjual menambahkan varian lain seperti coklat, strawberry, pandan, ayam cincang, keju, kacang dan masih banyak lagi. Jangan sampai dibuat bingung oleh semua pilihan itu.

Ciri khas lain dari Kue Bagea ini adalah teksturnya yang seperti retakan di bagian luar. Kebanyakan para warga juga memberi imbuhan berupa irisan almond, kacang kenari, maupun mede sebagai penambah tekstur tersebut. Menjadikannya terasa crunchy ketika digigit.

Udang Selingkuh

Oleh-oleh Khas Papua Udang Selingkuh

Kebanyakan orang mungkin bertanya-tanya ketika mendengar nama satu ini. Memang, rasanya sedikit unik ketika tahu kalau “Udang Selingkuh” merupakan cara masyarakat Papua menyebut hewan tersebut karena bentuk tubuhnya tidak biasa. Jadi, jangan sampai salah sangka dulu.

Penyebutan tersebut juga bukan tanpa alasan karena tubuh hewan itu memang layaknya udang, namun capitnya besar dan kuat seperti kepiting. Istilah nasionalnya, mungkin Lobster Air Tawar. Rasanya pun juga tidak jauh beda, bahkan lebih manis karena hidupnya jauh dari lautan.

Biasanya, masyarakat memasak Udang Selingkuh dengan bumbu asam manis, siram telur asin, saus lada hitam, atau diasap tanpa dibumbui apapun. Kebanyakan, para pelancong membawa varian ini. Anda bisa mendapatkannya di banyak toko oleh-oleh khas Papua di Jayapura.

Martabak Sagu

Oleh-oleh Khas Papua Martabak Sagu

Sudah tidak terhitung jumlahnya berapa banyak makanan nasional tersebar di seluruh Indonesia. Beberapa di antaranya bahkan sudah mengalami modifikasi sesuai dengan lidah masing-masing daerah. Salah satunya ialah Martabak Sagu khas Papua Barat ini.

Kalau biasanya adonan martabak berasal dari tepung, kali ini lain. Sagu jadi bahan utama dengan dihaluskan dulu lalu digoreng seperti biasa. Bagian toping diganti taburan gula merah dan irisan kacang. Rasanya begitu legit serta gurih dan teksturnya sangat terasa ketika digigit.

Ukuran dari Martabak Sagu juga tidak terlalu besar seperti yang dijumpai pada umumnya. Meskipun begitu, penikmat jajanan ini juga banyak. Apalagi kalau di Papua Barat, rasanya hampir di setiap sudut jalan ada penjualnya. Jangan sampai Anda tidak membawanya sebagai oleh-oleh.

Sate Ulat Sagu

Oleh-oleh Khas Papua Sate Ulat Sagu

Mau uji nyali sedikit dengan makanan oleh-oleh khas Papua Timika? Anda jelas bisa mendapatkannya ketika bertandang ke sini. Bawakan saja sanak saudara di rumah kuliner bercita rasa unik namun sering dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, yakni Sate Ulat Sagu.

Siapa sangka Ulat Sagu yang hidup di dalam batang pohon membusuk itu ternyata memiliki kandungan gizi berupa lemak dan protein setara daging sapi atau ayam pada umumnya. Hal ini dikarenakan larava kumbang merah tersebut dipanen masyarakat ketika baru menetas.

Banyak masyarakat mengolah Ulat Sagu ini dengan cara digoreng biasa, dicampur sambal balado, bahkan dibuat sate. Kebanyakan para pelancong membawa oleh-oleh dengan olahan tersebut ke rumah. Sedikit suprprise bagi keluarga dan teman-teman agar mencoba kuliner baru.

Aksesoris Khas Papua

Selain makanan, masyarakat papua juga rajin sekali membuat aksesoris kecil untuk pelancong kalau mereka ingin membawa pulang sesuatu untuk dibagikan pada keluarga di rumah. Karena motifnya sangat eksotis, Anda juga tidak boleh melewatkan barang menarik seperti di bawah ini:

Tas Noken

Oleh-oleh Khas Papua Tas Noken

Pernah melihat orang Papua membawa kantung dengan mengalungkannya di pinggiran kepala mereka? Inilah yang dinamakan Tas Noken. Bentuknya hampir seperti tote bag yang dikenal belakangan ini. Biasanya, penduduk membawa sayuran, buah, dan umbi di dalamnya.

Bahan dari Tas Noken terbilang unik. Benda ini terbuat dari serat kulit kayu Manduam atau Anggrek Hutan yang dikeringkan lalu dipintal. Pembuatannya masih sangat tradisional dan hanya boleh dikerjakan oleh wanita Papua. Meski begitu harganya terbilang cukup terjangkau.

Motif yang dibuat di permukaan Tas Noken melambangkan kehidupan sejahtera, perdamaian antar wilayah dan kesuburan tanahnya. Kalau Anda ingin memiliknya, coba cari benda ini di toko oleh-oleh khas Papua. Ada beragam versi tersedia di sana.

Kain Tenun Terfo

Oleh-oleh Khas Papua Kain Tenun Terfo

Beberapa orang mungkin pernah mendengar tentang kain tenun. Daerah penghasil terbesar di Indonesia adalah Sumatra. Jadi, tidak heran kalau Songket dan Ulos begitu terkenal. Tapi, tahukah Anda kalau Papua juga memilikinya? Bahkan motifnya begitu unik dan eksotis.

Kain tenun khas Papua ini sering dipakai pada suatu acara adat, misalnya saja ketika pertemuan kepala suku, pembayaran mas kawin, denda adat, pengikat kedamaian antar desa yang bertikai, hadiah bagi tamu kehormatan, dan sebagai aksesoris karena mulai dijual luas di pasaran.

Motif dari Kain Tenun Terfo sendiri juga bermacam-macam, dengan nama paling terkenal adalah Kute. Kebanyakan desain yang diambil berasal dari alam atau hewan-hewan di sekitar mereka. Warnanya sendiri tidak mencolok. Kebanyakan masih netral dengan pewarnaan alami.

Batik Papua

Oleh-oleh Khas Papua batik papua

Siapa bilang batik hanya bisa ditemukan di Jawa saja? Nyatanya, kalau Anda bertandang ke wilayah paling timur Indonesia, kain beragam motif ini masih bisa ditemukan di sana. Corak dan warnanya juga begitu menarik, sangat melambangkan keindahan alam pulau tersebut.

Baca Juga: Oleh-Oleh Khas Makassar

Batik Papua memiliki beragam motif sesuai dengan daerah asalnya, seperti Asmat, Sentani, Honai, Nabire, Prada dan masih banyak lagi. Kebanyakan simbol di dalamnya berupa kekayaan alam, patung leluhur, sampai satwa khas dari Papua. Paling terkenal ialah Cendrawasih.

Warna yang dipakai juga lebih ceria seperti kuning, merah, hijau, biru dan masih banyak lagi. Perpaduan tersebut menimbulkan kesan begitu eksotis. Anda bisa membelinya di banyak toko oleh-oleh khas Nabire Papua berupa lembaran per meter atau sudah jadi pakaian.

Gelang dan Kalung khas Papua

Oleh-oleh Khas Papua Gelang dan Kalung khas Papua

Tempat yang eksotis pastinya memiliki banyak barang-barang unik juga. Contohnya saja di Papua, banyak pengrajin aksesoris seperti gelang dan kalung menggunakan bahan-bahan tidak biasa. Bukan hanya terbuat dari butiran biji plastik saja seperti yang biasa dilihat saat ke pasar.

Di sini, kebanyakan kalung dibuat menggunakan bahan alami seperti kayu, tempurung kelapa, hingga biji-bijian yang keras. Semuanya disusun menjadi satu berdasarkan warnanya. Kadang di bagian tengah diberi hiasan tambahan seperti bulu burung atau gigi dan tulang hewan.

Uniknya lagi, gelang dibuat dengan cara menganyam kulit pohon maupun akar bahar yang sudah ditipiskan. Jadi, setiap lembaran akan lentur seperti rotan. Motifnya pun bermacam-macam dan para warga sengaja tidak mewarnainya agar kesan alami material tersebut masih bertahan.

Mahkota Bulu Burung

Oleh-oleh Khas Papua Mahkota Bulu Burung

Ikat kepala bagi masyarakat Papua memang bukan dianggap sebagai hiasan saja. Apalagi kalau sudah dipakai kepala suku dan para tetua adat. Benda tersebut seolah menunjukkan derajat masing-masing orang yang berpengaruh di sana dengan bahan penyusun berbeda-beda.

Meskipun begitu, Anda masih bisa memiliki Mahkota Bulu Burung kalau mengunjungi pusat aksesoris khas Papua. Mereka menjual imitasi barang tersebut, hampir sama seperti aslinya. Terbuat dari bulu Kasuari yang tersusun tegak di atas dengan kulit binatang sebagai pelapisnya.

Setiap suku memiliki motif ikat kepala yang berbeda-beda sebagai penanda. Teknik penyusunan bulu burung Kasuari dan Kelinci pun juga selalu diperhatikan. Ketika ada upacara adat, benda ini dipakai bersamaan dengan pakaian khas suku tersebut dan aksesoris lain.

Kaos “I LOVE PAPUA”

Oleh-oleh Khas Papua Kaos I LOVE PAPUA

Sepertinya kaos sudah menjadi oleh-oleh umum kalau pernah bertandang ke suatu wilayah. Seolah menandakan bahwa Anda baru saja ke sana. Selain pernak pernik eksotis yang hanya bisa dijumpai di sana, baju bertuliskan “I Love Papua” juga kerap ditemui di toko-toko.

Tulisan yang diberikan di bagian depan kaos tersebut bukan hanya “I Love Papua” saja, namun banyak pengrajin berusaha memasukkan keunikan tanah mereka dengan karikatur suku-suku yang lucu, beberapa ungkapan dalam bahasa setempat dan motif ukiran unik.

Kaosnya sendiri kebanyakan terbuat dari bahan katun dan kain distro. Lumayan dingin dan menyerap keringat bila dipakai. Warnanya juga bermacam-macam, namun kebanyakan toko memilih rona netral seperti hitam, putih, biru navy dan abu-abu karena disukai warga setempat.

Souvenir Khas Papua

Selain banyaknya makanan unik dan aksesoris eksotis lain, Papua masih menyimpan berjuta keunikan lewat souvenir-souvenir menarik khas kebudayaan setiap sukunya. Akan disayangkan kalau Anda tidak membelinya untuk pajangan di rumah. Berikut di antaranya:

Koteka

Oleh-oleh Khas Papua Koteka

Pasti Anda sudah tidak asing dengan nama satu ini. Ketika berjalan-jalan di toko souvenir khas Papua, Sorong City, West Papua, mungkin akan mendapati banyak Koteka digantung di depan kedai. Benda satu ini sudah dikenal masyarakat Indonesia sebagai barang antik.

Koteka bermakna pakaian. Benda tersebut berfungsi sebagai alat penutup kemaluan bagi laki-laki. Penggunaannya sedikit berbeda di setiap suku. Bahannya sendiri terbuat dari kulit labu air yang dikeringkan dulu, lalu bagian luarnya diberi berbagai motif agar terlihat menarik dan tali pengikat.

Sekarang, Koteka tidak lagi digunakan di tempat umum dan kegiatan sehari-hari seperti jaman dulu. Penggunaannya hanya terbatas ketika ada upacara adat saja. Malahan banyak penjual souvenir menjualnya kepada para pelancong karena keunikan dari benda tersebut.

Patung Suku Asmat

Oleh-oleh Khas Patung Suku Asmat

Keunikan lain juga ditampilkan oleh salah satu suku di Papua, yaitu Asmat. Mereka memiliki patung eksotis berbentuk roh leluhur yang diberi nama Mbis. Seni ukir ini umumnya digunakan ketika ada upacara adat maupun keagamaan setempat.

Setiap pahatannya memiliki makna tersendiri dan terdiri dari banyak motif. Yang paling terkenal yaitu bentuk manusia, alat musik, perisai, perahu, telur kasuari, tameng penuh ukiran dan masih banyak lagi. Mereka berujar bahwa itu merupakan representasi roh nenek moyang.

Untuk patung yang asli, biasanya bisa Anda dapatkan ketika sudah menembus hutan belantara dan menemui salah satu dari etnis suku Asmat terdekat di sana. Namun, jangan khawatir. Imitasi kerajinan itu masih dapat ditemui di banyak toko pernak-pernik khas Papua.

Alat Musik Tifa

Oleh-oleh Khas Alat Musik Tifa

Bagi penggemar musik, sepertinya alat satu ini patut menjadi oleh-oleh ketika dibawa pulang. Tifa atau gendang khas Papua yang cara mainnya dengan dipukul menggunakan tangan maupun tongkat. Ukurannya lumayan kecil sehingga mudah dibawa kemana-mana.

Tapi, berikut yang bukan oleh-oleh khas Papua adalah Djembe atau Jimbe. Bentuknya hampir mirip hanya saja bagian dasarnya lebih ramping dan atasnya menggelembung. Sedangkan Tifa keseluruhannya kecil, serta ukurannya lumayan panjang. Jadi jangan sampai keliru memilihnya.

Tifa memiliki beragam jenis, di antaranya Jekir, Dasar, Potong dan Bas. Sama seperti drum, mereka jadi satu set dan akan bagus kalau dimainkan bersamaan. Namun, Anda tetap bisa membelinya secara satuan kalau hanya utuk oleh-oleh saja.

Kerajinan Kulit Kayu

Oleh-oleh Khas Kerajinan Kulit Kayu

Terakhir terdapat kerajinan dari lembaran kulit kayu. Penampakannya sendiri hampir sama seperti lukisan dari kanvas. Hanya saja bahannya kali ini berbeda. Banyak masyarakat di sana memajang benda tersebut di ruang tamu sebagai hiasan.

Motif yang ada di atas kulit kayu tersebut juga bermacam-macam. Para pengrajin mendapatkan inspirasi dari alam, seperti menggambar burung Kasuari, Cendrawasih, ikan, perahu, buaya, potret suku Sentani dan segala macam kebudayaan yang melekat pada etnis tersebut.

Kerajinan kulit kayu ini tidak hanya bisa didapatkan berupa lembaran saja, namun para pengrajin mulai memodifikasinya ke benda lain seperti dompet, topi, tas selempang, gantungan kunci, bahkan sebagai pemanis mahkota bulu burung atau Serra.

Baca Juga: Oleh-Oleh Khas Ambon

Begitu banyak hal eksotis dituangkan pengrajin ke oleh-oleh khas Papua di atas. Dengan keragaman itu bukan hanya keindahan saja yang ditonjolkan, namun para pelancong juga diajak ikut menghargai budaya Timur.

Tinggalkan Balasan