Pengertian E-Commerce Menurut Para Ahli dan Contohnya

Adanya internet dengan teknologi yang canggih pasti akan memunculkan banyak peluang dalam dunia bisnis, salah satunya adalah E-Commerce. Di Indonesia sendiri, perkembangannya cukup pesat dan cepat hingga banyak unicorn startup pun bermunculan.

Pengertian E-Commerce

Mungkin masih banyak yang belum memahami tentang istilah tersebut, karena sejauh ini yang umum di masyarakat hanyalah bisnis online melalui sosial media. Padahal sebenarnya pengertian E-Commerce dan contohnya ini merujuk ke sana.

Lebih mudahnya, bahwa E-Commerce ini merupakan semua aktivitas jual beli yang terjadi dengan bantuan benda elektronik sebagai medianya. Jika diaplikasikan saat ini, maka melalui smartphone maupun PC yang telah terhubung dengan internet sehingga antara penjual dan pembeli dapat melakukan interaksi.

Perlu diketahui pula bahwa antara E-Commerce dan marketplace ini tidaklah sama, sedangkan orang-orang kerap kali menggunakan kedua istilah tersebut seolah sebagai persamaan makna. Sebab, marketplace sendiri adalah salah satu bentuk dari E-Commerce.

Pengertian E-Commerce Menurut Para Ahli

Pengertian E-Commerce Menurut Para Ahli

Untuk bisa memahami pengertian E-Commerce lebih mendetail lagi, para ahli bisnis dan teknologi pun turut membeberkan makna yang mudah untuk dipahami. Terlebih istilah tersebut kerap kali bermunculan di internet tanpa mengetahui makna yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, berikut ini beberapa kumpulan pengertian E-Commerce menurut para ahli:

E-commerce Menurut Mcleod Pearson

Menurut Mc. Leod Pearson bahwa E-Commerce atau perdagangan elektronik tersebut merujuk kepada sebuah bisnis yang memanfaatkan kecanggihan jaringan komunikasi. Sedangkan komputer sebagai medianya sehingga bisa melaksanakan tugas bisnis.

Akan tetapi masyarakat lebih mengenal E-Commerce sebagai tempat perdagangan atau jual beli produk melalui internet dan komputer. Kemudian browser web adalah media untuk berkomunikasi atau berinteraksi dengan pelanggan.

E-commerce Menurut Shelly Cashman

Shelly Cashman sendiri mengutarakan pendapatnya terkait E-commerce atau electronic commerce. Menurutnya, istilah tersebut merupakan transaksi yang terjadi dalam bisnis akan tetapi jaringan komunikasi elektronik sebagai medianya.

Baca Juga: Pengertian Manajemen Operasional

Selain itu, perdagangan elektronik seperti ini semua orang boleh menggunakannya. Asalkan memiliki jaringan internet, paham cara bertransaksi secara online untuk membayar barang yang dibeli, hingga mampu mengoperasikan alat komunikasi seperti ponsel atau komputer.

E-commerce Menurut Jony Wong

Sedangkan Jony Wong memberikan pemaparan dengan bahasa yang sedikit berbeda. Hal ini karena menurutnya, elektronik commerce adalah segala aktifitas tentang penjualan produk maupun jasa hingga terjadinya transaksi dengan para pembeli.

Hal tersebut meliputi pemasaran produk, iklan, hingga pembelian. Selain itu, e-commerce sendiri merupakan istilah dari transaksi online itu sendiri. Sedangkan website atau alat elektronik adalah media atau wadah sehingga aktivitas jual beli bisa terjadi.

E-commerce Menurut Kalakota dan Whinston

Kalakota dan Whinston memberikan pengertian tentang materi E-Commerce yang lebih kompleks. Mereka memaknai istilah tersebut berdasarkan 3 sudut pandang. Pertama dari segi komunikasi yang menyatakan tentang media atau wadah untuk bertransaksi antara penjual dan pembeli.

Kedua dari segi bisnis itu sendiri bahwa, adanya jual beli online sehingga memungkinkan adanya otomatisasi transaksi. Terakhir adalah layanan yang akan ditujukan kepada para konsumen sehingga bisa memenuhi keinginan secara nyata.

E-commerce Menurut David Baum

David Baum memberikan pernyataannya mengenai perdagangan online bahwa yang terjadi sebenarnya adalah hubungan dinamis. Hal tersebut meliputi satu set yang tidak dapat terpisahkan, yaitu komputer, internet, perusahaan dan komunikasi.

Dengan adanya hubungan antara beberapa hal tersebut sehingga memungkinkan terjadi transaksi tanpa harus bertemu alias secara online. Selain itu, hubungan tersebut juga terhubung dengan rangkaian teknologi, proses bisnis dan aplikasi yang mendukung.

E-commerce Menurut Yuan Gao

Dalam ensiklopedia information science and technology mengungkapkan bahwa Yuan Gao ini juga memberikan definisi E-Commerce. Menurutnya antar media yang diperlukan akan saling terhubung sehingga bisa terjadi transaksi.

Dalam hal ini ada penggunaan komputer yang terhubung dengan jaringan sehingga bisa terjadi komunikasi bisnis. Hingga pada akhirnya menimbulkan transaksi komersial.

E-commerce Menurut Laudon dan Laudon

Laudon dan Laudon mengartikan bahwa E-Commerce adalah suatu proses jual beli barang atau jasa antara konsumen dengan perusahaan terkait. Akan tetapi dalam prosesnya, terdapat media elektronik yang terhubung ke internet sebagai wadah sekaligus perantara.

E-commerce atau perdagangan elektronik ini sendiri merupakan pertukaran bisnis yang terjadi secara rutin antar perusahaan maupun dengan konsumen. Hal ini terjadi karena adanya teknologi pendukung seperti Electronic Data Interchange (EDI).

E-commerce Menurut Sukarmi

Sukarmi memberikan pernyataan yang cukup berbeda mengenai makna dari E-Commerce ini. Menurutnya perdagangan elektronik bisa mencapai kesepakatan dan bisa masuk dalam kategorinya apabila memenuhi beberapa persyaratan, seperti:

  • Memiliki kontrak dagang.
  • Kontrak berlaku untuk perdagangan elektronik.
  • Barang tidak perlu ada terlebih dahulu atau tidak perlu memiliki stok.
  • Perjanjian jual-beli secara umum dan terjadi di hadapan publik.
  • Menggunakan sistem pengoperasian terbuka, yaitu internet dan website.
  • Kontrak terbatas pada yuridiksi nasional.

Sejarah E-Commerce

Sejarah E-Commerce

Perkembangan dunia digital ini bisa dikatakan buah yang manis dan mampu menghasilkan trading yang menakjubkan. Bermula dari kemunculan internet hingga pemanfaatannya untuk sebuah transaksi digital, E-Commerce memerlukan waktu yang cukup panjang dan pelik.

Pada tahun 1970-an, dimulai dengan adanya Electronic Fund Transfer (EFT) sehingga transaksi keuangan bisa melalui teknologi digital. Hanya saja perkembangannya yang masih lambat dan mahal, tidak heran jika perusahaan besar dan lembaga pemerintah saja yang menggunakannya.

Kalaupun ada perusahaan skala menengah, itu pun karena mereka nekat. Hingga pada akhirnya muncullah teknologi baru bernama Electronic Data Interchange (EDI) sehingga transaksi keuangan bisa lanjut ke proses lainnya. Hal tersebut pun mampu menarik perhatian banyak perusahaan.

Kemudian yang paling laris pada masa itu adalah reservasi perjalanan dan memunculkan banyak aplikasi pendukung yang disebut aplikasi telekomunikasi. Barulah pada tahun 1990an muncul istilah E-Commerce, sebab semakin banyak peminat dan mampu menarik perhatian jutaan pelanggan.

Mengapa E-Commerce Ini Bisa Terbentuk?

Setelah memahami dari berbagai pemaparan tersebut, maka sudah pasti tujuan E-Commerce merujuk pada berbagai keuntungan bagi perusahaan maupun konsumen. Beruntungnya, hal tersebut memang mampu terwujud sehingga tidak heran apabila perkembangannya begitu pesat.

E-Commerce hadir memang untuk memudahkan adanya transaksi bisnis. Terlebih kecanggihan teknologi juga kian berkembang sehingga sangat sayang apabila tidak dimanfaatkan untuk keperluan perdagangan yang semua orang pasti memerlukan aktivitas tersebut.

Lantas, hal apa saja yang melatarbelakanginya?

  • Supaya orang-orang bisa merasakan kemudahan transaksi melalui kecanggihan internet dan web browser sebagai interface-nya.
  • Portal Ecommerce bisa menjadi sebuah komunitas bisnis dan pelanggan dengan minat yang sama sehingga mampu membangun konsep pasar yang menguntungkan.
  • Pengelolaan toko dan pelanggan berdasarkan pada visualisasi, layanan, informatif, responsif dan juga dinamis.
  • Selalu mampu memberikan informasi up to date kepada pelanggan dengan komunikasi multi-arah.
  • Supaya orang-orang bisa memanfaatkan model pembayaran elektronik sehingga semakin memudahkan transaksi.
  • Bagi pebisnis sendiri penting untuk mengembangkan skill-nya dengan mencar banyak pengetahuan tentang e-commerce, e-business dan internet.

Bagi perusahaan sendiri, menggunakan E-Commerce karena dinilai mampu lebih menguntungkan dari berbagai aspek. Terlebih keefektifan dan keefisienan waktu. Meskipun tidak dapat menyangkal pula, harus sesuai proses yang cukup sulit dan memerlukan kesabaran dan keuletan ekstra.

Jenis-jenis E-Commerce

Jenis-jenis E-Commerce

Apabila hanya melihat dari beberapa pengertian tentang perdagangan online sebelumnya, mungkin yang terpikirkan dari kegiatan ini hanyalah aktivitas jual beli pada umumnya. Akan tetapi faktanya E-commerce ini justru banyak jenisnya.

Hal tersebut dikategorikan berdasarkan jenis bisnis yang akan terjadi. Lebih mudahnya, berikut ini penjelasan tentang jenis-jenis e-commerce:

Business To Business (B2B)

Model E-Commerce dari Business to Business ini sedikit berbeda karena trading partners yang ada telah saling mengenal sebelumnya. Bahkan hubungan tersebut terjalin sejak lama hingga timbul rasa saling percaya, bahkan setiap informasi tentang bisnisnya hanya dibagikan kepada partners tersebut.

Proses interaksi yang terjadi adalah peer to peer, yaitu adanya proses intelligence atau transfer data secara berulang-ulang dengan sistem yang telah menjadi kesepakatan. Kemudian, dalam setiap aktivitas tersebut, antar rekan atau partner tidak perlu saling menunggu hingga data terkirimkan.

Business To Consumer (B2C)

Business to Consumer adalah salah satu jenis E-Commerce dengan transaksi yang terjadi antara konsumen dan pelaku bisnis. Umumnya, aktivitas seperti ini cenderung dinamis akan tetapi penyebarannya tidak merata alias terhenti kapan saja.

Walaupun begitu, perkembangan dari B2C ini begitu pesat karena banyaknya platform pendukung sebagai media. Seperti website, virtual chat, media sosial dan sebagainya sehingga memungkinkan banyak toko atau produsen, memasarkan produknya langsung ke konsumen tanpa ada timbal balik.

Consumer To Consumer (C2C)

Consumer to consumer atau konsumen dengan konsumen, merupakan istilah perdagangan online yang berakhir adanya transaksi baik untuk berupa barang maupun jasa. Akan tetapi, aktivitas tersebut melibatkan pihak ketiga yang memiliki platform daring sebagai media jual beli tersebut.

Gambaran mudahnya adalah seperti ini, si A membeli produk dari suatu produsen akan tetapi setelah itu ia memutuskan ingin menjualnya kembali kepada konsumen lain. Maka, ia menggunakan media online supaya ada pembeli yang tertarik. Istilahnya adalah produk bekas atau preloved.

Consumer To Business (C2B)

Consumer to Business ini sebenarnya kebalikan dari B2C. Pada B2C adalah layanan jual beli antara perusahaan atau produsen ke konsumen, sedangkan C2B adalah sebaliknya. Bentuk dari perdagangan tersebut pun juga bisa berupa jasa.

Contohnya adalah jasa graphic design atau pembuatan website yang rata-rata merupakan perorangan. Kemudian ia menjual atau menawarkan jasanya kepada perusahaan yang membutuhkan produk tersebut.

Business To Public Administration (B2A)

Jenis E-Commerce, yaitu Business to public Administration ini adalah, sebuah transaksi jual beli yang terjadi antara perusahaan dengan administrasi publik dan biasanya itu adalah lembaga pemerintah. Beberapa tahun belakangan jual beli semacam ini terus memberikan grafik peningkatan signifikan.

Hal ini karena mereka memberikan jasa atau produk yang relate dengan perkembangan teknologi dan zaman. Contohnya adalah suatu perusahaan menawarkan jasa pembuatan website kepada lembaga, yaitu untuk membuat sebuah sistem administrasi agar bisa berjalan lebih efektif dan efisien.

Consumer To Public Administration (C2B)

Consumer to public administration atau C2B meskipun lumayan populer akan tetapi di Indonesia sendiri penggunaannya masih jarang. Sebab, bentuk dari interaksi perdagangan ini adalah antara individu dengan lembaga pemerintah.

Umumnya bisnis yang terjadi berbentuk jasa. Jadi, individu tersebut menawarkan jasa atau kemampuannya kepada lembaga pemerintah sehingga bisa terjadi transaksi jual beli antara keduanya.

Online To Offline (O2O)

Online to Offline sebenarnya salah satu jenis E-Commerce yang menawarkan atau mengiklankan produknya kepada pelanggan. Tujuannya mereka tertarik untuk mengunjungi toko fisiknya. Cara ini memerlukan pendekatan yang lebih dan juga secara halus.

Maka, secara tidak sadar pelanggan akan kecanduan untuk berbelanja online dan juga mendatangi toko fisiknya. Akhir-akhir ini promosi dengan cara tersebut begitu populer, akibatnya banyak orang berbondong-bondong mendatangi lokasinya dan terjadilah transaksi.

Contoh E-Commerce

Contoh E-Commerce

Dari beberapa penjelasan mengenai jenis-jenis E-Commerce sehingga kini akan membahas tentang contohnya. Terlebih Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan perkembangan E-Commerce tercepat sehingga banyak bermunculan unicorn start-up.

Benar, di atas adalah nama dari transaksi tersebut sedangkan bahasan berikut ini merupakan contoh real yang kerap ditemui:

Business To Business (B2B)

Bagi pebisnis atau yang memiliki sebuah usaha maupun hanya sekedar skala rumahan biasa pasti tidak asing dengan platform jual beli online seperti Ralali, Electronic City dan Mbiz. Ketiganya merupakan wadah antara perusahaan dengan perusahaan yang menyediakan keperluan produksi.

  • Ralali adalah platform jual beli online yang menyediakan keperluan peralatan kantor, industri, restoran, pertanian maupun barang-barang keperluan rumah tangga.
  • Electronic City seperti namanya, bahwa situs ini sebagai wadah jual beli barang elektronik untuk perusahaan maupun rumah tangga.
  • Mbis sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Ralali. Hanya saja pada platform ini lebih kompleks, karena mereka juga menyediakan jasa untuk keperluan perbaikan dinding bangunan hingga

Business To Consumer

Untuk contoh dari jenis E-Commerce yang ini pasti hampir semua orang mengetahuinya atau bahkan kerap menggunakannya. Unicorn startup seperti ini begitu berkembang pesat di Indonesia, karena mereka menyediakan hampir semua kebutuhan para konsumen selayaknya toko offline.

  • Lazada adalah salah satu contoh dari Ecommerce B2C. Sebagai penyedia layanan jual beli online, situs tersebut menyediakan keperluan individu maupun reseller mulai dari fashion, kosmetik, aksesoris, peralatan rumah tangga dan sebagainya.
  • Shopee adalah contoh dari E-Commerce yang paling populer dengan pengguna terbanyak di Indonesia. Sama seperti Lazada, situs tersebut juga menyediakan banyak keperluan individu maupun bisnis skala kecil.
  • Blibli sebenarnya juga tidak jauh berbeda dengan Lazada dan Shopee. Bahkan situs ini merupakan yang pertama di Indonesia sehingga mulai bermunculan berbagai startup sejenis.

Consumer To Consumer

Sebelumnya telah sedikit menyinggung bahwa layanan E-Commerce berupa consumer to consumer adalah jual beli barang bekas maupun baru. Akan tetapi tujuan dari penjualan tersebut bukan untuk memperoleh keuntungan melainkan “tidak terpakai” atau sejenisnya.

Baca Juga: Pengertian Strategi Pemasaran

Berikut ini beberapa contoh situs jual beli barang bekas terpercaya di Indonesia dan juga paling populer:

  • OLX seperti yang telah diketahui banyak orang bahwa, situs tersebut merupakan wadah bagi orang-orang yang ingin mengiklankan barang bekasnya secara gratis maupun berbayar.
  • Kaskus sebenarnya sebuah situs yang menyediakan forum terbuka bagi siapa saja. Akan tetapi banyak orang-orang memanfaatkan platform tersebut untuk jual beli barang bekas.
  • Tokopedia sebenarnya bisa menjadi kategori B2C sama seperti Lazada, Shopee dan lainnya. Namun, situs tersebut juga menyediakan layanan menjual barang preloved antara konsumen dengan konsumen.

Business To Public Administration (B2A)

B2A adalah salah satu jenis dari E-Commerce dan merupakan wadah bagi pebisnis atau perusahaan yang ingin menawarkan jasanya kepada pemerintah. Jadi, hal tersebut akan mampu mendukung kinerja setiap lembaga administrasi. Berikut ini contohnya:

  • Qlue adalah salah satu start up yang menyediakan perangkat lunak atau software untuk memudahkan pekerjaan perusahaan maupun lembaga pemerintah dalam hal sistem administrasi maupun data statistik.
  • Accela merupakan sebuah layanan khusus yang membantu pemerintah dalam memudahkan pekerjaan administrasi publik.

Consumer To Business (C2B)

 Seperti penjelasan sebelumnya bahwa consumer to business adalah, salah satu jenis E-Commerce yang menyediakan layanan jual beli jasa antara individu dengan perusahaan. Tentu dalam hal ini mereka harus memiliki keahlian khusus.

Selain itu, situs-situs yang menyediakan kebutuhan transaksi seperti ini adalah Upwork dan Freelance. Keduanya merupakan wadah bagi seseorang yang memiliki keahlian. Dengan begitu, mereka bisa memberikan kualifikasinya dan perusahaan dapat memilih untuk menggunakan jasanya.

Bagaimana E-Commerce di Indonesia?

Industri E-Commerce sebagai layanan jual beli online memang memperoleh sambutan baik dari seluruh dunia. Termasuk Indonesia yang bahkan masuk dalam daftar 10 negara dengan perkembangan E-Commerce tercepat.

Berdasarkan survei pada tahun 2018 yang lalu, perkembangan E-Commerce di Indonesia benar-benar mengalami puncak. Terlebih terhadap produk-produk tiket pesawat dan reservasi hotel online sebagai penyumbang terbesar, yakni sekitar 17,7%.

Kemudian sisanya adalah pada produk pribadi seperti pakaian, kosmetik, kesehatan dan sejenisnya dengan total pertumbuhan mencapai 78%. Apabila melihat perkembangannya, tentu hal ini menjadi peluang emas bagi para pebisnis sehingga mereka harus melek teknologi supaya bisa mengikuti.

Keuntungan E-Commerce Bagi pebisnis

Keuntungan E-Commerce Bagi pebisnis

Seiring pesatnya industri perdagangan yang berpadu dengan teknologi, tentu fakta tersebut menjadi buah manis bagi siapa saja. Baik dari sudut pandang penjual maupun konsumen itu sendiri. Jadi, dalam hal ini setiap orang memang harus mengikuti perkembangan zaman.

Oleh karena itu, supaya Anda lebih memahami lagi mengapa industri Ecommerce ini begitu laris dan mendapat sambutan baik, berikut ini beberapa keuntungan yang pasti diperoleh:

Tidak Terbatas Geografis

Keuntungan yang paling nampak dari pemanfaatan E-Commerce ini adalah jangkauan wilayahnya luas dan tidak terbatas geografis. Hal ini bisa coba Anda bandingkan dengan toko konvensional bahwa mereka hanya mampu menjangkau daerah terdekat saja.

Hal ini karena orang lain atau yang tinggal di wilayah berbeda tidak tahu jika ada toko tersebut. Berbeda dengan jualan online karena Anda dapat mempromosikan dagangan dengan target konsumen adalah para pengguna internet dari seluruh negeri.

Aktif 24 Jam

Hal yang paling menarik dari jual beli online adalah bisa aktif atau memberikan pelayanan selama 24 jam. Hal ini karena terdapat sistem khusus yang memungkinkan Anda mampu membeli barang walaupun sang pemilik toko sedang tertidur lelap.

Berbeda dengan penjual konvensional. Mungkin bisa saja memberikan pelayanan selama 24 jam, akan tetapi tentu mereka membutuhkan tenaga kerja lebih untuk bergantian dan biayanya lebih besar. Sedangkan melalui platform daring, Anda hanya memerlukan akses internet saja.

Hemat Waktu

Saat terlanjur memiliki banyak keperluan yang harus dibeli tetapi lokasinya jauh, tentu hal tersebut akan sedikit menyusahkan. Tidak jarang orang-orang harus menyediakan waktu luang khusus selama satu hari atau bahkan lebih supaya bisa membeli produk tersebut.

Namun, saat Anda berbelanja secara online, maka hanya memerlukan smartphone atau komputer dan duduk manis sambil bekerja atau pun rebahan untuk membeli keperluan tersebut. Jadi, aktifitas seperti ini sudah tentu lebih menghemat waktu.

Lebih Murah

Lapak online rata-rata cenderung mampu memberikan harga miring atau jauh lebih murah daripada toko-toko fisik. Sebab para pelapak tersebut tidak memerlukan biaya tambahan yang harus masuk ke sistem perhitungan untung rugi.

Misalnya seperti biaya operasional, sewa bangunan dan ongkos listrik. Meskipun tidak mustahil pula jika faktanya mereka memiliki toko fisik lengkap dengan para karyawan. Akan tetapi, biasanya karena lapak tersebut telah berkembang besar dan menjadi pusat grosir sehingga bisa memperoleh diskon.

Tidak Perlu Stok Barang

Mungkin hal ini bisa berlaku bagi pelapak online yang memiliki modal terbatas. Sebab, dasar dari berjualan secara daring ini adalah, kemampuan memberikan visual yang menarik sehingga para konsumen bisa tertarik untuk membeli produk tersebut.

Jadi, apabila ingin berjualan akan tetapi modal sangat terbatas, maka bisa mencoba mempromosikan gambar-gambar terlebih dahulu baru kemudian membeli produknya sesuai pesanan konsumen. Cara tersebut dinamakan dengan sistem pre-order.

Tahu Kesukaan Pelanggan

Kecanggihan teknologi benar-benar bisa hadir untuk mempermudah kebutuhan penggunanya. Terlebih bagi para pebisnis. Salah satunya adanya tool analytic dalam setiap platform E-Commerce sehingga para pelapak mampu mempelajari kesukaan atau kebiasaan para pelanggannya.

Sistem tersebut sangat penting dalam dunia perbisnisan. Sebab tanpa adanya analisis atau riset tentang konsumen, maka investasi perdagangan Anda akan berjalan sia-sia saja. Selain itu, hal ini juga dapat berguna untuk mempelajari kinerja dari toko online.

Fleksibel

Sebelumnya sempat menyinggung bahwa, dunia perdagangan online yang terpenting adalah kualitas visual dan adanya media pendukung, seperti internet dan alat komunikasi. Jadi, hal ini tidak akan membuat pelapak harus tinggal di dalam toko sampai tutup dan juga bisa bekerja dari mana saja.

Fakta seperti ini juga berlaku bagi para pembeli, karena mereka bisa lebih fleksibel dalam membeli produk dari mana dan kapan saja tanpa perlu datang ke tokonya langsung. Asalkan memiliki akses internet dan media pendukung seperti ponsel dan komputer.

Transaksi Kian Mudah

Terakhir yang menjadi keuntungan dengan adanya E-Commerce atau jual beli online ini adalah transaksi yang semakin mudah. Setiap platform tersebut pasti menyediakan cara pembayaran dan juga pengiriman barang dengan sistem canggih.

Bahkan hanya dengan memanfaatkan beberapa aplikasi pendukung Anda sudah bisa mendapatkan produk yang diinginkan. Menariknya, dalam proses pengiriman barang tersebut dapat dilacak status pengirimannya dengan mudah.

Keuntungan E-Commerce bagi Konsumen

Keuntunga bagi Konsumen

Produk dari E-Commerce selain mampu memberikan kemudahan bagi pebisnis, hal tersebut juga bisa menyajikan banyak kelebihan untuk para konsumennya. Tentu orang-orang akan menyukai hal seperti ini. Supaya lebih mudah, berikut ini ulasan singkatnya:

  • Pelanggan bisa bebas bertransaksi kapan dan dimana saja semau mereka. Hal ini karena toko online tidak memiliki batasan waktu. Asalkan masih ada jaringan internet dan media komunikasi, maka bisa memesan produk tersebut.
  • E-Commerce hadir dengan membawa lebih banyak pilihan produk hanya dengan menekan tombol “search” saja. Jadi, pelanggan tidak perlu kemana-mana untuk bisa melihat banyak jenis barang sekaligus.
  • Pelanggan bisa melakukan perbandingan harga dengan cepat dan mudah tanpa perlu keluar rumah. Hanya memerlukan kelihaian jari-jari jempol, maka sudah bisa mengetahui produk dengan harga termurah hingga termahal.
  • Untuk produk-produk tertentu, pelanggan bisa merasakan pengiriman paket yang lebih cepat. Bahkan hanya dalam waktu satu hari saja.
  • Memudahkan komunikasi dengan sesama pelanggan dengan adanya komunitas sehingga bisa saling berbagi pengetahuan dengan adanya online shop ini.
  • Persaingan terjadi secara sehat dan mudah. Rata-rata hal tersebut akan menimbulkan diskon secara substansial sehingga pelanggan menjadi tertarik.

Dari beberapa keuntungan yang akan pelanggan dapatkan tersebut menggambarkan bahwa, E-Commerce benar-benar sebuah teknologi yang memikirkan aspek dari dua sisi. Hal seperti ini tidak heran jika perkembangannya begitu cepat dan mudah diterima oleh masyarakat.

Kekurangan E-Commerce

Meskipun memiliki sejuta kelebihan dalam berbagai aspek apalagi dengan didukungnya kecanggihan teknologi, tidak bisa dipungkiri bahwa E-Commerce masih memiliki kekurangan. Bahkan hal tersebut bisa sangat fatal apabila tidak terdapat pemecahan solusi. Lantas apa saja kekurangannya?

Barang Tidak Terlihat

Memang benar, dalam dunia perdagangan online antara penjual maupun pembeli tidak akan bisa berinteraksi atau bertatap muka secara langsung. Hal ini pun juga berakibat pada produk yang dibeli karena konsumen tidak akan bisa mengecek atau bahkan menyentuhnya secara langsung.

Baca Juga: Cara Pemasaran Produk

Jadi, transaksi online yang terjadi ini pada akhirnya hanya mampu menawarkan rasa kepercayaan lebih. Oleh karena itu, tidak heran jika akan menemui banyak pedagang online memposting testimoni atau review dari pelanggan lainnya yang telah mencoba produk tersebut.

Rawan Ketidakjujuran

Poin ini sangat penting dan faktanya kerap terjadi dalam dunia perdagangan online. Sebab, kembali ke awal tadi bahwa antara penjual dan pembeli tidak akan bertatap muka. Selain itu, juga tidak bisa mengecek barangnya sendiri secara langsung sehingga rawan terjadi penipuan.

Bentuknya pun macam-macam dan seiring perkembangan teknologi, orang-orang tidak bertanggung jawab semacam itu juga turut mengikuti zaman. Misalkan saja dengan memberikan performa toko online palsu sehingga konsumen tertarik, namun begitu transaksi terjadi, si penjual justru kabur.

Tidak Ada privasi

Meskipun antara jual beli onlin mampu menjangkau wilayah yang luas dan tidak terbatas geografis, faktanya hal ini juga bisa disebut sebagai kekurangan dari sistem tersebut. Sebab, antar wilayah menjadi tidak memiliki privasi dan batasan lagi.

Selain itu, kekurangan berupa tidak ada privasi ini juga berlaku bagi pelanggan. Data yang mereka cantumkan dalam situs jual beli online maupun media sosial rawan terjadi kebocoran atau pencurian. Bahkan bukan hal mustahil pula jika para pencuri tersebut akan menyalahgunakan datanya.

Kurangnya Kekuatan Hukum

Sebenarnya hal ini tidak hanya terjadi dalam lingkup nasional saja, melainkan internasional juga demikian. Bahwa dunia E-Commerce memungkinkan lemahnya hukum yang membawahi, terlebih apabila terdapat kasus-kasus yang merugikan banyak pihak seperti penipuan.

Sebab, adanya teknologi tersebut memungkinkan para pelaku dapat bersembunyi atau menyamar dengan mudah sehingga sulit untuk dilacak. Selain itu, kurangnya hukum yang menindak tegas dan menaungi pun membuat para penindak kejahatan tersebut tidak memiliki rasa takut.

Ancaman Penggunaan Sistem E-Commerce

Ancaman Penggunaan Sistem

Dalam setiap inovasi atau gebrakan-gebrakan baru yang muncul pasti ada saja ancaman (threats) yang menghampiri. Tentu hal tersebut menjadi tantangan bagi para pebisnis yang menggantungkan jalannya usaha dari media perdagangan tersebut.

Pada dunia perdagangan online sendiri bentuk ancamannya pun bermacam-macam dan hal ini bisa terjadi kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Berikut ini pemaparannya:

  • Authorization Violation adalah sebuah pelanggaran yang bisa saja terjadi pada seseorang, karena ia menyalahgunakan wewenang legal yang dipercayakan untuk bisa mengakses sistem tertentu.
  • Planting sebenarnya merupakan sebuah resiko yang berhadapan dengan zaman. Sebab, pada saat ini orang tersebut memasukkan barang legal ke dalam sistem. Akan tetapi pada masa yang akan datang belum tentu jika produk tersebut akan memiliki status resmi.
  • System penetration adalah kelebihan bagi orang-orang yang memiliki akses ke sistem untuk bisa melakukan apa saja. Tentu hal ini menjadi berbahaya apabila mereka tidak bertanggung jawab.
  • Communications Tampering adalah sebuah sistem yang membuat data menjadi informasi sehingga bisa terakses oleh siapa saja tanpa filter.
  • Communications Monitoring adalah salah satu cara yang dapat berguna untuk memantau jalannya komunikasi dari jarak dan alat komunikasi yang berbeda.
  • Repudiation adalah ancaman yang bisa membuat sistem komunikasi mengolah transaksi baik secara sengaja maupun tidak.
  • Denial of Service merupakan cara sistem dalam menghalangi seseorang untuk mengakses informasi atau data. Tetapi hal ini juga bisa masuk dalam keuntungan karena masuk sebagai proteksi.

Cara pembayaran E-Commerce

Cara pembayaran

Bagi sebagian orang mungkin masih bingung mengenai bagaimana cara pembayaran yang terjadi pada sistem perdagangan online. Beruntung karena faktanya terdapat teknologi yang mendukung hal tersebut dalam sistem kerja bank.

Dalam sistem E-Commerce terdapat 3 cara pembayaran yang umum. Berikut ini ulasan singkatnya:

Bank Transfer

Cara pembayaran yang paling umum dan para konsumen kerap menggunakannya adalah bank transfer. Dalam melakukannya bisa menggunakan ATM maupun m-banking an tentunya harus memiliki kartu ATM-nya juga.

Kemudian baru setelah itu si pembeli dapat membayar sejumlah uang yang sesuai dengan harga produk tersebut. Nantinya ketika check-out, sistem dari E-Commerce akan memberikan nomor rekening atau kode pembayaran.

E-Money

Belakangan ini kehadiran E-Money begitu populer karena menawarkan banyak kemudahan bagi para penggunanya. Bahkan hal yang paling menarik adalah banyaknya program diskon atau promo sehingga orang-orang otomatis beralih dengan penggunaan uang elektronik tersebut.

Beberapa contohnya seperti OVO, Gopay, Klik Aja, Dana dan masih banyak lagi. Sedangkan metode yang mereka terapkan pada sistem uang elektronik tersebut sama dengan internet banking, kredit atau debit dan yang lainnya.

Cash On Delivery

Cash On Delivery atau yang biasa dikenal dengan istilah COD merupakan cara pembayaran langsung yang terjadi pada sistem jual beli online. Umumnya antara penjual dan pembeli akan membuat kesepakatan untuk bertemu sehingga bisa bertransaksi atau memakai bantuan kurir.

Kemudian bisa pula si penjualnya yang mendatangi rumah pembeli tersebut sehingga bisa membayar dan mengecek barangnya secara langsung. Hanya saja sistem pembayaran COD ini tidak bisa untuk menjangkau area yang jauh alias harus masih sedaerah dengan di penjual.

Faktor Kesuksesan Penerapan E-Commerce

Faktor Kesuksesan Penerapan

Dalam dunia bisnis memang sudah sepatutnya apabila semua hal tidak bisa terjadi apabila hanya bekerja sendirian. Begitu pula dengan E-Commerce. Mungkin apabila masih skala kecil dan belum berkembang, Anda bisa berjualan sendiri secara online.

Akan tetapi pasti berbeda cerita apabila toko online telah banyak yang mengunjungi. Anda dapat tetap memerlukan adanya tim handal, karyawan hingga bekerja sama dengan para jasa ekspedisi supaya lebih memudahkan pekerjaan pengiriman barang.

Hal semacam itu juga harus didukung dengan beberapa faktor seperti:

Media Berdagang

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa E-Commerce hanyalah sebuah istilah untuk melakukan perdagangan online. Dengan begitu, dalam praktiknya tentu memerlukan sebuah wadah untuk media berjualan.

Maka, si penjual harus memiliki website dan beberapa sosial media pendukung sehingga bisa memasarkan produk mereka ke orang lain. Sedangkan jenis-jenis E-Commerce tersebut hanya sebagai perantara yang memudahkan dan terpercaya apabila ada pelanggan yang ingin membeli.

Tim Handal

Dalam hal ini ketika sebuah bisnis online mulai menunjukkan perkembangannya, Anda pun tetap harus memiliki tim pekerja yang handal supaya tetap bisa melayani konsumen dengan maksimal. Terlebih bagian admin yang akan merespon setiap adanya konsumen.

Selain itu, Anda juga memerlukan manajemen yang baik sehingga toko online akan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan tentunya menguntungkan. Adanya tim tersebut pun juga akan membuat pelanggan yakin bahwa toko tersebut memiliki seller profesional.

Informasi Jelas

Meskipun dasar dari berjualan online ini mampu memberikan visualisasi yang menarik perhatian pelanggan, akan tetapi itu semua tidak akan berarti tanpa adanya deskripsi jelas. Konsumen akan cenderung menganggap bahwa itu gambar biasa dan malas untuk mencari tahu lebih detail.

Oleh karena itu, sebagai pedagang yang profesional memang sebaiknya Anda mampu memberikan gambaran produk dengan jelas beserta fotonya. Hal ini akan lebih menarik perhatian karena pelanggan tidak perlu repot mencari lagi.

Membuat Konten Menarik

Sebuah toko online tidak akan pernah menarik minat pelanggan apabila tidak memiliki perbedaan dengan toko konvensional. Apalagi dalam hal ini pembelian hanya mengandalkan rasa kepercayaan yang tinggi.

Maka, sebagai penjual harus bisa berpikir kreatif dan kerap membuat konten menarik untuk memasarkan produk. Misalkan dengan membuat giveaway, diskon atau promo sehingga mereka tertarik untuk mencoba.

Ingin Berjualan Online? Mulai dengan Hal Berikut Ini!

E-Commerce memang telah menawarkan banyak kemudahan untuk semua orang sehingga Anda pun tidak boleh ketinggalan dengan adanya perkembangan tersebut. Apalagi jika ingin membangun sebuah bisnis versi digital.

Saat ingin memulai berbisnis secara online, setidaknya Anda harus mampu memahami beberapa hal. Selain itu, setidaknya ada 3 sarana yang harus diketahui pemanfaatannya supaya berjualan bisa lebih maksimal. Di antaranya adalah marketplace, sosial media dan website.

Lantas, bagaimana cara memulainya?

Memiliki Kredibilitas

Menawarkan produk hanya melalui marketplace saja tidak akan berhasil karena pada faktanya situs tersebut kurang leluasa dalam memberikan deskripsi. Selain itu, pelanggan rata-rata lebih tertarik dan percaya apabila telah melihat ulasan melalui website maupun sosial media yang mereka percayai.

Jadi, ketiga sarana tersebut harus saling ada dan berkesinambungan supaya bisa melengkapi. Apalagi jika Anda memiliki situs sendiri sehingga bisa bebas memberikan deskripsi dan ulasan tentang suatu produk.

Sebagai Daftar Katalog

Hal yang paling menarik dengan adanya website maupun sosial media adalah Anda bisa membuat katalog produk. Apabila hanya mengandalkan marketplace saja, maka toko kurang bisa memberikan visualisasi produk dengan lebih menarik dan detail.

Sedangkan pada sosial media dan website, Anda dapat mengatur tampilan sehingga menjadi sebuah katalog yang bisa membuat para pelanggan tertarik. Oleh karena itu, kehadiran ketiga sarana tersebut memang benar-benar penting.

Pelayanan Kepada pembeli

Dalam melakukan pelayanan sudah pasti pembeli ingin merasakan layanan yang lebih maksimal dan efektif. Salah satunya adalah fitur pesan yang membuat mereka bisa bertanya banyak hal tentang produk tersebut kepada penjual.

Tentu mereka tidak ingin mendapatkan respon yang lama meskipun terdapat fitur direct chat. Selain itu, marketplace hanya akan memberikan chat yang berantakan apabila terlalu banyak pesan masuk. Sedangkan pada website bisa terbilang lebih terorganisir dalam sistem perpesanannya.

Lebih Mudah Menemukan Brand

Hal yang paling menarik dengan pembuatan toko online melalui 3 sarana tersebut adalah, para pembeli akan semakin mudah mencari brand Anda. Terlebih rata-rata dari mereka akan mencari ulasan atau review terlebih dahulu melalui mesin pencari sebelum benar-benar membelinya.

Fakta tersebut karena memang pada dasarnya ulasan pada marketplace maupun sosial media terbatas. Maka tidak cukup bisa menjanjikan untuk bisa dipercaya. Jadi, Anda memang memerlukan publikasi bran yang cukup tanpa melalui perantara.

Bersaing dengan Kompetitor

Tidak bisa mengelak bahwa dunia bisnis online memang kian berkembang pesat sehingga mampu memunculkan banyak kompetitor. Tentu dalam hal ini Anda harus mampu bersaing apalagi jika barang tersebut sama dengan milik pebisnis lain sehingga memerlukan perhatian ekstra supaya laku.

Selain itu, Anda juga tidak boleh ketinggalan zaman dan mengabaikan aspek-aspek penting terkait penggunaan sarana. Sebab, ketika menolak maka di saat yang sama kompetitor telah maju lebih dulu, terlebih untuk memperbaiki performa tokonya sehingga konsumen lebih mempercayainya.

Website itu Mudah

Pada awal mulanya, orang banyak yang beranggapan bahwa dalam proses pembuatan dan pengelolaan website itu sulit dan mahal. Alhasil, berakhir tidak memilikinya tanpa mau mencari tahu terlebih dahulu. Padahal di luaran sana Anda bisa memperoleh pembuatan situs dengan murah.

Bahkan apabila masih pemula, maka bisa mencoba membuat secara gratis sekaligus sebagai tempat belajar. Akan tetapi jika menginginkan performa yang lebih totalitas, maka jangan tanggung-tanggung untuk berinvestasi dalam hal ini.

Bagaimana Cara Membuat Website E-Commerce?

Bagaimana Cara Membuat Website

Sebelumnya telah sedikit membahas bahwa pembuat website E-Commerce itu mudah. Walaupun begitu terdapat beberapa langkah yang perlu Anda perhatikan sehingga website benar-benar bisa menguntungkan. Secara umum, berikut beberapa alasannya:

  • Buat Website dengan WordPress atau Blogger
  • Masuk dan gabung menjadi member area
  • Pilih menu Cpanel
  • Pasang WordPress pada perangkat
  • Pasang juga plugin WordPress
  • Lakukan registrasi keuangan WooCommerce
  • Mulai atur tampilan situs
  • Proses jual beli bisa mulai dilakukan

Meskipun pembuatan website secara mandiri ini terlihat lebih mudah, akan tetapi pada faktanya Anda juga tidak bisa asal. Seperti pada awal pendaftaran website harus mempertimbangkan perkiraan traffic yang akan terjadi.

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah SEO yang bisa membuat website tersebut masuk di halaman pertama. Dengan begitu, pengunjung akan lebih mudah untuk menemukannya. Namun, maknanya sendiri juga tidak mudah.

Baca Juga: Situs Belanja Online

Setelah itu, buat tampilan semenarik mungkin dengan menggunakan beberapa template khusus. Namun semua itu juga butuh dana untuk membeli lisensi resminya. Selain itu, Anda juga harus rajin untuk melakukan upload produk setiap harinya.

Dari penjelasan pengertian E-Commerce, sudahkan Anda memahami perbedaannya dengan marketplace serta cara pemanfaatannya? Sebagai pebisnis memang sudah seharusnya mengetahui hal ini supaya tidak tertinggal jauh oleh para kompetitor.

Tinggalkan komentar