Pengertian Ekosistem Menurut Para Ahli & Jenisnya

Di dalam kehidupan, terdapat berbagai macam biosystem yang hidup bersamaan dan saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi tersebut bisa berupa hubungan antara organisme serta lingkungan hidupnya (ekosistem). Lantas apa pengertian ekosistem itu sendiri?

Pengertian Ekosistem

Istilah ekosistem sudah dikenal semenjak tahun 1935 oleh A. G. Tansley sebagai ahli ekologi berkebangsaan Inggris. Namun sebelumnya juga sudah diperkenalkan oleh Karl Mobius dari Jerman yang telah menulis tentang komunitas organisme di dalam batu karang.

Ekosistem merupakan sebuah sistem ekologi dimana di dalamnya terdapat beberapa makhluk hidup yang memiliki hubungan timbal balik. Semua organisme tersebut tidak dapat terpisahkan antara lingkungan tempat tinggalnya.

Pengertian ekosistem ini didasarkan atas Hipotesis Gala. Di dalamnya menyatakan bahwa setiap organisme akan bersama-sama lingkungan fisik. Yaitu untuk menciptakan suatu pengendalian sistem demi menjaga bumi agar tetap sesuai dengan berlangsungnya kehidupan.

Pengertian Ekosistem Menurut Para Ahli

Ekosistem Adalah

Banyak ahli ekologi yang mengemukakan mengenai apa arti dari ekosistem. Hingga kini pernyataan mereka masih dipakai sebagai salah satu referensi untuk kepentingan pendidikan. Inilah beberapa pendapatnya:

G. Tansley

Pendapat pertama hadir dari A. G. Tansley pada tahun 1935. Ahli ekologi ini menyampaikan bahwa ekosistem merupakan suatu unit yang di dalamnya terdapat fungsi dan struktur. Keduanya saling berhubungan terlebih apabila memiliki keanekaragaman spesies tinggi.

Struktur dalam pengertian tersebut berkaitan dengan keanekaragaman spesies. Sedangkan arti fungsi dalam pernyataan A. G. Tansley adalah hubungan dari siklus dan materi serta arus energi pada setiap komponen penyusun ekosistem.

Woodbury

Pendapat kedua disampaikan oleh Woodbury pada tahun 1954. Menurutnya ekosistem adalah tatanan kesatuan kompleks yang di dalamnya meliputi tumbuhan, hewan dan habitat. Ketiganya saling dipertimbangkan sebagai satu unit secara utuh.

Baca Juga: Metamorfosis Sempurna Dan Tidak Sempurna

Tumbuhan, hewan dan habitat menyatu sebagai unit kesatuan. Ketiganya menjadi bagian dari rantai siklus aliran energi serta materi. Woodbury menyampaikan bahwa komponen di dalam ekosistem merupakan suatu kesatuan kompleks yang saling berhubungan satu sama lain.

Odum

Pendapat selanjutnya disampaikan oleh Odum pada tahun 1993. Ahli ekologi ini menyampaikan bahwa arti ekosistem merupakan suatu unit fungsional dasar yang mencakup organisme dan juga lingkungan baik abiotic maupun biotik. Keduanya sama-sama saling mempengaruhi.

Menurut Odum, ekosistem disebut sebagai unit fungsional dasar ekologi karena menjadi satuan terkecil namun memiliki komponen terlengkap. Di dalamnya mempunyai proses lengkap sehingga terjadi aliran energi dan juga siklus materi.

Undang-undang Lingkungan Hidup

Pada tahun 1997, disahkan Undang-undang Lingkungan Hidup yang di dalamnya mengandung arti ekosistem. Menurut UU tersebut istilah ini merupakan tatanan kesatuan utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan serta saling berpengaruh.

Unsur-unsur lingkungan hidup mencakup biotik atau makhluk hidup dan abiotik. Semuanya tersusun menjadi satu kesatuan yang masing-masing tidak bisa dipisahkan, saling berhubungan, berinteraksi, mempengaruhi dan juga tidak bisa terpisahkan.

Gopal dan Bhardwaj

Pendapat selanjutnya disampaikan oleh Gopal dan Bhardwaj pada tahun 1979. Keduanya mengemukakan tentang dua komponen penting yang menyusun ekosistem yaitu biotik (makhluk hidup) dan abiotik (benda mati).

Komponen biotik atau makhluk hidup terdiri dari binatang, tumbuhan dan mikrobiologi. Sedangkan abiotik mencakup air, tanah, udara serta energi. Kedua unsur ini saling berhubungan dalam membentuk ekosistem secara utuh dan menyeluruh.

Soemarwoto

Selanjutnya hadir dari Soemarwoto. Pada tahun 1983, beliau menyampaikan bahwa ekosistem adalah sistem ekologi. Sebab di dalamnya terbentuk karena telah ada hubungan timbal balik antara lingkungan dengan makhluk hidup yang tinggal.

Organisasi tersebut dibilang sebagai ekosistem karena memiliki unsur yang memiliki fungsi berbeda-beda namun saling berkoordinasi dengan baik. Semua komponen ini saling menimbulkan hubungan timbal bali baik dilihat dari terbentuk rantai makanan, aliran energi serta siklus materi.

Resosoedarmo

Pada tahun 1986, Resosoedarmo menyampaikan pendapatnya tentang arti ekosistem. Beliau mengemukan bahwa istilah tersebut merupakan unit fungsional dari sistem ekologi yang di dalamnya sudah mencakup organisme serta lingkungan hidupnya.

Menurut Resosoedarmo, terdapat empat komponen penyusun ekosistem yang dilihat dari penyusunnya. Mulai dari abiotik, biotik termasuk produsen, konsumen serta decomposer. Semuanya hidup saling berdampingan dan mempengaruhi satu sama lain.

Trefil

Pernyataan berikutnya mengenai definisi ekosistem disampaikan oleh Trefil pada tahun 2000. Pendapatnya mengartikan bahwa semua yang hidup di dalamnya termasuk tumbuhan dan hewan di daerah tertentu bersama-sama dengan lingkungan fisik mereka.

Trefil juga menyampaikan beberapa karakteristik mengenai ekosistem yaitu terdiri dari komponen hidup dan mati, terjadi aliran energi, adanya daur ulang materi, setiap organisme menempel pada relung dan kondisinya bisa saja terganggu apabila diganggu oleh beberapa spesies atau kerusakan lingkungan.

Departemen Kehutanan

Pendapat berikutnya disampaikan oleh Departemen Kehutanan. Menurutnya ekosistem adalah suatu tatanan dari keseluruhan unsur kehidupan, serta lingkungan hidup baik makhluk hidup maupun benda mati secara utuh dan menyeluruh.

Semua unsur baik abiotik maupun biotik tertata secara menyeluruh saling mempengaruhi dan juga mempengaruhi satu dengan yang lain. Keseluruhan komponen di dalam ekosistem hidup untuk melengkapi serta tidak dapat dipisahkan.

Encyclopedia Britannica

Pendapat selanjutnya menyampaikan bahwa ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang telah terbentuk secara timbal balik. Semua komponen di dalamnya tidak dapat dipisahkan baik lingkungan maupun makhluk hidup.

Dua komponen yang mampu membentuk ekosistem terseut adalah biotik. Unsur ini terdiri atas semua makhluk hidup baik konsumen heterotroph dan decomposer serta autotroph. Sedangkan abiotik terdiri dari benda mati seperti tanah, batu, iklim, air, suhu, angin dan masih banyak lagi.

Zoer’aini

Pendapat berikutnya dikemukakan oleh Zoer’aini pada tahun 2014. Menurutnya ekosistem adalah, suatu sistem yang menandakan adanya aliran energi baik dilihat dari rantai makanan dan juga keragaman biotik.

Sistem tersebut terjadi dengan baik di alam. Organisme hidup akan saling berinteraksi terhadap lingkungannya yang saling mempengaruhi satu sama lain. Pada suatu ekosistem terjadi dua aspek penting, yaitu transfer energi dan daur ulang materi.

Jenis-Jenis Ekosistem Darat

Jenis-Jenis Ekosistem Darat

Ekosistem darat dihuni sebagian besar dari makhluk hidup di daratan yang biasa disebut bioma. Setiap wilayah di bumi mempunyai ciri khas masing-masing. Setiap pembagian daerah tersebut akan dibedakan berdasarkan iklim, tingkat geografis dan lainnya. Inilah penjelasannya:

Bioma Hutan Hujan Tropis

Hutan ini berada pada bagian bumi yang memiliki iklim sesuai namanya yaitu tropis. Di dalamnya memiliki curah hujan tinggi mencapai 200 bahkan 225 untuk setiap tahunnya. Hal tersebut mngakibatkan suhu di sekitarnya hanya di kisaran 25 derajat celcius.

Tumbuhan yang tumbuh di dalamnya bersifat heterogen dengan pohon besar dan tinggi bahkan bisa mencapai 40 meter. Hewan-hewan di hutan hujan tropis juga hidup sangat beranekaragam. Mulai dari badak, harimau, kera, babi dan bermacam-macam jenis burung.

Bioma Hutan Gugur

Hutan gugur terletak pada daerah yang iklim sub tropis atau mengalami 4 musim. Berbeda dengan bioma sebelumnya, curah hujan pada ekosistem ini cukup merata dan lebih rendah. Berkisar antara 75 sampai 100 cm setiap tahunnya.

Karena memiliki 4 musim menyebabkan makhluk hidup membutuhkan adaptasi tinggi sehingga organisme tidak begitu beraneka ragam. Pohon di dalamnya hanya sekitar 20 jenis saja. Sedangkan untuk hewan masih didominasi dengan kebiasaan hibernasi seperti beruang dan hamster.

Bioma Padang Rumput

Padang rumput merupakan dataran luas dengan ditumbuhi banyak rumput. Daerah seperti ini dapat ditemukan baik di iklim tropis maupun subtropics. Curah hujan yang terjadi cenderung lebih rendah yaitu hanya sekitar 25 sampai 50 cm setiap tahunnya.

Curah hujan yang rendah tersebut membuat tidak banyak pohon bisa hidup di daerah padang rumput. Rata-rata ditumbuhi oleh berbagai macam tanaman rumput. Sedangkan untuk spesies di dalamnya, biasa ditemukan hewan-hewan seperti singa, jerapah, zebra, kangguru, jaguar dan beberapa ular.

Bioma Savana

Sabana merupakan daerah di bumi yang ditumbuhi sedikit rumput dan pohon. Namun memiliki curah hujan lebih tinggi daripada padang rumput yaitu sekitar 95 sampai 150 cm setiap tahunnya. Ekosistem ini biasa dijumpai pada wilayah dengan iklim tropis.

Karena memiliki curah hujan yang lumayan tinggi, sabana bisa ditumbuhi oleh banyak jenis pepohonan sebab dapat bertahan hidup meskipun dengan air sedikit. Jenis hewan di dalamnya terdiri dari gajah, singa, macan tutul, kuda dan beberapa jenis spesies pengerat.

Bioma Gurun

Gurun merupakan daerah di bumi dengan suhu paling panas. Curah hujan di daerah ini memang sangat sedikit bahkan tidak terjadi selama setahun. Hal tersebut membuatnya biasa dikenal sebagai dataran tandus yang berpasir.

Curah hujan yang terjadi di gurun maksimal hanya berkisar antara 25 cm setiap tahunnya. Tidak heran jika jarang dijumpai spesies bisa bertahan hidup di daerah panas tersebut. Pada umumnya hanya ditumbuhi tumbuhan dan hewan dengan kemampuan memiliki cadangan air seperti unta dan kaktus.

Bioma Taiga

Ekosistem selanjutnya yang masih berada di wilayah daratan adalah taiga. Bioma ini dikenal sebagai hutan dengan iklim sub tropis dan juga memiliki suhu relatif rendah. Hal ini menyebabkan pohon-pohon di dalamnya mempunyai daun berbentuk jarum.

Di dalam bioma taiga biasa dijumpai jenis pepohonan seperti cemara, alder dan lainnya dengan daun berbentuk jarum. Sedangkan hewan hutan ini yang sering ditemui adalah serigala, lynx dan beruang hutam. Pada umumnya, spesies pada ekosistem tersebut tidak banyak memiliki keanekaragaman.

Bioma Tundra

Ekosistem yang berada di daratan selanjutnya adalah bioma tundra. Daerah ini berada pada bagian bumi terdingin yaitu artik dan antartika. Musim dingin di wilayah ini terjadi sangat panjang yaitu kurang lebih sekitar 9 bulan lamanya. Selan itu, cahaya matahari juga tidak dapat diakses dengan mudah.

Tanaman yang bisa hidup pada bioma tundra hanya bisa bertahan secara singkat. Hal ini disebabkan karena cahaya matahari masuk dalam waktu cepat. Jenis tumbuhan paling kuat adalah berupa lumut-lumtan. Sedangkan di daerah ini biasa dijumpai rubah, bison dan juga rusa kutub.

Bioma Karst

Bioma selanjutnya ialah Karst. Daerah ini didominasi batu gamping sehingga tidak cocok untuk dijadikan sebagai lahan pertanian. Bisa dikatakan, ekosistem ini berbeda dengan jenis-jenis sebelumnya karena memiliki keunikan tersendiri.

Karst merupakan daerah yang rentan terjadi tanah longsor dan erosi. Beberapa hal tersebut menyebabkan bioma ini tidak banyak dihidupi oleh spesies baik tumbuhan maupun hewan. Pepohonan pun akan kekurangan nutrisi karena tanahnya memiliki pori-pori sangat kecil.

Jenis-jenis Ekosistem Air

Jenis-jenis Ekosistem Air

Bumi yang terbagi atas wilayah daratan dan air dikelompokkan lagi menjadi beberapa wilayah. Meskipun ekosistem di perairan terlihat sama, namun masing-masing jenis tersebut memiliki ciri khas. Inilah penjelasannya:

Ekosistem Air Laut Dalam

Ekosistem ini berada pada laut dengan kedalaman paling jauh dari permukaan tanah. Di dalamnya sangat gelap karena cahaya matahari tidak bisa lagi memasuki area ini. Tidak heran jika sampai sekarang, kawasan tersebut dikatakan berbahaya untuk diakses oleh para penyelam.

Ekosistem laut dalam yang jarang diakses oleh manusia membuat kawasan ini masih menjadi teka-teki siapa saja penghuninya. Namun, sampai saat ini organisme di dalamnya dipercaya masih terdiri dari ikan dan predator dengan kemampuan memancarkan cahayanya sendiri.

Ekosistem Terumbu Karang

Meskipun masih berada di laut, namun ekosistem terumbu karang masih bisa diakses dan kedalamannya cukup rendah. Biasanya berada di kawasan bibir pantai, maka cahaya matahari pun dengan mudah dapat melewati hingga dasar air.

Ekosistem terumbu karang biasa disebut laut dangkal dengan airnya yang masih jernih. Banyak organisme hidup di kawasan ini mulai dari hewan spons, ikan-ikan kecil, ganggang, bintang laut dan beberapa jenis mollusca.

Ekosistem Pantai Pasir

Pantai pasir lebih dekat lagi dengan wilayah daratan daripada ekosistem terumbu karang. Daerah ini merupakan area yang terkena sapuan ombak. Cahaya matahari pun akan sangat kuat menerpanya sehingga selalu menimbulkan rasa panas ketika menginjakkan kaki.

Ekosistem pantai pasir merupakan daerah peralihan dari laut dengan daratan. Oleh karena itu, organisme yang hidup pun tidak begitu banyak. Beberapa spesies seperti kerang, kepiting sering dijumpai di kawasan ini.

Ekosistem Pantai Batu

Berbeda dengan sebelumnya, wilayah pantai batu didominasi oleh bebatuan besar maupun kecil di pinggir laut. Di kawasan ini, banyak ditemukan organisme yang bisa bertahan hidup baik di daratan maupun di air.

Organisme yang sering dijumpai adalah kepiting, siput, ganggang cokelat bahkan beberapa jenis burung. Meskipun hingga sampai saat ini banyak spesies lain hidup di ekosistem pantai batu namun masih belum diketahui secara pasti.

Ekosistem Danau Litoral

Ekosistem ini termasuk jenis air tawar. Danau memiliki arus yang tenang sehingga kehidupan organisme di dalamnya cenderung stabil. Hampir sama seperti laut, makhluk hidup juga mampu bertahan dengan baik karena sesuai kedalamannya masing-masing.

Baca Juga: Pengertian Sampah

Danau litoral merupakan area tepi danau dan memiliki kedalaman cukup dangkal. Organisme yang hidup di wilayah ini cukup beragam karena cahaya matahari bisa dengan mudah menembus airnya. Mulai dari ganggang, sipur, serangga, katak, ular, ikan, kura-kura bahkan itik serta angsa.

Ekosistem Danau Limnetik

Meskipun memiliki arus yang tenang, namun perbedaan kedalaman danau juga menyebabkan organisme di dalamnya hidup dengan beranekaragam. Selain itu, juga membuat suhu air berbeda seperti hangat di permukaan dan dingin di dasar. Hal ini mengakibatkan spesies juga butuh adaptasi.

Danau limnetik adalah kawasan di danau yang sudah jauh dari tepi namun masih bisa ditembus oleh cahaya matahari. Oleh karena itu, zona ini masih banyak dijumpai beranekaragam organisme seperti sianobakteri, ganggang dan beberapa jenis zooplankton.

Ekosistem Danau Profundal

Daerah profundal merupakan kawasan dengan kedalaman paling dalam di dasar danau. Zona ini dianggap sebagai daerah afotik dimana cahaya matahari sudah tidak bisa menembus lagi. Tidak heran jika sedikit organisme dijumpai di sini, karena tumbuhan kurang memiliki kemampuan dalam fotosintesis.

Daerah profundal didominasi oleh banyak predator heterotrof dan juga bentos yang hidupnya dihabiskan di dasar air. Organisme tersebut berperan untuk menguraikan berbagai limbah organik di dalam danau. Selain itu, juga dijumpai beberapa spesies anaerob.

Ekosistem Sungai

Jenis ekosistem air terakhir adalah sungai, daerah ini merupakan aliran dari hulu ke hilir. Arus perpindahan tersebut membentuk habitat di dalamnya sehingga menjadi penunjang kehidupan beberapa organisme. Komunitas di kawasan ini jauh berbeda seperti di danau.

Kecepatan aliran air yang berbeda membuat komunitas di antara sungai, anak sungai dan juga hilir memiliki perbedaan. Misalnya ikan gurami tidak akan dijumpai di daerah hulu. Sedangkan kura-kura dan ular besar hanya ditemui pada arus deras.

Bagaimana Cara Merawat Ekosistem?

Bagaimana Cara Merawat Ekosistem

Pentingnya menjaga ekosistem harus diaplikasikan oleh semua orang sebab perannya cukup besar dalam keseimbangan kehidupan. Apabila mengalami kerusakan, tentu saja tidak hanya satu organisme saja yang mengalami kerugian namun habitatnya pun ikut terdampak. Inilah cara merawatnya:

Menjadi Konsumen Bijak

Hal pertama yang bisa dilakukan untuk ikut merawat ekosistem adalah menjadi konsumen bijak. Sampai saat ini, masih banyak dijumpai sampah plastik hasil makanan berceceran. Padahal kini sudah ditemukan produk alternatif lebih ramah lingkungan.

Contoh lain lagi yaitu mengganti penggunaan minyak dari kelapa sawit. Hal ini dipercaya masih menjadi penyebab kerusakan hutan hingga saat ini. Anda bisa menggantinya dengan menggunakan jagung untuk memasak. Bahan ini dirasa lebih efektif dan efisien agar tidak menyebabkan eksploitasi di alam.

Melakukan Tebang Pilih

Penggundulan hutan masih menjadi permasalahan besar pemicu rusaknya ekosistem. Adanya industri besar yang melakukan penebangan pohon secara besar-besaran selalu berdampak negatif baik untuk spesies di dalamnya maupun merugikan kelestarian alam.

Demi mensiasati penebangan atau bahkwan pembakaran hutan, maka seharusnya dilakukan sistem tebang pilih. Semua industri tidak diperbolehkan menebang secara asal-asalan, namun harus mendahulukan pohon lebih tua atau yang sudah hampir roboh.

Mengurangi Penggunaan Bahan Bakar Fosil

Bahan bakar fosil yang digunakan terus-menerus nantinya juga akan habis pada waktunya. Selain itu, efek setelah penambangan juga berdampak negatif bagi ekosistem di bumi. Tidak sedikit organisme mengalami kerugian seperti rusaknya habitat serta kekurangan sumber makanan.

Hal tersebut bisa disiasati dengan penggunaan bahan bakar dari sumber energi alternatif seperti air, cahaya matahari, angin dan masih banyak lagi. Dalam proses pemakaiannya akan menghasilkan polusi lebih sedikit dibandingkan dari minyak bumi serta batu bara.

Membuang Sampah Pada Tempatnya

Meskipun peringatan ini sudah dijumpai di berbagai tempat, namun masih banyak orang tidak memperhatikannya. Mereka dengan seenaknya membuang sampah sembarangan. Hal ini akan membuat pencemaran dimana-mana.

Berita mengenai terancamnya kehidupan biota laut karena banyaknya sampah plastik semakin sering dijumpai. Tentu saja perilaku negatif tersebut berdampak buruk bagi kehidupan semua organisme di bumi ini. Jadi alangkah baiknya untuk selalu membuangnya di tempat yang sudah disediakan.

Menjaga Ekosistem Bersama Komunitas Peduli Alam

Akhir-akhir ini sudah banyak dibentuk komunitas yang terfokus untuk peduli dengan alam. Kegiatan di dalamnya memang tidak begitu berat namun aksinya dipercaya berdampak positif bagi lingkungan. Organisasi tersebut bisa diikuti demi mengambil peran dalam menjaga kelestarian ekosistem.

Kegiatan positif yang sering dilakukan seperti membersihkan tempat wisata dari sampah berserakan, menyelematkan hewan terjebak dan masih banyak lagi. Meskipun termasuk hal kecil, namun dampaknya sangat bermanfaat apabila dilakukan perlahan-lahan.

Memberikan Sanksi Kepada Pihak Tidak Bertanggung Jawab

Lemahnya hukum dalam suatu daerah bisa mengakibatkan pihak-pihak tidak bertanggung jawab akan secara mudah melakukan banyak pelanggaran. Begitu pun aksi seperti jual beli hewan illegal, penebangan hutan besar-besaran, penangkapan ikan dengan bahan peledak dan sebagainya.

Ketiga aksi tersebut merupakan contoh perilaku yang berdampak negatif bagi kelestarian alam. Dalam pencegahannya, diperlukan langkah antisipasi dengan penegakan hukum agar memberi efek jera dan pelajaran bagi pihak tidak bertanggung jawab tersebut.

Keadaan Ekosistem Indonesia Sekarang

Keadaan Ekosistem Indonesia Sekarang

Di Indonesia, sudah dijumpai banyak persoalan terkait masalah alam. Penyebabnya pun tidak jauh dari aktivitas masyarakatnya sendiri. Permasalahan ini perlu diberi tindakan nyata karena sangat krusial menyangkut kelangsungan hidup di masa mendatang. Inilah beberapa di antaranya:

Sampah

Sampah masih menjadi permasalahan utama bagi beberapa negara di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Hal ini bisa dipicu karena padatnya penduduk di negeri sendiri sehingga persoalan tentang produksi dan konsumsi akan menimbulkan masalah lanjutan.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan, bahwa Indonesia menghasilkan sampah mencapai 65 juta ton pada tahun 2016. Pencapaian angka tersebut telah naik 1 juta ton dari periode sebelumnya.

Banjir

Semua bencana alam memang hadir tanpa bisa diprediksi. Namun lain halnya dengan banjir di Indonesia yang bahkan sudah bisa diperkirakan datangnya ketika musim hujan. Bahkan permasalahan ini sudah dianggap akan terjadi setiap tahun oleh warganya.

Persoalan banjir masih menjadi PR besar bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan sebagai langkah pencegahan. Tentunya bencana ini tidak hanya disebabkan oleh curah hujan tinggi, namun permasalahan tumpukan sampah dan berubahnya fungsi sungai juga ikut menjadi penyebabnya.

Pencemaran Udara

Meskipun tidak dirasakan oleh seluruh wilayah di Indonesia, namun kualitas udara di beberapa daerah sudah mulai mengkhawatirkan. Hal ini diperparah dengan adanya polusi dari kendaraan serta pembakaran hutan secara besar-besaran.

Menurut data, Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah pengendara motor terbanyak di dunia. Tentu saja kondisi ini menjadi penyebab utama buruknya kualitas udara di beberapa wilayah. Dampaknya sangat berbahaya bagi kesehatan terutama sistem pernafasan.

Ekosistem Laut Terancam Rusak

Laut di Indonesia sudah banyak dijumpai mengenai sampah-sampah plastik yang mengancam kehidupan biota di dalamnya. Selain itu, keadaan tersebut diperparah dengan tumpahnya minyak atau kebiasaan nelayan menangkap ikan menggunakan bahan kimia berbahaya atau peledak.

Baca Juga: Pengertian Lingkungan Menurut Para Ahli

Diambil dari data Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, laut di Indonesia menunjukkan sekitar 35,15% dari keseluruhan terumbu karang sudah mengalami kerusakan. Bahkan hanya 6,39% di antaranya masih dalam keadaan baik. Persoalan seperti ini tentunya tidak boleh dianggap remeh baik seluruh warganya.

Alam semesta memang dihuni oleh banyak sekali organisme di dalamnya. Dengan penjelasan lengkap mengenai pengertian ekosistem di atas, harapannya semua orang akan memiliki niat dan tekad untuk menjaganya bersama-sama.

Tinggalkan komentar