Pengertian Ijtihad: Fungsi, Tujuan, Syarat & Contoh Ijtihad

Pengertian Ijtihad: Fungsi, Tujuan, Syarat & Contoh Ijtihad – Banyaknya permasalah umat manusia akhir-akhir ini, mengakibatkan banyak asumsi serta pendapat berbeda-beda dalam cara penyelesaiannya. Terutama dalam urusan beragama, beribadah sampai mencari kebenaran tentang hukum Islam terlampau. Usaha tersebut sering disebut sebagai ijtihad.

Pengertian Ijtihad Menurut Para Ahli

Bukan hanya para ahli, polemik tentang ijtihad diartikan oleh banyak pihak termasuk orang terpenting dalam penyiaran agama Islam yaitu para ulama. Mereka semua memberikan pendapat berbeda-beda dan berikut ini akan dibahas pendapat menurut ahli pengertian Ijtihad sumber dasar Islam tersebut.

Pengertian Ijtihad Menurut Imam Al-Ghazali

Siapa yang tidak mengenal ahli Imam Al-Ghazali, beliau adalah seorang filosofi muslim Persia dimana perannya selalu dibutuhkan dalam setiap pengetahuan tidak hanya konteks agama Islam. Bahkan mendapatkan julukan sebagai The Proof of Islam sehingga menjadikannya filosofer terpercaya.

Dari situlah, beliau tidak diragukan dalam penilaian atau berpendapat mengenai subjek tentang agama khususnya Islam. Menurut Imam Al-Ghazali, pengertian ijtihad adalah sebuah usaha semaksimal mungkin yang dilakukan seorang mujtahid untuk mendapatkan pengetahuan hukum-hukum syara’.

Pengertian Ijtihad Menurut Mazhab Hanafi

Mazhab Hanafi didirikan pertama kali oleh Imam Abu Hanafi yang merupakan penganut Islam Sunni, yaitu umat muslim menekankan ibadah menurut sunah Rasulloh SAW. Dari situlah beliau membagi ijtihad menjadi 6 macam sering disebut sebagai hukum fiqih dan sampai sekarang masih berlaku.

  • Al-Quran
  • Sunnah
  • Pendapat para sahabat Nabi (Atsar)
  • Ijmak
  • Qiyas
  • Istihsan

Hukum fikih tersebut terbentuk atas dasar Hanafi mengartikan Ijtihad, sebagai usaha dengan mencurahkan tenaga dan memeras pikiran dalam menemukan sebuah hukum agama syara’ melalui dalil syara’ dan cara-cara tertentu. Bahkan, hukum fikih diatas dijadikan pondasi menemukan hukum agama tersebut.

Pengertian Ijtihad Muhammad Al Amidi

Muhammad Al Amidi seorang influencer mengartikan ijtihad dalam buku berjudul A Treatise on Book Titles. Yaitu usaha maksimal yang dikeluarkan dalam mencari sebuah opini, sebagai hukum resmi dengan beberapa cara atas kesadaran seseorang melalui kemampuannya memperluas usaha lebih jauh.

Definisi tersebut tertuang dalam buku hasil kerjanya yang dipublikasikan tahun 1805. Maka untuk saat ini jika ingin membacanya hanya dapat diakses melalui World Digital Library. WDL sendiri dikelola oleh UNESCO, oleh karena itu semua orang sedunia dapat mengakses segala buku termasuk milik beliau.

Pengertian Ijtihad Menurut Syekh Dr. Yusuf Qaradawi

Yusuf Qaradawi adalah cendekiawan muslim yang berasal dari Mesir, beliau berpendapat tentang arti ijtihad lebih singkat dan jelas. Seorang pakar ilmu pasti dalam hal agama ini sudah berumur 95 tahun dan menetap di Qatar. Sama seperti lainnya, Yusuf Qaradawi juga menulis beberapa buku tentang Islam.

Menurut beliau ijtihad yaitu mengeluarkan semua kemampuan untuk segala perbuatan, berhubungan dengan penggunaan kata ijtihad yang hanya diperlukan dalam konteks masalah-masalah penting dan memerlukan banyak perhatian juga tenaga.

Pengertian Ijtihad Menurut Zuhdi

Zuhdi berpendapat ijtihad adalah kemampuan berfikir yang dikerahkan secara maksimal dalam mencari serta menetapkan hukum-hukum syara’ melalui tafsiran dari dalil-dalil Islam. Beberapa ulama dan ahli agama selalu menyangkut pautkan usaha pada setiap pengertian karena memang begitu adanya.

Ijtihad dikenal sebagai sumber hukum Islam sehingga pengertian menurut Zuhdi juga menggambar secara lebih luas. Yaitu bagaimana cara mereka mencari bahan dalam mengerahkan semua tenaga juga pikirannya dalam mencari suatu kebenaran. Bahkan dari kebenaran itu ditemukan sebuah jalan keluar.

Pengertian Ijtihad Menurut Mayoritas Ulama Ushul dan Minoritas Ulama Ushul

Keduanya memiliki pendapat berbeda tetapi tetap satu konteks mengenai apa itu berijtihad. Menurut mayoritas Ulama Ushul, merupakan upaya dalam mengerahkan segala kemampuan oleh seorang ahli dalam memperoleh hukum syara’ sehingga menjadikannya tidak berlaku di bidang akidah dan akhlak.

Sedangkan menurut minoritas Ulama Ushul berpendapat bahwa berijtihad adalah, mengerahkan segala kekuatan dan tenaga dalam mencari sebuah hukum dari peristiwa yang berada di nash Al-Quran dan hadits shahih. Oleh karena itu hasil dari setiap berijtihad selalu memiliki dampak baik untuk umat Islam.

Pengertian Ijtihad Menurut para Sahabat

Menurut mereka pengertiannya lebih ringkas tetapi syarat akan makna, dimana kitab Allah SWT dan Sunnah Rasulullah SAW dijadikan petunjuk utama dalam menemukan titik terang dari sebuah ijtihad. Disitulah mengapa dari beberapa orang menjadikan pengertian ini sebuah pondasi untuk memulainya.

Para sahabat mengartikan bahwa ijtihad adalah sebuah penelitian dan pemikiran dalam usaha mendapatkan sesuatu dengan berpedoman pada kitab Allah SWT dan Sunnah Rasul SAW, baik melalui sebuah nash yang disebut “Qiyas” (ma’qul nash) ataupun melalui tujuan umum, “maslahat”.

Dapat disimpulkan bahwa arti dasar dari sebuah ijtihad adalah usaha dan kemampuan seorang yang terpercaya dalam mencari hukum Islam terbaik untuk sebuah masalah umat Islam. Keberadaannya pun sudah ada sejak jaman Nabi sehingga memang dari dulu menjadi sebuah dasar hukum Islam.

Contoh Penerapan Berijtihad dalam Era Modern Maupun Dahulu

Setelah mengetahui beberapa artinya, sebaiknya penerapannya dalam teori contohnya dapat dijadikan bahan mengenal lagi lebih dekat dengannya. Walaupun sudah ada sejak jaman Nabi, ternyata kegiatan ini masih dan akan selalu digunakan sampai sekarang. Berikut contoh-contoh tindakan perlu berijtihad:

Pada Zaman Khalifah Umar bin Khattab

Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab ada seorang pedagang muslim yang menanyakan sebuah pertanyaan mengenai cukai pada khalifah. Mereka bertanya berapa besar biaya cukai untuk pedagang asing yang berdagang di daerah khalifah, sedangkan mereka juga dikenakan peraturan sama disana.

Pertanyaan itu menemukan kebuntuan karena belum tercantum secara detail dalam Al-Quran atau Hadits. Dengan begitu, Khalifah Ummar bin Khattab berijtihad dengan menetapkan besar cukainya disamakan pada taraf umum yang dikeluarkan pedagang muslim dari Negara asing dimana mereka berdagang.

Penetapan Pertama Puasa dan Lebaran

Dalam poin kedua ini merupakan sebuah contoh berijtihad yang digunakan hingga sekarang bahkan setiap tahun, yaitu penetapan 1 Ramadhan dan tanggal lebaran. Karena semua warga Indonesia pastinya sudah tahu bahwa selalu terjadi perbedaan di setiap tahunnya, walaupun masih satu Negara.

Sangat sering di dalam berita bahwa para ulama akan berkumpul untuk berunding dalam penetapan tanggalnya, 1 Ramadhan maupun lebaran. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan waktu di setiap tempat sehingga para ulama harus selalu berijtihad dalam menemukan 1 Ramadhan dan lebaran.

Program Bayi Tabung dalam Mengatasi Kesuburan

Di zaman yang semakin modern membuat medis juga menemukan beberapa cara baru dalam mengatasi masalah kesehatan salah satunya kesuburan, yaitu dengan program bayi tabung. Sudah banyak yang melakoninya dan memang program tersebut memiliki keberhasilan sekitar 90%.

Tetapi disisi lain, program tersebut belum ada pada saat zaman Rasul sehingga tentunya dalam Al-Quran juga tidak ada. Untuk itu beberapa orang melakukan riset mendalam dari hadist yang memiliki keterkaitan dengan program tersebut, dari situlah mereka memulai perjalanan berijtihad di era modern.

Merokok

Kegiatan yang sudah banyak ulama mengharamkan karena terdapat racun di dalamnya. Racun tersebut mampu merusak organ dalam tubuh secara perlahan sehingga dalam artian jika seseorang merokok jelas secara sengaja melukai diri sendiri, hal tersebut lebih menguatkan keharamannya.

Dari situ para Ulama berijtihad melalui pedoman yang ada dalam Al-Quran dan Hadits tentang racun dan melukai diri sendiri sehingga haramnya masih menjadi perseteruan hingga saat ini. Namun, terlepas dari itu semua, sebaiknya hindarilah merokok. Sudah terbukti bahwa hal tersebut dapat membunuhmu.

Memakai Kontak Lensa

Sama halnya dengan mewarnai rambut dengan warna hitam, keduanya memiliki perseteruan yang tidak pernah berujung. Tetapi, memakai kontak lensa ada beberapa ulama memperbolehkan asalkan kepentingannya bukan untuk riasan, karena dianggap merubah ciptaan Allah SWT.

Dalam hal riasan, kontak lensa merubah warna mata sebenarnya sehingga hukumnya tidak boleh. Tetapi jika digunakan untuk kesehatan, misal karena minus itu diperbolehkan. Peraturan seperti itu masih menjadi perdebatan disebabkan dalam Al-Quran dan Hadits belum tertera secara detail.

Pengertian ijtihad dan contohnya dirasa sudah cukup bisa menggambarkannya kepada beberapa masyarakat, bahwa penerapannya justru sangat dibutuhkan dalam era modern seperti sekarang. Karena jaman sekarang berbeda 180 derajat dengan dahulu kala disaat Nabi masih menyiarkan agama Islam.

Fungsi Ijtihad dalam Segala Aspek Kehidupan

Pada dasarnya fungsi ijtihad adalah untuk mendapatkan solusi hukum dari kebuntuan masalah karena tidak ada di Al-Quran. Pernyataan tersebut membuktikan posisi ijtihad dalam legalitas peraturan Islam. Namun pelaksanaannya harus didasarkan pada beberapa syarat-syarat penting dibawah ini:

Memiliki Pengetahuan dan Wawasan yang Sangat Luas

Pastilah seseorang dengan pengetahuan dan wawasan luas menjadi syarat berijtihad. Hal tersebut disebabkan karena kegiatan tersebut memakan banyak waktu dengan meneliti setiap ilmu yang sudah ada maupun belum ada. Penelitian semacam itu memerlukan kehadiran seseorang dengan otak encer.

Dalam artian, seorang ahli bahkan untuk kasus agama, perlu seorang Ulama yang memiliki jam terbang tinggi dalam hal mengelola ilmu-ilmu hadits. Hafal Al-Quran juga merupakan kunci terbentuknya hasil ijtihad sempurna sesuai dengan pertanyaan ambigu yang tidak diterangkan secara detail dalam Hadits.

Memiliki Kemampuan Memahami Bahasa Arab, Ushul Fiqih, Ilmu Tafsir dan Tarikh (Sejarah)

Sebagai dasar seseorang melakukan ijtihad adalah setidaknya mampu memahami bahasa Arab, dari situ sudah jelas bahwa bukan orang biasa yang dapat dengan mudah melakukannya. Karena hasil dari jawabannya akan digunakan untuk hajat hidup orang banyak bahkan hingga dunia.

Selain bahasa Arab, seorang pelaku berijtihad harus pandai dalam memahami bahkan harus mengerti betul tentang asal usul sebuah fiqh, ilmu tafsir hingga sejara. Keempat hal tersebut memiliki keterkaitan untuk membentuk sebuah jawaban yang tidak ditemukan secara detail dalam Al-Quran dan Hadits.

Harus Memiliki Akhlakul Karimah

Jangankan untuk menemukan sebuah jawaban dalam berijtihad, seseorang harus memiliki akhlakul karimah di setiap perbuatannya sehari-hari, tetapi dalam konteks hal ini, pelakunya harus benar-benar berbudi pekerti yang baik. Selain itu selalu berbuat perilaku terpuji dan baik.

Hal tersebut disebabkan karena seseorang yang akan berijtihad, jawabannya akan menjadi panutan untuk semua muslim sehingga individunya harus memiliki sifat serta perilaku baik jauh dari keburukan. Dari situlah mengapa syaratnya sangat jelas bahwa biasanya para ulama yang melakukannya.

Memahami serta Mengetahui cara Merumuskan Hukum dan Melakukan Qiyas

Tentu saja cara merumuskan hukum masuk dalam kriteria atau syarat individu mewujudkan fungsi dari berijtihad. Sebab memang pada dasarnya memiliki fungsi untuk mendapatkan solusi hukum dalam Islam sehingga merumuskan menjadi syarat logis. Begitupun melakukan Qiyas sebagai lanjutannya.

Qiyas sendiri masuk ke dalam macam dari ijtihad, yaitu sebuah penetapan hukum terhadap masalah baru yang memiliki kesamaan dengan masalah lain sehingga ditetapkan suatu hukum baru tetapi memiliki makna sama. Salah satu pelaksana fungsinya harus dapat melakukan Qiyas secara baik.

Dapat disimpulkan secara singkat bahwa sebenarnya fungsi dari berijtihad sendiri hanya ada satu, tetapi memiliki beberapa syarat untuk pelakunya agar fungsi yang ada dapat terwujud secara baik dan benar. Tentunya harus disesuaikan dengan hukum legal Islam berdasarkan Al-Quran dan Hadits yang shahih.

Syarat-syarat Menjadi Mujtahid dengan Lebih Detail

Mujtahid adalah seseorang yang sudah dianggap ahli dalam melakukan ijtihad, baik dalam sisi pendidikan, pengetahuan maupun pengalaman. Sudah sedikit dijelaskan bagaimana syarat seorang dapat melakukannya agar fungsi terbentuk sempurna dan berikut penjelasan lebih detailnya.

Harus Bisa Memahami dengan Benar Ayat dan Sunnah yang Berkaitan dengan Hukum

Sebuah kegiatan yang membutuhkan seseorang untuk berijtihad, pada dasarnya disebabkan oleh belum adanya peraturan detail mengenai berbagai aturan legalisasi dari hukum Islam yang biasanya didasarkan pada Al-Quran dan Hadits. Oleh sebab itu seorang mujtahid harus mampu memahami dasar-dasarnya.

Hakikatnya hasil dari berijtihad pasti akan berkaitan dengan berbagai ayat serta hadits bahkan sunnah merupakan pondasi bahan dari kegiatan itu tadi. Dari situlah seseorang mujtahid dituntut harus memahami benar setiap ayat hingga sunnah yang sudah ada sebelumnya untuk menelaah jawabannya.

Dapat Memahami Bahasa Arab secara Keseluruhan

Al-Quran yang memiliki peran penting sebagai pondasi utama dalam pembuatan jawaban dari berijtihad, sangat jelas bahwa setiap ayatnya menggunakan bahasa Arab. Hal tersebut yang menjadikan syarat seorang mujtahid harus bisa menguasai bahasa tersebut secara keseluruhan.

Tidak lucu jika seorang pencipta jawaban yang diadaptasikan dari sumber dengan sebagian besar bahasa Arab, kurang mampu dan bahkan tidak bisa sama sekali dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa khususnya Arab sangat diutamakan untuk menjadi seorang mujtahid.

Harus Pandai dalam Memahami setiap Masalah yang Disetujui para Ahli

Beberapa masalah yang terjadi akan selalu mencuri pandangan para ahli untuk dibahas. Jadi, sebelum terbentuk masalah baru ada pendahulu dari setiap masalah yang timbul. Oleh karena itu, mujtahid harus benar-benar pandai dalam memikirkan agar memahami betul setiap masalah tersebut.

Selanjutnya, setelah menemukan keterkaitan masalah baru dengan pendahulu yang juga diselesaikan oleh para ahli, barulah seorang mujtahid dapat menarik garis kesimpulan lalu dijadikan sebuah jawaban. Karena itulah poin tiga ini sangat wajar dan logis menjadi syarat seorang mujtahid sebelum berijtihad.

Mengetahui secara Benar dan Detail Ushul Fiqh

Fiqh sendiri adalah salah satu bidang ilmu di dalam syariat Islam, isinya membahas tentang beberapa persoalan hukum yang mengatur semua aspek kehidupan manusia, dari kehidupan pribadi, di masyarakat ataupun kehidupan manusia dengan Allah SWT. Mujtahid diwajibkan tahu detail usulnya.

Sudah sangat jelas bahwa fiqh memiliki berbagai macam dengan detail usul tidak sedikit. Mujtahid memang bukan orang sembarangan sehingga mereka pasti tahu semua tentang fiqh. Karena dari fiqh itulah, pada akhirnya jawaban dari berijtihad juga akan ditemukan melalui beberapa keterkaitannya.

Harus Paham dengan Benar apa itu Nasikh dan Mansukh

Arti singkatnya nasikh dan mansukh adalah sebuah pembahasan tentang ilmu Al-Quran sehingga orang awam tidak akan tahu seperti apa. Berdasarkan beberapa sumber, ilmu Al-Quran sepertinya memiliki banyak pembahasan, dari situlah mengapa mujtahid terbukti lagi bukan seorang abal-abal.

Seseorang yang memiliki pengetahuan dan ilmu yang luas tentang agama Islam sejatinya sudah masuk dalam kategori sebagai ahli agama. Dari situlah mereka berhak turut serta dalam pemecahan sebuah masalah baru serta membutuhkan ijtihad untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya.

Memiliki Pengetahuan Mendalam tentang Seluk Beluk Qiyas

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, bahwa memahami tentang Qiyas memang menjadi syarat utama menjadi seorang mujtahid. Arti Qiyas sendiri adalah sebuah penetapan hukum baru sehingga tentu saja memiliki keterkaitan erat dengan hasil sebuah ijtihad dari beberapa mujtahid.

Dengan kata lain, Qiyas memiliki banyak pembelajaran tambahan tentang bagaimana menetapkan hukum baru yang disesuaikan berdasarkan hukum lama menurut Al-Quran dan Hadits. Disinilah jawaban mengapa Qiyas menjadi syarat ijtihad bagi seorang individu atau kelompok dalam menemukan jalan.

Dapat Memahami Secara Benar Tentang Tasyrie

Tasyrie’ merupakan pembuatan undang-undang hukum yang dibuat oleh mujtahid dan setelah itu ditetapkan melalui aturan Qiyas. Dari situ sudah sangat dapat dipahami bahwa antara keduanya memiliki keterkaitan erat dalam hasil dari hukum baru hasil dari berijtihad.

Tasyrie’ sendiri memiliki berbagai dasaran ilmu karena membuat serta membentuk sebuah hukum Islam tidak mudah, dibutuhkan beberapa sumber, bahan serta semua ayat yang berkaitan dengan masalah pembahasan serupa. Oleh sebab itu, mujtahid juga harus memahami dan tahu betul tentang Tasyrie’.

Dari syarat mujtahid diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum Islam dibuat bukan tanpa ilmu dan penelitian, justru dari situlah semua orang harus tahu bagaimana seorang ulama yang notabene memang seorang mujtahid memiliki dasar ilmu tinggi serta luas saat memutuskan sebuah jawaban.

Tujuan Seseorang Melakukan Ijtihad dalam Menegakkan Hukum Berlaku

Setiap orang akan memiliki tujuan dalam setiap tindakan yang akan dilakukannya, tak terkecuali seorang mujtahid. Mereka selalu memiliki tujuan saat berijtihad dan sebagian besar tujuannya jelas untuk membantu keberlangsungan hidup umat manusia. Berikut ini beberapa tujuan berijtihad:

Untuk Pemenuhan Keperluan Umat Manusia akan Pegangan Hidup

Benar saja bahwa tujuan awalnya adalah sebagai pemenuhan pegangan hidup umat manusia, karena pada dasarnya seorang mujtahid akan menciptakan sebuah hukum dari permasalahan baru yang belum menemukan titik terang. Hal tersebut digaris bawahi dengan pedoman utama Al-Quran dan Hadits.

Al-Quran jelas sekali diturunkan ketika masa Nabi sehingga masalah baru di era modern maupun dahulu yang tidak ada di dalamnya, akan menimbulkan pertanyaan mengenai hukum di Islam. Untuk itulah seorang mujtahid berijtihad agar umat manusia memiliki pegangan hidup di setiap langkah halalnya.

Membuat dan Menetapkan Hukum Baru Islam

Seperti yang sudah dijelaskan pada poin satu bahwa seseorang yang berijtihad atau sebut saja seorang mujtahid, memang memiliki tujuan awal membentuk sebuah hukum baru dalam Islam. Walaupun begitu, hasilnya tidak patut untuk diragukan karena mereka membuat berdasarkan hukum yang ada.

Dari hukum terdahulu yang ada dalam Al-Quran dan Hadist lalu sunnah serta menelaah berbagai fiqh sehingga pasti mereka akan memberikan dan menciptakan sebuah hukum Islam terpercaya. Termasuk hukum baru dalam Islam karena memang belum ada sehingga berijtihad itu tadi untuk menemukannya.

Menjawab Pertanyaan dari Sebuah Masalah Baru Tentang Agama

Sudah kita pahami pada poin contoh dari melakukan ijtihad, bahwa akan dilakukan jika ada pertanyaan dari sebuah masalah baru. Dari situlah mujtahid memutuskan melakukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan jawabannya. Lalu jawaban tersebut dijadikan penetapan hukum Islam yang baru.

Tujuan ijtihad memiliki keterkaitan antara satu poin dengan lainnya sehingga menjadikannya bukti bahwa seorang mujtahid memang memberikan kemampuan terbaiknya, mengerahkan segala pikiran dalam menemukan jawaban untuk pertanyaan tentang masalah baru yang timbul di agama Islam.

Untuk Membantu Umat Muslim agar lebih Paham Aturan Islam

Semua agama akan memiliki aturan, oleh sebab itu seseorang yang beragama pasti memiliki sopan santun dalam melakukan kegiatannya sehari-hari di masyarakat maupun secara pribadi pada Tuhannya. Tak terkecuali agama Islam juga memiliki aturan halal haram untuk dilaksanakan setiap umatnya.

Beberapa umat muslim belum paham benar tentang peraturan-peraturan kecil secara detail, begitu juga dengan perdebatan masalah baru apakah halal atau haram dilakukan. Nah, untuk mengetahuinya mereka bisa menilik ulang contoh berijtihad sehingga mujtahid dapat membantu kalian lebih paham.

Membantu dalam Mencari Jalan Keluar dalam Permasalahan

Seperti pada poin ketiga, bahwa seorang yang berijtihad memiliki tujuan menemukan jawaban dari sebuah masalah baru atau pertanyaan baru. Disitulah ketika mereka menemukan jawaban otomatis juga menemukan jalan keluar dari sebuah permasalahan. Konteks permasalahan hanya tentang hukum Islam.

Walaupun hanya tentang hukum Islam, justru hal tersebut sangat riskan untuk tidak ditemukan jalan keluarnya. Dari situlah secara tidak sengaja menemukan peran terpenting seorang mujtahid. Mereka rela mengerahkan segala tenaga dan pikiran dalam menemukan jalan pada permasalahan yang ada.

Tujuan seseorang berijtihad sudah sangat bisa membantu dalam memahami bahwa mujtahid tidak akan melakukannya secara asal-asalan, karena mereka mengemban amanah untuk menemukan hukum baru sesuai dengan hukum Islam terdahulu. Sudah jelas sekali syarat seorang mujtahid tampak sulit sekali.

Mengenal Lebih Dekat Melalui Macam-macam Ijtihad

Setelah mengetahui tentang pengertian dan contoh, lalu fungsi, syarat, tujuan dari berijtihad, belum afdol jika tidak mengulas lebih detail macamnya. Berijtihad memiliki macam yang sudah dikenal pada kalangan mujtahid. Berikut ini macam-macam berijtihad, salah satunya dibahas yaitu Qiyas.

Ijma’ (Kesepakatan)

Memiliki arti sebagai sebuah kesepakatan dari para ulama dalam menetapkan sebuah hukum agama Islam, tentunya berdasarkan pada Al-Quran dan hadist sesuai dengan perkara atau masalah yang sedang terjadi. Hasil dari sebuah ijma’ berupa Fatwa berbentuk keputusan bulat di sebuah perundingan akbar.

Perundingan tersebut dilakukan oleh para ulama dan ahli agama yang berwenang karena mereka merupakan sosok pantas diikuti oleh seluruh umat dalam peraturan agama. Dari situlah mereka sudah seharusnya memberikan hasil terbaik dari sumber juga pedoman terpercaya yaitu Al-Quran dan hadist.

Qiyas

Sepertinya pengertian dari Qiyas sudah dibahas pada poin-poin sebelumnya. Tetapi disini juga akan diulang sebagai penekanan agar semua umat mengerti dengan benar, lebih menguntungkan lagi jika hafal. Karena macam-macam dari berijtihad ini merupakan pedoman dalam mengenalnya lebih jauh.

Qiyas adalah menyamakan dengan menggabungkan dalam menetapkan hukum dari sebuah permasalahan baru yang belum pernah ada di masa sebelumnya, tetapi memiliki kesamaan dilihat melalui berbagai aspek. Ijma’ dan Qiyas bersifat darurat dimana hukum belum ditetapkan sebelumnya.

Maslahah Mursalah

Bagi orang awam, mungkin macam ijtihad yang satu ini terasa asing begitu juga lainnya. Karena itulah mengapa seorang mujtahid harus memiliki syarat dalam menetapkan sebuah hukum Islam. Maslahah mursalah dikenal sebagai cara menetapkan hukum Islam dilihat melalui beberapa aspek.

Aspek-aspek tersebut adalah pertimbangan dari kegunaannya atau manfaatnya. Dengan menggunakan cara maslahah mursalah itulah, para ulama dan ahli agama menetapkan serta membuat sebuah peraturan baru yang berlaku legal dalam sebuah hukum Islam.

Sududz Dzariah

Dalam hukum Islam, ada sebuah peraturan yaitu haram, halal, mubah dan makruh. Di sinilah macam ijtihad sududz dzariah digunakan dalam menentukan sebuah hukum Islam yang dalam perkara berijtihad adalah hukum baru sehingga penetapannya memang harus melewati beberapa tahanan sulit.

Sududz Dzariah adalah menetapkan suatu yang mubah dan makruh atau haram dan halal dalam memenuhi kepentingan dari umat manusia. Oleh karenanya, manusia memiliki pegangan hidup terpercaya sehingga mereka dapat dengan mudah membedakan mana mubah makruh juga haram.

Istishab

Istishab adalah suatu tindakan untuk menetapkan sebuah peraturan atau ketetapan sampai adanya sebuah alasan yang bisa mengubahnya. Dari situ sudah paham, mengapa istishab masuk dalam macam ijtihad, jelas sekali disebabkan pengertiannya sebagai tindakan penetapan peraturan.

Istishab merupakan bukti bahwa seorang mujtahid harus bisa dalam melaksanakan perannya, yaitu sebagai salah satu umat muslim yang memiliki wewenang khusus dalam pembentukan serta penetapan sebuah hukum. Penentuan tersebut akan selalu didasarkan pada pedoman khusus umat muslim.

Urf

Macam ijtihad yang satu ini memiliki sangkut paut dengan adat istiadat serta kebebasan masyarakat. Hal ini menjadikan urf menjadi dasar penting untuk seorang mujtahid yang biasa dilakukan oleh para ulama dan ahli agama. Tidak hanya Indonesia tetapi seluruh belahan dunia memiliki berbagai jenis suku.

Keanekaragaman budaya membuat banyaknya muncul perspektif lain menurut adat istiadatnya. Urf sendiri adalah kegiatan menentukan masih diperbolehkannya adat istiadat dan kebebasan masyarakat dapat berjalan sewajarnya selama (tidak bertentangan pada hukum prinsip dari Al-Quran dan Hadits).

Istihsan

Macam-macam ijtihad terakhir yaitu istihsan dikenal dengan pengertian, meninggalkan satu hukum dari beberapa hukum karena adanya sebuah dalil syara’ yang mengharuskan untuk meninggalkan hukum tersebut. Dari pengertian tersebut terbentuk sebuah asumsi lain dalam membuat sebuah hukum.

Melalui istihsan, mujtahid berijtihad agar menemukan jawaban sebagai acuan membenarkan hukum lain tersebut, apakah sebuah tindakan benar atau salah. Zaman yang semakin maju ini menimbulkan banyak pemikiran-pemikiran baru menuntut mujtahid selalu berijtihad sesuai hukum terdahulu.

Mengenal macam-macam dari berijtihad sepertinya sudah dapat membuka masyarakat dalam mengartikan apa sebenarnya yang dilakukan para ulama dan ahli agama saat mendapatkan masalah baru tentang hukum Islam. Terjawab sudah, bahwa mereka selalu bekerja keras untuk mendapatkannya.

Tingkatan-tingkatan dalam Berijtihad

Seorang mujtahid memiliki beberapa tingkatan biasanya digunakan sebagai penentu ijtihad seperti apa yang dapat digunakan dalam penetapan serta pembentukan sebuah hukum Islam. Dari situlah mereka dapat dengan mudah memulai ijtihad secara benar. Berikut beberapa tingkatannya:

Ijtihad Muthlaq

Ijtihad muthlaq merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan oleh seorang mujtahid dengan memiliki sifat mandiri dalam berijtihad. Selain itu, juga menemukan mendapatkan ‘illah-‘illah hukum Islam beserta ketentuannya dari nash dalam Al-Quran dan Sunnah. Mereka memiliki cara sendiri dalam prakteknya.

Mujtahid akan menggunakan rumusan kaidah-kaidah dan fiqih yang ada serta didasarkan pada tujuan syara’. Selain itu, seorang mujtahid juga sebelumnya akan mendalami terlebih dahulu persoalan hukum di jamannya dengan terdahulu dengan menggunakan bantuan disiplin ilmu penerapan di kehidupan.

Ijtihad Fi Al-Madzhab

Ijtihad fi al-Madzhab adalah sebuah kegiatan berijtihad yang dilakukan oleh seorang ulama mengenai hukum-hukum syara’ dengan menggunakan metode istihbath hukum. Metode tersebut ditetapkan serta dirumuskan oleh imam madzab. Secara lebih sempit ijtihad fi al-Madzhab di bagi menjadi 3 tingkatan.

  • Ijtihad at-Takhrij

Kegiatan berijtihad yang dilakukan mujtahid di dalam mazhab tertentu dalam menghasilkan hukum syara’. Tetapi tidak terdapat pada kumpulan hasil ijtihad imam mazhabnya, menggunakan dasar kaidah atau rumusan dari imam mazhabnya.

  • Ijtihad at-Tarjih

Sebuah kegiatan berijithad dalam memilah pendapat yang dipandang lebih kuat jika disandingkan bersama pendapat imam mazhabnya. Seorang mujtahid pada tingkatan ini hanya melakukan pemilihan pendapat tidak istinbath hukum syara’.

  • Ijtihad al-Futya

Yaitu sebuah kegiatan berijtihad berupa menguasai seluk beluk pendapat hukum imam mazhab dan ulama mazhab yang dipercaya lalu memfatwakannya kepada masyarakat. Pada tingkatan ini hanya sebatas memfatwakan tidak sitinbath atau memilih.

Sedikit penjelasan dari tingkatan ijtihad sepertinya sudah dapat memberikan pemahaman lebih luas untuk masyarakat dalam usaha mengenal berijtihad secara menyeluruh. Konteks tingkatan tersebut digunakan sebagai pedoman mujtahid atau ulama dan ahli agama melakukan ijtihadnya.

Beberapa Syarat Permasalahan yang dapat Dilakukan Ijtihad

Dari beribu kata dan kalimat menjelaskan mengenai seluk beluk berijtihad, dasarnya selalu terjadi akibat adanya permasalahan baru yang sekiranya membutuhkan beberapa hukum Islam. Berikut ini adalah syarat sebuah permasalahan dapat diijtihadkan oleh mujtahid atau ulama dan ahli agama.

Masalah yang Membutuhkan Penelitian Lanjut karena Belum Jelas Hukumnya

Beberapa peraturan dalam Islam yang sudah tercantum secara nyata dalam Al-Quran dan Hadist hanya berbatas pada permasalahan ringan pada jamannya. Maka setiap pembaruan tahun selalu saja muncul berbagai masalah baru yang ditunjuk oleh Nash untuk diselesaikan sesuai pedoman awal.

Nash sendiri memiliki arti luas, singkatnya nash disebut sebagai Al-Quran dan Hadits. Dapat disimpulkan bahwa masalah baru yang ditunjuk oleh Al-Quran serta hadist merupakan syarat masalah bisa dilakukan ijtihad. Dari situlah dapat terlihat bahwa sebenarnya semua hukum selalu tertuju padanya.

Masalah yang Sama Sekali tidak ada Nashnya

Sebuah masalah yang sudah ditetapkan secara tegas dan jelas, kemunculannyajuga tidak memerlukan penelitian lanjut karena maknanya sudah jelas. Dari sinilah terbentuk sebuah persoalan lain tetapi sudah di jelaskan dalam Al-Quran dan Hadits, lalu bagaimana melakukan ijtihadnya?

Berijtihad tetap dilakukan dan permasalah kedua ini menjadi tipe bagaimana mujtahid menjadikannya pembanding untuk persoalan baru yang keluar. Jadi, intinya syarat dari masalah kedua ini dapat dilakukan ijtihad karena merupakan bahan dasar dari penyelesaian pembentukan hukum baru.

Syarat untuk permasalahan yang dapat diijtihadi merupakan sebuah pintu dimana mujtahid memperkirakan seperti apa metode, model hingga hasil akhir hukum baru sebagai penyelesai pertanyaan mengenai persoalan baru. Tentunya akan sesuai kaidah sebelumnya.

Hukum-hukum Berijtihad

Sebagai kegiatan yang merupakan sebuah penentuan hukum baru, sudah seharusnya juga memiliki hukum pelaksanaannya. Karena bukan hanya untuk hajat orang banyak tetapi ada juga beberapa masyarakat meniliknya dikarenakan masalah pribadi. Berikut ini beberapa hukum berijtihad:

Wajib ‘Ain

Hukum berijtihad akan menjadi wajib ‘ain untuk seorang mujtahid yang memang dibutuhkan oleh banyak umat manusia dalam memenuhi keperluan mereka sebagai pegangan hidup. Karena sejatinya seorang mujtahid adalah seseorang ahli agama atau ulama panutan masyarakat.

Dari alasan tersebut sudah bisa dimengerti bahwa mereka sangat wajib berijtihad jika permasalahannya memang benar-benar kompleks dan merupakan kebutuhan bagi hajat hidup muslim. Contohnya dalam penetapan 1 Ramadhan yang merupakan penetapan mulai puasa sehingga hukumnya wajib ‘ain.

Wajib Kifayah

Hukum wajib kifayah sendiri adalah kewajiban yang akan gugur jika sudah ada muslim lainnya datang melakukan aktivitas kewajibannya tersebut. Dalam konteks mujtahid berarti, seseorang ahli agama atau ulama yang sudah tidak diwajibkan lagi berijtihad karena ditemukannya hukum jelas serta detail.

Tidak ada contoh sesuai dengan pelaksanaan wajib ini untuk para mujtahid. Tetapi yang jelas walaupun ulama dan ahli agama kedudukannya merupakan seseorang tertinggi untuk berijtihad bagi orang banyak, tetap akan gugur jika ada penggantinya yang sudah menguasai hukum Islam secara keseluruhan.

Sunnah

Sudah sangat jelas, bahwa sunnah berarti tidak harus dilakukan. Kondisi seperti ini berlaku jika persoalan belum banyak menimbulkan kekacauan dan juga tidak secara nyata terjadi masih dalam angan. Permasalahan seperti itu memiliki hukum sunnah bagi mujtahid untuk berijtihad.

Sebuah masalah belum jelas dinyatakan mempunyai beberapa kemungkinan penyebabnya salah satunya adalah sudah ada di dalam Al-Quran dan Hadits walaupun mirip. Contohnya saja memakan ular tentu hukumnya haram karena hewan bertaring merupakan makanan haram yang terdapat di Al-Quran.

Pada dasarnya hukum tersebut tidak terlalu dipakai dalam langkah mujtahid sebelum berijtihad, karena mereka sudah ahli dalam segala hal menyangkut hukum Islam yang sudah ada dalam Al-Quran. Hal tersebut sudah cukup bisa membuat mereka membedakan hukumnya dalam melakukan ijtihad.

Peran Penting Mujtahid dalam Berijtihad

Seseorang yang berijtihad merupakan seorang mujtahid yang tentunya diklaim memiliki banyak peran penting dalam masyarakat khususnya umat muslim. Sebagai seorang pemimpin dipercaya dalam pembentukan sebuah hukum baru Islam. Lalu apa saja peran penting Mujtahid dalam berijtihad?

Sebagai Pemecah Masalah Baru dalam Hukum Islam

Tujuan berijtihad tentunya menemukan sebuah jalan keluar melalui jawaban dari beberapa pertanyaan baru yang mengarah pada hukumnya suatu kegiatan dalam agama. Hal tersebut disebabkan karena tidak semua hukum dalam Al-Quran dan Hadits menuliskan secara jelas permasalahan baru di era ini.

Dari kemajuan era modern serta beberapa abad setelah turunnya Al-Quran juga terbentuknya Hadits, permasalahan baru dalam hukum Islam selalu muncul. Disinilah peran seorang mujtahid sangat penting. Mereka berijtihad dengan menggunakan pedoman dalam Al-Quran serta Hadits sebagai pemecahannya.

Membantu Umat Muslim memiliki Pegangan Hidup Jelas

Seseorang yang beragama pastinya akan selalu memiliki pegangan hidup berdasarkan semua aturan dalam agamanya, khususnya bagi seorang muslim. Dari situlah mereka dengan mudah memilih serta memilah apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh. Beda cerita jika tidak ada dalam pedoman awal.

Pedoman mereka adalah Al-Quran, jika tidak ada tentunya lepas pegangan sehingga akan merasa bingung bagaimana hukumnya. Mujtahid berperan dalam menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut dan selanjutnya dapat dijadikan pegangan hidup disandingkan dengan masalah serupa.

Sumber Pengetahuan Seluk Beluk Hukum Islam

Sebagai seorang ahli agama dan ulama seorang mujtahid harus bisa dan pandai memiliki pengetahuan luas tentang hukum-hukum Islam. Oleh sebab itu, selain memiliki peran sebagai pemegang wewenang menetapkan hukum baru, mereka juga merupakan sumber pengetahuan seluk beluk agama Islam.

Bukan hanya dalam konteks hukum Islam saja tetapi juga dalam ilmu agama Islam. Karena sebagai seorang ulama tentunya mereka berpengalaman dalam memberikan wejangan khusus bagi masyarakat mengenai segala aktivitas baik menurut agama. Dari situ mengapa mereka selalu dipercaya.

Sebagai Penghasil Hukum Baru yang Lebih Jelas dan Akurat

Pada dasarnya mujtahid memang seorang yang akan melakukan ijtihadnya secara baik dan benar karena dalam perannya mereka selalu memiliki wewenang sebagai penghasil hukum-hukum baru didasarkan pada persoalan atau permasalahan baru di dalam kehidupan beragama (khususnya Islam).

Secara tidak langsung mereka selalu melekatkan perannya sebagai penghasil hukum baru yang tentunya akan lebih jelas. Mereka melakukannya dengan melalui tahapan tidak sedikit sehingga akan menghasilkan sebuah hukum dengan tingkatan kejelasan baik, karena tetap berpedoman pada Al-Quran dan Hadits.

Memimpin Umat Muslim dalam Penentuan Peraturan Baru

Kata memimpin disini memiliki arti berwenang dalam menetapkan peraturan baru yang legal masuk ke hukum Islam. Sebagai seseorang yang memiliki wewenang lebih, mujtahid tentunya mempunyai keahlian khusus terutama dalam memahami semua seluk beluk detail hukum dan ilmu Islam.

Dari situlah mengapa hanya seorang ulama dan ahli agama saja yang pastinya terpilih secara baik serta benar untuk menetapkan hukum agama. Jangan anggap remeh hukum beragama karena itulah orang dibalik penetapan hukum baru selalu diambil dari manusia berkualitas serta berkelas dalam berperilaku.

Sebagai Penetap Hari Besar di Islam

Menjelang bulan suci ramadhan di dalam berita selalu ada informasi mengenai sidang isbath yang memang tujuannya menetapkan tanggal 1 Ramadhan, begitu pula saat akan menjelang hari raya idul fitri. Nah, dari sinilah secara tidak langsung mujtahid berperan sebagai penetap hari besar.

Didalam Al-Quran tentunya penetapannya didasarkan pada kalender Arab sehingga semua Negara harus menyesuaikannya. Dari situlah contoh berijtihad berlangsung dan juga hasil akhirnya akan diikuti oleh semua umat Islam, secara tidak langsung membuktikan perannya sebagai penetap hari besar Islam.

Beberapa penjelasan singkat tentang peran seorang mujtahid merupakan sebuah dasar untuk masyarakat agar mengetahui bahwa mereka menetapkan sebuah hukum tidak dengan mudah. Melakukan penelitian terlebih dahulu, setelah disetujui semua pihak baru mulai ditetapkan.

Cara Alternatif Seorang Mujtahid dalam Berijtihad jika Dalil-dalil Berlawanan

Dalam sebuah penelitian sangat wajar terjadi sebuah kesalahan atau ketidak cocokan hasil bahan materi dengan beberapa pedoman yang sudah ada. Begitu juga dalam penerapan berijtihad oleh seorang mujtahid, tidak semuanya berjalan secara mulus. Berikut ini alternatif caranya:

Berusaha Lagi Memadukan dan Mendiskusikannya

Salah satu cara alternatifnya adalah dengan mendiskusikannya lagi lalu memadukan kedua dalil-dalil yang berlawanan tersebut. Kemungkinan seperti ini akan selalu terjadi pada pelaksanaan berijtihad sehingga memang benar bahwa pelakunya harus pandai dan pintar dalam pemecahan masalah.

Dari diskusi tersebut akan menemukan titik terang lalu mereka akan menguatkan diantara pilihan hasil-hasil dalil tersebut dengan pedoman yang sudah ada sebelumnya. Tentunya hanya mereka dengan pengalaman terbaik secara mudah menemukan jalan lainnya.

Mengenal lebih dalam mengenai pengertian ijtihad dirasa sudah cukup dapat dimengerti. Keberadaannya sudah ada sejak zaman Nabi dan sahabatnya, menjadikan berijtihad tetap akan selalu dibutuhkan bahkan di era modern seperti sekarang ini. Karena memang segala masalah memiliki usaha penyelesaiannya.

Tinggalkan komentar