Pengertian Kurikulum, Fungsi dan Manfaatnya

Kurikulum menjadi patokan penting dalam sistem belajar mengajar di jenjang pendidikan formal. Bagi sebagian orang, pastinya tidak asing lagi dengan kata satu ini. Namun, sebetulnya jika ditelisik lebih dalam ada fungsi dan manfaat yang luar biasa pagi masa depan setiap anak.

Beberapa Pengertian Kurikulum dari Para Ahli

Pengertian Kurikulum dari Para Ahli

Banyak pendapat yang mengungkapkan terkait makna dari kurikulum itu sendiri. Walaupun penyampaian dengan bahasa yang berbeda, namun tetap memiliki makna yang sama. Berikut ulasan lengkap pengertian kurikulum:

Hilda Taba (1962)

Ada banyak sekali pengertian kurikulum menurut berbagai ahli pada bidangnya. Salah satunya adalah menurut Hilda Taba.

Berdasarkan penuturannya, definisi dari istilah tersebut adalah a plan of learning. Kurikulum berarti sebuah rencana yang nantinya akan dipelajari oleh murid-murid. Tidak heran, jika keberadaannya dapat dikatakan sangatlah penting.

Kerr J. F (1968)

Menurut Kerr J. F, definisi dari kurikulum adalah berupa sebuah pembelajaran yang telah dirancang. Setelah rancangan tersebut, dilakukan pelaksanaan secara individu dan berkelompok, baik di dalam maupun luar sekolah.

Neagley dan Evans (1967)

Apa itu kurikulum? Menurut Neagley dan Evans berarti keseluruhan pengalaman yang mana telah dirancang oleh pihak institusi pendidikan (sekolah). Tujuannya adalah untuk membantu para siswa dalam rangka mencapai hasil belajar berupa kemampuan terbaik siswa.

Harsono (2005)

Berdasarkan definisi dari Harsono, kurikulum berarti suatu gagasan dalam bidang pendidikan. Ide tersebut diwujudkan dalam bentuk praktik.

Baca Juga: Apa Itu Akreditasi

Namun sering berjalannya waktu, pengertian ini semakin berkembang. Jika sebelumnya, gagasan yang dimaksud dikhususkan dalam hal pendidikan, sekarang menjadi seluruh program pembelajaran dengan rencananya (berasal dari institusi pendidikan nasional).

Hamid Hasan (1988)

Menurut Hamid Hasan, kurikulum memiliki definisi yang ditinjau dari empat sisi:

  • Kurikulum sebagai sebuah ide (gagasan) yang mana dihasilkan melalui berbagai teori serta penelitian.
  • Kurikulum sebagai sebuah rencana tertulis yang berarti berupa perwujudan sebagai ide, di dalamnya terdapat tujuan, aktivitas belajar, bahan ajar, media atau alat, serta waktu pelaksanaan pembelajaran.
  • Kurikulum sebagai sebuah kegiatan yang berarti pelaksanaan darinya berperan menjadi rencana tertulis dalam wujud praktik pembelajaran.
  • Kurikulum sebagai sebuah hasil berarti konsekuensi dari perannya dalam posisi kegiatan, melalui tercapainya tujuan yang ditujukan terhadap peserta didik.

Daniel Tanner dan Laurel Tanner

Kedua orang bernama belakang Tanner ini mengemukakan gagasannya mengenai definisi kurikulum yaitu, sebagai sebuah pengalaman pembelajaran yang memiliki arah jelas serta terencana secara sistematis.

Selain terarah dan terencana, kurikulum juga tersusun melalui proses rekonstruksi berbagai pengetahuan serta pengalaman dan berada pada pemantauan lembaga pendidikan. Tujuannya adalah agar dalam diri peserta didik tumbuh motivasi dan minat belajar tinggi.

Bara, Ch (2008)

Menurut Bara, kurikulum memiliki konsep yang digolongkan ke dalam empat pengertian, yaitu:

  • Kurikulum sebagai sebuah produk
  • Kurikulum sebuah program
  • Kurikulum sebagai suatu hasil yang diinginkan atau diraih
  • Kurikulum sebagai suatu pengalaman dalam belajar

Murray Print

Inti dari definisi kurikulum menurut Murray Print adalah suatu ruang pembelajaran yang telah direncanakan dan diberikan secara langsung kepada murid oleh suatu lembaga pendidikan. Selain itu, juga merupakan sebuah pengalaman untuk dinikmati peserta pendidikan pada penerapannya.

Saylor

Menurut Saylor, kurikulum adalah suatu usaha yang dilakukan secara maksimal dari pihak sekolah. Hal ini diperuntukkan dalam mencapai hasil sesuai keinginan di dalam maupun luar situasi sekolah tersebut.

Prof. Dr. S. Nasution, M. A.

Definisi kurikulum menurut Prof. Dr. S. Nasution, M. A. adalah sebuah rencana yang telah disusun dengan tujuan melancarkan proses dalam kegiatan belajar mengaja. Hal itu dilakukan di bawah naungan, bimbingan, serta tanggung jawab lembaga pendidikan atau sekolah.

Wikipedia

Pengertian kurikulum menurut Wikipedia adalah suatu perangkat mata pelajaran serta program pendidikan. Hal ini diberikan oleh lembaga dengan peran penyelenggara pendidikan. Isinya berupa rancangan pelajaran bagi peserta didik dalam periode tertentu.

Jenis-jenis Kurikulum di Indonesia

Jenis-jenis Kurikulum di Indonesia

Kurikulum di Indonesia sendiri terdapat beberapa jenis, hal inipun tidak lepas dari beberapa pendapat para ahli. Berikut di antaranya:

Jenis-jenis Kurikulum (Menurut Nasution)

Beberapa jenis kurikulum menurut tokoh satu ini yaitu:

  • Separate Subject Curriculum

Separate Subject Curriculum adalah jenis yang bahan ajarnya disajikan secara terpisah atau subjek mata pelajaran satu dengan lainnya tidak menyatu. Disusun berdasarkan kumpulan pengalaman dan budaya manusia sejak dahulu lalu disesuaikan dengan usia serta perkembangan peserta didik di setiap tingkatan.

Selanjutnya, oleh para pengembang kurikulum susunan beberapa kelompok mata pelajaran tersebut dibagi menjadi program atau jusuran. Dengan begitu peserta didik dipersilahkan untuk memilih sesuai minat. Meskipun begitu materi tetap dilaksanakan secara terpisah sesuai dengan kurikulum.

  • Corelated Curriculum

Sesuai dengan namanya Corelated Curriculum menghubungkan setiap mata pelajaran sehingga saling melengkapi sekaligus memperkuat satu sama lain. Agar masing-masing materi terpadu dan berhubungan dengan yang lainnya maka harus dikorelasikan.

Ada tiga macam korelasi yaitu:

  • Korelasi insidental yaitu diadakan sewaktu-waktu bila memang berhubungan.
  • Satu pokok pembahasan dilihat dari berbagai kaca mata pelajarn lain sehingga korelasinya lebih erat.
  • Korelasi mata pelajaran dengan menghilang-kan batas-masing-masing.

 

  • Integrated Curriculum

Integrated Curriculum memberikan bahan ajar secara terpadu sehingga meniadakan batas-batas antar mata pelajaran. Misalnya Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan perpaduan dari geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi dan sebagainya.

Proses belajar-mengajar menggunakan kurikulum jenis ini lebih dikenal dengan sebutan pembelajaran tematik. Umunya diberikan di kelas rendah Sekolah Dasar sehingga diharapkan akan membentuk anak-anak menjadi pribadi yang terintegrated.

Jenis-Jenis Kurikulum Dari Sudut Guru

Jenis-jenis kurikulum jika dilihat dari sudut pandang guru sebagai pengembangnya adalah:

  • Kurikulum terbuka (Open curriculum) berarti guru diberi kebebasan untuk mengembangkan kurikulum sesuai kemampuannya.
  • Kurikulum tertutup (Close curriculum) berarti guru tinggal melaksanakan, karena keseluruhannya telah ditentukan secara pasti mulai dari tujuan, materi, metode hingga evaluasinya.
  • kurikulum terbimbing (Guide curriculum) berarti setengah terbuka dan tertutup. Pengajar telah diberi rambu-rambu pengajar, namun masih memungkinkan bagi guru untuk mengembangkannya lebih lanjut dalam kelas.

Jenis-jenis Kurikulum di Indonesia dari Tahun ke Tahun

Bagaimana perjalanan kurikulum di Indonesia itu sendiri? Berikut beberapa ulasannya:

  1. Kurikulum 1947 atau Rentjana Pelajaran 1947

Meskipun disebut dengan kurikulum 1947 namun pelaksanaannya baru dijalankan pada tahun 1950. Saat itu istilah untuk menyebutkannya masih memakai bahasa Belanda, yaitu Leerplan yang berarti rencana pelajaran.

Kurikulum 1947 menetapkan Pancasila sebagai asas pendidikan dan sifatnya lebih mengarah pada politis, yakni dari orientasi pendidikan Belanda menuju ke kepentingan nasional

Oleh karena itu fokus pendidikannya bukan pada pikiran melainkan penekanan pembentukan karakter manusia yang merdeka, sadar bernegara serta bermasyarakat. Materi kurikulum ini dikaitkan dengan kegiatan sehari-hari, memperhatikan seni dan kesehatan jasmani.

  1. Kurikulum 1952 atau Rentjana Pelajaran Terurai 1952

Rentjana Pelajaran Terurai 1952 disebut demikian, karena penyusunannya bertujuan untuk menyempurnakan kurikulum 1947 dengan merinci setiap materi pembelajaran lalu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Susunan silabus dari kurikulum 1952 secara jelas menunjukkan bahwa seorang guru mengajar satu pembelajaran saja. Pokok materinya ada lima yaitu mengurangi pendidikan pikiran, isi pelajaran harus berkaitan dengan watak, kewarganegaraan dan kesenian.

  1. Kurikulum 1964 atau Rentjana Pendidikan 1964

Di penghujung era presiden Soekarno kurikulum 1952 dikembangkan lagi menjadi Rentjana Pendidikan 1964. Kali ini pemerintah ingin rakyatnya memiliki pengetahuan akademik sebagai bekal untuk masuk jenjang Sekolah Dasar.

Secara umum mata pelajaran kurikulum 1964 diklasifikasikan menjadi lima kelompok bidang studi. Di antaranya yaitu kecerdasan, moral, emosianal atau artistik, jasmani serta keperigelan atau keterampilan. Sedangkan pada tingkat pendidikan dasar lebih ditekankan pada pengetahuan dan juga kegiatan.

Selain itu kurikulum 1964 juga memuat lima hal pokok lain didalam sistemnya yakni manusia Indonesia berjiwa Pancasila, berkepribadian nasional serta berbudaya luhur, Man power, pergerakan rakyat revolusi dan ilmu sekaligus teknologi yang tinggi.

  1. Kurikulum 1968

Rentjana Pendidikan 1964 diganti menjadi Kurikulum 1968. Materi pembelajarannya adalah wujud transparan dan konsekuen dari perubahan orientasi dalam melaksanakan UUD 1945.

Maka, menitik beratkan tujuan agar murid-murid memiliki jiwa Pancasila sejati, kesehatan jasmaniah, mempertinggi moral serta kecerdasan sekaligus berbudi pekerti baik juga berkeyakinan dalam satu agama.

Ciri pembelajarannya yaitu memuat hal-hal yang bersifat teoristis dan mengesampingkan masalah faktual di lapangan. Penekanannya cenderung pada ketepatan memberi materi untuk bekal siswa di setiap jenjang sekolah.

  1. Kurikulum 1975

Kurikulum 1975 berorientasi pada tujuan dengan menggunakan pendekatan terpadu. Jadi, masing-masing pelajaran memiliki peran untuk mencapai sasaran yang lebih integratif. Selain itu juga menekankan efisiensi daya dan efektifitas waktu.

Kurikulum ini lahir dari pengaruh konsep terpopuler di era itu yaitu Management by Obejective (MBO). Hal ini juga terpengaruh oleh psiklogi tingkah laku yang mengutamakan stimulus respons (rangsang-jawab) dan latihan (drill).

Seluruh komponen mulai dari materi, metode dan tujuan pembelajaran dirinci menjadi satu dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Kemudian disebut sebagai satuan pelajaran yakni rencana pengajaran setiap bahasan.

  1. Kurikulum 1984

Kurikulum 1984 mengusung pendekatan proses tanpa menghilangkan pentingnya faktor tujuan. Jadi, murid diposisikan sebagai subjek untuk belajar mengerjakan berbagai kegiatan seperti mengamati, mengelompokkan dan berdiskusi kemudian baru melaporkan hasil pengamatan.

Model Orientasi seperti ini disebut sebagai Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Tujuan instruksionalnya didasari oleh pandangan bahwa dengan waktu yang sangat terbatas, secara efektif sekolah harus fungsional dalam memberi pengalaman belajar kepada siswa.

  1. Kurikulum 1994

Pada kurikulum 1994 sistem pembagian waktu pelajaran semester dirubah menjadi caturwulan. Keputusan tersebut dibuat dengan harapan siswa bisa mendapatkan materi lebih banyak lagi. Pembelajarannya sendiri diutamakan pada pemahaman konsep, keterampilan menyelesaikan soal.

Kurikulum ini bersifat populis sehingga berlaku merata bagi seluruh siswa di Indonesia. Karakteristik pembelajaranya yaitu siswa selalu aktif terlibat dalam proses belajar baik secara mental, fisik, dan juga sosial.

  1. Kurikulum 2004 atau KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)

Program kurikulum 2004 mengharuskan pendidikan memuat tiga unsur pokok berupa pemilihan kompetensi yang sesuai, penentuan tercapainya kompetensi dengan spesifikasi indikator-indikator evaluasi, dan pengembangan pembelajaran.

Ciri-ciri KBK adalah mengutamakan tercapainya kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal. Metode dan pendekatan yang digunakan bervariasi sehingga Hasil pembelajarannya berorientasi pada keberagaman. Selain itu semua unsur edukatif dapat dijadikan sebagai sumber belajar bukan hanya guru.

  1. Kurikulum 2006 atau KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

Kurikulum ini hampir sama dengan 2004 namun berbeda pada kewenangan dalam penyusunannya. KTSP disusun berdasarkan acuan jiwa desentralisasi sistem pendidikan.

Untuk standar kompetensi dan kompetensi dasarnya sendiri telah ditetapkan oleh pemerintah. Kemudian, guru bertanggung jawab mengembangkan silabus dan penilaian sesuai kondisi sekolah dan daerahnya masing-masing.

  1. Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 mengandung tiga aspek penilaian yaitu pengetahuan, keterampilan, serta sikap atau perilaku.

Jenis ini juga identik dengan Pendidikan Berbasis Karakter. Pembelajarannya sendiri menekankan pembentukan skills, pemahaman terhadap materi, presentasi, beriskusi, dan memiliki sopan santun displin yang tinggi.

  1. Kurikulum 2015

Jenis ini merupakan penyempurnaan kurikulum sebelumnya namun menerapkan sistem KTSP (2006) saat Ujian Nasional. Saat itu, konsep berbasis karakter 2013 baru dilaksanakan selama tiga semster jadi belum memungkinkan untuk menjalankan sistem ini.

Tujuan Kurikulum dalam Tercapainya Pendidikan

Tujuan Kurikulum

Pendidikan di Indonesia juga memiliki kurikulum sebagai rancangan dalam menggapai target pada bidang ini. Walaupun sering terjadi perubahan, tujuan tersebut tetap ada. Berikut ini adalah ulasannya:

Tujuan Nasional

Mengambil inti dari UU No. 20 Tahun 2003, di dalam Undang Undang ini dijelaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk perkembangan sumber daya manusia di Indonesia serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tujuan Institusional

Tujuan institusional merupakan hal yang harus diraih oleh setiap institusi pendidikan. Dapat dikatakan bahwa ini merupakan kualifikasi wajib bagi setiap siswa setelah menyelesaikan masa studinya.

Setiap sekolah memiliki jenis dan sifat yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tujuan institusionalnya pun sesuai dengan kebijakan masing-masing. Hal ini memiliki sifat kongkrit dan dapat ditemukan pada kurikulum lembaga pendidikan tersebut.

Tujuan Kurikuler

Tujuan kurikuler dalam kurikulum lebih mengarah khusus pada bidang studi. Hal tersebut dapat ditemukan di dalam Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP). Gabungannya akan memberi gambaran mengenai tujuan institusional.

Tujuan Instruksional

Tujuan instruksional merupakan poin yang diharapkan tercapai di kegiatan pembelajaran. Hal ini dibedakan menjadi dua, yaitu:

  • Tujuan Intruksional Umum. Seusai namanya, tujuan ini bersifat umum dan belum menggambarkan perilaku yang spesifik. Hal tersebut dapat ditemukan pada Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP).
  • Tujuan Instruksional Khusus. Tujuan ini merupakan bentuk penjabaran dari instruksional umum. Gunanya adalah untuk spesifikasi dan kemudahan dalam pengukuran tingkat pencapaian.

Fungsi Kurikulum dalam Tercapainya Tujuan Pendidikan

Fungsi Kurikulum

Kurikulum dalam berjalannya pendidikan merupakan bentuk usaha dalam menggapai tujuan di bidang tersebut sesuai dengan harapan suatu sekolah yang dirasa tepat dan penting untuk diraih. Lantas apa saja fungsinya?

Fungsi untuk Guru

Bagi para tenaga pendidik, kurikulum ini adalah layaknya pedoman dalam menjalankan tugasnya. Dalam mendidik para murid, guru menggunakannya sebagai panduan memberikan pengalaman belajar sesuai dengan tujuan awal.

Fungsi untuk Murid

Murid sebagai peserta didik pada sebuah lembaga pendidikan memerlukan kurikulum sebagai rancangan yang disusun untuk menjalankan pembelajaran nantinya. Hal ini diharapkan dapat disesuaikan dengan perkembangan siswa.

Fungsi untuk Orangtua Murid

Meskipun tidak secara langsung, orangtua perlu terlibat dalam kegiatan menuntut ilmu bagi anak-anaknya. Tidak hanya para guru dan murid, mereka juga perlu mengetahui berbagai hal seperti rancangan pembelajaran bagi para siswa misalnya.

Baca Juga: Jurusan Manajemen

Bantuan pengembangan murid dari orangtua dapat dilakukan melalui lembaga yang disebut BP3 dengan cara mengetahui serta memahami kurikulum dari sekolah. Pengetahuan ini nantinya akan membantu mereka menentukan perilaku suportif bagi pembelajaran anak.

Fungsi untuk Pembina dan Kepala Sekolah

Pembina dan kepala sekolah tentu juga memegang peran penting dalam setiap proses pembelajaran. Mereka berada pada posisi supervisor. Dalam menjalankan tugasnya tersebut, keberadaan kurikulum sangat penting.

Kurikulum bagi pembina dan kepala sekolah berfungsi sebagai pedoman dalam menjalankan posisi supervisinya saat menentukan rancangan situasi belajar. Tentunya diharapkan kegiatan belajar-mengajar menjadi lebih baik setelahnya.

Fungsi Untuk Masyarakat dan Perekrut Lulusan Sekolah Nantinya

Masyarakat yang tidak secara langsung terlibat dalam proses pendidikan juga dapat memegang peran. Kurikulum juga memiliki fungsi terkait pihak-pihak perekrut lulusan sekolah setelah menyelesaikan masa studi.

Kontribusi dapat berupa kemudahan dalam pelaksanaan program pembelajaran yang perlu bekerja sama dengan orangtua atau masyarakat. Selain itu, kritik dan saran membangun juga diperlukan untuk perbaikan kurikulum menuju lebih baik dan sesuai dengan lapangan kerja.

Fungsi untuk Sekolah pada Tingkat yang Lebih Tinggi

Level pendidikan di negara ini bisa di bilang ada empat, yaitu Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Perguruan Tinggi. Fungsinya dalam memengaruhi tingkatan lebih tinggi dari suatu jenjang pendidikan dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Pemeliharaan Keseimbangan dalam Pendidikan

Dapat dikatakan bahwa kurikulum suatu tingkat pendidikan akan memengaruhi rancangan pendidikan level di atasnya. Misalnya pada beberapa SMP di suatu wilayah telah diajarkan dasar-dasar komputer, maka SMA bisa meninjau perlu tidaknya materi tersebut diulang.

Dalam konteks kurikulum suatu jenjang memengaruhi tingkat di atasnya pun berlaku kebalikan. Misalnya pada suatu daerah di tingkat SMP tidak diajarkan ilmu tentang Microsoft Excel, maka SMA di wilayah yang sama perlu mempertimbangkan pengadaannya.

  • Penyiapan Tenaga Pendidik

Bagi suatu tingkat pendidikan yang fungsinya menyiapkan tenaga pengajar, sangat perlu mengetahui kurikulum pembelajaran level binaannya. Tujuannya tentu agar tercapai tujuan sesuai dengan cita-cita pada rencana belajar.

Misalnya jika ada sebuah sekolah untuk mempersiapkan para calon guru bagi tingkat Sekolah Dasar, maka peserta pembelajaran harus memahami kurikulum SD tersebut. Hal ini agar target pendidikan dapat diraih

  1. Fungsi untuk Sekolah dan Dinas Pendidikan

Fungsi kurikulum sekolah-sekolah serta dinas yang mengatur pendidikan adalah sebagai upaya penyeragaman ilmu dan pengetahuan dalam kelompok. Dalam hal ini tingkatan keduanya dianggap berbeda.

Tingkatan dari cakupan oleh sekolah lebih sempit daripada level dinas pendidikan. Namun, keduanya tetap peru melakukan penyeragaman dengan berbagai pertimbangan serta keputusan terbaik demi tercapainya keadilan dan kesejahteraan.

Fungsi untuk Integrasi

Kurikulum dalam suatu pendidikan memegang banyak peran penting bagi berbagai pihak. Salah satunya adalah dalam hal integrasi. Dalam memegang peran sebagai alat pendidikan, nantinya para peserta pembelajaran akan terbentuk menjadi pribadi yang berintegritas.

Fungsi untuk Penyesuaian

Seperti yang terjadi di Indonesia, kurikulum pendidikan berkali-kali mengalami perubahan dan pembaharuan. Seperti contohnya adalah KTSP, K13, hingga K13 revisi. Semua ini menggambarkan bahwa rancangan pembelajaran selalu beradaptasi untuk penyesuaian.

Fungsi untuk Diagnostik

Layaknya seorang dokter, kurikulum memiliki peran mendiagnosis. Apa yang didiagnosis? Jawabannya adalah potensi para peserta didik. Dalam pelaksanaannya, sebuah rancangan pendidikan diharapkan mampu memahami serta mengarahkan bakat siswa dan siswi.

Fungsi untuk Diferensiasi

Setiap daerah memiliki kebutuhan pembelajaran berbeda-beda. Masing-masing tingkat jenjang pendidikan pun mempunyai kurikulum tak sama. Oleh sebab itu, rencana pengajaran yang dibuat pun memiliki perbedaan.

Fungsi untuk Pemilihan

Umumnya dalam bidang pendidikan diberikan pilihan sesuai dengan minat dan bakat masing-masing individu. Maka, kurikulum yang baik hadir sebagai saran bagi peserta didik untuk menentukan program pembelajaran sesuai ketertarikannya.

Fungsi untuk Persiapan

Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa berbagai prinsip pembelajaran sebagai rancangan pendidikan bagi suatu lembaga memegang peranan penting. Salah satu fungsi kurikulum adalah dalam hal persiapan bagi peserta didik penimba ilmu.

Kurikulum sering disebut sebagai media pendidikan. Oleh sebab itu, isinya harus membantu para murid dalam mempersiapkan diri menuju jenjang menuntut ilmu yang lebih tinggi. Misalnya dari tingkat SD ke SMP. Ditambah juga kesiapan dalam bermasyarakat nantinya.

Perbandingan Kurikulum di Luar Negeri

Perbandingan Kurikulum di Luar Negeri

Setiap negara pastinya memiliki perbedaan masing masing, tidak terkecuali dalam hal kurikulum. Selain Indonesia, Anda juga bisa mengetahui beberapa kurikulum dari negera lain seperti:

Kurikulum Pendidikan di Korea Selatan

Salah satu kurikulum di luar negeri yang akan di bahas adalah milik Korea Selatan. Di tanah yang dikenal dengan kekayaan berupa ginseng ini, reformasi di bidang pendidikan seringkali dilakukan bahkan sejak tahun 1970-an.

Program pendidikan yang diusung Korea Selatan merupakan perpaduan pembelajaran teknik (di dalam kelas) serta pemanfaatan teknologi. Setiap guru bertugas dalam perencanaan pengajaran, diagnosis siswa, pembimbingan belajar, pengujian dan penilaian hasil studi.

Kurikulum Pendidikan di Malaysia

Negara tetangga dari Indonesia ini memiliki kurikulum dengan banyak materi tentang kesehatan lingkungan dalam pembelajarannya. Contohnya adalah pengetahuan mengenai polusi udara, air, tanah, dan lain sebagainya.

Selain mengenai lingkungan, rancangan belajar Malaysia juga memberi pemahaman mengenai kesehatan tubuh manusia. Ditambah juga pengetahuan mengenai penyakit-penyakit menular yang penjelasannya dilakukan dengan analogi-analogi sederhana.

Kurikulum Pendidikan di Mesir

Mesir juga patut dibahas ketika membicarakan mengenai kurikulum di luar negeri. Negara ini memiliki jenjang pendidikan dengan tiga tingkatan: pendidikan dasar (tahap primer dan persiapan), pendidikan menengah (selama tiga tahun), dan pasca pendidikan.

Pendidikan dasar di Mesir terdiri atas TK selama dua tahun dan setelahnya adalah Sekolah Dasar selama enam tahun. Ditambah pula dengan tahap persiapan yang memakan waktu tiga tahun. Sekolah menengah dijalani dengan durasi tiga tahun.

Kurikulum Pendidikan di Finlandia

Finlandia terkenal sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik. Kurikulum yang dianut mempunyai prinsip Non-discrimination and equal treatment. Artinya dalam proses belajar-mengajar tidak ada diskriminasi di antara peserta didik dan semuanya diperlakukan sama.

Di Finlandia, semua murid memiliki hak setara dalam mengenyam pendidikan. Siswa tidak diberikan penilaian atau assessment. Di negara ini juga tidak diberlakukan pelabelan sekolah favorit atau bukan sehingga pelajar dapat memilih lembaga pendidikan di mana saja.

Kurikulum Pendidikan di Amerika Serikat

Dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat, kurikulum di tentukan oleh para negara bagian (state) dan masyarakat lokal. Dengan begitu, isinya berbeda-beda sesuai dengan keadaan masyarakat di suatu daerah tersebut. Artinya kurikulum tidak berskala nasional.

Karena Amerika Serikat terdiri dari berbagai negara bagian, yang berhak menentukan isi atau program kurikulum adalah organisasi sekolah setingkat lokal. Tentu saja penentuan ini tidak boleh menyimpang dari rambu-rambu atau petunjuk dari state tersebut.

Kurikulum Pendidikan di Brazil

Di Brazil, sistem pendidikannya meliputi pendidikan dasar yang dibagi ke dalam dua tahap. Keduanya adalah Ensino Fundamenta I (setara kelas 1 sampai 4) serta Ensino Fundamental II (setara kelas 5 sampai 8).

Mengenai jam belajar siswa Brazil umumnya lebih singkat daripada para murid di Indonesia. Struktur kurikulum pendidikan dasar di negara ini memiliki kesamaan dari kelas satu sampai delapan dalam hal mata pelajaran. Perbedaan terletak pada durasi belajar per minggu.

Kurikulum Pendidikan di Jepang

Jika membicarakan kurikulum di luar negeri, rasanya Jepang tidak akan luput untuk dijadikan topik perbincangan. Pada tingkatan taman kanak-kanak, pengajaran lebih tepat disebut sebagai pendidikan karena di dalamnya para siswa diberi pelatihan kebiasaan.

Baca Juga: Cara Mendapatkan Beasiswa Kuliah Gratis

Pada tingkat SD, karakteristik kurikulum Jepang tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Hanya saja pada kelas satu dan dua terdapat pelajaran kebiasaan hidup. Tujuan dari pembelajaran tersebut adalah untuk membentuk kepribadian dan pola hidup anak yang mandiri

Kurikulum Lembaga Pendidikan Formal

Lembaga pertama yang membutuhkan kurikulum adalah pendidkan formal. UU No. 20 (2003:72) menyebut untuk jalur normalnya terdiri mulai dari prasekolah, kemudian sekolah dasar yaitu SD/SMP, menengah yakni SMA/SMK dan perguruan tinggi.

Bagaimana Kurikulum yang Dijalankan?

Sistem pendidikan nasional juga menyatakan bahwa setiap warga negara wajib menempuh sekolah formal minimal sembilan tahun yaitu hingga jenjang SMP. Sebab, lembaga ini berorientasi pada pengembangan utuh manusia Indonesia.

Desain kurikulum lembaga pendidikan formal tertuang dalam konsep dan telah terstruktur dengan baik secara horizontal maupun vertikal untuk peserta didik yang homogen. Manajemennya dirancang sedemikian rupa bersama sistem lain agar mencapai tujuan jangka panjang institusi.

Ciri-Ciri Lembaga Pendidikan Formal

Lembaga formal lebih populer dengan sebutan pendidikan persekolahan. Tingkatan jenjangnya juga telah baku, misalnya SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Cerminan karakteristiknya sendiri sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Dapat ditemui beberapa ciri menonjol pada jenis ini sebagaimana berikut:

  • Pendidikan formal menjalankan proses belajar mengajar dalam ruang kelas yang telah disediakan oleh lembaga tersebut.
  • Lembaga secara resmi menetapkan seseorang sebagai Guru.
  • Administrasi dan manajemen berlangsung secara jelas.
  • Terdapat batas-batas usia tertentu sesuai dengan jenjang pendidikan.
  • Memuat kurikulum formal.
  • Kegiatan belajar dimulai dari perencanaan, pemilihan metode, media, hingga dilakukan evaluasi pembelajaran.
  • Terdapat batasan waktu untuk studi.
  • Siswa yang telah lulus menempuh pendidikan formal akan diberi ijazah.
  • Memungkinkan untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi lagi.

Contoh Lembaga Penyelenggaraan Pendidikan Formal

Mayoritas masyarakat Indonesia adalah seorang muslim sehingga pendidikan formal di Indonesia terbagi menjadi umum dan lembaga Islam. Contoh-contoh penyelenggaranya mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi yaitu:

  • Taman Kanak-kanak (TK).
  • Raudatul Athfal (RA).
  • Sekolah Dasar (SD).
  • Madrasah Ibtidaiyah (MI).
  • Sekolah Menengah Pertama (SMP).
  • Madrasah Tsanawiyah (MTs).
  • Sekolah Menengah Atas (SMA).
  • Madrasah Aliyah (MA).
  • Sekolah Menengah Kejuruan SMK).
  • Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).
  • Perguruan Tinggi, meliputi; Universitas, Institut, Akademi, dan Politeknik.

Peran Pendidikan Formal dalam Kurikulum

Pendidikan formal merupakan lembaga yang memiliki susunan organisasi terstruktur dan merencanakan segala kegiatannya dengan baik. Tugas sekolah adalah mendidik, mengajar serta memperbaiki tingkah laku peserta didik.

Disamping itu, dalam perkembangan kepribadian siswa, melalui kurikulum perannya antara lain:

  • Mengajari bagaimana bergaul yang baik antara peserta didik dengan teman sebaya, pengajar kepada murid, dan siswa bersama orang selain guru atau staff.
  • Mendidik siswa agar dapat belajar cara berperilaku disiplin dengan mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah.
  • Membekali peserta didik persiapan menjadi bagian dari masyarakat yang berguna bagi agama mereka, bangsa dan Negara.

Pelaksanaan Kurikulum Dalam Lembaga Formal

Pelaksanaan kurikulum lembaga formal terbagi kedalam dua tingkatan, yaitu pelaksanaan tingkat sekolah diperankan kepala dan kelas dipimpin oleh guru. Meskipun tugas keduanya dibedakan namun proses pelaksanaan administrasinya senantiasa bergandengan.

Tanggung jawab pelaksanaan tingkat sekolah dilimpahkan kepada kepala sehingga bertanggung jawab untuk menjalankan kurikulum di lingkungan yang dipimpinnya. Selain itu juga berkewajiban menyusun rencana tahunan, membuat statistik, memimpin rapat dan lain sebagainya.

Tugas guru di tingkat kelas telah diatur secara administrasi sehingga tanggung jawabnya hanya menjamin kelancaran pelaksanaan kurikulum. Pembagiannya dilakukan secara musyawarah dpimpin oleh kepala sekolah. Hal ini terbagi dalam tiga jenis kegiatan yaitu:

  • Membagi tugas-tugas mengajar.
  • Membagi tugas untuk pembina ekstrakurikuler.
  • Memabagi tugas bimbel atau bimbingan belajar

Kurikulum Lembaga Pendidikan Nonformal

Lembaga kedua yang membutuhkan kurikulum adalah pendidikan nonformal. UU No. 20 (2003:72) menyebut bahwa ini merupakan jalur lain diluar formal. Namun, pelaksanaannya juga masih terstruktur dan berjenjang.

Mengenal Lembaga Non Formal

Lembaga nonformal tersedia bagi warga Negara yang jenjang tertentu pendidikan formalnya belum terselesaikan atau bahkan belum sempat mengikutinya sama sekali.

Pemenuhan kebutuhan akan keterampilan seseorang untuk mendapat pekerjaan impian dan banyaknya angkatan muda putus sekolah, menjadi faktor pendorong jenis ini semakin berkembang.

Baca Juga: Biaya Kuliah Jurusan Arsitektur

Desain kurikulum pendidikan nonformal hampir sama dengan lembaga formal, namun muatannya hanya secara horizontal pada peserta didik yang bersifat heterogen. Sedangkan manajemennya juga dirancang bersama sistem lain tetapi untuk mencapai tujuan jangka pendek atau sesuai kebutuhan saja.

Ciri-Ciri Pendidikan Nonformal

Penyelenggaraan lembaga nonformal bagi masyarakat difungsikan sebagai penambah atau pelengkap bahkan pengganti pendidikan formal agar pendidikan sepanjang hayat terwujud.

Selain itu juga dapat dikatakan untuk mengembangkan potensi peserta didik dari berbagai sisi seperti kecakapan hidup, pelatihan kerja, dan lain-lain. Ciri-cirinya adalah:

  • Pendidikan dilangsungkan dalam lingkup masyarakat.
  • Guru dihadirkan sebagai fasilitator saat diperlukan saja.
  • Usia peserta didik tidak dibatasi.
  • Mempelajari materi praktis sesuai dengan kebutuhan pragmatis.
  • Waktu pendidikan relatif singkat namun pemberian materinya cukup padat.
  • Manajemen yang dijalankan terintegrasi serta terarah.
  • Tujuan pendidikan cenderung untuk membekali pesertanya dengan keterampilan khusus sebagai persiapan diri dalam dunia kerja.

Lembaga Penyelenggaraan Pendidikan Nonformal

Program-progam nonformal juga ada yang disetarakan dengan pendidikan formal. Misalnya seperti kejar paket A, B, C serta organisasi masayarakat contohnya pramuka, keagamaan, sosial, olahraga, kesenian dan lain-lain. Berikut lembaga-lembaga penyelenggara jenis ini:

  • Kelompok bermain (KB).
  • Taman penitipan anak (TPA).
  • Lembaga khusus.
  • Lembaga pelatihan.
  • Kelompok belajar.
  • Pusat kegiatan belajar masyarakat.
  • Majelis taklim.
  • Lembaga Ketrampilan dan Pelatihan “AMAL-MAS”.

Kurikulum Lembaga Pendidikan Informal

Lembaga ketiga yang membutuhkan kurikulum adalah pendidikan informal. UU No. 20 (2003:72) menyebutkan bahwa jalur ini berlangsung dalam keluarga dan lingkungan. Meskipun begitu penanganannya memang belum terstruktur dengan baik seperti jenis formal.

Desain Kurikulum

Pada dasarnya keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama karena memang lingkungan awal yang dikenal oleh bayi. Pembinaan dari anggota lain dapat dikatakn sebagai peletak pondasi untuk pengembangan berikutnya.

Desain kurikulum lembaga pendidikan informal sendiri tidak tertuang secara konseptual bagi peserta didik heterogen. Menejemennya juga dilangsungkan tanpa rancangan sehingga masing-masing sistem lain berjalan sendiri-sendiri.

Ciri-Ciri Pendidikan Informal

Selain identik dengan lingkup keluarga dan masyarakat, pendidikan informal juga dapat dikenali saat Anda memperhatikan karakteristiknya. Adapun ciri-cirinya sendiri yaitu:

  • Berlangsung tanpa mengenal tempat dan waktu secara kontinue dan terus-menerus.
  • Posisi guru diperankan oleh orang tua.
  • Manajemen yanag digunakan tidak jelas.

Peran Pendidikan Informal

Berdasarkan penjelasan diatas lembaga informal juga memiliki fungsi pendidikan yaitu untuk membentuk karakter dan kepribadian anak. Sedangkan peranannya sendiri adalah sebagai berikut;

  • Membantu anak dalam meningkatkan hasil belajar, baik dari pendidikan formal maupun nonformal.
  • Memotivasi sekaligus mengontrol anak supaya belajar dengan lebih giat.
  • Mengembangkan pertumbuhan fisik dan mental anak, baik sebagai anggota keluarga maupun saat bermasyarakat di lingkungan.
  • Membentuk kepribadian anak menggunakan metode yang sesuai dengan kemampuan, perkembangan dan tentunya kebutuhan anak sendiri.
  • Memotivasi anak hingga potensi atau bakatnya mampu dikembangkan.
  • Membantu melatih kemandirian anak sehingga mampu memecahkan masalah yang dihadapi secara mandiri.

Manfaat Kurikulum untuk Guru

Dengan adanya kurikulum, guru pun akan semakin dimudahkan dalam melakukan kegiatan belajar mengajar. Namun selain itu juga terdapat keuntungan lainnya seperti:

Pedoman dalam Proses Belajar

Dalam setiap kegiatan belajar mengajar tentu seorang guru selalu membutuhkan sebuah acuan bahan ajar agar prosesnya menjadi lebih tertata dan mudah. Untuk itu, pada masing-masing jenjang pendidikan di Indonesia memiliki kurikulum tersendiri.

Bagi seorang guru kurikulum tentu akan dapat menjadi sebuah pedoman dalam merancang, melaksanakan, dan menilai kegiatan belajar mengajar. Hal tersebut mempermudah mereka saat sedang menjalankan tugas sebagaimana mestinya.

Memberikan Pemahaman

Dalam proses belajar mengajar kurikulum memiliki sebuah kedudukan yang sangat penting. Karena hal tersebut dapat membantu para tenaga pendidik dalam mendidik siswanya sehingga menjadi lebih mudah dan efisien.

Dengan adanya kurikulum maka guru akan mendapat sebuah pengertian serta pemahaman mengenai bagaimana mereka akan menjalankan tugasnya sebagai sosok pengajar yang baik di kelas. Selain itu juga membuat proses belajar berjalan dengan kondusif.

Mendorong Guru Menjadi Lebih Kreatif

Seorang guru tentu harus selalu kreatif dalam mengajar siswanya. Karena memang terkadang sifat seorang siswa itu gampang bosan sehingga membutuhkan bentuk pembelajaran yang berbeda pada setiap momen tertentu.

Untuk itu, kurikulum hadir dengan harapan dapat membantu guru dalam usahanya mendidik siswa dengan cara sekreatif mungkin dalam proses penyelenggaraan program pendidikan. Kemudian membuat siswa betah ketika sedang belajar.

Memperbaiki Situasi Balajar

Ketika situasi belajar sudah tidak tertata dan kondusif tentu hal tersebut akan terasa kurang nyaman bagi semua warga sekolah. Untuk dapat melakukan proses pembelajaran yang baik mereka butuh sebuah pedoman agar semua menjadi terstruktur.

Maka dari itu, sejak dulu kurikulum sekolah selalu digunakan pada setiap jenjang pendidikan. Karena memang hal tersebut dapat membantu semua warga sekolah terutama guru dalam memperbaiki situasi belajar menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Menunjang Sistem Pengajaran

Dalam belajar tentu seorang siswa dapat memahami materi dengan baik atau tidak terkadang tergantung pada sebuah sistem pengajaran yang diterapkan oleh guru. Maka dari itu, setiap sekolah harus memiliki sebuah pedoman untuk menjalankannya.

Dengan adanya kurikulum maka guru dapat terbantu dalam melaksanakan sistem pengajaran agar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hal tersebut tentu juga akan sangat berpengaruh pada siswa yang sedang melakukan proses belajar.

Mengevaluasi Hasil Belajar

Dalam setiap proses belajar mengajar tentu ada sebuah hal yang selalu diharapkan. Untuk itu, seorang guru harus mampu mengetahui bagaimana model pembelajaran untuk siswanya agar mereka dapat memperoleh hasil terbaik.

Nah untuk menemukan sebuah metode belajar yang cocok bagi semua siswa, kurilukum akan membantu guru dalam mengevaluasi hasil belajar. Jika dirasa kurang baik, maka kemungkinan ada sesuatu yang perlu diperbaiki pada bagian tertentu.

Manfaat Kurikulum untuk Siswa

Selain guru, siswa pun juga akan dimudahkan dengan adanya kurikulum ini. Dengan begitu, akan mendapat beberapa manfaat seperti:

Menjadi Sarana untuk Mengukur Kemampuan Siswa

Setiap siswa tentu mempunyai target tersendiri ketika mereka melaksanakan program belajar. Masing-masing dari mereka akan mendapatkan sesuai dengan usaha dan kemampuan pribadi, tetapi dalam hal ini sekolah juga berperan penting.

Dalam hal ini kurikulum mempunyai peran cukup penting yaitu sebagai sarana untuk mengukur kemampuan seorang siswa. Dimana hal itu berkaitan dengan pengejaran taget yang membuat peserta didik bisa memahami berbagai materi secara mudah dalam proses pembelajaran.

Mendapat Pengalaman Baru

Program pendidikan yang terstruktur tentu menjadi keunggulan tersendiri bagi sebuah sekolah. Hal tersebut juga akan memberikan efek baik kepada guru dan siswa, yang mana mereka dapat memperoleh hasil belajar secara maksimal.

Selain itu, dengan adanya kurikulum baru siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman baru di masa mendatang yang kemudian dapat dikembangkan sesuai kebutuhan. Maka dari itu, proses pelaksanaannya harus dilakukan sebaik mungkin.

Mempermudah Siswa dalam Memetakan Jadwal

Jika jadwal pelajaran tidak tersusun rapi, maka tentu akan membuat kegiatan sehari-hari menjadi kurang efektif sehingga dapat terjadi bentrok satu sama lain. Maka dari itu, setiap sekolah tentu akan mengaturnya dengan baik.

Dengan adanya kurikulum maka siswa akan dipermudah dalam mengatur jadwal pelajaran sesuai dengan apa yang sudah ditentukan oleh sekolah. Hal tersebut akan membuat peserta didik bisa membagi waktu untuk mengerjakan pekerjaan mereka.

Manfaat Kurikulum untuk Sekolah

Untuk sekolah pun kurikulum juga memiliki kegunaan seperti:

Alat untuk Mencapai Tujuan Program Pendidikan

Setiap sekolah tentu selalu berusaha bagaimana caranya agar mampu mencapai tujuan dari sebuah program pendidikan. Untuk itu perlu adanya sebuah alat yang digunakan agar cita-cita atau keinginan tersebut dapat terwujud.

Dalam sebuah proses belajar mengajar ada sebuah kurikulum. Dimana hal tersebut dapat digunakan sekolah sebagai alat untuk mencapai tujuan program pendidikan yang selama ini telah dirancang oleh berbagai pihak.

Menjadikan Sekolah Semakin Berkembang

Setiap jenjang pendidikan di Indonesia memiliki sebuah kurikulum yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Untuk itu sekolah tinggal melaksanakan programnya kepada siswa ketika proses belajar mengajar.

Akan tetapi saat pelaksanaan program tersebut sekolah bisa mendapat peluang untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan masing-masing lembaga. Maka dari itu biasanya hal tersebut dapat dilakukan sesuai keinginan.

Mendorong Sekolah Menyukseskan Penyelenggaraan Pendidikan

Dari setiap lembaga sekolah tentu mereka ingin proses belajar mengajar antara guru dan siswa dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien. Untuk itu agar hal tersebut terwujud maka muncul yang namanya kurikulum.

Dengan adanya kurikulum sekolah dapat terdorong untuk menyukseskan program penyelenggaraan pendidikan yang sudah dirancang sesuai dengan kebutuhan masing-masing jenjang. Selain itu, juga proses belajar menjadi aman terkendali.

Manfaat Kurikulum Bagi Orang Tua dan Masyarakat

Sistem ini juga memberikan manfaat pada khalayak ramai, hal pertama yang bisa merasakannya yaitu orang tua. Berikut ulasannya:

Gambaran Tentang Bagaimana Anak Belajar

Dalam proses penyelenggaraan program pendidikan orang tua berperan cukup penting karena mereka merupakan sosok yang harus bersinergi dengan pihak sekolah. Baik dalam pembentukan karakter ataupun pembelajaran.

Dengan adanya kurikulum orang tua dapat mengevaluasi anak maupun sekolah dalam proses penerapan bentuk pembelajaran. Selain itu, ia juga dapat mengetahui apa saja yang akan diperoleh dan dipelajari oleh peserta didik.

Acuan dalam Membimbing Anak Belajar

Masyarakat sebagai orang tua tentu selalu membantu proses pembentukan karakter anak ketika berada di rumah. Tidak jarang pula sebagian dari mereka juga mendampingi putra-putrinya untuk mengerjakan tugas.

Dengan adanya kurikulum, maka hal tersebut akan dapat dijadikan acuan orang tua dalam membimbing proses belajar anak sehingga mengetahui apa saja yang diperolehnya dari sekolah. Selain itu juga bisa mempermudah kegiatan pembelajaran.

Membuat Masyarakat Ikut Membangun Pendidikan

Dalam pelaksanaan sebuah program pendidikan terkadang ada sesuatu yang tidak sesuai harapan. Maka dari itu sebagai masyarakat dan juga memiliki peran penting dalam pendidikan Anda perlu memberikan kritik dan saran.

Baca Juga: Pengertian Lingkungan Menurut Para Ahli

Hal tersebut dilakukan melalui adanya kurikulum, dimana terkadang memang dengan revisi terbaru sebuah program pendidikan dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tentu kritik dan saran yang diberikan harus yang dapat membangun jangan malah menjatuhkan.

Demikian pembahasan terkait pengertian kurikulum, semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar