Pengertian Moral

Pengertian Moral: Arti, Fungsi, Tujuan dan Wujud Moral

Diposting pada

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Sepertinya peribahasa tersebut sudah tidak asing lagi di telinga. Terlebih ketika menginjak pendidikan sekolah dasar, tentu materi tentang sastra sederhana sering dijumpai pada buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia. Tahukan Anda, peribahasa tersebut ternyata juga memiliki kaitan erat dengan moral? Jika diperhatikan secara lebih mendalam, arti dari istilah ini adalah perilaku bawahan yang mencontoh atasannya. Apabila perlakuan ini tergolong ke dalam artian positif tentu akan berdampak baik begitu juga berlaku sebaliknya. Simak penjelasan lebih lanjut mengenai  pengertian moral: arti, fungsi, tujuan dan wujud Moral.

Pengertian Moral Menurut Para Ahli

Pengertian Moral Menurut Para Ahli

Berbicara soal moral tentu akan merujuk pada prinsip-prinsip tertentu yang dimiliki oleh setiap orang. Bahkan jika dijabarkan menurut para ahli, istilah tersebut bisa melahirkan pemahaman berbeda, seperti:

Menurut Elizabeth Bergner Hurlock ( 1990 )

Seorang tokok psikologi dari India bernama Elizabeth Bergner Hurlock menyatakan bahwa moral memiliki kaitan dengan kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan tersebut kemudian membentuk sebuah tatanan yang terstruktur untuk digunakan dalam menjalin interaksi.

Selain itu, menurut Hurlock pengertian moral adalah juga menyangkut kebudayaan beserta adat istiadat yang sedang bersemayam di tengah-tengah masyarakat. Tentunya setiap daerah memiliki tingkatan berbeda-beda, tergantung kondisi dari wilayah tersebut beserta kebiasaan penduduk setiap harinya.

Baca Juga: Pengertian Profesi

Adanya kebiasaan tersebut dipicu oleh berdirinya suatu peraturan bersifat mengikat dan fundamental sehingga saat dipatuhi secara terus menerus serta dilakukan setiap hari. Hal tersebut dapat melahirkan timbulnya kebudayaan atau tradisi beserta adat istiadat yang berbeda pada tiap daerah.

Menurut Maria J. Wantah ( 2005 )

Maria J. Wantah merupakan seorang ahli pendidikan pada anak usia dini, salah satu tokoh besar di Indonesia tersebut menyatakan bahwa moral adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam hal menentukan pilihan atau membuat sebuah keputusan akan kejadian tertentu dalam dirinya.

Bagi Maria, seorang manusia dibekali oleh akal pikiran beserta nalar yang sehat sejak dalam kandungan. Bekal tersebutlah kemudian dijadikan oleh mereka dalam menentukan sebuah keputusan mengenai suatu hal dan tentu saja didasarkan atas berbagai pertimbangan-pertimbangan serta faktor tertentu.

Berdasarkan faktor dan kemampuan tersebut, manusia bisa menentukan suatu keputusan benar atau salah serta pertimbangan atas baik ataupun buruknya perilaku masyarakat. Hingga kemudian hal ini melekat pada setiap individu yang berbeda-beda di tiap daerah beserta wilayah.

Menurut Russel C. Swanburg ( 1928 )

Seorang penulis buku ternama asal Amerika bernama Russel Chester Swansburg memberikan gagasannya kepada pengertian terkait moralitas. Menurutnya, pengertian moral adalah suatu ide maupun pemikiran yang didasari atas keinginan, kebutuhan beserta tuntutan di dalam lingkup tertentu.

Keberadaan ide, gagasan maupun pemikiran tersebut didorong oleh sebuah motivasi dari dalam diri setiap individu. Dengan begitu, akan menimbulkan dorongan yang mampu membangkitkan semangat untuk bekerja atau melakukan aktivitas, tentu saja didasari oleh pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Aktivitas yang dilakukan oleh seseorang tidak hanya didasarkan pada ide atau gagasan sehingga melahirkan motivasi, akan tetapi juga pertimbangan dari berbagai aspek, seperti pandangan masyarakat. Dengan kata lain, Swanburg mengatakan bahwa moral didasari dari motivasi untuk melakukan perilaku.

Menurut Franz Magnis – Suseno ( 1979 )

Franz Magnis Suseno merupakan seorang filusuf terkemuka yang berasal dari Polandia. Pemikir hebat tersebut turut andil dalam proses pendefinisian mengenai kemoralan. Bahkan beberapa teorinya selalu dinilai kritis serta mampu melahirkan pemikiran-pemikiran baru beserta dengan pemahaman mendalam.

Menurut Franz (1979) dalam bukunya yang berjudul “Basic Ethics Main Issues of Moral Philosophy”. Menyebutkan bahwa pengertian moral adalah tidak hanya menyangkut pemikiran seseorang dengan lingkup individu saja, akan tetapi juga menyinggung perihal perilaku orang tersebut dalam melakukan interaksi di sekitarnya.

Dalam buku tersebut juga disebutkan sebuah istilah “relativitas kemoralan” dimana moral dibagi menjadi dua macam, yakni relavitisme cultural dimana menyangkut norma-norma di dalam berbagai kebudayaan masyarakat dan satu lagi deskriptif yang menyinggung pluralisme norma sosial dengan lingkup dunia.

Menurut Immanuel Kant ( 1724 – 1804 )

Jerman memang dikenal sebagai negara yang kerap melahirkan pemikir-pemikir hebat, salah satunya adalah Immanuel Kant. Tokoh filsuf tersebut terkenal dengan teori kemoralannya dan sebuah istilah bernama imperative categories dimana memiliki makna bahwa moral manusia didasarkan atas pemikiran.

Pemikiran tersebut selalu diikuti oleh faktor-faktor yang bersifat rasional atau dapat diterima oleh akal dan logika, sehingga apabila seseorang melakukan suatu perbuatan lalu tidak didasari oleh pemikiran-pemikiran rasionalitas. Maka hal tersebut tidak termasuk ke dalam imperative categories atau amoral.

Kant juga menyebutkan bahwa manusia melakukan suatu perbuatan selalu didasari atas argument yang telah melalui proses kualifikasi oleh pemikirannya sendiri. Hal ini berhubungan dengan prinsip moralitas, yaitu meniadakan kesan skeptis pada diri seseorang dan akan menjadi pedang kuat.

Maria Assumta

Maria Assumta tentu sudah tidak asing lagi di telinga beberapa masyarakat Indonesia. Pasalnya nama tersebut memang sering dipakai untuk menamai berbagai tempat, seperti lokasi peribadatan (gereja) dan juga gedung pendidikan (sekolah). Hal ini dikarenakan beliau merupakan salah satu pemikir hebat.

Maria menyumbangkan idenya dalam dunia moralitas dan menyatakan bahwa, moral adalah suatu aturan atau rule yang menyangkut segala bentuk tindakan atau sikap (attitude) dan perilaku manusia (human behavior), dalam menjalani aktivitas serta interaksinya di dalam lingkup masyarakat luas.

Peraturan (rule) tersebut bersifat mengikat serta menjadi sebuah kewajiban yang harus dipatuhi oleh semua orang yang terikat dengannya. Maria juga menyebutkan jika seseorang melakukan pelanggaran, maka akan memperoleh konsekuensi tertentu dan hal tersebut bergantung pada wilayah maupun tradisi.

Alexander Sonny Keraf (1991)

Sonny Keraf merupakan salah satu tokoh filsafat di Indonesia sekaligus menjabat sebagai Menteri Negara Lingkingan Hidup pada Kabinet Persatuan Nasional. Pemikir hebat ini turut andil dalam menyampaikan gagasannya mengenai konsep etika dan moralitas dengan ruang lingkup yang luas.

Definisi moral menurut Sonny Keraf (1991) adalah suatu sistem yang terdapat dalam tatanan masyarakat dan bersifat mengatur. Akhasil, agar manusia di suatu wilayah atau daerah tersebut memiliki tata tertib mendasar sehingga segala bentuk aktivitas dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Selain itu, Sonny juga menyebutkan bahwa moralitas merupakan salah satu alat untuk menilai dan mengukur kadar baik maupun buruknya perilaku seseorang, entah sebagai anggota masyarakat (member of society) ataupun individu yang memiliki kedudukan atau posisi tertentu dalam kehidupannya.

Arti Moral Secara Umum

Arti Moral Secara Umum

Pada awalnya moral lahir atas dasar pemikiran manusia dalam mengkritisi suatu perencanaan ataupun tindakan hingga. Kemudian dari buah pikiran tersebut seseorang dapat melakukan pengambilan keputusan mengenai hal tertentu, ini didasarkan pada berbagai pertimbangan-pertimbangan.

Berdasarkan pertimbangan ini seseorang akan melakukan suatu tindakan yang terikat dengan peraturan (rule) tertentu. Pengadaan aturan berbeda di setiap daerah. Hingga kemudian perilaku tersebut menjadi alat untuk menilai baik atau buruknya tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Lantas, apa itu moral?

Dapat disimpulkan bahwa secara umum arti moral adalah, sebuah perilaku atau tindakan seseorang yang lahir dari buah pemikiran dan bersifat terikat pada norma-norma ataupun peraturan (rule) tertentu. Hingga melahirkan penilaian dengan sudut pandang masyarakat terhadap aktivitas tersebut.

Tujuan Moral Bagi Kehidupan Manusia

Keberadaan moral di tengah masyarakat tentu tidak serta merta hanya menjadi objek semata, namun juga didasari oleh berbagai tujuan tertentu yang bersifat luhur dan bernilai terpuji, seperti berikut:

Mewujudkan Harkat dan Martabat Perseorangan ataupun Masyarakat Luas

Setiap manusia dibekali dengan kemuliaan bahkan sejak ditiupkannya ruh ke dalam tubuhnya. Hal tersebut merupakan anugerah atau bisa disebut sebagai fitrah seseorang. Namun, seiring berjalannya waktu, terkadang muncul faktor-faktor tertentu yang dapat mengubah sifat alami individu.

Perubahan tersebut memiliki dua kemungkinan, yaitu berdampak positif atau negatif. Sebagai makhluk berakal, tentu setiap individu selalu menginginkan perubahan-perubahan yang bersifat baik dan hal tersebut dapat terwujud melalui penerapan moral dalam setiap tindakan dan tingkah laku.

Keberadaan moral dapat mewujudkan harkat (derajat) dan mengingkatka martabat (harga diri) seseorang di hadapan khalayak ramai. Hal tersebut bahkan juga berlaku bagi masyarakat luas, sehingga penilaian baik atau buruk tidak hanya sebatas pada individu saja, akan tetapi juga mencangkup kelompok.

Membentuk Kesadaran Positif pada Diri Manusia

Manusia memiliki pola pikir yang berbeda-beda. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti lingkungan sosial, interaksi kepada sesama, pendidikan, pengalaman pribadi dan orang lain, pekerjaan, tuntutan pribadi maupun masyarakat, peraturan tertentu, serta ruang lingkup pemahaman.

Jika diperhatikan secara lebih seksama, seluruh faktor ini akan mengerucut pada kehadiran moral pada diri manusia. Semakin besar kontribusinya ketika terjun ke dalam pengaruh tersebut, maka akan melahirkan kesadaran yang lebih kompleks dan mendalam bahkan mampu mencapai titik kritis.

Ketika seseorang sudah mampu menyadari konsekuensi dari tindakan yang akan dilakukan, maka kemudian dapat menimbulkan pemikiran-pemikiran rasional. Dengan begitu, akan muncullah penilaian akan baik atau tidaknya perbuatan tersebut sehingga manusia bisa melakukan kontrol pada dirinya.

Menimbulkan Motivasi Diri untuk Mematuhi Aturan yang Berlaku

Moral dapat berupa peraturan dengan sifat mengikat setiap individu di dalamnya. Meskipun hal tersebut terkesan sedikit memaksa, namun tanpa disadari aturan-aturan ini justru mampu melahirkan motivasi tidak kasat mata untuk selalu melakukan perilaku baik dan disetujui oleh norma yang berlaku.

Pada awalnya seseorang akan merasa terpaksa untuk mengikuti setiap peraturan yang mengikat dirinya. Namun, lambat laun pemikiran mengenai keharusan agar mematuhi aturan tersebut akan muncul dan melahirkan keinginan positif, yaitu mengikuti peraturan-peraturan di tengah masyarakat.

Baik peraturan tertulis ataupun tidak, keduanya memiliki potensi sama perihal membentuk seseorang menjadi pribadi baik dan memiliki etika dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Dengan begitu, tatanan sosial dapat tercipta serta membuat masyarakat menjadi susunan kelompok yang teratur.

Melahirkan Motivasi Diri untuk Berbuat Kebajikan

Setiap manusia dibekali oleh kecenderungan untuk berbuat baik dan menghindari keburukan. Hal tersebut merupakan fitrah yang diberikan oleh Tuhan, bahkan sejak mereka berada dalam kandungan. Maka tidak heran jika terkadang muncul rasa prihatin ketika melihat musibah pada diri orang lain.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, manusia sering dihadapkan pada fenomena menyimpang. Tidak jarang di antara mereka pun turut terbawa arus negatif sehingga dewasa ini mulai bermunculan kasus tindak pidana hingga kriminalitas yang dapat memberikan dampak kurang baik bagi masyarakat.

Oleh sebab itu, salah satu tujuan moral adalah memberikan seseorang pemahaman mengenai baik dan buruknya suatu tindakan sehingga individu dapat memilah sebelum melakukan perbuatan. Jika hal tersebut dilakukan secara menyeluruh, maka dapat melahirkan motivasi tersendiri untuk berbuat baik.

Menjaga Hubungan Sosial agar Tetap Harmonis

Sebagian besar individu di tengah masyarakat tentu sudah tidak asing lagi dengan teori Aristoteles yang menyatakan bahwa manusia merupakan mahluk sosial. Artinya, setiap orang telah dikodratkan untuk menjalani hidup bermasyarakat dan melakukan interaksi satu sama lain.

Di dalam proses menjalani kehidupan, seseorang tentu tidak akan jauh dari hambatan dan berbagai rintangan. Oleh karena itu, berdasarkan teori Aristoteles tersebut, maka manusia cenderung meminta bantuan kepada orang lain untuk membantunya menyelesaikan hal itu atau sekedar memberinya soulsi.

Keberadaan moral di tengah masyarakat dapat mengatur hubungan antar individu tersebut agar tetap berjalan sesuai dengan norma yang berlaku. Ketika kehidupan sudah berjalan dengan seimbang, maka hubungan sosial dapat terjalin secara harmonis dan terhindar dari penyimpangan serta bentrokan.

Menciptakan Perasaan Bahagia Secara Lahir dan Batin

Pada dasarnya, manusia memiliki sifat cenderung patuh terhadap sesuatu yang diyakini olehnya. Setiap kepatuhan akan menghasilkan risiko apabila tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya. Oleh sebab itu, ketika seseorang melakukan pelanggaran, maka akan muncul perasaan bersalah sekaligus menyesal.

Perasaan-perasaan tersebut secara naluriah terdapat dalam diri setiap orang. Hingga tidak jarang menimbulkan konflik batin yang berkepanjangan. Apabila hal tersebut dibiarkan, maka lambat laun justru bisa menjadi boomerang terhadap dirinya sendiri, bahkan dapat menciptakan ketidak percayaan diri.

Oleh sebab itu, diciptakanlah moral di tengah masyarakat untuk memberikan kesadaran dan juga pemahaman kepada setiap individu agar mampu mematuhi norma sehingga seseseorang dapat merasa lega serta tidak dilingkupi ketakutan maupun rasa berdosa akan penyimpangan yang mereka lakukan.

Memberikan Pandangan dan Wawasan Mengenai Masa Depan

Selain akal dan pikiran, manusia juga dibekali oleh insting. Hal tersebut memiliki keterkiatan dengan naluri beserta nurani dalam dirinya. Melalui kelebihan tersebut, seseorang bisa melakukan prediksi terhadap suatu tindakan yang mampu melahirkan kemungkinan-kemungkinan tertentu.

Dalam hal ini, moral memiliki andil cukup besar dalam memberikan wawasan beserta pandangan kepada manusia agar mampu mempertimbangkan segala bentuk tindakan melalui analisa terhadap dampak dari aktivitas yang akan dilakukan sehingga muncullah sistem pendidikan secara pribadi.

Peran yang sangat besar tersebut, dapat membantu seseorang melakukan penyelamatan terhadap dirinya sendiri dan juga masa depannya. Wawasan atau pengetahuan mampu membentuk pola pikir menjadi lebih terstruktur sehingga tidak hanya menghindari risiko, akan tetapi juga siap menghadapinya.

Fungsi Moral Dalam Menunjang Kehidupan Manusia

Fungsi Moral

Moral memang sangat memiliki pengaruh besar dalam proses penentuan tindakan atau perilaku seseorang. Salah satunya ketika menjalani kehidupan bermasyarakat melalui fungsi-fungsi yang terpapar di bawah ini:

Fungsi Pelayanan

Pada dasarnya, keberadaan moral di dalam kehidupan manusia berfungsi sebagai pelayan, dimana mempunyai tiga aspek utama. Pertama, memberikan peringatan kepada seseorang untuk melakukan kebajikan beserta meninggalkan kegiatan yang bersifat menyimpang dan menimbulkan kerugian.

Kedua, memberikan kode atau perhatian kepada masyarakat mengenai permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi, namun kurang tersentuh oleh manusia. Dengan adanya moral, maka seseorang akan lebih peka terhadap lingkungan di sekitarnya sekaligus memperbaiki penyimpangan tersebut.

Ketiga, menarik perhatian manusia untuk lebih memahami mengenai fenomena “Pembiasaan Emosional” yang pada kenyataannya memiliki dampak kurang baik di seluruh kalangan masyarakat. Oleh sebab itu, perlu adanya tindakan penyadaran sehingga menciptakan keharmonisan dalam hubungan sosial.

Fungsi Pengaturan

Setiap manusia sudah barang tentu memiliki kemampuan untuk menentukan keputusan dalam melakukan segala sesuatu. Tidak menutup kemungkinan dari pengambilan suara dari logika ataupun batin tersebut bisa menimbulkan tindakan-tindakan menyimpang dan merugikan.

Perilaku menyimpang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, baik pada individu itu sendiri maupun masyarakat secara luas. Oleh sebab itu, salah satu fungsi moral adalah berperan sebagai pengatur mengenai tindakan-tindakan yang dilakukan oleh seseorang.

Apabila moral sudah terbentuk dengan baik pada diri setiap individu, maka dapat mewujudukan stabilitas yang bersifat positif pada dirinya sendiri maupun terhadap kelompok masyarakat. Dengan begitu, bisa mengantisipasi berbagai macam penyimpangan sekaligus memberikan solusi dalam penyelesainannya.

Fungsi Penilaian

Setiap negara memiliki norma berbeda, begitu juga Indonesia. Perbedaan tersebut ternyata dapat berpengaruh terhadap cara pandang masyarakat dalam menilai sesuatu. Maka, tidak heran jika antara daerah satu dengan lainnya memiliki respon yang berbeda-beda begitu pun penyelesaiannya.

Akan tetapi, meskipun sudut pandang mereka berbeda, namun ketika menghadapi suatu permasalahan tentu senantiasa mempertimbangkan perihal kebaikan bagi sesama. Hal tersebut dapat diwujudkan apabila masyarakat memahami sekaligus mengamalkan moralitas dalam kehidupannya.

Oleh sebab itu, fungsi penilaian di sini maksudnya adalah memberikan masyarakat mengenai pandangan terhadap suatu tindakan atau permasalahan. Salah satunya dari sudut kebajikan yang mengutamakan keputusan, maupun penyelesaian dengan didasarkan pada dampak positif bagi kehidupan sosial.

Fungsi Pembelajaran

Belajar tidak hanya sebatas membaca buku lalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi lebih dari itu, yakni mempelajari sesuatu dari mana saja, termasuk salah satu caranya adalah melalui pendekatan terhadap nilai-nilai moralitas yang telah mengakar di masyarakat sekitar.

Secara tidak langsung, moral juga turut memberikan pembelajaran kepada setiap individu mengenai perbuatan, sikap, tingkah laku, kewajiban, akhlak, dan sebagainya serta memberikan penilaian beserta analisa dampak tentang baik atau buruk apabila melakukan hal tersebut.

Melalui pembelajaran baik secara individu maupun pendidikan formal ini, maka setiap orang dapat terlatih untuk menjadi pribadi yang memiliki karakter positif serta mampu memberikan manfaat kepada lingkungan di sekitarnya. Oleh sebab itu, peran moral sangatlah besar bagi dunia pembelajaran.

Fungsi Motivasi atau Dorongan

Moralitas juga berfungsi sebagai motivasi atau dorongan kepada seseorang, untuk melakukan tindakan yang baik sekaligus menghindari penyimpangan terhadap norma-norma dan peraturan. Hal tersebut bahkan juga berlaku pada cangkupan lebih luas, seperti kelompok tertentu atau masyarakat.

Seseorang yang telah memahami konsep dari moralitas tentu akan cenderung mengamalkan hal tersebut di dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses pengamalan ini, tidak menutup kemungkinan timbul keinginan atau dorongan untuk melakukan hal-hal baik dan menghindari tindakan buruk.

Fungsi Perlindungan

Pada dasarnya moral, nilai, dan juga hukum memiliki keterkaitan yang erat dalam mendampingi setiap aktivitas manusia. Maka, tidak heran bila kemudian konsep moralitas ini menjelma menjadi sistem berbasis kaidah mengenai hukum tertentu untuk mengatur kehidupan bersosial dan bermasyarakat.

Keberadaan hukum juga bersifat melindungi kaidah-kaidah agama, kesusilaan, kesopanan, dan sosial karena pada dasarnya keempat elemen tersebut belum cukup kuat karena masih terdapat berbagai kepentingan yang tidak diatur oleh sistem serta cenderung bersifat memihak.

Maka, dalam hal ini moral memberikan fungsi perlindungan kepada berbagai aspek di kehidupan masyarakat. Dengan tujuan, memperjelas mengenai pemahaman akan moralitas beserta elemen-elemen penting dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh perseorangan ataupun sekelompok orang.

Fungsi Kendali

Segala macam bentuk penyimpangan merupakan bagian dari kegagalan diri dalam mengendalikan dirinya untuk melakukan suatu tindakan yang melanggar tatanan hidup bermasyarakat. Hal tersebut bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pendidikan, pemahaman, lingkungan, dan sebagainya.

Ketidakmampuan seseorang dalam melakukan kendali pada dirinya bisa menjadi boomerang apabila hal tersebut tidak segera diatasi. Oleh sebab itu, di sinilah peran penting yang dimiliki oleh konsep moralitas yang mana berfungsi mengendalikan seseorang agar tidak berbuat semena-mena.

Apabila seseorang telah memahami ajaran mengenai tingkah laku ini dengan sepenuhnya, tentu akan melahirkan pemahaman bersifat kritis sehingga mampu memilah antara tindakan baik dengan yang tidak sehingga kegiatan sosialisasi dan interaksi tetap bisa berjalan secara harmonis.

Macam-macam Moral

Macam-macam Moral

Berbicara perihal moral memang dapat menimbulkan pemahaman dan pandangan yang terkesan sangat kompleks, namun sebenarnya konsep moralitas sendiri membaginya menjadi beberapa macam, seperti:

Moral Ketuhanan

Moral ketuhanan merupakan implementasi dari sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebagai bangsa dan umat beragama, tentu saja suatu penduduk dalam wilayah tersebut melakukan segala bentuk tindakan atau perilaku yang didasarkan pada norma-norma agama.

Norma-norma atau aturan yang bersifat religious tersebut bisa ditemukan pada kitab suci ataupun media lain. Peraturan ini bersifat otoriter (memaksa) dan mengikat sehingga ketika terjadi pelanggaran mengenai suatu hal, maka seseorang harus menanggung risiko atau konsekuensi dari tindakannya.

Konsekuensi ini bisa berupa perasaan berdosa sehingga melahirkan keinginan untuk memperbaiki kesalahan. Dengan adanya moral ketuhanan tersebut, seseorang akan lebih waspada ketika melakukan suatu perbuatan. Karena manusia memiliki keyakinan bahwa perbuatannya akan dilihat oleh Tuhan.

Moral Ideologi

Menurut KBBI, pengertian dari indeologi sendiri adalah kumpulan konsep yang menjadi dasar atau asas sebuah pendapat. Ini berfungsi untuk memberikan arah beserta tujuan demi menjaga kelangsungan hidup melalui cara berpikir kritis serta pemahaman akan suatu tindakan.

Dalam hal ini peran moralitas sangat dibutuhkan untuk menjadi landasan dari berbagai macam pertimbangan manusia ketika akan melakukan sebuah tindakan pengambilan keputusan. Keberadaan moral sendiri dapat dimaksudkan sebagai pengendali pada konsep berpikir.

Baca Juga: Pengertian Seni

Ketika seseorang melakukan analisis dari tindakannya, maka moral memiliki andil yang cukup besar dalam mempengaruhi individu tersebut untuk melakukannya atau tidak. Tentu saja berbagai pertimbangan selalu dilakukan terlebih dahulu, seperti mempertimbangkan dampak setelahnya.

Moral Kebangsaan

Sebagai bangsa yang terdiri dari suku, bahasa, dan budaya berbeda-beda, tentunya Indonesia juga kaya akan norma-norma pada setiap lapisan masyarakatnya. Norma tersebut tentu juga sangat beragam, tergantung pada masing-masing daerah atau wilayah beserta kondisi lingkungannya.

Akan tetapi, jika berbicara perihal kebangsaan, tentu yang terlintas di benak setiap individu adalah mengenai semangat untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa sendiri. Selain itu, diikuti pula oleh loyalitas terhadap cita-cita luhur bangsa dan negara.

Dengan adanya moral kebangsaan ini, maka setiap individu akan menyadari tentang betapa pentingnya peran warga negara dalam menjaga keutuhan Republik Indonesia. Kesadaran mengenai tugasnya sebagai penduduk untuk mempertahankan kedaulatan bangsa agar tetap berdiri kokoh di hadapan dunia

Moral Etika

Manusia tidak bisa lepas dari istilah bernama etika. Dalam kehidupan sehari-haripun seseorang harus menggunkan hal tersebut, baik saat sedang sendiri ataupun ketika berinteraksi dengan orang lain. Terlebih jika konsep ini turut didampingi oleh ideologi moralitas, maka keduanya menjadi sangat penting.

Etika tanpa moralitas seperti tindakan yang tidak didasarkan oleh pertimbangan-pertimbangan mengenai suatu hal. Dengan begitu, segala sesuatu dilakukan atas dasar keinginan semata tanpa mengakitkannya dengan peraturan maupun norma-norma dalam masyarakat.

Apabila hal tersebut terus berlaku, maka tatanan hidup masyarakat akan menjadi berantakan karena segala peraturan tidak dipatuhi oleh penduduknya. Maka dari itu, moral dalam etika ini sangat penting agar seluruh tindakan atau perilaku bisa dipertanggungjawabkan.

Moral Kesusilaan atau Kesopanan

Kesusilaan atau kesopanan memiliki kaitan yang erat dengan etika. Akan tetapi, di dalam penerapannya, salah satu dari jenis-jenis moral ini lebih mempunyai pendekatan kepada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di mana mengutamakan nilai-nilai para leluhur.

Moral kesusilaan tidak hanya mencakup mengenai kehidupan sehari-hari para masyarakatnya, akan tetapi juga menyinggung perihal susila, adat istiadat, tradisi, sopan santun, keadaban beserta pengetahuan yang didasari atas rasa patuh terhadap peraturan dalam suatu wilayah atau daerah.

Agar tatanan sosial dapat terwujud dengan sempurna, maka diperlukan adanya moral kesusilaan ini untuk mengatur tingkah laku masyarakat. Maka, setiap tindakan mereka selalu didasarkan pada aturan yang bersifat mengikat dan rasa tanggungjawab dalam mengikuti ajaran leluhurnya.

Moral Kedisiplinan

Kedisiplinan merupakan bentuk dari rasa tanggungjawab ketika seseorang memutuskan untuk melakukan suatu pengambilan keputusan. Disiplin memiliki kaitan yang erat terhadap sikap profesional dalam mengemban sebuah tugas atau amanah sehingga kehadirannya sangat diperlukan.

Keberadaan moral dalam konteks disiplin dapat menjadi pengingat sekaligus control akan segala tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Jika suatu saat mengalami kemunduran karena faktor tertentu, maka moralitas menjadi salah satu rangsangan agar individu tersebut kembali memperoleh semangat.

Bisa dibayangkan apabila dalam menjalankan proses tidak didampingi oleh adanya moral kedisiplinan, maka sudah barang tentu akan terjadi pergeseran nilai mengenai pemaksimalan usaha untuk mencapai sesuatu. Maka, tidak heran jika disiplin pun menjadi salah satu konsep dalam moralitas.

Moral Hukum

Indonesia merupakan salah satu negara hukum di mana setiap tindakan selalu didasarkan pada peraturan tertulis maupun tidak, seperti perundang-undangan. Pengadaan tersebut bertujuan agar memberikan penataan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Setiap peraturan yang sudah tertulis ataupun tidak, maka tentu mengandung konsekuensi apabila seseorang melakukan pelanggaran. Hal ini perlu dilakukan agar setiap individu merasa jera dan memiliki motivasi lebih untuk mematuhi aturan di dalam wilayah tersebut.

Oleh sebab itu, setiap individu perlu memiliki moral hukum bersifat fundamental, baik secara naluri ataupun logika agar menciptakan kesadaran untuk mematuhi peraturan tersebut. Jika hal ini bisa diwujudkan oleh seluruh warga negara, maka akan tercipta tatanan masyarakat bernegara yang baik.

Wujud dari Moral

Wujud dari Moral

Ajaran mengenai moralitas dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk tingkah laku atau tindakan dalam kehidupan sehari-hari dan sesuai dengan masing-masing dari jenis moral, di antaranya sebagai berikut:

Melaksanakan Ajaran Agama dengan Sebaik-baiknya

Indonesia merupakan negara yang terdiri dari beragam suku, budaya, bahasa, dan juga agama. Setiap orang berhak memeluk satu kepercayaan sekaligus menjalankan segala syariat-syariat di dalamnya. Hal ini termasuk ke dalam bentuk implementasi dari nilai-nilai Pancasila, terutama sila pertama.

Selain itu, melaksanakan seluruh ajaran dalam agama yang dipeluk oleh seseorang juga merupakan salah satu wujud penerapan moralitas ada diri individu tersebut. Hal ini dikarenakan moral menjadi landasan utama bagi manusia untuk melakukan segala sesuatu.

Apabila moral ketuhanan sudah mampu dikuasai dan dipahami oleh manusia, maka seluruh pemeluk agama akan mematuhi setiap ajaran di dalamnya. Dengan begitu, akan tercipta tatanan sosial yang harmonis serta mencegah terjadinya perpecahan antaragama maupun suku.

Berpikir Kritis Terhadap Risiko dari Suatu Perbuatan

Mewujudkan konsep dari moralitas ke dalam bentuk tindakan dan pengucapan merupakan pertanda, bahwa seseorang telah memahami mengenai ajaran tersebut. Hal ini sejalan dengan konsepsi ilmu pengetahuan, dimana proses pengamalan harus dilakukan setelah melalui pembelajaran.

Moralitas berkesinambungan dengan gagasan dan ide seseorang dalam melakukan suatu tindakan, baik akan berdampak pada diri sendiri ataupun bagi masyarakat luas. Oleh sebab itu, melalui keberadaan moral ini seseorang dapat melakukan pertimbangan sebelum menjalankan rencananya.

Hal ini merupakan tindakan nyata dalam mewujudkan konsep moralitas, sekaligus upaya untuk mendorong pola pikir teratur serta kritis sebab mengandung pemaksaan terhadap seseorang. Ini dilakukan agar mereka menggunakan nalar dan logika yang dimiliki.

Menjunjung dan Mengamalkan Nilai-nilai Dalam Pancasila

Setiap warga negara dibebankan oleh suatu kewajiban, yaitu menunjung tinggi nilai-nilai leluhur yang tercantum di dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Hal ini dikarenakan pada naskah-naskah tersebut mengandung cita-cita bangsa sehingga seluruh penduduk harus turut andil mewujudkannya.

Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh warga negara dalam mewujudkan hal tersebut adalah dengan mengamalkan nilai-nilai di dalamnya. Pengamalan bisa dijalankan melalui hal-hal kecil pada kehidupan sehari-hari dan tentunya disesuaikan terhadap kemampuan masing-masing.

Selain itu, pengamalan nilai-nilai Pancasila tidak hanya berfungsi untuk membantu tercapainya cita-cita bangsa. Akan tetapi juga sebagai bentuk dari pewujudan akan konsep moralitas sehingga seseorang dapat menjalankan keduanya secara bersamaan.

Menghargai Perbedaan Pendapat

Setiap manusia memiliki pola pikir unik dan berbeda antara satu dengan lainnya. Maka, tidak heran jika sering ditemui beberapa perbedaan terkait sudut pandang dalam menyikapi sebuah permasalahan. Hal tersebut sangatlah wajar sehingga tidak perlu menjadi pemicu dari suatu pertengkaran.

Menghargai pendapat orang lain merupakan salah satu wujud dari pengamalan moral etika. Seseorang dituntut untuk tidak egois ketika sedang berada dalam lingkup interaksi agar tidak menimbulkan bentrokan antara satu anggota dengan lainnya.

Menghargai pendapat bukan berarti mengalah dan menyerah kepada orang lain, akan tetapi sebagai bentuk penghormatan terhadap sesama sehingga ketika dua gagasan tersebut bertemu pada sebuah ruang diskusi, maka justru akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda dan terbilang fresh.

Menjaga Tutur Kata dan Tingkah Laku

Penduduk Indonesia dikenal sebagai warga negara yang memiliki sopan santun dan bersikap sangat lembut terhadap sesama ataupun orang asing. Maka, tidak heran apabila hal tersebut menjadi ketertarikan tersendiri serta membuat penasaran para pelancong luar negri untuk hadir di wilayah republik ini.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa apabila moral kesopanan dan kesusilaan dapat diterapkan dengan sebaik-baiknya, maka akan mendatangkan banyak manfaat bahkan keuntungan bagi diri sendiri, orang lain, atau bahkan negara tercinta. Tentu hal ini menjadi cita-cita seluruh penduduk Indonesia.

Menjaga tutur kata beserta tingkah laku merupakan cara yang paling mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Aktivitas tersebut tidak hanya terbatas pada lingkungan sekitar saja, namun lebih luas lagi sehingga di manapun individu berada. Maka harus mengamalkan konsep moralitas satu ini.

Disiplin dan Tepat Waktu

Kedisiplinan memiliki kaitan yang erat dengan tanggungjawab. Apabila seseorang tengah mengemban sebuah amanah, maka tentu harus melakukannya secara penuh disiplin. Terlebih jika kepercayaan tersebut mempunyai hubungan terhadap waktu.

Setiap kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh manusia selalu terikat oleh waktu, sehingga seseorang harus mampu memanfaatkan keadaan seefisien mungkin. Alhasil, mampu menjalani hari secara lebih efektif dan supaya dapat memenuhi tanggungjawab pada dirinya.

Oleh sebab itu, bersikap penuh disiplin dan tepat waktu sangatlah penting sebagai sikap dari perwujudan konsep moralitas. Selain dapat terbilang efisien, perilaku terpuji tersebut bisa menjadikan seseorang menjadi lebih bertanggungjawab serta memberikan dampak positif terhadap lingkungan di sekitarnya.

Melakukan Aktivitas Sesuai dengan Norma yang Berlaku

Berdasarkan ilmu sosiologi, norma dibagi menjadi empat, yaitu agama, kesopanan, kesusilaan, dan hukum. Keempatnya merupakan petunjuk untuk melakukan tingkah laku sekaligus peringatan akan hal-hal yang dilarang agat tidak dilakukan.

Keberadaan norma ini sangat berfungsi untuk mengatur masyarakat, agar menjadi manusia yang bermartabat dan memiliki moral dalam dirinya sehingga segala bentuk aktivitas ataupun kegiatan harus didasarkan atas aturan-aturan pada setiap lingkungan ataupun daerah tersebut.

Norma memiliki kaitan yang sangat erat dengan moral. Oleh sebab itu, untuk dapat mewujudkan konsep moralitas, maka seseorang atau setiap individu harus mematuhi norma-norma beserta mengamalkan ajaran-ajaran di dalamnya supaya bisa hidup dengan lebih teratur.

Beberapa Contoh Moral

Contoh Moral

Mewujudkan konsep moralitas dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting agar mampu memahami setiap ajarannya. Sikap tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku seperti di bawah ini:

Dalam Lingkungan Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan yang paling dekat dengan setiap individu. Setiap hari seseorang akan bertemu bersama keluarganya, bahkan hampir 24 jamnya dihabiskan di rumah bersama anggota lain. Maka, di sinilah moral seharusnya pertama kali diterapkan.

Menerapkan nilai-nilai moralitas tidak selalu harus melakukan pengabdian kepada masyarakat, setiap individu tetap bisa mewujudkan konsep tersebut bahkan di lingkungan keluarga, contohnya membantu orang tua melakukan pekerjaan rumah, seperti menyapu halaman, mencuci pakaian, dan sebagainya.

Selain itu, moral juga meliputi segala perilaku beserta pola pikir. Sebagai seorang anak yang baik, maka sudah barang pasti menghormati kedua orang tua sangatlah penting, begitu juga sebaliknya. Apabila hal tersebut dapat dilakukan secara bersama, maka keharmonisan mampu tercipta di lingkungan keluarga.

Dalam Lingkungan Sekolah

Sekolah merupakan rumah kedua bagi seorang siswa. Selain memberikan pengetahuan dalam bentuk eksak, media pendidikan tersebut juga mengajarkan kepada siswanya tentang konsep moralitas, yaitu pola pikir yang kritis dalam melakukan segala tindakah dan tingkah laku.

Pendidikan semacam ini sangat penting untuk diajarkan kepada siswa, terlebih tingkat SD. Hal itu dikarenakan pada tingkatan tersebut seorang anak mulai mengalami pembentukan karakter. Maka, sudah menjadi tugas guru mengajari mereka dengan lemah lembut agar mudah dipahami.

Selain itu, penerapan moralitas tidak hanya dilakukan oleh tenaga pendidik saja, tetapi juga harus diimbangi dengan siswa, seperti menghormati guru ketika sedang menjelaskan materi, berbicara secara lemah lembut dan sopan, mematuhi aturan sekolah, serta bersikap baik kepada teman.

Dalam Lingkungan Pertemanan

Menjalin sebuah hubungan pertemanan yang baik sangatlah penting. Hal ini dikarenakan untuk membangun relasi sekaligus jaringan agar dapat menjadi jalan menggapai target dan komitmen. Maka, dalam hal ini penerapan konsep moralitas juga diperlukan.

Berteman tidak hanya menyangkut sebagai kesenangan belaka, akan tetapi juga bagaimana cara seseorang untuk menjalin hubungan dekat bersama orang lain. Oleh sebab itu, berbuat baik kepada teman sendiri sangatlah penting. Selain untuk mewujudkan moralitas, juga sebagai pengingat diri.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan membantu teman yang sedang kesulitan, memberikan saran apabila diminta, menghargai perbedaan pendapat dalam lingkup pertemanan, tidak saling mencela, serta tentu saja selalu bersikap sopan di manapun dan kapanpun.

Dalam Kehidupan Bermasyarakat

Manusia sebagai makhluk sosial tentunya tidak hanya hidup sendiri, namun berada di tengah kehidupan bermasyarakat. Hal ini kemudian menjadi tuntutan kepada seseorang untuk selalu bersikap baik terhadap sesama agar senantiasa tercipta keharmonisan di lingkup sosial.

Menerapkan moral di kehidupan bermasyarakat dapat dengan mudah dilakukan, seperti bersikap baik kepada tetangga, menghormati orang yang lebih tua, saling mengasihi satu sama lain, membantu menghidupkan desa melalui acara-acara kekeluargaan, dan sebagainya.

Penerapan konsep moralitas tersebut akan melahirkan kepuasan batin dari dalam diri, karena pada dasarnya manusia selalu dilandasi oleh keinginan untuk berbuat baik. Selain itu, dampaknya juga bisa dirasakan orang lain, seperti terciptanya masyarakat bermoral dan harmonis.

Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Sebagai warga negara yang baik dan berbudi luhur, sudah seharusnya setiap individu mengedepankan moralitas dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Penerapan konsep tersebut dapat dilakukan dengan mengamalkan nilai-nilai dari Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Hal ini dikarenakan dasar negara tersebut telah mencangkup banyak hal dan merupakan cita-cita luhur bangsa Indonesia, seperti menjalankan syariat agama dengan sebaik-baiknya, mendukung keadilan pada seluruh lapisan masyarakat, menghargai perbedaan pendapat, serta berperilaku sopan santun.

Selain itu, mematuhi peraturan yang ada juga termasuk penerapan dari moralitas dalam kehidupan berbangsa bernegara, seperti memakai helm ketika sedang berkendara, mengenakan sabuk pengaman, tidak menyerobot antrian serta menjaga sikap saat berbicara dengan orang lain.

Dalam Kehidupan Beragama

Agama menjadi salah satu cahaya bagi kehidupan seseorang. Sebagai umat beragama, sudah barang tentu seseorang harus menjalankan segala syariat yang ada di dalamnya, seperti melaksanakan Ibadah tepat waktu, berdoa dengan cara sebaik-baiknya, serta menghindari segala larangan-Nya.

Selain itu, melakukan sikap toleransi kepada agama lain juga merupakan salah satu perwujudkan dari konsep moralitas. Setiap individu yang beragama seharusnya memiliki sifat tersebut guna menciptakan suasana harmonis meskipun berbeda perihal keyakinan.

Baca Juga: Prinsip Etika Bisnis

Seperti yang menjadi simbol dari bangsa Indonesia, yaitu Bhineka Tunggal Ika di mana artinya adalah “meskipun berbeda, namun tetap satu jua”. Apabila hal tersebut dapat dilakukan oleh seluruh manusia, maka hidup akan terasa lebih harmonis serta hubungan kepada Tuhan bisa lebih terjalin romantis.

Demikianlah uraian lengkap mengenai pengertian moral: arti, fungsi, tujuan dan wujud Moral dalam kehidupan sehari-hari. Pastikan Anda juga turut menerapkan konsep moralitas agar kehidupan penuh dengan manfaat serta menjadikan lingkungan menjadi lebih bermoral.

Tinggalkan Balasan