Sejarah Sumpah Pemuda

Salah satu tonggak utama dalam pergerakan kemerdekaan NKRI ialah terletak pada rasa persatuan, senasib dan seperjuangan dari anak-anak muda bangsa. Maka, wajib bagi setiap orang untuk memiliki jiwa nasionalisme tinggi dengan mengetahui sejarah sumpah pemuda di Indonesia.

Lahirnya Sumpah Pemuda di Indonesia

Lahirnya Sumpah Pemuda di Indonesia

Latar belakang sumpah pemuda dimulai karena adanya semangat melawan serta untuk membebaskan diri dari belenggu kolonialisme dan penjajahan. Bangkitnya para anak muda bangsa dalam menyatukan organisasi kepemudaan tidak lain demi kemerdekaan Negara Indonesia.

Lahirnya sumpah pemuda bermula dari kelompok Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia atau PPPI beserta para golongan cendekiawan yang maju untuk mengemukakan ide terhadap masalah-masalah guna mempersatukan seluruh organisasi anak muda Indonesia.

Seluruh organisasi pemuda akhirnya melakukan pertemuan dan perkumpulan guna memperoleh kesepakatan dalam keputusan pembentukan badan sentral. Tujuannya adalah untuk memajukan persatuan bangsa Indonesia yang terhitung sebanyak dua kali kongres.

Tercatat bahwa Kongres Pemuda I dilaksanakan pada 30 April – 2 Mei 1926 di Batavia dengan hasil yang lintas primordial dan dilanjut dengan Kongres Pemuda II, tepatnya tanggal 27-28 Oktober 1928 hingga tercetuslah sebuah rumusan bernama Sumpah Pemuda.

Semangat Para Pemuda dalam Pergerakan Kemerdekaan Indonesia

Semangat Para Pemuda dalam Pergerakan Kemerdekaan Indonesia

Pergerakan nasional yang terjadi dimulai dari tahun 1908 hingga titik perumusan Sumpah Pemuda pada 1928 adalah suatu usaha yang digagas oleh anak-anak muda, baik kalangan pelajar ataupun mahasiswa yang bersatu dalam gabungan beberapa organisasi di Indonesia.

Baca Juga: Biografi Pahlawan Nasional Indonesia Wanita

Semangat juang ditunjukkan oleh para pemuda dalam pergerakan nasional untuk memperbaiki serta menciptakan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia menuju momentum kebebasan atau kemerdekaan dari golongan penjajahan pihak kolonial kala itu.

Para pemuda sebatas membuat organisasi kelompok yang bersifat kedaerahan dan beberapa aktivitasnya pun masih terbatas hanya untuk kegiatan bersifat diskusi pelajaran saja. Hingga pada proses perkembangannya pun juga mengalami pasang surut.

Perbedaan latar belakang atas berbagai aspek membuat proses penyatuan mereka membutuhkan proses panjang. Hingga terbentuklah tekad oleh organisasi PPPI. Menginginkan kemerdekaan Indonesia dengan menyatukan seluruh komponen pemuda di setiap daerah.

Organisasi Pergerakan Nasional yang Mendasari Semangat Para Pemuda

Pada tanggal 20 Mei 1908 atau yang sekarang dikenal dengan peringatan hari Kebangkitan Naional, sebelumnya telah didirikan suatu organisasi kepemudaan oleh Dr. Soetomo bernama Budi Utomo. Kelompok ini bersifat sosial, ekonomi dan menjunjung kebudayaan.

Organisasi ini dibentuk oleh kalangan berpendidikan atau mahasiswa yang menyatakan bahwa tonggak berdirinya suatu bangsa adalah terletak pada pemudanya. Mereka menganggap kaum tua adalah pemimpin, sedangkan kalangan muda sebagai penggeraknya.

Berbagai perkembangan terjadi secara pasang surut. Bahkan, organisasi ini sempat dinilai bertindak oposisi karena hanya berpihak pada nasionalisme Jawa dan Islam saja sehingga tidak akan mampu merangkul persatuan maupun kesatuan bangsa Indonesia.

Namun seiring berjalannya waktu, organisasi Budi Utomo ini digadang-gadang sebagai kelompok pertama yang menyadarkan betapa pentingnya rasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sehingga muncullah berbagai organisasi-organisasi daerah selanjutnya.

Organisasi-Organisasi Lain Dibalik Sejarah Peristiwa Sumpah Pemuda

Organisasi-Organisasi Lain Dibalik Sejarah Peristiwa Sumpah Pemuda

Sejarah sumpah pemuda dilandasi dengan adanya para kelompok pelajar atau mahasiswa yang berkumpul atas seluruh tekad kemerdekaan. Inilah beberapa organisasi-organisasi anak muda dibalik peristiwa tersebut.

PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia)

Organisasi pergerakan dalam sejarah sumpah pemuda ini didirikan oleh Raden Tumenggung Djaksodipoera yang dibantu bersama Soewirjo, Darwis, Soegondo, Goelarso serta Abdullah Sigit pada tahun 1962. Berlokasi di Jl. Kramat No. 106, Weltevreden, Batavia.

PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) inilah yang menjadi wadah yang mulai menggagas perencanaan bagi berlangsungnya peristiwa dalam sejarah sumpah pemuda demi terwujudnya kemerdekaan di Negara Indonesia.

Jong Java

Kelompok dari kepemudaan selanjutnya yaitu Jong Java. Didirikan oleh seorang tokoh hebat dari Jawa yang bernama Satiman Wirjosandjojo pada tanggal 7 Maret tahun 1915. Berlokasi di Gedung Stovia dengan alasan menganggap bahwa Budi Utomo adalah organisasi elit.

Persatuan para pemuda dari Jong Java ini menambah kekuatan dan kepercayaan bagi organisasi lain untuk mewujudkan kesatuan Negara Indonesia melalui jalan kekompakan yang ditunjukkan bersama kelompok lainnya

Pemoeda Soematra

Pemoeda Soematra atau biasa dikenal dengan Jong Sumatranen Bond (JSB) merupakan suatu perkumpulan pemuda di wilayah Sumatra dengan tujuan mempererat hubungan antar pelajar daerah tersebut untuk nantinya sebagai calon pemimpin bangsa.

Organisasi Pemoeda Soematra ini didirikan di Jakarta, tepat pada tanggal 9 Desember 1917 dan tersebar dalam beberapa wilayah. Seperti Jawa dan Sumatra (Bukittinggi dan Padang). Hingga pada akhirnya didominasi oleh pemuda Minang.

Sekar Roekoen

Organisasi Sekar Roekoen berasal dari kelompok pemuda Sunda. Didirikan oleh para siswa di Sekolah Guru atau KweekSchool, tepatnya di Jl. Gunung Sari, Batavia pada tanggal 26 Oktober tahun 1919 oleh Doni Ismail, Moh. Sipil, Djuwariah, Mangkudina dan lainnya.

Sekar Roekoen ikut andil dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia dan berperan aktif. Semangat membangun persatuan maupun kesatuan pada momentum sumpah pemuda bersama dengan para kelompok muda dari organisasi yang lain.

Kaoem Betawi

Pada tahun 1926, terbentuklah organisasi Kaoem Betawi sebagai wadah bagi para pemuda Betawi dari serumpunan Jong Java dan Sekar Roekoen. Dan untuk pertama kalinya diketuai oleh Mohammad Tabrani.

Salah satu ketua organisasi ini, tepatnya di tahun 1928 dipimpin oleh Mohammad Rochjani Soe’oed. Ia ditunjuk untuk menjadi utusan dalam pertemuan Kongres Pemuda Indonesia II serta mengajak kelompok lain ikut serta di dalamnya.

Jong Celebes

Jong Celebes merupakan salah satu dari organisasi kepemudaan yang berasal dari daerah Sulawesi. Berdiri sejak tahun 1918 dan dipelopori oleh beberapa tokoh penting seperti Arnold Monotutu, Waworuntu serta Ibu Sukanto (Kepala Kepolisian Wanita RI pertama).

Tujuan organisasi tersebut ialah untuk mempererat persatuan dan persaudaraan antar pemuda dari kalangan pelajar atau mahasiswa yang berasal dari Pulau Sulawesi. Adanya tekad itulah yang menjadi kekuatan terbentuknya kekompakan dalam sumpah pemuda.

Suasana dan Tahapan Kongres pada Peristiwa Sumpah Pemuda

Suasana dan Tahapan Kongres pada Peristiwa Sumpah Pemuda

Pada tahun 1926, Kongres Pemuda I berlangsung dan membahas mengenai usulan dari isi ikrar bangsa tentang bahasa persatuan. Salah satu tokoh penggeraknya adalah Mohammad Yamin yang mengusulkan untuk berbahasa Melayu. Tapi, penamaan tersebut tidak setujui.

Berlanjut pada Kongres Pemuda II, tepatnya tanggal 27-28 Oktober 1928 melalui tahapan tiga kali rapat. Kala itu, berkumpulnya seluruh organisasi kedaerahan menghasilkan 15 pembicara dan membahas tema secara lebih kompleks daripada sebelumnya.

Kongres kedua yang menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan ini sempat diremehkan oleh salah seorang pejabat kolonial bernama Van Der Plass. Pasalnya ketika rapat berlangsung, anggotanya pun masih berbahasa Belanda maupun daerah.

Namun perkiraan Van Der Plass ternyata salah. Sejarah telah membuktikan bahwasanya kongres tersebut sudah menjadi api senjata sehingga berhasil mencetuskan rumusan persatuan nasional bangsa Indonesia dalam melawan jajahan pihak kolonial Belanda.

Putusan dari Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia

Putusan dari Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia

Himpunan pemuda-pemuda yang tersebar dari beberapa organisasi di Indonesia seperti Jong Java, Pemoeda Soematra, Sekar Roekoen, Kaoem Betawi, PPPI dan lainnya telah berhasil memutuskan dan menetapkan hasil kongres pada 28 Oktober 1928 di Batavia.

Isi putusan dari terlaksananya kongres pemuda tersebut berhasil di sepakati dan disetujui oleh seluruh kalangan muda bangsa Indonesia. Dengan tekad dan keyakinan untuk bersatu, mereka juga bekerja sama dengan aliansi media surat kabar untuk mengumumkannya.

Peristiwa sumpah pemuda ini telah benar-benar menunjukkan sikap integritas seluruh kalangan muda bangsa Indonesia. Walaupun sempat tersiar propaganda dari para pejabat kolonial yang berusaha memecah belah persatuan mereka.

Perumusan dan pembacaan teks sumpah pemuda dilaksanakan di asrama pelajar atau mahasiswa milik Sie Kok Liong dari keturunan Tionghoa. Tepatnya di Jl. Kramaraya 106, Jakarta Pusat. Saat itu, juga pertama kalinya lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan.

Respon Masyarakat saat Berlangsunya Peristiwa Sumpah Pemuda

Peristiwa sumpah pemuda merupakan bentuk pengakuan dari para kalangan muda Indonesia yang mengikrarkan kesatuan tanah air, satu bangsa dan juga bahasa. Ketetapan tersebut mendapat dukungan penuh dari masyarakat sekitar demi terwujudnya kemerdekaan.

Adanya politik etis Belanda yang menyebabkan kesengsaraan dan kemiskinan rakyat nusantara tentu saja menjadi gejolak dan menimbulkan rasa ingin bangkit untuk melawan. Karena itu, dengan berlangsungnya sumpah pemuda ini, rakyat sangat mendukungnya.

Berita pengikraran tersebut telah diumumkan melalui berbagai surat kabar secara merata menuju di seluruh wilayah Indonesia. Para masyarakat sangat merespon baik atas peristiwa tersebut dan merasa bangga terhadap perjuangan dari pemuda bangsa.

Berkembangnya media cetak saat itu juga menjadi jalan supaya masyarakat seluruh daerah cepat mengetahui adanya perkembangan nasionalisme dan selalu menjadikan semangat untuk mengubah kondisi bangsa agar bersatu dalam kemerdekaan bangsa Indonesia.

Bermula Dengan Nama “Ikrar” Menjadi “Sumpah” Pemuda

Hasil perumusan teks sumpah pemuda sudah ditetapkan ketika berlangsungnya kongres kedua pada 28 Oktober 1928 bersama dengan tokoh-tokoh penting yang terlibat di dalamnya. Isinya menyangkut tiga makna bersimbol persatuan bangsa Indonesia.

Ketetapan tersebut sebenarnya diberi nama Ikrar Pemuda yang berarti bersungguh-sungguh atau berteguh janji. Sedangkan sumpah, memiliki arti suatu kesaksian resmi dan dianggap suci kepada Tuhan.

Setelah ketetapan diputuskan dan pihak media cetak mulai menyiarkan berita pada surat kabar atau majalah, maka di sinilah letak kesalahpahaman terjadi. Publikasi yang dilakukan oleh pihak pers menyatakan informasi dengan menyebut istilah Sumpah Pemuda 1928.

Para tokoh penting seperti Mohammad Tabrani dan Moh. Yamin pun tidak bisa berkutik apapun terkait perubahan istilah “ikrar” menjadi “sumpah” ini. Sebab semuanya sudah terlambat karena telah dipublikasikan dan dikenal sampai sekarang.

Isi Teks Sumpah Pemuda dan Makna di Dalamnya

Isi Teks Sumpah Pemuda dan Makna di Dalamnya

Terdapat tiga alinea atau paragraf dalam ikrar yang dicetuskan dalam rumusan teks sumpah pemuda. Ketiganya tentu memiliki makna tersendiri sebagai kristalisasi semangat menegakkan berdirinya Negara Indonesia. Berikut penjelasannya lengkapnya.

Makna Sumpah Pemuda pada Alinea Pertama

Alinea pertama berbunyi, “Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.” Makna sumpah pemuda pada kalimat tersebut menggambarkan bahwa kalangan muda memang benar bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan NKRI.

Para pemuda bertekad memperjuangkan kemerdekaan sampai pada titik darah penghabisan untuk Negara Indonesia. Mereka mencita-citakan keutuhan bangsa dan menghalau dengan semangat kerjasama melawan pihak kolonial yang akan menghancurkan keutuhan NKRI.

Makna Sumpah Pemuda pada Alinea Kedua

Isi sumpah pemuda pada alinea kedua berbunyi, “Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.” Memiliki makna kesadaran bahwa mereka kalangan muda tetap bersatu dalam toleransi.

Walaupun berbeda suku ataupun agama, namun masih dalam satu lingkup sama, yaitu sebagai bangsa Indonesia. Menggambarkan ketegasan atas rasa persatuan serta saling menjaga demi keutuhan negara yang kokoh dan tidak dapat dipecah belah.

Makna Sumpah Pemuda pada Alinea Ketiga

Pada alinea ketiga berbunyi, “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Kalimat tersebut menggambarkan bahwa mereka menghargai sebagai identitas bangsa serta pembeda dengan negara lainnya.

Bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa yang harus dijunjung tinggi dan tentunya menjadi simbol serta keunikan suatu negara yang wajib untuk dijaga, dilestarikan bahkan dipertahankan untuk terwujudnya rasa nasionalisme diri masing-masing.

Siapa Saja Tokoh Penting di Balik Sejarah Sumpah Pemuda?

Sejarah sumpah pemuda diprakarsai oleh para tokoh penting dari kalangan pemuda dan pemudi bangsa Indonesia yang berperan dalam proses perumusannya. Berikut ini adalah pemaparan mengenai tokoh-tokoh tersebut untuk Anda.

Mohammad Yamin

Mohammad Yamin

Masyarakat mungkin sudah familiar dengan nama Mohammad Yamin sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Beliau merupakan bagian dari seorang kandidat calon ketua pada momentum sumpah pemuda yang berasal dari Jong Sumatra.

Pada Kongres Pemuda II, Mohammad Yamin lah yang memberikan usulan mengenai resolusi bahwa terdapat 3 (tiga) frasa yang menjadi bagian dari trilogi isi teks sumpah pemuda. Terdiri atas satu nusa, bangsa dan bahasa untuk Indonesia.

Soenario Sastrowardoyo

Soenario Sastrowardoyo

Seorang tokoh sejarah kemerdekaan Indonesia yang berperan penting dalam berlangsungnya perumusan sumpah berikutnya adalah Soenario Sastrowardoyo sebagai penasihat. Sebab ia dipercaya memiliki banyak pengalaman seputar keorganisasian.

Baca Juga: Peta Dunia

Ia juga pernah menjabat sebagai Sekretaris II Perhimpunan Indonesia di Belanda. Karena itu, menurut yang lain pengalaman tersebut akan membawa dampak baik bagi pembelaan terhadap para aktivis dengan polisi Hindia-Belanda. Ia pun dikenal sebagai salah satu tokoh sumpah pemuda.

Wage Rudlof Soepratman

Wage Rudolf Soepratman

Dalam sejarah peristiwa sumpah pemuda, Wage Rudlof atau WR Soepratman merupakan tokoh yang menciptakan lagu Indonesia Raya ketika masa Kongres Pemuda II, tepatnya ketika tanggal 28 Oktober 1928.

Kongres Pemuda II dijaga oleh aparat kepolisian Belanda sehingga lagu Indonesia Raya tidak bisa dinyanyikan sebab terdapat kalimat kemerdekaan dan dikhawatirkan memicu pembubaran. Maka dari itu, Soepratman memperdengarkannya melalui lantunan alat musik biola.

Soegondo Djojopoespito

Soegondo Djojopoespito

Ia merupakan salah seorang pejuang kemerdekaan yang ikut serta menjadi bagian kepanitiaan dalam Kongres Pemuda II. Bantuan dari peranan Soegondo Djojopoespito inilah yang berhasil memunculkan gagasan peristiwa Sumpah Pemuda.

Soegondo Djojopoespito mempunyai inisiatif untuk mengumpulkan dan membuat perkumpulan berisi para pemuda, baik pelajar maupun mahasiswa dalam menyatukan jiwa semangat memperoleh kemerdekaan bagi Indonesia dengan dimulainya Kongres Pemuda I.

Dolly Salim

Theodora Athia Salim

Dolly Salim merupakan seorang pemudi yang memiliki nama lengkap Theodora Athia Salim, putri dari H. Agus Salim. Ia menjadi wakil dari organisasi National Indonesische Padvinderij atau Natipij yang berada di bawah naungan PPP. Usianya kala itu masih 15 tahun.

Peranannya dalam momentum Sumpah Pemuda ialah sebagai orang yang pertama kalinya dengan gamblang menyanyikan lagu Indonesia Raya di hadapan publik, tepat setelah Soepratman berhenti mengakhiri lantunan biolanya. Walau tanpa menyebut kata ‘merdeka’.

Amir Syarifuddin Harahap

Amir Syarifuddin Harahap

Pada Kongres Pemuda II, Amir Syarifuddin Harahap menjadi wakil dari Jong Bataks Bond dengan menjabat sebagai panitia di posisi Bendahara. Peranannya menjadi penentu rumusan yang akan diputuskan bersama Soegono Djojopuspito.

Amir Syarifuddin Harahap selalu berperan aktif dalam perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ia juga ikut andil dan terlibat ketika acara Kongres Bahasa, tepatnya pada tahun 1938 di Batavia.

Sarmidi Mangoensarkoro

Sarmidi Mangoensarkoro

Sarmidi Mangoensarkoro lahir pada tahun 1904 dan merupakan tokoh penting dari sejarah peristiwa sumpah pemuda. Di dalamnya, ia berperan sebagai aktivis pendidikan meneruskan perjuangan Ki Hajar Dewantara.

Dalam Kongres Pemuda I dan II, S. Mangoensarkoro banyak mengeluarkan pendapatnya mengenai pentingnya pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena konsentrasinya di bidang pendidikan begitu kuat, ia dipercayai menjadi menteri pada tahun 1949-1950.

Djoko Marsaid

Djoko Marsaid

Djoko Marsaid ditunjuk untuk menjabat sebagai wakil ketua dalam pelaksanaan Kongres II dan merupakan ketua pimpinan Jong Java. Tidak banyak informasi kompleks terkait perjuangannya, namun ia ikut tercatat menjadi tokoh penting dalam perumusan sumpah pemuda.

Peranannya yang menjabat sebagai ketua organisasi kedaerahan dan wakil pelaksanaan Kongres II, cukup menjadikannya sosok penting dan jasanya tentu memiliki pengaruh dalam pergerakan persatuan Indonesia.

Mohammad Roem

Mohammad Roem

Tokoh penting yang terlibat dalam perumusan sumpah pemuda selanjutnya adalah Mohammad Roem. Ia merupakan seorang mahasiswa hukum sekaligus aktivis di setiap kegiatan organisasi internal maupun ekternal kampusnya.

Mohammad Roem sempat mendapatkan perlakuan deskriminatif dari sekolah Belanda. Karena jiwa nasionalismenya yang sangat tinggi, akhirnya ia memutuskan untuk ikut serta dalam merumuskan ikrar atau sumpah pemuda.

Kartosuwiryo

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo

Sosok ini memiliki nama lengkap Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo. Merupakan salah satu tokoh sumpah pemuda yang lahir pada 7 Februari 1905 dan menempuh pendidikan di Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya sekolah elit untuk anak Eropa, Holland Inlandsche School (HIS).

Perjuangannya dalam membela pemberontakan terbilang cukup tragis. Pasalnya, ia mengalami kekalahan dan mengharuskannya untuk dieksekusi oleh kolonial tepatnya tanggal 5 September 1962 di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu.

Johannes Leimena

Johannes Leimena

Johannes Leimena merupakan seorang mahasiswa kedokteran STOVIA FKUI yang berperan menjadi ketua pimpinan Jong Ambon dan termasuk bagian dari panitia pelaksanaan kongres sumpah pemuda. Ia lahir pada tahun 1905 di daerahnya.

Johannes terbilang cukup aktif dalam beberapa keorganisasian, terutama organisasi agama Kristen. Selain itu, Johannes Leimena juga aktif di perpolitikan Indonesia pasca merdeka. Hingga pada tahun 1950 pun didaulat menjadi ketua umum Partai Kristen Indonesia.

Sie Kong Liong

Sie Kong Liong

Sie Kong Liong merupakan seorang tokoh yang memiliki jasa sangat besar dalam peristiwa sumpah pemuda. Ia telah mempersilahkan para pemuda dengan sukarela untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat pelaksanaan kongres kedua.

Sekarang, rumah yang tepatnya di Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat ini dijadikan sebagai museum Sejarah Sumpah Pemuda. Adanya tempat tersebut juga menjadikannya sebagai pembelajaran dalam mengenang jasa para pahlawan bangsa Indonesia.

Kondisi Sosial Pasca Sumpah Pemuda

Melahirkan simbol persatuan bangsa turut menjadikan momentum baru dari perubahan kondisi sosial yang terjadi pasca terjadinya peristiwa sumpah pemuda. Pemerintah telah membangun konstruksi dalam memenuhi kebutuhan politik pada masa itu.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda

Pada 28 Oktober 1949, presiden Soekarno menetapkannya sebagai hari lahirnya lagu Indonesia Raya. Tepat ditanggal yang sama ketika tahun 1955, ditetapkanlah peringatan sumpah pemuda dengan perayaan besar di Solo.

Presiden Soekarno menetapkan peringatan tersebut bertujuan untuk merespon pemberontakan bersenjata dan menyampaikan pesan kepada para pemberontak tersebut supaya tidak lagi berani memecah belah keutuhan serta persatuan bangsa Indonesia.

Konstruksi Ideologi

Perpindahan kekuasaan dari masa Presiden Soekarno menuju rezim Orde Baru (Soeharto) telah mengubah peringatan sumpah pemuda hanya demi kebutuhan penguasa dan untuk mengutamakan stabilitas pembangunan politik saja.

Para pemuda yang sempat didepolitisasi akhirnya bergerak bangkit dan menuntut demokrasi. Merekapun mulai mendobrak perlawanan dengan melakukan pencarian serta pembangunan ideologi sebagai senjata politik. Hingga tahun 90-an, gerakan anak muda tersebut mulai berinteraksi.

Perencanaan Agenda Reformasi

Daya juang dan perlawanan kaum muda dari kalangan mahasiswa melalui aksi demonstrasi menuntut demokratisasi, tepatnya pada tanggal 21 Mei 1998. Hal itu menandakan bahwa bangsa Indonesia telah memasuki  era reformasi.

Beberapa agenda pun telah disiapkan, termasuk mengikis semua sisa sistem politik di masa Orde Baru. Para pemuda bersama pemerintah menggagas penguatan kelembagaan demokrasi yang dulunya sempat dikekang lalu bertransformasi menjadi negara demokratis.

Reformasi dalam Semangat Sumpah Pemuda

Dalam setiap perkembangan zaman, seorang pemuda tentu memiliki peran aktif yang selalu memberikan semangat bagi terbentuknya kesatuan bangsa. Mereka diharapkan mampu menopang keutuhan Indonesia ini dalam persatuan yang kokoh.

Adanya sejarah sumpah pemuda yang lahir karena keterbatasan ruang pemikiran di setiap daerah akhirnya mengusung semangat dengan berusaha menghapus tantangan berupa ego yang menjadi batas kedaerahan seperti perbedaan budaya, agama dan lainnya.

Peristiwa sumpah pemuda pada era reformasi bukan dijadikan sebagai Agent of Change, namun perlu dijadikan solusi bagi bangsa ini. Diharapkan agar para penerus bisa melestarikan jati diri seperti kalangan muda zaman pergerakan kemerdekaan dahulu.

Sumpah pemuda dalam era reformasi setidaknya mendapatkan perhatian yang memadai  dengan adanya upacara peringatan sebagai momentum untuk membangkitkan kembali semangat gelora kebangsaan di setiap tahunnya.

Makna Peringatan Sumpah Pemuda Setiap Tanggal 28 Oktober

Makna Peringatan Sumpah Pemuda Setiap Tanggal 28 Oktober

Tanggal 28 Oktober di tahun 1959 telah ditetapkan menjadi Hari Sumpah Pemuda sebagai peringatan nasional oleh kebijakan pemerintah Indonesia melalui Keppres No. 316. Dan masih tetap diperingati hingga sekarang di Indonesia.

Peringatan hari sumpah pemuda merupakan perwujudan mengenang sejarah peristiwa setelah ketetapan Kongres Pemuda II dilakukan di Batavia besama para kalangan muda. Peringatan tersebut sebagai bentuk pergerakan menuju kemerdekaan negara Indonesia.

Makna dari adanya peringatan hari sumpah pemuda merupakan momentum besar dalam memotivasi generasi muda penerus bangsa supaya memahami arti dari perjuangan yang tidak mudah dan perlunya siasat serta strategi dalam upayanya.

Besarnya pengorbanan dari para pemuda-pemudi Indonesia dalam merumuskan dan mengikrarkan sumpah pemuda pada masa itu sangat perlu di apresiasi demi pertahanan serta pelajaran terhadap keutuhan NKRI saat ini hingga nanti.

Peristiwa sejarah sumpah pemuda bukan hanya dijadikan sebagai peringatan hari besar saja, melainkan untuk pelajaran di era reformasi dalam menghargai pengorbanan dan perjuangan para pendiri bangsa hingga terwujudnya Indonesia merdeka seperti saat ini.

Baca Juga: Tarian Daerah

Di tangan pemuda lah bangsa ini bisa bersatu. Oleh sebab itu, dengan adanya momentum pergerakan kemerdekaan ini, setiap pemuda diharapkan memiliki semangat dan juga integritas tinggi dalam menggapai kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tinggalkan komentar