Supply Chain Management, Pengertian, Tujuan dan Prosesnya

Supply Chain Management: Pengertian, Tujuan dan Prosesnya

Diposting pada

Apakah Anda sering mendengar mengenai supply chain management? Atau ingin mengetahui tentang hal tersebut? Tidak ada salahnya jika memahami terlebih dahulu serba-serbinya yang meliputi pengertian, tujuan, proses, jaringan, komponen, manfaat, strategi, penggerak, tantangan dan manajemen SCM yang harus Anda ketahui.

Pengertian Supply Chain Management (SCM) Menurut Para Ahli

Pengertian Supply Chain Management

Terdapat berbagai macam arti supply chain management yang beredar, mulai dari wikipedia sampai tokoh terkenal. Secara umumnya supply chain management atau SCM adalah, suatu sistem yang mengelolah suatu layanan dengan pelayanan lainnya untuk pemenuhan kebutuhan pelanggan.

Selain itu, ada pula beberapa pengertian Supply chain management menurut para ahli yang bisa Anda jadikan referensi. Berikut di antaranya:

Dr. Dawei Lu

Dr. Dawei Lu berpendapat bahwa pengertian supply chain management adalah suatu kelompok perusahaan yang saling terkait untuk memberikan nilai lebih pada prosesnya. Dari perubahan input sumber asal menuju ke produk akhir atau jasa yang dibutuhkan dan dituntut konsumen.

Baca Juga: Pengertian Informasi

Supply chain management ini dapat ada atau terbentuk karena ada beberapa kerja sama dari perusahaan yang berpartisipasi. Karena terdapat suatu proses panjang di dalamnya, sehingga melebihkan lebih dari satu komponen utama.

Mentzer et.al.

Menurut Mentzer et.al. pengertian dari supply chain management (SCM) adalah, suatu koordinasi sistem yang memiliki fungsi bisnis tradisional dan strategi dari suatu bisnis atau perusahaan tertentu dalam rantai pasokan.

Tujuan dari supply chain management (SCM) ini adalah untuk meningkatkan kerja jangka panjang dari perusahaan. Hal ini dikhususkan pada individunya dan umumnya bagi semua palaku bisnis secara keseluruhan. Dengan begitu, kinerja mereka akan lebih maksimal lagi.

Pires, et. Al.

Menurut pires, et. al supply chain management (SCM) memiliki arti sebuah rantai atau jaringan dari supplier, manufaktur, distribusi, perakitan, dan fasilitas logistik. Hal ini kemudian yang membentuk fungsi pembelian dari material atau bahan-bahan dasar/mentah.

Dari material bahan tersebut kemudian diolah menjadi barang setengah atau sepenuhnya jadi. Setelah itu, produk tersebut dikirimkan kepada konsumen atau orang yang memesan melalui sistem distribusi atau penyebaran.

Pujawan

Sedangkan untuk pujawan berpendapat bahwa suplly chain management (SCM) ini memiliki arti, suatu pendekatan, cara, metode secara integratif dalam pengelolaan aliran produk atau bahan-bahan dasar, informasi bahkan uang.

Pada supply chain management, produk, informasi, dan uang ini dikelola dengan melibatkan banyak pihak terintegrasi dari hulu menuju hilir. Di antaranya yaitu terdapat para suplier, pabrik, serta jaringan-jaringan distribusi dan jasa logistik.

Robert J. Vokurka, Gail M. Zank, dan Calr. M. Lund III

Menurut robert J. Vokurka, Gail M. Zank, dan Calr. M. Lund II berpendapat bahwa supply chain management, biasa disingkat SCM merupakan seluruh aktivitas atau kegiatan yang di dalamnya melibatkan penghantaran produk dengan melalui para konsumen.

Pada SCM ini yang termasuk dalam penghantaran adalah sumber bahan baku, suku cadang, manufaktur, perakitan, pergudangan, pelacakan inventasris, pesanan yang masuk, manajemen pesan tersebut, distribusi ke seluruh saluran, dan sistem informasi untuk memantau kegiatan.

Simchi-Levi et.al.

Pengertian SCM atau biasa disebut rantai pasokan menurut Simchi-Levi dan kawan-kawan adalah, suatu rangkaian proses pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan pemasok, produsen, gudang, dan juga toko dari produk tersebut.

Dalam SCM hal ini dilakukan agar persediaan dari produk tersebut dapat dibuat dan didistribusikan pada jumlah, lokasi atau tempat, dan waktu yang pas sehingga akan menghemat anggaran keuangan keseluruhan sistem namun tetap dapat memuaskan kebutuhan serta layanan.

Stevenson

Sedangkan untuk setevenson berpendapat bahwa supply chain management (SCM) adalah, suatu koordinasi yang strategis dari rantai pasokan, dengan melibatkan berbagai perusahaan atau klien bisnis industri tertentu.

Suatu koordinasi strategis dalam supply chain management atau SCM tersebut memiliki tujuan untuk dapat mengintegrasikan manajemen dari penawaran serta permintaan suatu produk, sehingga akan terjadi keseimbangan dalam pasar.

Chase, Aquilano, dan Jacobs

Menurut chase, aquilano, dan jacobs berpendapat bahwa supply chain management atau SCM adalah suatu sistem atau peraturan yang dapat menerapkan pendekatan secara totalitas di dalam mengelolah seluruh aliran informasi, bahan, jasa, bahkan juga bahan baku.

Aliran informasi, bahan, jasa, dan bahan baku tersebut dalam supply chain management dialirkan melalui pabrik produsen, gudang penyimpanan barang, hingga menuju ke tangan konsumen pada proses akhirnya.

Heizer, Rander

Dua orang ini yaitu heizer, rander berpendapat bahwa supply chain management adalah suatu kegiatan atau aktivitas pengelolaan berbagai hal untuk memperoleh barang awal yang kemudian diolah menjadi setengah bahkan sepenuhnya jadi.

Setelah terjadi pengolaan menjadi barang setengah atau sepenuhnya jadi, dalam supply chain management (SCM) produk tersebut dikirim sampai menuju tangan pelanggan dengan proses yang disebut distribusi.

Kalakota

Menurut kalakota pada tahun 2007, berpendapat bahwa supply chain management (manajemen rantai suplai) adalah sebuah proses pemayungan. Dimana produk atau barang diciptakan dan disampaikan kepada konsumen dengan suatu sudut yang struktural.

Dalam sebuah rantai suplai, menuju pada suatu jaringan atau susunan rumit dari relasi yang mempertahankan organisasi dengan pihak kerja sama. Yaitu untuk mendapatkan sumber produksi dalam penyampaiannya kepada konsumen.

Hanfield

Menurut Hanfield, supply chain management adalah, suatu integrasi dari organisasi pengelolaan rantai suplai dan aktivitas melalui hubungan berbagai pihak. Salah satunya untuk berbagi informasi agar menciptakan sistem nilai berkinerja tinggi yang memberikan keunggulan kompetitif.

Pihak-pihak yang terlibat dalam supplay chain management tersebut di antaranya adalah, organisasi koperasi, proses bisnis yang efektif, dan tingkat tinggi lainnya. Keuntungan dari pihak tersebut adalah berkelanjutan dan bermanfaat.

Chow, et. Al.

Chow,et.al. berpendapat bahwa manajemen rantai pasokan (supply chain management) adalah suatu pendekatan yang holistik dan strategis dalam berbagai hal dengan berbagai pihak menguntungkan terlibat di dalamnya.

Pendekatan yang holistik dan strategis yang dimaksud dalam supply chain management adalah dalam hal permintaan, operasional, pembelian, dan manajemen proses logistik. Keempat tersebut saling berhubungan dan terintagri satu sama lain.

Russel dan Taylor

Menurut Russel dan Taylor manajemen rantai pasokan (supply chain management) adalah, sebuah proses pengelolaan arus produk, informasi, dan juga pelayanan meliputi seluruh jaringan yang tersebar.

Jaringan-jaringan yang terlibat dalam supply chain management (SCM) meliputi pelanggan atau konsumer produk, perusahaan produsen, hingga pemasok barang tersebut. Terdapat kesinambungan dari jaringan tersebut sehingga menciptakan harmonisasi proses.

Ballou

Ballou berpendapat bahwa supply chain management (SCM) adalah suatu jaringan dari organisasi atau komunitas yang saling berhubungan, membutuhkan satu sama lain, dan bekerja sama untuk dalam berbagai hal untuk mencapai tujuannya yaitu konsumen.

Dalam supply chain management, kerja sama tersebut diperlukan untuk mengatur, mengawasi, dan meningkatkan aru informasi maupun komoditi semenjak dari titik supplier atau produsen hingga ke end user yaitu konsumen produk.

Said

Menurut said, supply chain management atau manajemen rantai pasokan adalah pengelolaan informasi, barang, dan jasa mulai dari pemasok paling awal (produsen) sampai kepada konsumen yang paling terakhir.

Dalam supply chain management (SCM) pengelolaan tersebut dilakukan dengan menggunakan pendekatan sistem yang terintegrasi dengan tujuan yang sama di setiap komponennya, sehingga goal tersebut dapat tercapai.

Indrajit dan Djokopranoto

Menurut Indrajit dan Djokopranoto berpendapat bahwa, Supply chain management merupakan suatu sistem yang menjadi tempat organisasi menyalurkan barang produksi dan jasanya kepada para pelanggannya.

Rantai dalam sistem ini juga merupakan suatu jaringan dari berbagai perusahaan atau organisasi yang saling berhubungan dan memiliki tujuan sama, yaitu sebaik mungkin menyelenggarakan pengadaan barang. Dari perubahan proses bahan mentah menjadi sepenuhnya jadi.

Christopher

Christopher memiliki pendapat bahwa supply chain management atau SCM adalah, suatu hubungan timbal balik atara produsen dan konsumen, untuk menyampaikan nilai-nilai yang sangat optimal kepada pelanggan tersebut.

Dalam sistem supply chain management, nilai-nilai tersebut disampaikan dengan biaya yang cukup rendah. Namun memberikan keuntungan dalam keseluruhan bagian dari rantai pasokan secara merata.

Tujuan Supply Chain Management

Tujuan Supply Chain Management

Setelah mengetahui definisi dari supply chain management secara umum maupun beberapa ahli, Anda perlu mengetahui tujuan dari manajemen rantai pasokan ini agar lebih memahami cara kerja dan sepak terjangnya dalam dunia bisnis utamanya.

Dari segi konsep, tujuan supply chain management ini tidak lepas dari para ahli pula. Terdapat dua ahli yang akan membantu Anda untuk memahaminya, baik itu goal secara umum maupun strategisnya. Berikut ulasannya:

Menyeimbangkan Permintaan dan Penawaran Barang

Untuk poin pertama ini adalah tujuan umum dari supply chain management menurut stevenson. Sebagai SCM, harus bisa menyeimbangkan antara permintaan dan penawaran barang atau jasa di pasaran dengan cara yang efektif efisien, sehingga bisa meminimalisasi banyak hal, termasuk biaya.

Baca Juga: Prinsip Etika Bisnis

Dalam upaya menjaga keseimbangan ini, SCM melakukan banyak hal, di antaranya : Identifikasi masalah lalu meresponnya, penentuan tingkat outsourcing yang tepat, Mengelola hubungan dengan pelanggan. Tidak lupa manajemen pemasok, risiko, dan pengadaan barang.

Memenangkan dan Bisa Bertahan Pada Persaingan Pasar yang Ketat

Untuk tujuan SCM selanjutnya, merupakan goal secara strategis yang disampaikan oleh I Nyoman Pujawan. Sangat perlu bagi supply chain management untuk bisa memenangkan atau minimal bisa bertahan pada persaingan pasar yang ketat.

Selanjutnya I nyoman Pujawan mengklasifikasikan beberapa kategori produk yang harus bisa disediakan oleh supply chain management, agar bisa memenangkan ataupun bertahan pada persaingan pasar. Meliputi, tepat waktu, berkualitas, bervariasi dan tentunya harus tetap terjangkau.

Mencapai Daya Saing Strategisnya dan Meningkatkan Laba di atas Rata-Rata

Untuk tujuan selanjutnya dari supply chain management (SCM) adalah, untuk mencapai daya saing strategis dan meningkatkan laba perusahaan di atas rata-rata. Hal ini disampaikan oleh Hitt, Ireland, dan Horkinsson.

Tanda apabila sudah mencapai daya saing strategis adalah ketika perusahan dapat menemukan formulasi suatu strategi bagus menggaet konsumen yang unik atau sulit untuk ditiru oleh perusahaan lainnya. Jika hal ini terjadi tentu akan terjadi melejitnya peningkatan keuntungan di atas rata-rata.

Proses Supply Chain Management

Proses Supply Chain Management

Tentunya dalam menjalankan rantai pasokannya, tentunya terdapat jalan atau langkah dalam supply chain management yang harus dijalankan terus-menerus agar bisa tercapai tujuan akhirnya, sehingga adanya proses di dalamnya.

Proses SCM merupakan penjelasan alur dari produk masih berupa bahan mentah, kemudian diubah dan dijual melalui berbagai fasilitas yang terhubung oleh rantai sepanjang arus produk dan material barang tersebut. Dalam prosesnya, terbagi menjadi tiga jenis tanggung jawab yang saling berkoordinasi dan harus dilakukan, yaitu meliputi:

Arus Informasi

Dalam proses supply chain management, arus informasi ini berisi mengenai prediksi permintaan dari konsumen, perkiraan penawaran yang bisa dilakukan, informasi perpindahan barang, serta update terbaru apakah produk sudah terkirim atau belum kepada pelanggan.

Arus informasi dalam SCM ini tentunya sangat penting untuk dilakukan dengan benar dan teliti. Mengingat dalam sistem ini terdapat rangkaian rantai yang dihubungkan. Dengan begitu, agar tidak terjadi miskomunikasi, laporan atau hal lainnya yang disampaikan harus terstruktur dan menyeluruh.

Arus Material

Selanjutnya dalam arus material di supply chain management ini berperan untuk memantau dan melibatkan pergerakan bahan mentah dari supplier, sampai menjadi produk jadi dan tiba di tangan konsumen atau pelanggan dengan baik.

Selain itu, dipantau juga feedback dari konsumen. Apakah terjadi pengembalian atau retur produk jadi. Serta dilibatkan pula layanan, maupun daur ulang serta pembuangan dari hasil jadi atau bahan produksi tersebut.

Arus Finansial

Dalam arus finansial supply chain management atau SCM ini berisi segala tentang pembayaran dan penjadwalannya, alur perkreditan, hingga persetujuan kepemilikan dari beberapa atau keseluruhan pihak rantai pasokan.

Arus finansial dalam supply chain managemenet atau manajemen rantai pasokan ini tentunya penting. Sebab, agar selalu bisa melihat gambaran anggaran keuangan dan dapat digunakan untuk menentukan tindakan apa yang bisa ditempuh kedepannya.

Tahapan dari Supply Chain Management

Tahapan dari Supply Chain Management

Dari arus informasi, material, maupun finansial yang berkoordinasi, jika dijabarkan menjadi suatu proses terstruktur dan lebih jelas adalah sebagai berikut :

Tahap Perencanaan

Dalam supply chain management, tentunya hal pertama yang akan dilakukan adalah melakukan perencanaan. Pada tahap ini terdapat beberapa kegiatan yang terlibat, yaitu: strategic planning, demand planning, dan juga supply planning.

Pada tahap planning strategic berfokus pada kebutuhan yang diperlukan selama proses penyaluran barang, demand untuk mempersiapkan produk yang dijual agar sesuai dengan pasar. Kemudian supply berfokus pada penyaluran bahan dari perusahaan ke pihak lain sampai pada konsumen.

Tahap Procurement (Pengadaan)

Dalam supply chain management, tahap kedua yang dilakukan setelah adanya perencanaan adalah procurement. Pada step ini dilakukan pengadaan barang, dimana perusahaan berusaha mendapatkan bahan mentah tersebut dengan harga murah dan berkualitas sesuai kebutuhan.

Kebutuhan ini diketahui dari karyawan yang melakukan analisis kemudian diserahkan kepada manager procurement untuk dievaluasi. Rangkaian kegiatan pada tahap ini yaitu meliputi, pengajuan pembelian, penilaian oleh manajer,persetujuan, kemudian baru melakukan pembelian barang.

Tahap Produksi Produk

Tahap ketiga yang harus dilakukan oleh supply chain management adalah memproduksi. Tahapan ini merupakan bagian penting dimana semua bahan mentah yang sudah diperoleh sebelumnya lanjut diolah menjadi sesuai kebutuhan dari perusahaan.

Selain pada bahan baku, proses produksi juga mempengaruhi kualitas produk perusahaan dalam sistem SCM. Semakin baik prosesnya, tentu hasilnya juga akan memuaskan. Ketidak maksimalan pada step ini akan mengakibatkan hasil jadi yang tidak maksimal, bahkan menurunnya pendapatan .

Tahap Pengelolaan Gedung

Setelah melakukan produksi, tahapan selanjutnya atau keempat yang harus dilakukan yaitu pengelolaan gedung. Pada step ini produk jadi akan disimpan dalam gedung sebelum disalurkan dan dijual kepada konsumen.

Terdapat beberapa aktivitas pada tahap pengelolaan gedung ini, yaitu, memasukkan barang, mengeluarkannya, cross docking,dan stock opname.Setiap kegiatan tersebut harus dilakukan dan dicatat secara berkala dan teliti supaya tidak terdapat perbedaan antara produk fisik dengan catatan.

Tahap Pengiriman Pesanan

Setelah pengelolaan gedung, tahap berikutnya adalah pengiriman pesanan. Perusahaan akan melakukan packaging terhadap produk sesuai permintaan yang kemudian dikirim kepada konsumen melalui pihak distributor seperti kurir atau semacamnya.

Dalam proses pendistribusian atau pengiriman barang, perusahaan diusahakan untuk selalu update lokasi dan keadaan dari produk tersebut, apakah tetap aman terkendali. Hal ini untuk memastikan produk sampai dengan selamat kepada konsumen atau perantara lainnya.

Tahap Pengembalian Produk

Rangkaian tahapan terakhir yaitu pengembalian produk. Step ini dilakukan apabila produk pesanan yang telah sampai pada konsumen atau perantara lainnya rusak, terjadi kekeliruan, keterlambatan atau hal buruk lainnya.

Hal ini dapat diatasi dengan melakukan pengembalian uang ataupun barang yang sama sesuai dengan permintaan. Untuk menghindarinya, perusahaan bisa memperhatikan lagi pengemasan dan produk yang dikirimkan, apakah sudah memiliki kualitas baik atau tidak.

Jaringan Supply Chain Management

Jaringan Supply Chain Management

Dalam proses tersebut, tentunya terdapat penghubungan dalam setiap mata rantai dari SCM ini yang akan memperjelas jalan kerja dari SCM. Hal ini kemudian disebut jaringan supply chain management (SCM).

Hal inilah yang kemudian akan membentuk suatu ikatan sehingga terjalinlah kerja sama dari setiap pihak dan terdapat suatu kepuasan maupun keuntungan. Menurut Anwar, terdapat lima jaringan Supply chain management, berikut ini adalah uraian rincinya yang harus Anda ketahui:

Rantai 1: Supplier

Rantai 1 merupakan awal mula mata rantai dari supply chain management, yaitu tentunya dari pihak supplier. Sebutan lainnya yaitu, pemasok atau produsen penyedia sumber bahan baku pertama yang kemudian akan diolah menjadi produk setengah atau bahkan sepenuhnya jadi pada perusahaan.

Dalam hal ini, bahan baku yang dimaksud dapat berupa berbagai macam jenisnya, seperti dalam bentuk barangn mentah, pendukung, pelengkap, hiasan atau accecoriss, penolong, suku cadang, bahkan bisa berupa jasa.

Rantai 1-2: Supplier – Manufacturer

Mata rantai selanjutnya yang akan terbentuk yaitu antara supplier dan manufacturer. Manufaktur merupakan pekerjaan membuat, memabrikasi, mengasembling, merakit, mengonversikan, ataupun menyelesaikan tahap “finishing” dari suatu produk pada pemasok.

Hubungan yang terjalin di antara supplier dan manufacturer mengakibatkan terciptanya suatu potensi atau peluang penghematan anggaran keuangan. Hal ini karena inventories bahan yang dikelola pihak manufaktur sudah tersedia di pemasok, sehingga hanya sebagai tempat transit produk tersebut.

Rantai 1-2-3: Supplier – Manufacturer – Distributor

Setelah produk diselesaikan oleh manufaktur, mata rantai selanjutnya yang akan terbentuk adalah antara supplier, manufacturer, dan distributor. Fungsi dari pihak ketiga ini adalah untuk mendistribusikan produk kepada toko-toko atau konsumen secara langsung.

Meskipun banyak perusahaan yang melakukan distribusi sendiri secara langsung, namun banyak juga yang menggunakan sistem supply chain management ini dengan memanfaatkan suatu atau beberapa distributor, sehingga akan membuat kerja lebih efektif dan berlangsung cepat.

Rantai 1-2-3-4: Supplier – Manufacturer – Distributor – Gerai Retail

Setelah melalui proses pendistribusian, mata rantai keempat yang akan terbentuk adalah antara supplier, manufacturer, distributor, dan gerai retail. Pedagang besar dalam sistem ini berperan sebagai proses penyimpanan atau inventory dan mengirimkan ke toko pengecer.

Baca Juga: Pengertian Startup

Hal ini karena biasanya pedagang besar memiliki fasilitas gudang sendiri atau menyewanya pada orang lain. Dari sini, terdapat peluang melakukan penghematan dalam biaya penyewaan tempat untuk persediaan barang dan dapat memproduksi dalam jumlah yang banyak.

Rantai 1-2-3-4-5: Supplier – Manufacturer – Distributor – Gerail Retail – Pelanggan

Setelah sampai pada para pedagang besar, mata rantai jaringan terakhir dan terkomplek akan terbentuk, yaitu meliputi supplier, manufacturer, distributor, gerai retail, dan pelanggan. Barang atau produk akhirnya akan sampai pada tangan pelanggan pada tahap ini.

Gerai retail dapat menawarkan barang secara langsung kepada para pembeli, pengguna, atau pelanggan. Selain itu, para pengecer dapat melakukannya, yang dimaksud di sini contohnya toko kelontong, warung-warung, super market, dan lain sebagainya.

Komponen Utama dalam Supply Chain Management

Komponen Utama dalam Supply Chain Management

Tentu dengan beberapa proses dan mata rantai yang panjang dari supply chain management (SCM), terdapat beberapa komponen utama yang pastinya mendukung keberhasilan dari penerapan sistem ini oleh suatu organisasi atau perusahan terkait.

Menurut Turban, dalam supply chain management atau manajemen jaringan pemasokan ini terdapat tiga komponen utama, yaitu:

Upstream Supply Chain

Upstream supply chain management  atau bagian hulu ini mengurusi tentang pendistribusian barang antara perusahaan manufacture dengan berbagai pihak penyalur yang memiliki tugas mendistribusikan produk terkait agar sampai pada tangan konsumen.

Hal ini memiliki artian bahwa produk dari pihak pemasok atau produsen tidak langsng sampai pada tangan konsumen, tetapi disalurkan terlebih dahulu kepada perusahaan penyalur alias distributor. Bagian paling penting dalam upstream supply chain adalah pengadaan barang.

Internal Supply Chain

Internal supply chain management atau bagian internal ini mengurusi berbagai macam hal yang berhubungan dengan manajemen produksi, pabrikasi, maupun kontrol akan ketersediaan dari bahan baku. Hal tersebutlah perhatian utama di sini.

Dapat diartikan bahwa pada internal supply chain ini terdapat semua aktifitas pemasukan barang atau proses inhouse. Salah satunya untuk mentransformasikan masukan dari para penyalur ke dalam keluaran perusahaan.

Downstream Supply Chain

Terakhir ada downstream supply chain yang mengurusi berbagai hal berkaitan dengan semua proses transfer barang dari perusahaan, kemudian langsung menuju tangan konsumen atau pelanggan akhir. Pada bagian ini perhatian terpusat pada distribusi, transportasi, gudang, dan after-sale service.

Perbedaan antara downstream dan upstream supply chain adalah pada bagian ini tidak barang atau produk tidak perlu harus melalui distributor atau retail outlet, melainkan bisa langsung sampai dan dibeli oleh konsumen.

Apa saja Strategi Supply Chain Management?

Strategi Supply Chain Management

Tentunya untuk menangani banyaknya proses yang terlibat dalam supply chain management agar berjalan dengan lancar dan meminimalisasi hambatan, diperlukan strategi yang handal untuk menanganinya.

Untuk strategi supply chain management (SCM) ini telah disampaikan Jay Heizer serta Barry Render dalam bukunya berjudul manajemen operasi. Berikut adalah uraian detailnya mengenai hal tersebut:

Bernegoisasi dengan Banyak Pemasok atau Produsen

Untuk strategi pertama yaitu bernegoisasi dengan banyak pemasok atau prosen. Anda harus dapat mencari dan mengumpulkan banyak referensi supplier yang kemudian dapat memilih di antaranya dengan penawaran paling menarik bagi perusahaan.

Ketika memilih pemasok, usahakan jangan memilih produsen tunggal. Jika bisa pilih beberapa agar ketika terjadi masalah atau hal yang tidak diinginkan pada salah satu pihak supplier, Anda bisa menggunakan lainnya sehingga supply chain tidak terputus dan dapat melanjutkan aktivitas bisnis.

Mengembangkan Hubungan Kerja Sama dengan Sedikit Pemasok

Strategi selanjutnya yang dapat dilakukan yaitu dengan mengembangkan hubungan kerja sama berjangka panjang dengan sedikit pemasok atau supplier. Hal ini bertujuan untuk memuaskan pelanggan karena kualitas bahan akan selalu sama sumbernya.

Selain itu, pemasok yang sudah menjalin kerja sama lama dengan perusahaan pasti akan paham mengenai tujuan dan lebih berkomitmen untuk berpartisipasti just in time, yaitu ketika tidak adanya fasilitas gudang, sehingga persediaan barang akan dikirimkan tepat saat waktunya dibutuhkan.

Integrasi Vertikal

Strategi selanjutnya dalam supply chain management yang dapat dilakukan yaitu membangun integrasi vertikal. Hal ini berarti perusahaan berusaha mengembangkan skill untuk memproduksi barang atau jasa sendiri yang sebelumnya hanya dilakukan oleh pemasok.

Ada dua jenis integrasi vertikal dalam manajemen rantai pasokan yaitu yang pertama “maju” menyarankan produsen komponen untuk membuat produk jadi. Sedangkan tipe kedua “mundur” menyarankan perusahaan untuk membeli pemasok sehingga dapat dibuat produk sesuai keinginan.

Keiretsu Network

Hal yang dimaksud dengan keiretsu network atau jaringan keiretsu adalah memadukan antara sedikit pemasok dengan integrasi vertikal. Strategi ini dapat menjadikan pemasok akan menjadi bagian dari perusahaan sehingga akan terjalin kerja sama jangka panjang antara keduanya.

Kerja sama dalam kurun waktu lama tersebut diharapkan memiliki fungsi untuk mempengaruhi keahlian teknisi dan kualitas barang produksi agar lebih stabil bagi perusahaan. Pada anggota kairetsu dapat beroperasi sebagai subkontraktrok rantai dari pemasok lebih kecil.

Virtual Company

Strategi terakhir yang dapat dilakukan yaitu dengan mengadakan virtual company atau perusahaan maya. Poin yang dimaksud di sini adalah mengandalkan berbagai jenis hubungan dengan pemasok untuk menyediakan barang atau jasa atas permintaan.

Virtual company dalam supply chain management (SCM) ini tidak memiliki batasan ruang, tempat, maupun waktu untuk bergerak. Sehingga mereka mampu untuk mampu untuk memenuhi permintaan pasar terhadap produk atau barang yang berubah-ubah karena berbagai faktor.

Manfaat dari Supply Chain Management

Manfaat dari Supply Chain Management

Dengan sistem supply chain management, karena melibatkan berbagai pihak dan komponen, tentunya akan tercipta hal yang besar dan membawa keuntungan besar pula. Berikut ini adalah uraian beberapa manfaat dari penerapan SCM dalam sebuah perusahaan yang harus diketahui:

Penyesuaian Produk

Dengan adanya sistem supply chain management atau SCM, perusahaan dapat dengan mudah mengetahui, mengidentifikasi, dan menganalisis produk apa yang sedang diminati oleh konsumen melalui informasi yang diperoleh dari mata rantai.

Dengan begitu, perusahaan dapat melakukan rancangan untuk menyesuaikan produk seperti apa yang akan laku di pasaran. Dengan cara, mengkomunikasikan kepada para operator produksi atau perancangan produk, kemudian segera diproduksi.

Mutu Tinggi

Dengan menggunakan sistem supply chain management atau manajemen rantai pasokan, perusahaan dapat memperoleh mutu tinggi dari produk yang dihasilkan, sehingga akan semakin menarik minat konsumen untuk membelinya.

Mutu tinggi ini dapat diperoleh karena dalam supply chain perusahaan akan bekerja sama dengan suatu atau beberapa pemasok dengan kualitas yang tidak diragukan lagi. Dengan begitu, produksi pun membuahkan hasil maksimal dan terbaik.

Penghematan Keuangan

Dengan sistem supply chain management ini perusahaan dapat menghemat banyak anggaran keuangan yang dikeluarkan untuk banyak hal. Meliputi proses pengadaan barang, produksi, dan tentunya pendistribusian dari produk tersebut.

Dengan adanya sistem ini, perusahaan tidak lagi mengeluarkan anggaran untuk hal tersebut. Karena sudah bekerja sama dengan beberapa pihak supply chain yang terkait. Adanya integrasi aliran produk itu dapat menghemat bahkan mengurangi biaya dalam produksi dan distribusi.

Kecepatan Distribusi

Dengan adanya sistem manajemen rantai pasokan ini perusahaan dapat mempercepat aliran distribusi penyampaian barang kepada para konsumen atau pelanggan, sehingga akan menimbulkan feedback positif dari mereka.

Hal ini tentunya dalam supply chain, terdapat pihak distributor handal yang akan membantu perusahaan untuk menyebarkan hasil produksi kepada tangan konsumen.  Dengan begitu, tidak perlu susah payah melakukan proses distribusi sendiri dan kecepatannya sampai pun terjamin.

Laba dan Keuntungan Semakin Tinggi

Dengan adanya sistem supply chain management, laba dan keuntungan yang diperoleh oleh dapat semakin tinggi. Tentu saja hal ini karena perusahaan dapat menjual barang atau jasanya dengan maksimal, mengetahui keinginan pasa dan menjaga tingkat kepuasan para konsumen.

Selain itu dengan efisiensi anggaran keuangan pada produksi dan distribusi, dapat semakin menunjang pendapatan yang didapatkan. Jika berbagai hal tersebut dapat selalu dipertahankan, maka dipastikan perusahaan akan memperoleh keuntungan di atas rata-rata.

Perkembangan Perusahaan yang Pesat

Dengan adanya sistem supply chain management ini tentu tidak akan diragukan bagi perusahaan bisa berkembang dengan pesat secara cepat. Tentunya didukung oleh keseluruhan mata rantai yang bekerja menghasilkan keuntungan berlipat ganda.

Ketika mencapai laba dan keuntungan yang semakin tinggi, tentunya target atau tujuan dari perusahaan akan tercapai dengan cepat. Ketika hal tersebut terjadi tentu akan terjadi suatu perkembangan pesat dari perusahaan tersebut.

Pemanfaatan Maksimal Aset Perusahaan

Dengan adanya sistem supply chain management atau SCM ini perusahaan akan memanfaatkan aset yang dimiliki secara maksimal. Salah satunya yaitu karyawan, agar bisa menunjang kerja sama dalam mata rantai keseluruhan dan menghasilkan keuntungan.

Baca Juga: Pengertian Invoice

Karyawan merupakan suatu aset yang pentng bagi suatu perusahaan. Dengan memaksimalkan dan meningkatkan kemampuan, keterampilan, maupun pengetahuannya akan berdampak banyak pada supply chain.

Penggerak atau Driver dari Supply Chain Management

Penggerak atau Driver dari Supply chain management

Dalam supply chain management ini juga terdapat beberapa faktor yang menjadi penggerak agar sistem ini bisa terus berjalan dan membawa keuntungan jangka panjang bagi setiap perusahaan atau pihak yang ada di dalamnya.

Berikut adalah uraian lengkap dari 5 penggerak supply chain management menurut Chopra dan Mehdi yang berpengaruh terhadap performa SCM itu sendiri kedepannya:

Informasi

Penggerak pertama yaitu informasi yang diperoleh oleh sistem SCM. Baik itu berupa data ataupun analisis dari berbagai faktor (inventory, transportasi, fasilitas dan pelanggan) di seluruh mata rantai. Perolehan keterangan yang lengkap akan membuat supply chain lebih responsif dan efisien.

Informasi merupakan komponen penggerak terbesar performa dalam mata rantai. Dalam keputusan untuk penyebarannya. Terdapat berbagai komponen mengenai hal ini, yaitu: push versus pull, coordinating and information sharing, enabling technologies, serta forecasting & aggregate planning.

Fasilitas

Penggerak atau driver selanjutnya yaitu fasilitas yang merupakan tempat, gedung, atau ruang dalam jaringan supply chain management dimana persediaan disimpan, dirakit dan diproduksi. Bila perusahaan memiliki tingkat efisiensi tinggi, biasanya terdapat sedikit gudang.

Keputusan mengenai hal-hal seperti kapasitas, lokasi, metode operasi dan gudang penyimpanan dari fasilitas supply chain management memiliki peran yang sangat signifikan terhadap performa kinerja rantau suplai itu sendiri nantinya.

Transportasi

Sistem transportasi juga sangat penting sebagai penggerak atau driver dalam supply chain management. Karena merupakan bagian yang memindahkan inventory (persediaan) dari titik ke titik lainnya dalam rantai pemasok.

Keputusan yang perlu dipertimbangkan dalam faktor penggerak transformasi di antaranya yaitu: modes of transportation (cara produk dipindahkan), lalu route and network selection (jalur dan kumpulan lokasi pengiriman), dan in house or outsource (kendaraan pribadi atau perusahaan lan).

Inventory (Ketersediaan)

Dalam manajemen rantai pasokan, inventory atau persediaan meliputi semua produk mentah, dalam proses, dan bahan-bahan yang sudah diselesaikan. Pentingnya faktor penggerak ini adalah perubahan kebijakan pada ketersediaan dapat mempengaruhi tingkat renspon dan efisiensi rantai pasokan.

Keputusan yang perlu dipertimbangkan pada faktor penggerak atau driver bagian inventory dalam supply chain management di antaranya yaitu : cycle inventory (rata-rata untuk pemenuhan suatu waktu), safety inventory (untuk berjaga-jaga terhadap kelebihan permintaan), dan seasonal inventory.

Tantangan dalam Mengelola Supply Chain Management

Tantangan dalam Mengelola Supply Chain Management

Setelah mengetahui berbagai hal sebelumnya, Anda juga perlu mengetahui tantangan dari supply chain management atau manajemen rantai pasokan ini. Sebelum tertarik memulainya agar bisa berjaga-jaga untuk suatu hal buruk yang tidak terduga.

Dalam suatu hal tentunya selalu ada tantangan yang dihadapai, termasuk dalam supply chain management (SCM), agar sistemnya berjalan dengan baik dan membawa kesuksesan. Berikut adalah uraiannya:

Kompleksitas Struktur Rantai Pemasok atau Supply Chain

Tantangan pertama yang perlu dihadapi dalam mengelola supply chain management adalah kompleknya struktur rantai pemasok. Setelah mengetahui beberapa hal di atas, tentunya Anda tahu bahwa ini benar, karena dalam rantai pemasok melibatkan banyak aspek dengan keperluan berbeda.

Selain itu, dengan adanya banyak aspek, juga terdapat berbagai perbedaan pula yang akan mempengaruhi jalannya sistem tersebut. Namun jika rancangan strukturnya sudah jelas, semua hal tersebut dapat diatasi.

Ketidakpastian

Dalam supply chain management terdapat berbagai ketidakpastian yang akan dialami, yaitu meliputi :

  • Ketidakpastian Pasokan: harga, kualitas bahan baku, dan lain sebagainya.
  • Ketidakpastian Internal: kualitas produksi yang kadang tidak dapat terjamin, mesin tidak bekerja secara optimal atau rusak, dan lain sebagainya.
  • Ketidakpastian permintaan dari pelanggan atau pasa

Menyeimbangkan Kebutuhan Pengiriman Konsumen

Menurut James, Mona J. Fitzsimmons, tantangan dalam manajemen rantai pemasok ini adalah menyeimbangkan kebutuhan pengiriman konsumen secara efektif dengan meningkatkan anggaran untuk produksi dan persediaan, karena melibatkan banyak pihak tentunya tidak sedikit pula koordinasi yang akan dilakukan.

Namun dengan adanya sistem supply chain management ini, akan memungkinkan untuk membantu manajer memberikan atau mendapatkan evaluasi langkah tersebut. Kemudian ini dilakukan bagi peningkatan perusahaan dan meningkatkan feedback postif dari para konsumen produk.

Manajemen Bisnis dalam Supply Chain Management

Manajemen Bisnis dalam Supply Chain Management

Untuk selanjutnya, hal yang perlu Anda ketahui adalah bagaimana manajemen bisnis dalam manajemen rantai pasokan ini berlangsung. Menurut Stock, Lambert terdapat delapan inti dalam supply chain yang meliputi:

Hubungan Dengan Pelanggan (Customer Relationship Management)

Manajemen bisnis init yang pertama yaitu costumer relationship management atau mengelola hubungan dengan pelanggan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengidentifikasi dan meganalisis pelanggan yang potensial untuk perusahaan dalam mata rantai.

Identifikasi dan analisis pelanggan potensial, tentunya akan bisa mengetahui siapa saja yang akan membeli atau mengorder barang atau jasa dari perusahaan, sehingga dapat memberikan keuntungan dan pendapatan lebih.

Pelayanan untuk Pelanggan (Customer Service Management)

Manajemen bisnis inti yang kedua dalam supply chain management atau manajemen rantai pasokan adalah pelayanan untuk pelanggan (customer service management). Dibutuhkan suatu layanan atau informasi yang cepat dan tepak waktu.

Hal ini karena penyampaian layanan atau informasi yang fast respon dan tepat waktu bagi pelanggan dapat menimbulkan respon timbal balik lebih bagus. Selain itu, dengan langkah ini dapat memperlancar pelaksanaan pengiriman barang.

Permintaan (Demand Management)

Untuk manajemen bisnis inti yang selanjutnya dalam supply chain management (SCM) adalah permintaan atau demand. Hal ini dilakukan dengan melakukan penyelarasan dengan penawaran yang dapat dilaksanakan perusahaan.

Penyelarasan dan penyeimbangan atara permintaan dari konsumen dengan kemampuan produksi dari perusahaan, tentunya akan sangat bermanfaat agar tidak barang dapat terjual secara maksimal dan tidak ada kekurangan.

Order Fulfillment

Untuk manajemen bisnis inti yang keempat dalam supply chain management atau manajemen rantai pemasok adalah pemenuhan order atau pesanan dari pelanggan. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara dengan memperhatikan beberapa faktor.

Ketika memenuhi kebutuhan pelanggan, tentunya harus dilakukaan dengan waktu, tempat dan jumlah yang tepat. Hal ini agar terjadi timbal balik atau feedback baik dari pihak konsumen, sehingga reputasi dari perusahaan meningkat.

Manufacturing Flow Management

Untuk manajemen bisnis inti yang kelima dalam supply chain management (SCM) adalah, manufacturing flow management atau tindakan untuk menyesuaikan permintaan dari pelanggan dengan kapasitas produksi perusahaaan.

Penyesuaian permintaan dari pelanggan dengan kapasitas atau kemampuan produksi yang dapat dipenuhi perusahaan ini tentunya bermanfaat. Salah satunya agar tidak terjadi kebutuhan konsumen tidak terpenuhi atau kekurangan-kekurangan lainnya.

Procurement

Untuk manajemen bisnis inti dalam supply chain management selanjutnya adalah procurement atau pengadaan barang. Kegiatan ini meliputi tindakan pembelian dengan mengembangkan mekanisme komunikasi dari setiap mata rantai pasokan.

Kegiatan pembelian dengan mengembangkan mekanisme komunikasi, bertujuan untuk bisa mengurangi waktu dan menghemat anggaran keuangan dalam suatu transaksi pembelian yang dilakukan oleh perusahaan dalam supply chain.

Product Development and Commercialization

Untuk manajemen bisnis inti yang ketuju dalam supply chain management (SCM) adalah product development and commercialization atau pengembangan produk dan komersialnya. Tindakan yang melipui kegiatan ini yatu melakukan inovasi-inovasi produk.

Dalam melakukan inovasi atau pengembangan produk perusahaan, tentunya disesuaikan dengan selera dari pelanggan. Hal ini juga akan melibatkan pihak supplier dan konsumen, sehingga ditemukan suatu formulasi yang tepat.

Return

Manajemen inti yang terakhir dari supply chain management ini adalah return. Ini tidak selalu bisa berarti pengembalian produk rusak dari pelanggan, namun juga pemberian feedback, nilai, maupun komentar terhadap barang produksi.

Baca Juga: Pengertian Promosi

Feedback atau komentar dari pelanggan terhadap produk ini kemudian akan dikelola oleh perusahaan dalam supply chain yang lalu digunakan untuk perbaikan kinerja dan kualitas dari barang produksi maupun pelakunya.

Demikian penjelasan mengenai supply chain management: pengertian, tujuan, dan prosesnya. Dengan mengetahuinya, diharapkan Anda akan lebih matang dalam mengelola bisnis agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Dengan begitu, penjualan produk atau jasa yang ditawarkan meningkat dengan pesat

Tinggalkan Balasan